Sabtu, 16 November 2013

Sehat :)

Sejak masih kecil, aku selalu punya keinginan untuk bisa berkeliling dunia. Bagaimana caranya? Entahlah.
Meninginjak usia dewasa, aku mulai sadar akan beberapa hal untuk mewujudkan impianku itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan.

Aku ingat guyonan-guyonan di antara pejalan. Ketika muda, kita punya banyak waktu, tapi nggak punya banyak uang. Ketika kita punya banyak uang, kita tak punya waktu. Ketika kita punya banyak uang dan waktu, kita sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan. 
Mereka menganggap tua itu dekat dengan penyakit, penurunan fungsi tubuh, dan hanya diam di rumah.
Berhubung aku masih muda, aku mau membentuk masa tua ku. Aku tidak mau masa tua ku dekat dengan kata penyakit, fungsi tubuh yang menurun, bahkan hanya bisa diam saja di rumah. Bersyukur aku dikelilingi orang-orang yang menunjukkan bahwa di masa tua mereka, mereka bahkan bisa lebih produktif lagi, lagi dan lagi. 

Luka Sobek di Kaki

Setelah suara mesin kapal perlahan berubah menjadi pelan, kapal akhirnya berhenti di tengah laut. Pulau berpasir putih tampak di kejauhan. Apa kita bakalan snorkeling lagi?
"Dari sini kita hanya bisa jalan kaki. Lautnya terlalu dangkal sehingga kapal tidak bisa ke pantai." penjelasan mas Ta'il menjawab pertanyaanku.
Olala,, setelah agak kering, aku mesti basah-basahan lagi nih. 
Kedalaman laut ini hanya sepaha. Dasarnya adalah pasir putih super lembut. Namun, kita harus hati-hati. Kita harus melihat ke bawah, jangan menginjak karang yang warnya coklat. Di balik karang, seringnya ada ikan karang yang bersembunyi. Bila terinjak dia bisa mengeluarkan racun sebagai pertahanan diri.
Demi selamat dan nyaman, aku mengikuti arahan untuk jalan di pasir yang tampak berwarna putih. 
Duh,, tampaknya kaki kananku menginjak karang. Rasanya nyut-nyutan. Pasti ada luka ini. Aku pasti kurang hati-hati. Aku pelankan langkahku, dan menajamkan penglihatan. Aku buat diriku berjalan tetap di pasir yang berwarna putih.
Sesampainya di pulau, kakiku masih berasa nyut-nyutan. Huh,, lukanya belum menutup juga rupanya. Tapi jika dibuat berjalan di pasir, sakitnya tidak terlalu berasa. Aku beranikan untuk melihat telapak kakiku. Tepat di bagian yang sakit, warnanya merah segar, tanda darah segar keluar dari balik kulit yang rusak. Aku ingat cara penanganan luka terbuka adalah dengan mengkompres NaCl. Aku pikir air garam nggak jauh beda dengan air laut kan. Aku bersihkan kakiku dengan air laut super bening. Kulihat kembali. Ya Tuhan,, ternyata kakiku sobek lumayan dalam. Baru semenit, darah segar sudah keluar lagi dari sobekannya. Tak ada apotek atau apa pun di pulau tak berpenghuni ini. Aku tetap memanfaatkan alam untuk pengobatan pertama, kompres air laut.
Aku teringat obrolanku dengan salah seorang penduduk pulau utama Karimunjawa di kapal ferry kemarin. Di Kepulauan Karimunjawa tidak ada rumah sakit, hanya tersedia satu puskesmas. Dokter yang bertugas adalah dokter dari Pulau Jawa. Sering di kepulauan tidak ada dokter karena dokternya ke Jawa, tetapi ada bidan dan perawat. Masyarakat Karimun juga kurang percaya dengan pengobatan medis, mereka lebih suka memeriksakan anak mereka yang sakit ke dukun dengan pengobatan ala dukun. Bila sakitnya parah, mereka baru datang ke puskesmas. Seringnya puskesmas sudah tidak bisa mengatasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Jepara. Untuk membawa pasien dan keluarga ke Pulau Jawa, mereka mau tidak mau charter kapal puskesmas seharga 3 juta dari kantong sendiri.
Mendengar ini, aku jadi merenung. Karimunjawa bisa digapai dengan kapal cepat dari Jepara sekitar 2 jam, tapi untuk masalah kesehatan, mereka seperti masyarakat terpencil. Pengetahuan tentang kesehatan sangat minim, fasilitas kesehatan pun sangat terbatas. Bahkan ada cerita, ibu-ibu melahirkan bayinya di kapal. Haduh.
Berbicara tentang fasilitas kesehatan, aku kembali melongok kakiku. Darah merah segar masih saja mengalir dari luka sobekku. Tampaknya lukanya cukup dalam. Begitu sampai di pulau utama, aku segera cari plester dan menempelkan plester ala kadarnya itu. Aku berharap aku tidak perlu sampai dijahit di puskesmas. 


*Dibutuhkan sekitar 1-2 hari sampai darah tidak merembes dari plester. 
*Dibutuhkan sekitar 5-7 hari sampai kulit telapak kakiku benar-benar menutup, kulit terluarnya tetap harus dibuang karena sudah mati.
*Plester hanya dibutuhkan ketika aku tidak memakai alas kaki. Aku tidak butuh dijahit. Luka sembuh dengan sendirinya

-geLintang-

Kamis, 14 November 2013

Dear Karimunjawa

Nggak tahu kenapa kok saya pernah bilang sama Bali, saya bakalan balik tiap tahun buat mengunjungi kamu! Tahun lalu saya sampe datang dua kali. Tahun ini pun saya sudah  mengantongi tiket JOG-DPS-JOG di bulan November yang saya dapetin di bulan Januari. Tapi rencana manusia ya cuma rencana aja. Saya batal ke Bali tahun ini. Hiks.


Banyak hal yang menyebabkan saya nggak bisa memenuhi perkataan saya untuk mengunjungi Bali tahun ini. Sebelum memutuskan batal, saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, kamu maunya apa? Kalo inget Bali, saya pasti inget laut biru, pasir putih, dan main air. Saya kangen snorkeling. Saya akhirnya menggeser tujuan saya. Saya inget kalo nggak jauh dari Semarang ada spot snorkeling yang cantik dan melambai-lambai manggil saya. Karimunjawa.

Sabtu, 09 November 2013

Sabtu siang ini mestinya kita sudah santai santai di pantai menikmati semilir angin Pantai Kuta sambil menenggak sebotol minuman kemasan dingin. 


Perjalanan ini mestinya jadi lanjutan akan cerita-cerita dan mimpi-mimpi kita untuk mengelilingi nusantara. Tapi hari ini aku duduk di rumah, menghabiskan satu kemasan jumbo facial tisu untuk mengusap ingus, dan berjalan tertatih menahan perih akibat sobekan karang di telapak kaki. Aku tak tahu kabarmu saat ini dimana,, dan tampaknya aku malas untuk mencari tahu. Yang aku sadari sekarang,, rencana tinggal rencana. Rencana manusia apalah artinya. Aku tak tahu di benakmu perbincangan kita beberapa bulan lalu berarti apa. Tapi buatku, itu seperti janji tak terucap untuk kemudian dilakukan actionnya. Aku tak menuntut harus jalan bersama kamu. Ahh,, lagi-lagi aku disadarkan, sesuatu yang pasti di dunia ini hanya perubahan. Bahkan janji manusia pun tidak bisa dipegang. Lagipula, siapa suruh percaya pada manusia. Pelajaran hari ini,, jangan pernah percaya dan bergantung pada manusia!

Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"

sunset dari Pelabuhan Karimunjawa

Jumat, 01 November 2013

Nonton

"Beb, nonton yok. Jadwalnya jam 20.45. Tiga puluh menit lagi kita ketemu di XXI yaa. See you!"


Ah,, saya kangen masa-masa nonton impulsif. Kolaborasi antara keinginan, chat-chat singkat yang random, dan berakhir dengan keputusan dadakan yang seringnya malah terlaksana dengan sukses. Lari-larian ke kamar mandi, nyetir lima menit, cari parkiran asik, sampe ngos-ngosan manjat eskalator. Baru atur nafas pas di dalam gedung teater sambil mengais partikel-partikel otak demi memahami film yang sedang ditonton. 

Belakangan saya merasa hidup saya sedikit membosankan. Dunia kerja yang dulu bikin saya penasaran, akhirnya sudah saya cicipi. Bukan cuma nyicip ding, tapi juga menggelogok. Ternyata saya sudah bergaul dengan pekerjaan saya yang sekarang selama 4 tahun. Lama juga ya. Betah juga saya sama kerjaan ini. Tapi kok lama-lama saya merasa saya stuck. Saya merindukan kehidupan yang statis, berubah, bergerak.

Kemudian, Tuhan seperti jawab pertanyaan saya. Malam ini saya menikmati layar lebar di dalam teater bersama teman nonton baru. Saya kembali menikmati deal satu jam sebelum film dimulai. Saya lagi-lagi janjian di depan gedung bioskop. Kamu memang sudah nggak bisa lagi nemeni saya, tapi ada temen baru yang siap berbagi rasa tentang cerita. Ternyata dunia saya sudah berubah.

Saya jadi tarik garis lagi ke belakang. Saya ingat masa-masa awal saya kenalan sama bioskop dan film berlabel dewasa. Kala itu saya nonton film fenomenal Titanic bareng ibu. Pas di bioskop saya ketemu temennya ibu, dan bercanda tentang umur saya yang mesti dituain sepuluh tahun biar bisa nonton film yang ada adegan orang telanjangnya itu. Hahahahah. Dunia saya berubah. Saya juga berubah. Sekali lagi saya diingatkan, perubahan itu pasti. Kepastian di dunia itu ada.

Minggu, 01 September 2013

Jalan-Jalan Oh Jalan-Jalan

"Kalo mau jalan, ajak-ajak ya."


Kalimat ini sering sekali aku terima setelah kalimat pernyataan, "Lintang enak banget, sering jalan-jalan." Bleh. Kata siapa jalan-jalan itu selalu enak. Kalo menurut ibu sih, 'jalan-jalan itu habis-habisin duit'. Iya. Jalan-jalan butuh duit yang lumayan, meskipun kita pake kata jalan-jalan ala ransel, tetep aja butuh duit buat beli ranselnya kannn,, ato minimal buat kasih oleh-oleh sama yang ranselnya kita pinjem.

Senin, 26 Agustus 2013

Bukittinggi, God's Painting

I don't know what I expected when I visited Bukittinggi last trip. I just remembered the bad thing I had that I wouldn't share it here. But, when I saw to the photos I've took, I realize that I also had nice experience in Bukittinggi, North Sumatra.


Sabtu, 13 Juli 2013

Experiencing Toba Lake in The Morning

The plan was: move at 7 am then move to Medan. On the way to Medan,, we looked for opportunity to visit some nice places - if we had time. They said, we'll not get enough time because we use public transportation. But, some friends have done that. Enough for the opinion, let's do it!

morning fog

Our alarm had chimed at 5.30. We still have thirty minutes to just lay down on the bed before had to move to the bathroom, take a bath, than take our backpack to hit the road again. But I forgot the things about just lying on the bed for thirty minutes before move out. I need to know how it fells to swim in Toba Lake. So, we get out from the room and go to the beach [it still funny on my thought to hear beach in Toba Lake. For people in Samosir, beach means land near the lake. In my opinion, beach means bound between sea and land].

It was dark at 5.45 pm in Samosir. The fog is in the air. The wheater is cold but fresh. We just sit on the grass, do nothing, and watch the color of the sky that turn into orange burst. The drizzle come, accompany our morning. God, may I swim in Toba Lake this time? Or should I back again on the future?

We decided to back to the room to take a shower and get prepared. On our way, we met a girl in black and white. I asked her if I can swim in Toba Lake. She said, off course. She told us the way to "the beach". Actually there's another location. I thought it's a sign. I have to exprience Toba Lake. So we change the direction, instead back to the room, we go to "the beach". The drizzle still continue. I still jump to the lake. Yippie,,, I swam in Toba Lake. Reta follow me to swim too. One more hour to stay at Tuk Tuk for the experience. How about the plan next. Let's do it.

Selasa, 09 Juli 2013

Warm Greetings From Samosir

"How long will you stay in Medan?" "Four nights including tonight." "What is you plan?" "No specific plan. Just want to meet Toba Lake." "Actually, three days is too short time to explore Medan. North Sumatra has so many attractive nature to explore. You'll only get so little in three days in North Sumatra." "Ouwh,,, maybe I need to be back here again next time. Wish for more opportunities to be back to Medan someday."


We depart at 7 am that morning. Our purpose today is meet Toba Lake. We took Sejahtera bus from Medan to Tigaraja harbour. The ferry that will take us to Samosir waited there.
Five hours in bus is not really nice experience. The bus doesn't have any air conditioner. People just smoke - the Medan ability that I don't like so much. The view on the way just oil palm plantation. My activity on that bus only sleep,, looking around,, take masker to avoid the smoke,, sleep again. I even can't move my body because the chair is very narrow. But, one hour before we get approach Toba Lake, the view was very awesome. You can see Toba Lake from distance. Yes, no picture. You have to enjoy it by yourself.

We've stopped in Tigaraja Harbour. Two ferry ready in the harbour. One to Tuk Tuk and the other to Tomok.  Tomok is the main tourism spot in Samosir Island. There are many souvenir shops, traditional house, Sigale-gale doll, king traditional cemetry, and museum. While in Tuk Tuk, there are many hotel and huesthouse to stay. After long hours in bad bus, we decided to stay a night in Samosir. So we choose move to Tuk Tuk.


It takes about 15 minutes from Tigaraja to Tuk Tuk. The ferry arrive every 30 minutes, so we don't have to wait for too long. The ferry took us through to our guesthouse. We chose Carolina. Carolina is very famous in google search - huehuehuehue - and we like to stay at traditional building. We paid 120k for a night in eonomy room. Even they said economy, but the room was very hug and it has private bathroom. The bad just we have to climb to the hill to get our room. It's ok.

We rent a motorbike for 8 hours which is 80k. We go to Tomok, where so many tourist attraction there. We ate at the warung and enjoy delicious food. I taste ikan bakar and babi guling. For you who look for halal food, go to warung makan muslim that contains no pork. Yap, Batak eat pork.

The Samosir road
King Sibutar-Butar Cemetry
Ulos
traditional cloth from Batak
Batak traditional house in Tomok, Samosir
Thanks God we've met new friends that feels like old friends in Tomok. That's one of the reason why I like do some trip. We play around Tomok. We like to explore while they waited for their fery at 4 pm to Tigaraja. 
After Tomok, we moved to Ambarita. We went to Siagillan Villege. In that place I heard story about Bataknesse that eat man in the past. Thank God it's not happen anymore today. We met some nice people in Siagillan, family from Jakarta, children, and Samosir people that help us to know the road.
 
try to make ulos
Museum Sialligan
Batak symbol = cicak and four breast
Cicak : Bataknesse can live everywhere in the earth
Four breast : prosperity
children playing outside
Tugu
funeral for big family

We close the day at Poppy. We like to have dinner here because we saw many books in their restaurant. We can eat while reading a book from there. You can sell your book and get another book too. They offered us international food and indonesian food. Delicious.

Lesson learn:
Before I've done this journey, there's some worries around my mind. I'm afraid about that, I'm afraid about this. But, after I've done it all,, everything just happen in a nice way. So, I told to myself, just do it, feel the process, and take some lessons. Life can always be nice all the time, but you can enjoy the sweet things.

Minggu, 07 Juli 2013

#1st Night, Another Impression

It was late night when we arrived in Polonia Airport, Medan. After all the drama all day [ask me for the drama if you want to know] and two hours hungry sleepless in the plane,, finally we reached Sumatra land. *sujud sukur

I was go to Medan before for some project reason. I had bad experience in the airport. Actually, I don't like the way people offer us the transportation. Those people just like yell to us and compete to force us to use their service. So, I ask friend how to deal with my worries when I know that I will be depart in the evening,, or maybe late night if we have any delay. I can't believe that my new friends in Medan is very helpful. They offered to pick us in the airport. Who can say no?

one of Medan icon,
water reservoir
that has beautiful lights in the night
Our first night in Medan was very nice. No yell from taxi driver. No coercion from service people in the airport. All we have that night was big smile, friendly ride, and new family. Big thanks to backpacker medan.

Lesson learn:
  • working trip and backpacking trip is so much different :p
  • never judge something before you feel it #selfnote
  • accept every possibilities and enjoy the progress *still learning



Sabtu, 06 Juli 2013

Untitled

What is the best thing to cure a broken hearted? They said, move on baby!! Is it really true? Just do it and enjoy the road. So, I choose to move my body. Maybe some journey can make my body move. I wish that my heart can move either.

I have a week to move. I choose to take my backpack prefer than my luggage. I will backpacking. Yeay!
Medan, Pekanbaru, Padang. I've got ticket for those three cities. What will happen to me. I wish for the best. Will my heart fix? How about my journey? How is the road? 

Too many questions. Just take a breath, and enjoy the road.

Minggu, 09 Juni 2013

The Palace

Korea Selatan yang kita kenal belakangan ini adalah Korea Selatan yang menjunjung tinggi budaya. Mereka berhasil mengenalkan budaya leluhur mereka melalui cara yang pop dan gampang diingat dunia, khususnya kaum muda melalui drama dan K-pop music. Jadi kalau kamu sempat berkunjung ke Korea Selatan, kamu harus menyempatkan diri untuk berkunjung ke istananya. 

Kalau ke istana jangan di halaman depannya aja,
foto ini saya dapat di halaman belakang istana.

Seoul yang merupakan ibukota Korea Selatan dan menjadi destinasi piknik no wahid

Sabtu, 08 Juni 2013

Waisak dan Cerita Yang Menyertainya

Saya ingat waisak tahun lalu. Saya ikut merayakan. Saya berdecak kagum memandang langit penuh cahaya. Lampion - entah berapa jumlahnya - beterbangan di udara. Permohonan dilepaskan ke angkasa. Biar semesta yang beri tanda 

Tahun ini aku ingin kembali menikmati suasana magical itu. Menikmati lampion yang beterbangan di udara. Merapalkan permohonan dan melepaskannya ke udara. Bertepatan dengan weekend, saya berencana untuk merayakan waisak hari Sabtu seharian dan minggunya dilanjut dengan jalan-jalan. Tapi, saya terpaksa mengubah rencana dan membatalkan niat. Hari minggu saya wajib bekerja.

Sabtu itu pukul 3 sore. Setelah serentetan drama hidup, akhirnya kami berenam tambah satu berangkat menuju Magelang. Saya cuma pengen nonton lampion sekalian make a wish. Actually I have many wishes. Hehehe. Perjalanan santai ditemani cuaca cerah dan guyon antar sahabat selalu menyenangkan.

Memasuki kompleks Candi Borobudur, suasana sangat berbeda seperti tahun lalu. Seperti dugaan saya dan teman, tahun ini pengunjung yang ingin merayakan waisak lebih banyak. Bahkan lebih lebih lebih banyak. Gila. Kalau tahun lalu mobil saya bisa masuk ke taman kompleks, kali ini masih di pertigaan dekat pasar saja kami tak boleh lewat. Terpaksa kami parkir di pinggir jalan, dan lanjut jalan kaki. Sudah sampai sini. Demi lampion.

Hujan rintik terus saja datang. Sepertinya sedikit, tapi bila tak pakai payung atau pun jas hujan, lama-kelamaan kami akan basah kuyup. Setelah jalan di bawah hujan yang konsisten, melewati petugas berseragam, dan pintu keamanan - waisak kali ini begitu banyakkah orang, sampai-sampai keamanannya sampai seperti di konser dan bandara - akhirnya kami berhasil memasuki kompleks Candi Borobudur. Di dalam kompleks candi, manusia betebaran di mana-mana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana suasana di depan altar.

Okelah mari kita menikmati waisak bersama. Berpikir secara positif, banyak orang sudah terbuka dengan prosesi agama lain. Mereka mungkin mau mengenal lebih dekat budaya negerinya. Tapi, di kejauhan saya lihat banyak mbak-mbak yang cuma pake pakaian ala kadarnya. Saya ke konser apa ke ritual keagamaan sih. Di ujung sana, saya lihat ada yang ngerokok dengan nikmatnya. Saya ke tempat ibadah atau ke warung kopi. Di sudut mata saya melihat tangan yang dengan santainya melepaskan genggamannya dari botol plastik kosong. Ah,, kenapa masih pada nggak risih buang sampah sembarangan. Saya jadi sedih.

Sampai di depan altar, saya mendengar doa - doa dipanjatkan. Ah,, saya belum ketinggalan pradaksina berarti. Saya pengen ikutan berjalan mengelilingi Candi Borobudur tiga kali sambil merapalkan doa seperti tahun lalu. Tapi, di sela-sela pembacaan doa, saya dengar pengumuman dari panitia, peringatan pada para fotografer, turis, pendatang, atau apalah mereka supaya tidak berada di atas altar. Cosss,,, kok bisa. Pada saat ritual, baca doa, kok ya tega-teganya naik-naik ke altar. Di kejauhan saya lihat ada fotografer - ah,, mereka bisa disebut fotografer nggak sih,, cuma pegang kamera SLR tok - ketawa ketiwi duduk di tempat persembahan. Kok tegaaaaa.

Dan ternyata saya kehilangan momen pradaksina. Entah bagaimana, konsentrasi saya terbelah. Saya kecewa sama orang-orang ini. Kalo cuma bikin bete kenapa rombongan orang ini mesti kesini??

Hujan masih turun dengan konsiste. Rintik, kecil, dan basah. Cuaca yang terus seperti itu mengakibatkan lampion tidak jadi dilepaskan malam itu. Ah,, ada sedikit kecewa di hati saya. Tapi saya mau apa. La wong hujan Tuhan yang kasih. Mungkin saya dan banyak orang di sana belum siap untuk momen lampion. Saya dengar banyak yang kecewa dan menyalahkan panitia. Kok bisa-bisanya??

Tiba-tiba saya tersentil. Saya juga ada di kompleks Candi Borobudur malam itu ya cuma untuk menikmati lampion. Untuk bisa cerita ke teman-teman. Untuk saya sendiri. Keingininan egois. Damn. Apa bedanya saya dengan orang-orang itu?? Apa bedanya saya dengan turis-turis hipster yang dihujat di media sosial? Apa bedanya saya dengan orang-orang sok fotografer yang ganggu-ganggu itu? Kehadiran saya di sana juga cuma menuh-menuhin aja kan. Nambahin pengap. Nambahin macet. Malahan kirim getaran negatif dengan pemikiran-pemikiran kejengkelan saya. Ah,,,

Jumat, 07 Juni 2013

Ketika Donat Hanya Sekedar Bulat

Sebagai penggemar donat ndeso - donat bikinan tangan yang dilumuri gula halus - saya suka kecewa. Sejak menjamurnya toko donat modern di mal mal,, donat ndeso seakan langka dan nyaris sirna. Ibu saya yang sejak sepuluh tahun beralih menjadi vegetarian, menghentikan segala aktivitasnya memasak menggunakan bahan dasar daging, telur, madu, dan segala hal yang berbau telur, termasuk stop memasak donat yang konon resepnya mengandung telur. Jadilah saya kangen setengah mati sama donat ndeso ini.

Setelah bermodal bejo datang ke warung burjo demi beli donat ndeso kesukaan, kemaren entah kesamber jin apa, saya pilih untuk bikin donat sendiri. Bermodal tepung donat instan beserta ragi, sedikit air, dan margarin, akhirnya percobaan donat saya jalankan. Tapi ya itu,, hasilnya donat saya nggak bolong. Padahal hal yang saya suka dari donat itu ya bolongannya. Hehehehe.


Kalo nggak bolong mestinya namanya bukan donat yah. Mungkin ini ibarat cerita jatuh cinta saya kali ini. Entah datang dari mana, tapi rasa sayang itu muncul perlahan. It's like there's butterfly in your stomach. Tapi cinta itu nggak selamanya sayang-sayangan, make relationship, dan berakhir seperti film-film drama romantis itu. Cinta nggak selalu manis. Ibarat donat nggak selalu punya lubang yang bolong. Tsahhh,,,,

Selasa, 04 Juni 2013

Mengenang Si Sepatu

Aku memperhatikan ban berjalan yang masih kosong itu. Pesan bagasi itu mesti sabar. Sabar antri untuk masukin bagasi di bagian baggage drop station. Juga sabar untuk menunggu bagasi keluar seperti saat ini. Kenapa pula,, ini bagasi mesti lebih lama daripada orangnya. Padahal orangnya tadi juga begitu turun dari pesawat mesti jalan memutar dulu, naik bus, dan setor ke toilet. 

Ah,, itu dia. Koper hijauku sudah melambai dari ujung ban berjalan. Jadi aku bawa koper satu, ransel kecil satu, satu kresek besar berisi rumput laut untuk oleh-oleh. Apa lagi ya? Aku menundukkan kepala dan melihat kakiku dengan sandal jepit baru hasil memasuki tiap toko sovenir di LCCT Kuala Lumpur. Terpaksa aku berpaling dari merk sandal jepit favorit sepanjang masa, swallow, ke sandal jepit hitam dengan logo kepala sapi ini. Nggak papa. Demi kenyamanan. Setelah enam hari full jalan-jalan di udara dingin dengan sepatu boot berhak 5cm, begitu sampai di suhu 30 derajat celcius, kakiku protes. Tapi,, di mana sepatuku ya?

Seingatku aku masukan sepatu itu ke dalam plastik hitam. Pinginnya supaya praktis aku masukkan jadi satu dalam kresek super gede berisi nori. Tapi membayangkan makanan yang akan kumakan dan dibagikan ke sanak sodara mesti tercemar dengan bau sepatu demi kepraktisan,, kok ya nggak tega. Akhirnya aku tenteng aja satu-satu. Tapi ini nih akibatnya. Nasib teledor, ternyata plastik berisi sepatu tadi ketinggalan di cabin. 

Aku inget beberapa jam lalu. Saat menemukan sandal jepit yang nyaman, rasanya sepatu boot itu jadi alas kaki paling menyebalkan. Aku berpikir, sepertinya sampe rumah ini sepatu bakal pensiun. Lah, aku nggak mungkin demi gaya mesti pake sepatu boot yang panas di udara tropis Indonesia.

Jadi ternyata, sebelum aku membuat si sepatu, sepatu duluan yang nggak mau bareng aku. Lucu yah. Barang kalo udah nggak disayang dan dibutuh suka menghilang begitu saja dari pemiliknya. Aku jadi teringat jasa-jasa si sepatu. Di suhu 5-15 derajat celcius dia bantu supaya kakiku tetap hangat supaya bisa jalan lebih jauh. Dia juga bikin penampilan aku di foto jadi modis dan stylish. Halah. 

Ya sudahlah. Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Toh, dalam waktu dekat aku nggak ada rencana berdingin-dingin lagi dan butuh sepatu boot. Mungkin persahabatan kami cukup di dua perjalanan. Aku kenang kamu di post ini ya, sepatu. Good luck for your new experience.

@dinilint

Sabtu, 01 Juni 2013

Ranu Kumbolo, Swimming In The 2400 meters-above-sea-level

2006. It's my first time know about mountain, hiking, climbing, and Ranu Kumbolo in Semeru Mountain. Blame it to 5cm. Yes, since I love to the story and had found story about climbing mountain in that novel, I had wish to visit Semeru Mountain. And finally it's happen in 2013.

My wish to climb Semeru Mountain just to meet Ranu Kumbolo. The 14 ha lake in the 2400 meter-above-sea-level. If I ask to google how is Ranu Kumbolo looks like, I will see wonderful picture of great lake in the mountain surround by hills and gorgeous I-don't-know-the-name plants.

And here I am. After about six hours slow walk pass footpath through forest, finally we arrived in Ranu Kumbolo. It was 8 pm. It was dark. It was noise by a lot of tent. Yes, there was a lot of people with me in Ranu Kumbolo that night. It was cold. So, I decided to just come into my sleeping bag and sleep, wait for the sunshine next morning.

Morning in Ranu Kumbolo was awesome. The cold weather still coming. The nice fog said good morning for us.And Ranu Kumbolo always wonderful as always. It's clearly like what I saw in the pictures. I thought in the better version.

And there the time. After the sun really smile bright, gave it's bright that morning, we decided to swim. Ah,,,, I can't explain it in words. I think you have to experience it by yourself. But, be careful! The Bromo Tengger Semeru National Park is not be responsible of any consequences if you swim in Ranu Kumbolo. Yeap, actually it's prohibited to swim there. But, it was my obsession. And I just swim in small area around the margin of Ranu Kumbolo. And it was,,, ah,, I can't explain something to good to be true. ;)

@dinilint

Jumat, 31 Mei 2013

Getting Into Peak of God, Mahameru

It was ten o'clock. Dark. Cold. But there's a lot of noises inside tent. Everybody get prepared. We put water and biscuit into the day-pack  We'll go the journey to the peak of Semeru Mountain, Mahameru.


Me, as the only girl in the group, just only have two choices, to stay at the tent alone with this cold weather and possibility to getting cold, or follow other seven boys to the peak. I choose second choice with all the consequences. I have to get to the peak!!
Thick jacket, windproof jacket, thick sox, shoes, skullcaps, and headlamp became my accessories that night. We eight walking together with three day-pack that carried three liters of water. We promised to walk together around Arcopodo forest. That night, not just eight of us that try to reach Mahameru. When longweekend coming, many Indonesian that wants to know more about their nature, include Semeru Mountain. So,, the journey through Arcopodo just like carnival. Many people in front and in back of us. The similar between all of us is we walk slowly while arrange our breath so we can get to the peak.
The road is up and up and up between big trees. After around five hours we already past the Arcopodo. In front of usa there's big sand dune color black. We already past the vegetation limit. It's time for us to have the hardest road, climbing the sand dune that always avalanche. I saw many lights. It showed me that so many people try to climb the sand dune. When I lifted my head higher, I saw the star light in the peak. I can't consider where is the star light and where is the headlamp light in the peak. There's so many people.
My friends smiled to me and ask, "Are you ready?". I reinforced my heart and said, "Let's go!". It's time to queue to the peak. Hop. Hop. One by one my feet step. Two steps forward, one step backward. No way back. Hup. Hup. Ah,, I need some rest. I code my friends to take a break. We sit down for a while in the dune that always slide. If we break to long, the cold weather came. So we have to move forward again. Sometimes I need lending hand from my friends, from other climber to. I need to creep to avoid slide. Sometimes I have to stoop to avoid the rocks. Ah, it's very hard. But this is my choice  I'm sure I can do it.
"How far is it?" I asked to my friends with his GPS. "750m more to get to the peak." "Less than a kilometers. Let's go!" "Two steps, take a breathe, and go for another steps." In the middle of my despair my friends always give me support. They just like pom pom boy in the climbing area. Love it.
My energy drained so much. The road still go up and I still saw the peak is far away. The dune always slide. 
"689m more."
Whaaat,,,, so much energy wasted and I just move for 50 meters. Hufft.
"See on your left."
And that's it. I saw beautiful sunrise. The orange color that just came up that morning. The cloud.  The view. Ah God. It's so wonderfull.
"Sit down for a while. We better enjoy this view from here. Then we go up after this."
I got the position. Sit down. Take a breath. No camera. I feel God is really nice.
The sky had the bright color slowly. I saw up,, I have to get to the peak. I crawl slowly again. One,, two,, breath,,. One,, two,, breath. Up and slide and up and slide and up.
God, Why am I here? Should I crawl to always to slide down again and again. I felt so tired.
"Lintang, I wait in the peak." damn, my friend just leave me here. In the dune in the middle of nowhere. What should I do?
There's only one choice, go up. Because I have no courage to get down by myself too. So I up and up and up,, while sometimes I got slide again and again and again. And I got another friends. They are there to help me. Their hands help me to the up. They pull me up and give me more spirit.
"Come on. 2% more to the peak". I got his hand. New friend that I've never met before. Hop.
Here I am. Mahameru. Finally I stepped my feet on Mahameru. The peak of God. Thank God I've made it.
Something special needs extraordinary effort.

*and how I get down? I just follow my friends to just run and slip. And it's fun ;)
@dinilint

Senin, 27 Mei 2013

Petit France,, When I Can Taste France A Little



Perancis adalah salah satu #wishdestination untuk saya. Jadi ketika di Korea Selatan terdapat taman kecil yang dibangun menyerupai taman-taman di Perancis,, tentu saya wajib berkunjung ke sana.


Setelah turun di Stasiun Gapyong, bertemu ibu baik hati yang bertugas sebagai tur guide di Gapyong, dan naik Gapyong City Bus sekitar satu jam, akhirnya saya bisa bermain-main di Petit France. Dinamakan Petit France karena salah satu alasan taman ini dibangun adalah untuk mengenang novel laris Petit France atau Little Prince karya Antoine de Saint-Exupery.


Kalau ada kesempatan lagi, saya pingin nggak cuma menikmati hari, tapi juga malam di Petit France. Sepertinya guesthouse nya seru.
@dinilint

Jumat, 24 Mei 2013

Nami Island,, When Childhood Memories Become Reality

"It's already 13 pm and we've just have one hour left." | "I think we should eat fast." | "How about if we change the plan. Eat slowly in this traditional restaurant, enjoy the bibimbap. We can spend a day in this island. And Petit France for the next day,, Maybe for a day too,, like in this island." | "Good idea!!"


Nami Island. Salah satu tujuan wisata di kalangan turis yang akan berkunjung ke Korea Selatan karena serial Winter Sonata. Konon kabarnya pemandangan paling bagus di musim dingin. Saat itu tumpukan salju putih akan memenuhi pulau. Tapi ketika berkunjung saat musim semi, saya juga bertemu tumpukan putih khas tampilan winter sonata itu.


Untuk menuju ke Nami Island, kita harus naik ferry super cute ini. Karena menyebut dirinya sebagai negara Naminara Republic, kita butuh passpor yang sekaligus tiket ferry untuk mengakses pulau Nami. Pelabuhan menuju Nami sangat dekat dengan Stasiun Gapyong. Dari sana kita bisa naik taksi (sekitar 3000 won) atau naik Gapyong City Bus (5000 won sepuasnya).


Pulau Nami merupakan pulau yang menyenangkan untuk semua kalangan. Saya, yang orang Indonesia, bahkan mendapat ucapan "selamat datang" saat menginjakkan kaki di Pulau Nami.


Surprise. Saya ketemu minuman enaknya Indonesia di Nami Island. Kopi Gayo dari Aceh. Jyah,,, kangen Aceh deh.


Ini yang membuat kami memutuskan mengubah rencana dari 2 jam menjadi seharian di Pulau Nami. Setiap sudut Pulau Nami penuh dengan spot foto seru. Narsis is allowed. Hehehe.


Salah satu spot menyenangkan untuk mengambil gambar. Hehehe.


Mainan ini sudah rusak dan tak terpakai. Daripada dibuang, mainan ini digantung-gantungkan dan jadi spot yang menarik di Nami. Saya bisa menikmati energi positif dari boneka beruang, barbie, dan mobil-mobilan yang bergelantungan ini.


Mas mas Korea unyu yang bikinin snowman pancake enak


Konon dulu Pulau Nami hanyalah pulau biasa. Namun bisa jadi cantik dan memesona begini karena ditata dengan indah. Mereka menanam pohon-pohon tinggi yang kabarnya menyentuh langit. Saat ini spot ini adalah spot wajib untuk berfoto ketika berkunjung ke Nami Island. The trees that touch the sky.


Di Nami, semua makhluk berbahagia. Bahkan binatang liar ini bebas berlarian dengan dedek kecil di taman.


Mom's biggest happiness. Satu taman dengan tema spesial ini tersedia di Nami Island.


Nami Island mengklaim dirinya sebagai village library. Ya, di tiap sudut saya selalu menemukan buku anak-anak dengan cetakan bagus untuk dibaca sepuasnya. Ini seperti pulau impian saya menjelma jadi nyata.


Bahkan saya dipersilakan membaca di sudut toilet.


Saat ini Nami Island dipersembahkan pada UNICEF. Pulau ini diberikan pada anak-anak, supaya anak-anak bebas mengembangkan kreativitas mereka. Lihat pohon boneka ini. Ini hasil imajinasi anak-anak.


Ini salah satu hasil kreativitas Pulau Nami. Sepatu pot.


Sebagai pulau yang terkenal karena serial Winter Sonata, ada baiknya memasang patung pemerannya. Dan tidak ada salahnya berpose di patung-wajib-foto-turis ini. Hahahaha.


Thanks my travelmate. I wish we'll have another fun trip. 

Jadi tahu kan kenapa saya betah seharian di Nami Island?
@dinilint