Selasa, 10 Desember 2013

Kali Banjir Kanal

Coba lihat gambar ini. Ini adalah salah satu bagian dari Kota Semarang, tepatnya di Sungai Banjir Kanal Barat. Pemerintahan Pak Marmo sudah merapikannya sedemikian rupa sehingga terlihat rapi dan cantik seperti di gambar ini.


Apa tadi aku bilang? Rapi? Cantik? Sesungguhnya ketika malam itu saya berjalan di bantaran Kali (Sungai) Banjir Kanal Barat ini ada perasaan sedih menyergap. Perhatikan benda putih-putih di pinggir sungai. Itu adalah styrofoam sisa yang akhirnya disebut sampah. Jadi nggak cantik lagi kan :(. Ironisnya, styrofoam itu berasal dari event Festival Banjir Kanal yang bertujuan untuk menyadarkan masyarakat untuk menjaga kebersihan sungai :((.

@dinilint
today i :(,, 

Rabu, 20 November 2013

What To Do

This post is about Karimunjawa. This island located in the north of Jepara. Karimunjawa is the big island. There are many small islands. Most of the island is uninhabitated. The underwater is great. I think it's better if you dive there, but snorkeling is also fun.


What time is the best?
They said the best season is September - November. Avoid Desember - Januari because the wheater is bad, it's rainy season.

How many days?
For me the best time to spend is about 2 days on the island, 2 days full of snorkeling time. But, my friends that fall in love to this island can spend 2 weeks just lying on the hammock and do some diving.

How to get there?
Take fast boat from Semarang that take 3 hours, fast boat from Jepara that takes 2 hours, or ferry Muria from Jepara that take 6 hours. The schedule can be changed during the weather and wave condition.

What to eat?
Seafood is the best part of the island. If you are vegetarian, prepare for egg meal everyday. Vegetables are rare.

Where to stay?
There are many hotel, homestay, even resident house that can be rented. You can choose which one is your style, the comfy, the budget, or even just camping in alun-alun

What to do?
Snorkeling is a must! If you have diving certificate it's gonna be fun [I wish I have soon]. You should try hangout at alun-alun in the night and try local dishes.

Enjoy your Karimunjawa time!
@dinilint

Sabtu, 16 November 2013

Sehat :)

Sejak masih kecil, aku selalu punya keinginan untuk bisa berkeliling dunia. Bagaimana caranya? Entahlah.
Meninginjak usia dewasa, aku mulai sadar akan beberapa hal untuk mewujudkan impianku itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan.

Aku ingat guyonan-guyonan di antara pejalan. Ketika muda, kita punya banyak waktu, tapi nggak punya banyak uang. Ketika kita punya banyak uang, kita tak punya waktu. Ketika kita punya banyak uang dan waktu, kita sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan. 
Mereka menganggap tua itu dekat dengan penyakit, penurunan fungsi tubuh, dan hanya diam di rumah.
Berhubung aku masih muda, aku mau membentuk masa tua ku. Aku tidak mau masa tua ku dekat dengan kata penyakit, fungsi tubuh yang menurun, bahkan hanya bisa diam saja di rumah. Bersyukur aku dikelilingi orang-orang yang menunjukkan bahwa di masa tua mereka, mereka bahkan bisa lebih produktif lagi, lagi dan lagi. 

Luka Sobek di Kaki

Setelah suara mesin kapal perlahan berubah menjadi pelan, kapal akhirnya berhenti di tengah laut. Pulau berpasir putih tampak di kejauhan. Apa kita bakalan snorkeling lagi?
"Dari sini kita hanya bisa jalan kaki. Lautnya terlalu dangkal sehingga kapal tidak bisa ke pantai." penjelasan mas Ta'il menjawab pertanyaanku.
Olala,, setelah agak kering, aku mesti basah-basahan lagi nih. 
Kedalaman laut ini hanya sepaha. Dasarnya adalah pasir putih super lembut. Namun, kita harus hati-hati. Kita harus melihat ke bawah, jangan menginjak karang yang warnya coklat. Di balik karang, seringnya ada ikan karang yang bersembunyi. Bila terinjak dia bisa mengeluarkan racun sebagai pertahanan diri.
Demi selamat dan nyaman, aku mengikuti arahan untuk jalan di pasir yang tampak berwarna putih. 
Duh,, tampaknya kaki kananku menginjak karang. Rasanya nyut-nyutan. Pasti ada luka ini. Aku pasti kurang hati-hati. Aku pelankan langkahku, dan menajamkan penglihatan. Aku buat diriku berjalan tetap di pasir yang berwarna putih.
Sesampainya di pulau, kakiku masih berasa nyut-nyutan. Huh,, lukanya belum menutup juga rupanya. Tapi jika dibuat berjalan di pasir, sakitnya tidak terlalu berasa. Aku beranikan untuk melihat telapak kakiku. Tepat di bagian yang sakit, warnanya merah segar, tanda darah segar keluar dari balik kulit yang rusak. Aku ingat cara penanganan luka terbuka adalah dengan mengkompres NaCl. Aku pikir air garam nggak jauh beda dengan air laut kan. Aku bersihkan kakiku dengan air laut super bening. Kulihat kembali. Ya Tuhan,, ternyata kakiku sobek lumayan dalam. Baru semenit, darah segar sudah keluar lagi dari sobekannya. Tak ada apotek atau apa pun di pulau tak berpenghuni ini. Aku tetap memanfaatkan alam untuk pengobatan pertama, kompres air laut.
Aku teringat obrolanku dengan salah seorang penduduk pulau utama Karimunjawa di kapal ferry kemarin. Di Kepulauan Karimunjawa tidak ada rumah sakit, hanya tersedia satu puskesmas. Dokter yang bertugas adalah dokter dari Pulau Jawa. Sering di kepulauan tidak ada dokter karena dokternya ke Jawa, tetapi ada bidan dan perawat. Masyarakat Karimun juga kurang percaya dengan pengobatan medis, mereka lebih suka memeriksakan anak mereka yang sakit ke dukun dengan pengobatan ala dukun. Bila sakitnya parah, mereka baru datang ke puskesmas. Seringnya puskesmas sudah tidak bisa mengatasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Jepara. Untuk membawa pasien dan keluarga ke Pulau Jawa, mereka mau tidak mau charter kapal puskesmas seharga 3 juta dari kantong sendiri.
Mendengar ini, aku jadi merenung. Karimunjawa bisa digapai dengan kapal cepat dari Jepara sekitar 2 jam, tapi untuk masalah kesehatan, mereka seperti masyarakat terpencil. Pengetahuan tentang kesehatan sangat minim, fasilitas kesehatan pun sangat terbatas. Bahkan ada cerita, ibu-ibu melahirkan bayinya di kapal. Haduh.
Berbicara tentang fasilitas kesehatan, aku kembali melongok kakiku. Darah merah segar masih saja mengalir dari luka sobekku. Tampaknya lukanya cukup dalam. Begitu sampai di pulau utama, aku segera cari plester dan menempelkan plester ala kadarnya itu. Aku berharap aku tidak perlu sampai dijahit di puskesmas. 


*Dibutuhkan sekitar 1-2 hari sampai darah tidak merembes dari plester. 
*Dibutuhkan sekitar 5-7 hari sampai kulit telapak kakiku benar-benar menutup, kulit terluarnya tetap harus dibuang karena sudah mati.
*Plester hanya dibutuhkan ketika aku tidak memakai alas kaki. Aku tidak butuh dijahit. Luka sembuh dengan sendirinya

-geLintang-

Kamis, 14 November 2013

Dear Karimunjawa

Nggak tahu kenapa kok saya pernah bilang sama Bali, saya bakalan balik tiap tahun buat mengunjungi kamu! Tahun lalu saya sampe datang dua kali. Tahun ini pun saya sudah  mengantongi tiket JOG-DPS-JOG di bulan November yang saya dapetin di bulan Januari. Tapi rencana manusia ya cuma rencana aja. Saya batal ke Bali tahun ini. Hiks.


Banyak hal yang menyebabkan saya nggak bisa memenuhi perkataan saya untuk mengunjungi Bali tahun ini. Sebelum memutuskan batal, saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, kamu maunya apa? Kalo inget Bali, saya pasti inget laut biru, pasir putih, dan main air. Saya kangen snorkeling. Saya akhirnya menggeser tujuan saya. Saya inget kalo nggak jauh dari Semarang ada spot snorkeling yang cantik dan melambai-lambai manggil saya. Karimunjawa.

Senin, 11 November 2013

w.a.r.n.a

Laut. Kenapa saya selalu suka ya?


 Saya selalu kangen bunyi desir ombak laut yang konstan dan menenangkan. Saya selalu kangen dengan angin laut yang semilir,, sejuk bercampur panas khas laut. Bahkan saya sering kangen bau laut yang asin,, sedikit amis tapi seger. Hahahahah



Akibat perjalanan terakhir saya bertemu laut, mencoba masuk ke kedalaman, tapi selalu gagal dan naik lagi ke permukaan, bertemu berbagai warna yang menawan, saya jadi iseng bikin benda ini. Apa itu? Persepsikan sendiri yah ;)



See you soon, laut!
@dinilint

Sabtu, 09 November 2013

Sabtu siang ini mestinya kita sudah santai santai di pantai menikmati semilir angin Pantai Kuta sambil menenggak sebotol minuman kemasan dingin. 


Perjalanan ini mestinya jadi lanjutan akan cerita-cerita dan mimpi-mimpi kita untuk mengelilingi nusantara. Tapi hari ini aku duduk di rumah, menghabiskan satu kemasan jumbo facial tisu untuk mengusap ingus, dan berjalan tertatih menahan perih akibat sobekan karang di telapak kaki. Aku tak tahu kabarmu saat ini dimana,, dan tampaknya aku malas untuk mencari tahu. Yang aku sadari sekarang,, rencana tinggal rencana. Rencana manusia apalah artinya. Aku tak tahu di benakmu perbincangan kita beberapa bulan lalu berarti apa. Tapi buatku, itu seperti janji tak terucap untuk kemudian dilakukan actionnya. Aku tak menuntut harus jalan bersama kamu. Ahh,, lagi-lagi aku disadarkan, sesuatu yang pasti di dunia ini hanya perubahan. Bahkan janji manusia pun tidak bisa dipegang. Lagipula, siapa suruh percaya pada manusia. Pelajaran hari ini,, jangan pernah percaya dan bergantung pada manusia!

Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"

sunset dari Pelabuhan Karimunjawa

Jumat, 01 November 2013

Nonton

"Beb, nonton yok. Jadwalnya jam 20.45. Tiga puluh menit lagi kita ketemu di XXI yaa. See you!"


Ah,, saya kangen masa-masa nonton impulsif. Kolaborasi antara keinginan, chat-chat singkat yang random, dan berakhir dengan keputusan dadakan yang seringnya malah terlaksana dengan sukses. Lari-larian ke kamar mandi, nyetir lima menit, cari parkiran asik, sampe ngos-ngosan manjat eskalator. Baru atur nafas pas di dalam gedung teater sambil mengais partikel-partikel otak demi memahami film yang sedang ditonton. 

Belakangan saya merasa hidup saya sedikit membosankan. Dunia kerja yang dulu bikin saya penasaran, akhirnya sudah saya cicipi. Bukan cuma nyicip ding, tapi juga menggelogok. Ternyata saya sudah bergaul dengan pekerjaan saya yang sekarang selama 4 tahun. Lama juga ya. Betah juga saya sama kerjaan ini. Tapi kok lama-lama saya merasa saya stuck. Saya merindukan kehidupan yang statis, berubah, bergerak.

Kemudian, Tuhan seperti jawab pertanyaan saya. Malam ini saya menikmati layar lebar di dalam teater bersama teman nonton baru. Saya kembali menikmati deal satu jam sebelum film dimulai. Saya lagi-lagi janjian di depan gedung bioskop. Kamu memang sudah nggak bisa lagi nemeni saya, tapi ada temen baru yang siap berbagi rasa tentang cerita. Ternyata dunia saya sudah berubah.

Saya jadi tarik garis lagi ke belakang. Saya ingat masa-masa awal saya kenalan sama bioskop dan film berlabel dewasa. Kala itu saya nonton film fenomenal Titanic bareng ibu. Pas di bioskop saya ketemu temennya ibu, dan bercanda tentang umur saya yang mesti dituain sepuluh tahun biar bisa nonton film yang ada adegan orang telanjangnya itu. Hahahahah. Dunia saya berubah. Saya juga berubah. Sekali lagi saya diingatkan, perubahan itu pasti. Kepastian di dunia itu ada.

Kamis, 10 Oktober 2013

Movie Review: Gravity

My expectation when I decided to watch this movie in 3D is I wanna feel how it feels travel in space.


Menit-menit pertama rasanya datar. Cuma percakapan antara tiga astronot dan menara pengawas di bumi. Adegannya ya cuma astronot lompat-lompat, melayang kesana kemari, yang menjelaskan kata-kata awal no air pressure, no oxygen, gravity.
Well, the problem finally come. Tempo musik pun dipercepat. Ketegangan meningkat. Oke sampai sini aja. Film untuk ditonton kan.
Musik di film ini keren banget. Sangat sangat meningkatkan atmosfer cerita. Kadang, hanya ada hening. Tapi dalam hening itu justru ada pesan yang disampaikan. Sebagai film petualangan, ini film seru banget. Saya dapat pesan moral, 'Kamu selalu punya tujuan untuk pulang. Drive through home.'
Dan soal ekpektasi saya tentang gambar indah di luar angkasa. Itu luar biasa. Bumi sungguh indah. Bintang-bintang di luar Galaksi Bima Sakti juga indah sekali, dan kembali membangkitkan pertanyaan saya tentang dunia yang super luas di luar sana. Tapi sekali lagi saya disadarkan, kamu nggak lebih dari titik di alam raya ini. Apa yang kamu tau belum apa-apa.  Tapi sekecil apa pun yang kamu pikir, rasa, perbuat, pasti berakibat di jagat raya yang kamu sendiri nggak tau seluas apa.

Selasa, 17 September 2013

Heavenly Forest

I love story. That's why I love to spend time by reading novel and enjoy movie. From story, I learn about live. Everday I learn to live.




Today I learn about being honest and gratefull. I learn from this Japanese movie. Such simple story but means a lot. Thank you for everyone that bring this nice visualization and the story itself. Kawai.

Minggu, 01 September 2013

Jalan-Jalan Oh Jalan-Jalan

"Kalo mau jalan, ajak-ajak ya."

Kalimat ini sering sekali aku terima setelah kalimat pernyataan, "Lintang enak banget, sering jalan-jalan." Bleh. Kata siapa jalan-jalan itu selalu enak. Kalo menurut ibu sih, 'jalan-jalan itu habis-habisin duit'. Iya. Jalan-jalan butuh duit yang lumayan, meskipun kita pake kata jalan-jalan ala ransel, tetep aja butuh duit buat beli ranselnya kannn,, ato minimal buat kasih oleh-oleh sama yang ranselnya kita pinjem.

Selain duit, jalan-jalan butuh waktu. Semua orang pasti ngerti lah. Kita mesti punya waktu minimal sehari untuk jalan-jalan. Apalagi kalo pengen jalan-jalan ke tempat yang agak jauh, transportasi masih susah, dengan biaya minimal, pasti butuh waktu lebih dan lebih dan lebih.

Yang pasti, jalan-jalan itu butuh energi. Nah,, di bagian ini yang membuat aku kadang males ngajak-ngajak jalan. Semua kegiatan dalam hidup pasti butuh energi untuk melakukannya. Kalo jalan-jalan energinya lebih-lebih lagi, apalagi kalo mau jalan murah. Mulai dari cari harga tiket termurah. Berlanjut dengan bikin rencana perjalanan. Kalo males dengan itenary detail, paling nggak kamu mesti bikin garis besar dari rencana perjalanan kamu. Energi luar biasa ketika menjalani perjalannyanya sendiri, perjalanan menuju tempat tujuan, perjalanan selama jalan-jalan, dan perjalanan kembali.

Seringnya setelah selesai, bakal berasa happy moment. Buat saya akhir perjalanan yang paling menyenangkan adalah ketika kembali pulang, dapat foto cantik, dan bisa berbagi pengalaman menyenangkan. Tapi sayangnya, nggak semua perjalanan selalu berakhir menyenangkan.

Beberapa waktu lalu saya mesti bersedih karena destinasi perjalanan yang sudah aku impikan selama berbulan-bulan tidak jadi aku datangi karena masalah cuaca. Setelah hanya tidur dua jam semalam, rela naik motor jam 3 pagi, naik angkot tua yang koplingnya lepas di gelapnya pantura, ternyata kapal feri yang jadi satu-satunya alat transportasi ke pulau nggak beroperasi karena cuaca buruk. Rencana hari itu berubah total. Tinggal di Jepara yang saat itu sedang merayakan lomban, semacam pesta rakyat seminggu setelah lebaran. Sayangnya, pantai yang biasanya tenang dan damai, hari itu penuh dengan orang di tiap sudutnya, keadaan yang kurang saya suka.

Hari berikutnya, bermodal tiket feri hasil ngantri pagi-pagi, kami dengan was-was menanti keberangkatan. Kami harus menelan kekecewaan kedua kalinya. Feri kembali tidak beroperasi karena masalah cuaca. Huhuhuhu. Hilang sudah bayangan leyeh-leyeh di pulau, seharian bertemu ombak, dan snorkeling di laut. Hiks. Kalau sudah begini, rasa-rasanya energi yang sudah saya keluarkan kok sia-sia. Pengen balik aja ke rumah, bobo cantik di kasur nyaman, dibanding kepanasan nggak jelas di pantai kotor sisa pesta rakyat.


Kalo begini,, apa iya jalan-jalan itu enak?
Buat saya sih, masih ada sisi enaknya dan masih nagih sih :p

Jumat, 30 Agustus 2013

The Things Are Changing. Always

Kembali lagi ke Wonosari, Gunung Kidul, sebuah wilayah di selatan Jogja yang menyimpan banyak kejutan. 


Perkenalanku dengan Gunung Kidul dimulai kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Saat itu aku menyesal terperangkap berjam-jam melewati jalanan sempit dan curam dalam bus kecil bersama rombongan gereja. Saat itu aku cuma bisa memandang pantai dan panas matahari yang menyengat. Salah siapa sampai di lokasi tepat jam dua belas siang. :|

Pertemuan selanjutnya dengan Gunung Kidul adalah di pantai sepi ber-pura. Mengingatkanku pada Bali. Saat itu sore hari, udara sangat bersahabat, apalagi bisa bermain bersama sahabat-sahabat yang saat ini tidak mungkin lagi dilakukan bersama. Ahhh,,, aku kangen masa-masa itu.

Pertemuan berikutnya membuatku paham bahwa Gunung Kidul tak hanya punya pantai cantik berpasir putih, dia juga punya gua-gua tersembunyi yang sangat menyenangkan untuk disambangi. Dari mulai berbasah-basah berjalan selama kurang lebih 2 jam di Gua Cerme, main air di Gua Pindul, sampai river tubing di Kalisuci yang juga punya gua. 

Gunung Kidul tetap memesona. Tapi semuanya tak pernah sama. Terakhir kali aku menikmati matahari terbenam di Pantai Indrayanti, aku merasa rekaman-rekaman memori masa lalu di Gunung Kidul seakan mengingatkanku semuanya selalu berubah, pasti.

Senin, 26 Agustus 2013

Bukittinggi, God's Painting

I don't know what I expected when I visited Bukittinggi last trip. I just remembered the bad thing I had that I wouldn't share it here. But, when I saw to the photos I've took, I realize that I also had nice experience in Bukittinggi, North Sumatra.


Senin, 05 Agustus 2013

Tiket Promo Oh Tiket Promo

Saya punya banyak lokasi impian. Pengennya sih saya datengin semuanya satu per satu. Bahkan beberapa lokasi impian yang sudah berhasil saya datangi, pengen saya datangi untuk kedua, ketiga, atau kesekian kalinya. Tapi terkadang nasib saya sebagai pecinta jalan-jalan dengan budget terbatas, membuat saya terkadang menggantungkan destinasi saya pada tiket promo.


Trip saya ke Sumatra Juni ini ya gara-gara tiket promo. Tergiur dengan tiket delapan puluh delapan ribu rupiah, saya mengiyakan promo Jakarta-Medan. Ternyata tiket pulangnya nggak promo. Di hari berikutnya rute promonya adalah Medan-Pekanbaru. Tiket promo yang selanjutnya yang bisa bawa saya pulang adalah Padang-Jakarta. 

Jadi begitulah ceritanya, dari Medan saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru. 
Tiket promo ini kadang juga bikin cerita tersendiri. Saat itu kami sedang berdiri cantik di depan gate di Bandara Polonia demi menanti bus bandara yang akan bawa kami ke pesawat. Ah,, saya jadi ingat bandara LCCT di Kuala Lumpur. Karena low budget, nggak ada bus. Adanya pedestrian untuk jalan dari pesawat ke ruang tunggu yang lumayan panjang. Tapi hebatnya, rapi dan teratur. Keren!
Balik ke gate Polonia. Tiba-tiba di depan saya berhenti bus berwarna biru yang buluk. Nggak ada tu cat bertuliskan Angkasa Pura khas bus bandara Indonesia. Kami pun tanpa sadar ngowoh dan bengong. Si petugas memberi isyarat untuk masuk ke dalam bus buluk itu. Kirain itu bus nyasar masuk bandara, ternyata ini bus yang antar kami ke pesawat. Kami pun tak kuasa ngakak cengengesan sepanjang perjalanan pake bus buluk yang ternyata ACnya anget itu. Si petugas ngeliatin kita, bengong, dan lama-lama ikutan ngakak sambil bilang, 'bentar lagi kan bandaranya pindah'. Hahahahahahahah,,,. Nasib tiketnya 88ribu ya begini ni. Untung pesawatnya ACnya adem.

Pekanbaru. Kota ini nggak pernah ada dalam daftar impian saya untuk dikunjungi. Tapi akibat tiket promo, saya pun terdampar disana. Saya nggak pernah punya itenary untuk Pekanbaru, la nggak ngerti ada apa dan mau ngapain disana. Ternyata Pekanbaru ramah sama saya. Kenalan sama abang baek dengan cerita hidupnya yang kaya. Bertemu teman lama dan kembali berbagi cerita. Mulai dari makan babi panggang dengan cabe pedes ala Pekanbaru, minum teh di china town yang spesial, maen-maen ke pasar tradisional, sampe makan es duren yang enak. Terima kasih ya Pekanbaru.
Kayaknya saya bakalan balik lagi deh ke Pekanbaru. Propinsi Riau punya banyak pulau cantik yang menarik. Tu kan, saya jadi nulisin Pekanbaru sebagai destinasi impian.

@dinilint

Jumat, 26 Juli 2013

Medan In A Day

Medan reminds me about what I've done in the past. I had to visit Medan every month before head off to Nagan Raya. For the city for transit for a night, I just remembered Medan just as another big city in Indonesia. The traffic is not as crowded as Jakarta, there's so many big trees in some areas. But, the most memorable thing I've remembered about Medan is the people always said out loud. I remembered for the first time I arrived in Polonia Medan, the porter offer me his service in out loud voice, like people who get angry, and it were scary me. The another scary thing is when I've looking for the taxi. There's no enqueue for taxi. The driver compete to ask louder to me. Then I got my driver, his taxi didn't ready yet and I had to wait while he look for the way how to make his taxi arrive in front of me. And there's no argo. We have to bargain first. Ah,,, crazy.

It was little memories from my previous trip about Medan. I expect something different on my trip this time. Yeah,, because it's my backpacking trip. Medan, what you offer me?


The traffic in Medan is so crazy. There are traffic lamp, but it's only for complement that it was big city. When you try ride a motorbike in Medan, you have to very be careful. People always try to find the way,, even it just some narrow split between car and building. My friends said that, it's 'Medan' from words 'edan' (crazy). Hahahaha.


New place that makes me fall in love to Medan is Graha Maria Annai Velangkani. It is a church for every religion. Build by a pastor without any draw or sketch like usually architect done to build a building. The architecture is like India. The pastor is from India too. Every build had some symbol. When you enter the gate, you'll see the road that like people who whorship (the had and both hands lay down to the main building). It is seven-level building that means the sky where heaven exist is very high. On the stairs to second level, there are pictures that tells about seven days of creation by God. Inside the hall there's many verse from bible that written in the upside wall. Every religion may come to this church. Lovely.


It was so adorable to see an old building inside the busy area of Medan. The building still very pretty and maintained well. It is Tjong A Fie House. We had to pay 35,000 rp to look inside the house. Tjong A Fie is one of the rich chinese people from Medan. We look up in hurry and I just admire the building. I forgot about the story of Tjong A Fie itself. Bad me :(


Everytime I go to Medan, that means visit Istana Maimun. It's like the symbol of this city. You can get souvenir from Medan here. Or try traditional clothes from Medan and take pictures. Or just looking into big building. Pay 5000 rp to look inside.


Actually trip for work and trip for backpacking is so much different. I enjoyed my trip this time. Thanks again for my lovely friends from Backpacker Medan. You are awesome. 

Senin, 22 Juli 2013

In A Rush

After long debate, share thoughts, and belief that goodwill bring good result, we decide to move to Medan through Brastagi. We wished for Menara Pandang Tele, Air Terjun Sipiso-Piso, and Taman Alam Lumbini.


After got ride from lovely kakak and her friends, use elf as public transportation to Pangaruan, then change another car, finally we reached Menara Pandang Tele. The view from Pangaruan to Menara Tele is amazing and breathtaking. If I use private vehicle, I'm gonna stop by and just breath the air. The road is nosedive and uphill. The public transportation is just an old car. But, the driver is very calm. He looks like know the road very well. I think he is, because he always do the road everyday for years. And I just enjoyed the road. You have to see by yourself for the view.

There are small place to eat in front of Menara Pandang Tele. We ordered noodle soup. Actually, it's the only menu they had for eat, noodle soup or fried noodle, beside coffee. But, noodle in Sumatra is different. Although they used instant noodle for the main ingredients, but they had their own seasoning. And when you taste it, you know that it is Sumatran seasoning. Delicious.


Menara Tele is one of the place that you have not to miss if you visit Samosir or Brastagi. What that people said about Tele, the view, the experience, the feeling, are true. I enjoyed myself there, enjoying the view of Toba Lake from above. Unfortunately, it was so many fog that day. Maybe I have to come back in the future. Come accompany me, please.

what you can see from Menara Pandang Tele

We took another car to our next stop, Air Terjun Sipiso-Piso. It's already noon. We wished the time is friendly to us. Thanks God, we got the car. Some fuchisia one. Lovely, isn't it? We stop at Simpang Tiga Merek. We had to use bentor, becak motor to reach Air Terjun Sipiso-Piso. And there we are! Yeay!

Sipiso-Piso Waterfall from above
I can see Toba Lake from Sipiso-Piso

The bentor took us back to Simpang Tiga Merek. The next plan is Taman Alam Lumbini for great pagoda. We took another elf to Kabanjahe. Be careful in this area. There are many pander that said they'll help you, but they ask for more money from you. But, there are many good people that really help too. You have to recognize it.

The elf was full of people. We never now how's Kabanjahe looks like. The man that we used call kenek in that elf doesn't know about the pagoda we want to go. Ouwh,,, we had to survive. But, the goodwill bring good result. We met lovely lady, she wanted us to call her inang, mom in Batak. Inang knows about the pagoda that we mention. She said to the kenek, that man where we have to stop. Actually, we had to change to another car. Thank God, when we stopped, the car to Pagoda is nearby. She asked to kenek to help us stop that yellow car. We're on the right route. Yeay. Thank you Inang. 

The yellow car took us until in front of the pagoda, Taman Alam Lumbini. Actually there's no public transportation into in front of the pagoda. Thank God, we met lovely students that told to the driver, that we want to stop in front of the pagoda. And he said yes. Actually we had to pay more.

rotate clockwise while you wish for something good
the details
the sky fill with pray
happy vesak, hijab girl, and manga inside the pagoda
Unity in diversity = Indonesia :)

We have another yellow car in front of the pagoda that evening. The time is just perfect. It was the last car. We didn't need to walk through strawberry gardens. We stop in the main road and change into elf that take us to Medan. After about two hours, we reached Medan at 6.30 pm. Once again, the time is just perfect. Thank God. Goodwill bring good result. Just do it best, and let God do the rest.

the road back to Medan
we've made it. Yeay!

Minggu, 21 Juli 2013

Challenge

Become backpacker in my own country, Indonesia, is much more challenging than in other country that I've been visited. In Indonesia everything can happen and unpredictable. There's no fix schedule for public transportation. There's no ATM machine everywhere. And sometimes, that people tricked you because you are traveller.


We had debate about our route today. The plan is back to Medan from Samosir. We wish to reach Medan before night. I wish to cross Brastagi to go to Medan instead use our previous route yesterday. Retta worried about the time. When the people said it was 5 hours it can be 8 hours, and she was afraid that we can reach Medan before night. I've already call some friends that had experienced Medan before. We're also read friends travel journal about Medan. But, it was unpredictable. We debated that morning about our route.

Thank God, there's travel information centre in Caroline, our lovely guesthouse in Tuk Tuk, Samosir. We asked about the transportation, the time estimates to go, and the possibility about our itenary for today. I wish to visit Menara Tele [they said the view is very great], Air Terjun Sipiso-Piso, and Taman Alam Lumbini for experiencing the pagoda. Retta felt the time will not make it. The distance between one object to antoher is far. The time estimate is about 2 until 3 hours.

The debate still continue that morning. It was 8 am. But, kakak in information center told us that there are many public transportation that can pick us to Panguruan. This lovely kakak and her friend offer us a ride to Tomok, where we can get the car to Simpang Ambarita first, then change the car to Tele. We said yes and jumped to the motorcycle. Lucky us. We met the car in the road, so we don't have to waste our time more to Tomok.

It was elf. There's so many people inside. We have to coincide-rush into each other to fix into the car. Then, I met Indonesia. I don't know everyone on it. But I can talk like old friend. About everything. About our trip, about their life in Samosir, about our thoughts. It was fun! This is one of the fun thing about being backpacker, in solo trip or in very small group. This time, just two of us. Thank you for being my travelmate. Thank you Indonesia.