Rabu, 20 November 2013

What To Do In Karimunjawa

This post is about Karimunjawa. This island located in the north of Jepara. Karimunjawa is the big island. There are many small islands. Most of the island is uninhabitated. The underwater is great. I think it's better if you dive there, but snorkeling is also fun.


What time is the best time to visit Karimunjawa?

Sabtu, 16 November 2013

Sehat :)

Sejak masih kecil, aku selalu punya keinginan untuk bisa berkeliling dunia. Bagaimana caranya? Entahlah.
Meninginjak usia dewasa, aku mulai sadar akan beberapa hal untuk mewujudkan impianku itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan.

Aku ingat guyonan-guyonan di antara pejalan. Ketika muda, kita punya banyak waktu, tapi nggak punya banyak uang. Ketika kita punya banyak uang, kita tak punya waktu. Ketika kita punya banyak uang dan waktu, kita sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan. 
Mereka menganggap tua itu dekat dengan penyakit, penurunan fungsi tubuh, dan hanya diam di rumah.
Berhubung aku masih muda, aku mau membentuk masa tua ku. Aku tidak mau masa tua ku dekat dengan kata penyakit, fungsi tubuh yang menurun, bahkan hanya bisa diam saja di rumah. Bersyukur aku dikelilingi orang-orang yang menunjukkan bahwa di masa tua mereka, mereka bahkan bisa lebih produktif lagi, lagi dan lagi. 

Luka Sobek di Kaki

Setelah suara mesin kapal perlahan berubah menjadi pelan, kapal akhirnya berhenti di tengah laut. Pulau berpasir putih tampak di kejauhan. Apa kita bakalan snorkeling lagi?
"Dari sini kita hanya bisa jalan kaki. Lautnya terlalu dangkal sehingga kapal tidak bisa ke pantai." penjelasan mas Ta'il menjawab pertanyaanku.
Olala,, setelah agak kering, aku mesti basah-basahan lagi nih. 
Kedalaman laut ini hanya sepaha. Dasarnya adalah pasir putih super lembut. Namun, kita harus hati-hati. Kita harus melihat ke bawah, jangan menginjak karang yang warnya coklat. Di balik karang, seringnya ada ikan karang yang bersembunyi. Bila terinjak dia bisa mengeluarkan racun sebagai pertahanan diri.
Demi selamat dan nyaman, aku mengikuti arahan untuk jalan di pasir yang tampak berwarna putih. 
Duh,, tampaknya kaki kananku menginjak karang. Rasanya nyut-nyutan. Pasti ada luka ini. Aku pasti kurang hati-hati. Aku pelankan langkahku, dan menajamkan penglihatan. Aku buat diriku berjalan tetap di pasir yang berwarna putih.
Sesampainya di pulau, kakiku masih berasa nyut-nyutan. Huh,, lukanya belum menutup juga rupanya. Tapi jika dibuat berjalan di pasir, sakitnya tidak terlalu berasa. Aku beranikan untuk melihat telapak kakiku. Tepat di bagian yang sakit, warnanya merah segar, tanda darah segar keluar dari balik kulit yang rusak. Aku ingat cara penanganan luka terbuka adalah dengan mengkompres NaCl. Aku pikir air garam nggak jauh beda dengan air laut kan. Aku bersihkan kakiku dengan air laut super bening. Kulihat kembali. Ya Tuhan,, ternyata kakiku sobek lumayan dalam. Baru semenit, darah segar sudah keluar lagi dari sobekannya. Tak ada apotek atau apa pun di pulau tak berpenghuni ini. Aku tetap memanfaatkan alam untuk pengobatan pertama, kompres air laut.
Aku teringat obrolanku dengan salah seorang penduduk pulau utama Karimunjawa di kapal ferry kemarin. Di Kepulauan Karimunjawa tidak ada rumah sakit, hanya tersedia satu puskesmas. Dokter yang bertugas adalah dokter dari Pulau Jawa. Sering di kepulauan tidak ada dokter karena dokternya ke Jawa, tetapi ada bidan dan perawat. Masyarakat Karimun juga kurang percaya dengan pengobatan medis, mereka lebih suka memeriksakan anak mereka yang sakit ke dukun dengan pengobatan ala dukun. Bila sakitnya parah, mereka baru datang ke puskesmas. Seringnya puskesmas sudah tidak bisa mengatasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Jepara. Untuk membawa pasien dan keluarga ke Pulau Jawa, mereka mau tidak mau charter kapal puskesmas seharga 3 juta dari kantong sendiri.
Mendengar ini, aku jadi merenung. Karimunjawa bisa digapai dengan kapal cepat dari Jepara sekitar 2 jam, tapi untuk masalah kesehatan, mereka seperti masyarakat terpencil. Pengetahuan tentang kesehatan sangat minim, fasilitas kesehatan pun sangat terbatas. Bahkan ada cerita, ibu-ibu melahirkan bayinya di kapal. Haduh.
Berbicara tentang fasilitas kesehatan, aku kembali melongok kakiku. Darah merah segar masih saja mengalir dari luka sobekku. Tampaknya lukanya cukup dalam. Begitu sampai di pulau utama, aku segera cari plester dan menempelkan plester ala kadarnya itu. Aku berharap aku tidak perlu sampai dijahit di puskesmas. 


*Dibutuhkan sekitar 1-2 hari sampai darah tidak merembes dari plester. 
*Dibutuhkan sekitar 5-7 hari sampai kulit telapak kakiku benar-benar menutup, kulit terluarnya tetap harus dibuang karena sudah mati.
*Plester hanya dibutuhkan ketika aku tidak memakai alas kaki. Aku tidak butuh dijahit. Luka sembuh dengan sendirinya

-geLintang-

Kamis, 14 November 2013

Dear Karimunjawa

Nggak tahu kenapa kok saya pernah bilang sama Bali, saya bakalan balik tiap tahun buat mengunjungi kamu! Tahun lalu saya sampe datang dua kali. Tahun ini pun saya sudah  mengantongi tiket JOG-DPS-JOG di bulan November yang saya dapetin di bulan Januari. Tapi rencana manusia ya cuma rencana aja. Saya batal ke Bali tahun ini. Hiks.


Banyak hal yang menyebabkan saya nggak bisa memenuhi perkataan saya untuk mengunjungi Bali tahun ini. Sebelum memutuskan batal, saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, kamu maunya apa? Kalo inget Bali, saya pasti inget laut biru, pasir putih, dan main air. Saya kangen snorkeling. Saya akhirnya menggeser tujuan saya. Saya inget kalo nggak jauh dari Semarang ada spot snorkeling yang cantik dan melambai-lambai manggil saya. Karimunjawa.

Senin, 11 November 2013

w.a.r.n.a

Laut. Kenapa saya selalu suka ya?


 Saya selalu kangen bunyi desir ombak laut yang konstan dan menenangkan. Saya selalu kangen dengan angin laut yang semilir,, sejuk bercampur panas khas laut. Bahkan saya sering kangen bau laut yang asin,, sedikit amis tapi seger. Hahahahah

Sabtu, 09 November 2013

Sabtu siang ini mestinya kita sudah santai santai di pantai menikmati semilir angin Pantai Kuta sambil menenggak sebotol minuman kemasan dingin. 


Perjalanan ini mestinya jadi lanjutan akan cerita-cerita dan mimpi-mimpi kita untuk mengelilingi nusantara. Tapi hari ini aku duduk di rumah, menghabiskan satu kemasan jumbo facial tisu untuk mengusap ingus, dan berjalan tertatih menahan perih akibat sobekan karang di telapak kaki. Aku tak tahu kabarmu saat ini dimana,, dan tampaknya aku malas untuk mencari tahu. Yang aku sadari sekarang,, rencana tinggal rencana. Rencana manusia apalah artinya. Aku tak tahu di benakmu perbincangan kita beberapa bulan lalu berarti apa. Tapi buatku, itu seperti janji tak terucap untuk kemudian dilakukan actionnya. Aku tak menuntut harus jalan bersama kamu. Ahh,, lagi-lagi aku disadarkan, sesuatu yang pasti di dunia ini hanya perubahan. Bahkan janji manusia pun tidak bisa dipegang. Lagipula, siapa suruh percaya pada manusia. Pelajaran hari ini,, jangan pernah percaya dan bergantung pada manusia!

Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"

sunset dari Pelabuhan Karimunjawa

Jumat, 01 November 2013

Nonton

"Beb, nonton yok. Jadwalnya jam 20.45. Tiga puluh menit lagi kita ketemu di XXI yaa. See you!"


Ah,, saya kangen masa-masa nonton impulsif. Kolaborasi antara keinginan, chat-chat singkat yang random, dan berakhir dengan keputusan dadakan yang seringnya malah terlaksana dengan sukses. Lari-larian ke kamar mandi, nyetir lima menit, cari parkiran asik, sampe ngos-ngosan manjat eskalator. Baru atur nafas pas di dalam gedung teater sambil mengais partikel-partikel otak demi memahami film yang sedang ditonton. 

Belakangan saya merasa hidup saya sedikit membosankan. Dunia kerja yang dulu bikin saya penasaran, akhirnya sudah saya cicipi. Bukan cuma nyicip ding, tapi juga menggelogok. Ternyata saya sudah bergaul dengan pekerjaan saya yang sekarang selama 4 tahun. Lama juga ya. Betah juga saya sama kerjaan ini. Tapi kok lama-lama saya merasa saya stuck. Saya merindukan kehidupan yang statis, berubah, bergerak.

Kemudian, Tuhan seperti jawab pertanyaan saya. Malam ini saya menikmati layar lebar di dalam teater bersama teman nonton baru. Saya kembali menikmati deal satu jam sebelum film dimulai. Saya lagi-lagi janjian di depan gedung bioskop. Kamu memang sudah nggak bisa lagi nemeni saya, tapi ada temen baru yang siap berbagi rasa tentang cerita. Ternyata dunia saya sudah berubah.

Saya jadi tarik garis lagi ke belakang. Saya ingat masa-masa awal saya kenalan sama bioskop dan film berlabel dewasa. Kala itu saya nonton film fenomenal Titanic bareng ibu. Pas di bioskop saya ketemu temennya ibu, dan bercanda tentang umur saya yang mesti dituain sepuluh tahun biar bisa nonton film yang ada adegan orang telanjangnya itu. Hahahahah. Dunia saya berubah. Saya juga berubah. Sekali lagi saya diingatkan, perubahan itu pasti. Kepastian di dunia itu ada.

Minggu, 01 September 2013

Jalan-Jalan Oh Jalan-Jalan

"Kalo mau jalan, ajak-ajak ya."


Kalimat ini sering sekali aku terima setelah kalimat pernyataan, "Lintang enak banget, sering jalan-jalan." Bleh. Kata siapa jalan-jalan itu selalu enak. Kalo menurut ibu sih, 'jalan-jalan itu habis-habisin duit'. Iya. Jalan-jalan butuh duit yang lumayan, meskipun kita pake kata jalan-jalan ala ransel, tetep aja butuh duit buat beli ranselnya kannn,, ato minimal buat kasih oleh-oleh sama yang ranselnya kita pinjem.

Jumat, 30 Agustus 2013

The Things Are Changing. Always

Kembali lagi ke Wonosari, Gunung Kidul, sebuah wilayah di selatan Jogja yang menyimpan banyak kejutan. 

Perkenalanku dengan Gunung Kidul dimulai kurang lebih tujuh tahun yang lalu. Saat itu aku menyesal terperangkap berjam-jam melewati jalanan sempit dan curam dalam bus kecil bersama rombongan gereja. Saat itu aku cuma bisa memandang pantai dan panas matahari yang menyengat. Salah siapa sampai di lokasi tepat jam dua belas siang. :|

Pertemuan selanjutnya dengan Gunung Kidul adalah di pantai sepi ber-pura. Mengingatkanku pada Bali. Saat itu sore hari, udara sangat bersahabat, apalagi bisa bermain bersama sahabat-sahabat yang saat ini tidak mungkin lagi dilakukan bersama. Ahhh,,, aku kangen masa-masa itu.

Pertemuan berikutnya membuatku paham bahwa Gunung Kidul tak hanya punya pantai cantik berpasir putih, dia juga punya gua-gua tersembunyi yang sangat menyenangkan untuk disambangi. Dari mulai berbasah-basah berjalan selama kurang lebih 2 jam di Gua Cerme, main air di Gua Pindul, sampai river tubing di Kalisuci yang juga punya gua. 

Gunung Kidul tetap memesona. Tapi semuanya tak pernah sama. Terakhir kali aku menikmati matahari terbenam di Pantai Indrayanti, aku merasa rekaman-rekaman memori masa lalu di Gunung Kidul seakan mengingatkanku semuanya selalu berubah, pasti.

Senin, 26 Agustus 2013

Bukittinggi, God's Painting

I don't know what I expected when I visited Bukittinggi. I just remembered the bad thing I had that I wouldn't share it here. But, when I saw to the photos I've took, I realize that I also had nice experience in Bukittinggi, North Sumatra.


Senin, 05 Agustus 2013

Tiket Promo Oh Tiket Promo

Saya punya banyak lokasi impian. Pengennya sih saya datengin semuanya satu per satu. Bahkan beberapa lokasi impian yang sudah berhasil saya datangi, pengen saya datangi untuk kedua, ketiga, atau kesekian kalinya. Tapi terkadang nasib saya sebagai pecinta jalan-jalan dengan budget terbatas, membuat saya terkadang menggantungkan destinasi saya pada tiket promo.


Trip saya ke Sumatra Juni ini ya gara-gara tiket promo. Tergiur dengan tiket delapan puluh delapan ribu rupiah, saya mengiyakan promo Jakarta-Medan. Ternyata tiket pulangnya nggak promo. Di hari berikutnya rute promonya adalah Medan-Pekanbaru. Tiket promo yang selanjutnya yang bisa bawa saya pulang adalah Padang-Jakarta. 

Jadi begitulah ceritanya, dari Medan saya melanjutkan perjalanan ke Pekanbaru. 
Tiket promo ini kadang juga bikin cerita tersendiri. Saat itu kami sedang berdiri cantik di depan gate di Bandara Polonia demi menanti bus bandara yang akan bawa kami ke pesawat. Ah,, saya jadi ingat bandara LCCT di Kuala Lumpur. Karena low budget, nggak ada bus. Adanya pedestrian untuk jalan dari pesawat ke ruang tunggu yang lumayan panjang. Tapi hebatnya, rapi dan teratur. Keren!
Balik ke gate Polonia. Tiba-tiba di depan saya berhenti bus berwarna biru yang buluk. Nggak ada tu cat bertuliskan Angkasa Pura khas bus bandara Indonesia. Kami pun tanpa sadar ngowoh dan bengong. Si petugas memberi isyarat untuk masuk ke dalam bus buluk itu. Kirain itu bus nyasar masuk bandara, ternyata ini bus yang antar kami ke pesawat. Kami pun tak kuasa ngakak cengengesan sepanjang perjalanan pake bus buluk yang ternyata ACnya anget itu. Si petugas ngeliatin kita, bengong, dan lama-lama ikutan ngakak sambil bilang, 'bentar lagi kan bandaranya pindah'. Hahahahahahahah,,,. Nasib tiketnya 88ribu ya begini ni. Untung pesawatnya ACnya adem.

Pekanbaru. Kota ini nggak pernah ada dalam daftar impian saya untuk dikunjungi. Tapi akibat tiket promo, saya pun terdampar disana. Saya nggak pernah punya itenary untuk Pekanbaru, la nggak ngerti ada apa dan mau ngapain disana. Ternyata Pekanbaru ramah sama saya. Kenalan sama abang baek dengan cerita hidupnya yang kaya. Bertemu teman lama dan kembali berbagi cerita. Mulai dari makan babi panggang dengan cabe pedes ala Pekanbaru, minum teh di china town yang spesial, maen-maen ke pasar tradisional, sampe makan es duren yang enak. Terima kasih ya Pekanbaru.
Kayaknya saya bakalan balik lagi deh ke Pekanbaru. Propinsi Riau punya banyak pulau cantik yang menarik. Tu kan, saya jadi nulisin Pekanbaru sebagai destinasi impian.


- Dinilint -

Jumat, 26 Juli 2013

Medan In A Day

Medan reminds me about what I've done in the past. I had to visit Medan every month before head off to Nagan Raya. For the city for transit for a night, I just remembered Medan just as another big city in Indonesia. The traffic is not as crowded as Jakarta, there's so many big trees in some areas. But, the most memorable thing I've remembered about Medan is the people always said out loud. I remembered for the first time I arrived in Polonia Medan, the porter offer me his service in out loud voice, like people who get angry, and it were scary me. The another scary thing is when I've looking for the taxi. There's no enqueue for taxi. The driver compete to ask louder to me. Then I got my driver, his taxi didn't ready yet and I had to wait while he look for the way how to make his taxi arrive in front of me. And there's no argo. We have to bargain first. Ah,,, crazy.

It was little memories from my previous trip about Medan. I expect something different on my trip this time. Yeah,, because it's my backpacking trip. Medan, what you offer me?


The traffic in Medan is so crazy.

Senin, 22 Juli 2013

In A Rush

After long debate, share thoughts, and belief that good will bring good result, we decide to move to Medan through Brastagi. We wished for Menara Pandang Tele, Air Terjun Sipiso-Piso, and Taman Alam Lumbini.


Minggu, 21 Juli 2013

Travelling in Indonesia is Challenging

Become backpacker in my own country, Indonesia, is much more challenging than in other country that I've been visited. In Indonesia everything can happen and unpredictable. There's no fix schedule for public transportation. There's no ATM machine everywhere. And sometimes, that people tricked you because you are traveller.

At ferry, on our way to cross Lake Toba

We had debate about our route today. The plan is back to Medan from Samosir. We wish to reach Medan before night. I wish to cross Brastagi to go to Medan instead use our previous route yesterday. Retta worried about the time.

Sabtu, 13 Juli 2013

Swimming in Lake Toba

The plan was: move at 7 am then move to Medan. On the way to Medan,, we looked for opportunity to visit some nice places - if we had time. They said, we'll not get enough time because we use public transportation. But, some friends have done that. So, let's do it!


Our alarm had chimed at 5.30. We still have thirty minutes to just lay down on the bed before had to move to the bathroom, take a bath, than take our backpack to hit the road again.

Selasa, 09 Juli 2013

Warm Greetings From Samosir

"How long will you stay in Medan?" "Four nights including tonight." "What is your plan?" "No specific plan. Just want to meet Lake Toba." "Actually, three days is too short time to explore Medan. North Sumatra has so many attractive nature to explore. You'll only get so little in three days in North Sumatra." "Ouwh,,, maybe I need to be back here again next time. Wish for more opportunities to be back to Medan someday."


We depart at 7 am that morning. Our purpose today is meet Lake Toba. We took Sejahtera bus from Medan to Tigaraja harbour. The ferry that will take us to Samosir waited there.

Minggu, 07 Juli 2013

#1st Night, Another Impression

It was late night when we arrived in Polonia Airport, Medan. After all the drama all day [ask me for the drama if you want to know] and two hours hungry sleepless in the plane,, finally we reached Sumatra land. *sujud sukur

I was go to Medan before for some project reason. I had bad experience in the airport. Actually, I don't like the way people offer us the transportation. Those people just like yell to us and compete to force us to use their service. So, I ask friend how to deal with my worries when I know that I will be depart in the evening,, or maybe late night if we have any delay. I can't believe that my new friends in Medan is very helpful. They offered to pick us in the airport. Who can say no?

Our first night in Medan was very nice. No yell from taxi driver. No coercion from service people in the airport. All we have that night was big smile, friendly ride, and new family. Big thanks to backpacker medan.

Lesson learn:
  • working trip and backpacking trip is so much different :p
  • never judge something before you feel it #selfnote
  • accept every possibilities and enjoy the progress *still learning



Sabtu, 06 Juli 2013

Untitled

What is the best thing to cure a broken hearted? They said, move on baby!! Is it really true? Just do it and enjoy the road. So, I choose to move my body. Maybe some journey can make my body move. I wish that my heart can move either.

I have a week to move. I choose to take my backpack prefer than my luggage. I will backpacking. Yeay!
Medan, Pekanbaru, Padang. I've got ticket for those three cities. What will happen to me. I wish for the best. Will my heart fix? How about my journey? How is the road? 

Too many questions. Just take a breath, and enjoy the road.

Minggu, 09 Juni 2013

The Palace

Korea Selatan yang kita kenal belakangan ini adalah Korea Selatan yang menjunjung tinggi budaya. Mereka berhasil mengenalkan budaya leluhur mereka melalui cara yang pop dan gampang diingat dunia, khususnya kaum muda melalui drama dan K-pop music. Jadi kalau kamu sempat berkunjung ke Korea Selatan, kamu harus menyempatkan diri untuk berkunjung ke istananya. 

Kalau ke istana jangan di halaman depannya aja,
foto ini saya dapat di halaman belakang istana.

Seoul yang merupakan ibukota Korea Selatan dan menjadi destinasi piknik no wahid

Sabtu, 08 Juni 2013

Waisak dan Cerita Yang Menyertainya

Saya ingat waisak tahun lalu. Saya ikut merayakan. Saya berdecak kagum memandang langit penuh cahaya. Lampion - entah berapa jumlahnya - beterbangan di udara. Permohonan dilepaskan ke angkasa. Biar semesta yang beri tanda 

Tahun ini aku ingin kembali menikmati suasana magical itu. Menikmati lampion yang beterbangan di udara. Merapalkan permohonan dan melepaskannya ke udara. Bertepatan dengan weekend, saya berencana untuk merayakan waisak hari Sabtu seharian dan minggunya dilanjut dengan jalan-jalan. Tapi, saya terpaksa mengubah rencana dan membatalkan niat. Hari minggu saya wajib bekerja.

Sabtu itu pukul 3 sore. Setelah serentetan drama hidup, akhirnya kami berenam tambah satu berangkat menuju Magelang. Saya cuma pengen nonton lampion sekalian make a wish. Actually I have many wishes. Hehehe. Perjalanan santai ditemani cuaca cerah dan guyon antar sahabat selalu menyenangkan.

Memasuki kompleks Candi Borobudur, suasana sangat berbeda seperti tahun lalu. Seperti dugaan saya dan teman, tahun ini pengunjung yang ingin merayakan waisak lebih banyak. Bahkan lebih lebih lebih banyak. Gila. Kalau tahun lalu mobil saya bisa masuk ke taman kompleks, kali ini masih di pertigaan dekat pasar saja kami tak boleh lewat. Terpaksa kami parkir di pinggir jalan, dan lanjut jalan kaki. Sudah sampai sini. Demi lampion.

Hujan rintik terus saja datang. Sepertinya sedikit, tapi bila tak pakai payung atau pun jas hujan, lama-kelamaan kami akan basah kuyup. Setelah jalan di bawah hujan yang konsisten, melewati petugas berseragam, dan pintu keamanan - waisak kali ini begitu banyakkah orang, sampai-sampai keamanannya sampai seperti di konser dan bandara - akhirnya kami berhasil memasuki kompleks Candi Borobudur. Di dalam kompleks candi, manusia betebaran di mana-mana. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana suasana di depan altar.

Okelah mari kita menikmati waisak bersama. Berpikir secara positif, banyak orang sudah terbuka dengan prosesi agama lain. Mereka mungkin mau mengenal lebih dekat budaya negerinya. Tapi, di kejauhan saya lihat banyak mbak-mbak yang cuma pake pakaian ala kadarnya. Saya ke konser apa ke ritual keagamaan sih. Di ujung sana, saya lihat ada yang ngerokok dengan nikmatnya. Saya ke tempat ibadah atau ke warung kopi. Di sudut mata saya melihat tangan yang dengan santainya melepaskan genggamannya dari botol plastik kosong. Ah,, kenapa masih pada nggak risih buang sampah sembarangan. Saya jadi sedih.

Sampai di depan altar, saya mendengar doa - doa dipanjatkan. Ah,, saya belum ketinggalan pradaksina berarti. Saya pengen ikutan berjalan mengelilingi Candi Borobudur tiga kali sambil merapalkan doa seperti tahun lalu. Tapi, di sela-sela pembacaan doa, saya dengar pengumuman dari panitia, peringatan pada para fotografer, turis, pendatang, atau apalah mereka supaya tidak berada di atas altar. Cosss,,, kok bisa. Pada saat ritual, baca doa, kok ya tega-teganya naik-naik ke altar. Di kejauhan saya lihat ada fotografer - ah,, mereka bisa disebut fotografer nggak sih,, cuma pegang kamera SLR tok - ketawa ketiwi duduk di tempat persembahan. Kok tegaaaaa.

Dan ternyata saya kehilangan momen pradaksina. Entah bagaimana, konsentrasi saya terbelah. Saya kecewa sama orang-orang ini. Kalo cuma bikin bete kenapa rombongan orang ini mesti kesini??

Hujan masih turun dengan konsiste. Rintik, kecil, dan basah. Cuaca yang terus seperti itu mengakibatkan lampion tidak jadi dilepaskan malam itu. Ah,, ada sedikit kecewa di hati saya. Tapi saya mau apa. La wong hujan Tuhan yang kasih. Mungkin saya dan banyak orang di sana belum siap untuk momen lampion. Saya dengar banyak yang kecewa dan menyalahkan panitia. Kok bisa-bisanya??

Tiba-tiba saya tersentil. Saya juga ada di kompleks Candi Borobudur malam itu ya cuma untuk menikmati lampion. Untuk bisa cerita ke teman-teman. Untuk saya sendiri. Keingininan egois. Damn. Apa bedanya saya dengan orang-orang itu?? Apa bedanya saya dengan turis-turis hipster yang dihujat di media sosial? Apa bedanya saya dengan orang-orang sok fotografer yang ganggu-ganggu itu? Kehadiran saya di sana juga cuma menuh-menuhin aja kan. Nambahin pengap. Nambahin macet. Malahan kirim getaran negatif dengan pemikiran-pemikiran kejengkelan saya. Ah,,,

Jumat, 07 Juni 2013

Ketika Donat Hanya Sekedar Bulat

Sebagai penggemar donat ndeso - donat bikinan tangan yang dilumuri gula halus - saya suka kecewa. Sejak menjamurnya toko donat modern di mal mal,, donat ndeso seakan langka dan nyaris sirna. Ibu saya yang sejak sepuluh tahun beralih menjadi vegetarian, menghentikan segala aktivitasnya memasak menggunakan bahan dasar daging, telur, madu, dan segala hal yang berbau telur, termasuk stop memasak donat yang konon resepnya mengandung telur. Jadilah saya kangen setengah mati sama donat ndeso ini.

Setelah bermodal bejo datang ke warung burjo demi beli donat ndeso kesukaan, kemaren entah kesamber jin apa, saya pilih untuk bikin donat sendiri. Bermodal tepung donat instan beserta ragi, sedikit air, dan margarin, akhirnya percobaan donat saya jalankan. Tapi ya itu,, hasilnya donat saya nggak bolong. Padahal hal yang saya suka dari donat itu ya bolongannya. Hehehehe.


Kalo nggak bolong mestinya namanya bukan donat yah. Mungkin ini ibarat cerita jatuh cinta saya kali ini. Entah datang dari mana, tapi rasa sayang itu muncul perlahan. It's like there's butterfly in your stomach. Tapi cinta itu nggak selamanya sayang-sayangan, make relationship, dan berakhir seperti film-film drama romantis itu. Cinta nggak selalu manis. Ibarat donat nggak selalu punya lubang yang bolong. Tsahhh,,,,

Selasa, 04 Juni 2013

Mengenang Si Sepatu

Aku memperhatikan ban berjalan yang masih kosong itu. Pesan bagasi itu mesti sabar. Sabar antri untuk masukin bagasi di bagian baggage drop station. Juga sabar untuk menunggu bagasi keluar seperti saat ini. Kenapa pula,, ini bagasi mesti lebih lama daripada orangnya. Padahal orangnya tadi juga begitu turun dari pesawat mesti jalan memutar dulu, naik bus, dan setor ke toilet. 

Ah,, itu dia. Koper hijauku sudah melambai dari ujung ban berjalan. Jadi aku bawa koper satu, ransel kecil satu, satu kresek besar berisi rumput laut untuk oleh-oleh. Apa lagi ya? Aku menundukkan kepala dan melihat kakiku dengan sandal jepit baru hasil memasuki tiap toko sovenir di LCCT Kuala Lumpur. Terpaksa aku berpaling dari merk sandal jepit favorit sepanjang masa, swallow, ke sandal jepit hitam dengan logo kepala sapi ini. Nggak papa. Demi kenyamanan. Setelah enam hari full jalan-jalan di udara dingin dengan sepatu boot berhak 5cm, begitu sampai di suhu 30 derajat celcius, kakiku protes. Tapi,, di mana sepatuku ya?

Seingatku aku masukan sepatu itu ke dalam plastik hitam. Pinginnya supaya praktis aku masukkan jadi satu dalam kresek super gede berisi nori. Tapi membayangkan makanan yang akan kumakan dan dibagikan ke sanak sodara mesti tercemar dengan bau sepatu demi kepraktisan,, kok ya nggak tega. Akhirnya aku tenteng aja satu-satu. Tapi ini nih akibatnya. Nasib teledor, ternyata plastik berisi sepatu tadi ketinggalan di cabin. 

Aku inget beberapa jam lalu. Saat menemukan sandal jepit yang nyaman, rasanya sepatu boot itu jadi alas kaki paling menyebalkan. Aku berpikir, sepertinya sampe rumah ini sepatu bakal pensiun. Lah, aku nggak mungkin demi gaya mesti pake sepatu boot yang panas di udara tropis Indonesia.

Jadi ternyata, sebelum aku membuat si sepatu, sepatu duluan yang nggak mau bareng aku. Lucu yah. Barang kalo udah nggak disayang dan dibutuh suka menghilang begitu saja dari pemiliknya. Aku jadi teringat jasa-jasa si sepatu. Di suhu 5-15 derajat celcius dia bantu supaya kakiku tetap hangat supaya bisa jalan lebih jauh. Dia juga bikin penampilan aku di foto jadi modis dan stylish. Halah. 

Ya sudahlah. Ada pertemuan, juga ada perpisahan. Toh, dalam waktu dekat aku nggak ada rencana berdingin-dingin lagi dan butuh sepatu boot. Mungkin persahabatan kami cukup di dua perjalanan. Aku kenang kamu di post ini ya, sepatu. Good luck for your new experience.

Dinilint

Jumat, 31 Mei 2013

Getting Into Peak of God, Mahameru

It was ten o'clock. Dark. Cold. But there's a lot of noises inside tent. Everybody get prepared. We put water and biscuit into the day-pack  We'll go the journey to the peak of Semeru Mountain, Mahameru.
Me, as the only girl in the group, just only have two choices, to stay at the tent alone with this cold weather and possibility to getting cold, or follow other seven boys to the peak. I choose second choice with all the consequences. I have to get to the peak!!


Thick jacket, windproof jacket, thick sox, shoes, skullcaps, and headlamp became my accessories that night. We eight walking together with three day-pack that carried three liters of water. We promised to walk together around Arcopodo forest. That night, not just eight of us that try to reach Mahameru.

Senin, 27 Mei 2013

Petit France,, When I Can Taste France A Little

Perancis adalah salah satu destinasi impian untuk aku. Ketika tahu bahwa di Korea Selatan terdapat taman kecil yang dibangun menyerupai taman-taman di Perancis,, tentu saja aku wajib berkunjung ke sana.

Jumat, 24 Mei 2013

Nami Island,, When Childhood Memories Become Reality

"It's already 1 pm and we've just have one hour left." | "I think we should eat fast." | "How about if we change the plan. Eat slowly in this traditional restaurant, enjoy the bibimbap. We can spend a day in this island. And Petit France for the next day,, Maybe for a day too,, like in this island." | "Good idea!!"


Nami Island. Salah satu tujuan wisata di kalangan turis yang akan berkunjung ke Korea Selatan karena serial Winter Sonata. Konon kabarnya pemandangan paling bagus di Nami Island adalah saat musim dingin. Saat itu tumpukan salju putih akan memenuhi pulau. Akan tetapi ketika berkunjung saat musim semi, saya juga bertemu tumpukan putih khas tampilan winter sonata itu.

Senin, 20 Mei 2013

Belanja di Seoul

"Kak, kalo trip Korea ini aku mau siapin budget khusus buat belanja. Baju Korea kan lucu-lucu. Kosmetiknya juga murah-murah."

Kecapean belanja,, jadinya kakinya diangkat :P

Itu kata-kata adek saya sebelum berangkat ke Korea. Tapi,, ah masa sih belanja di Korea murah. Kalo lihat dari biaya makan yang lima kali lipat dibanding Indonesia,, masa sih murah? Belum lagi brand kosmetik Korea di Indonesia harganya lumayan mahal.

Jumat, 17 Mei 2013

Dear Semeru, Akhirnya Kita Bertemu,, Finnally We Met

Semeru. This was my dream for some years ago. After meet great travelmate,, ups, I think climbermate, I feel brave to meet you, Semeru.


2006. It's my first time know about mountain, hiking, climbing, and Ranu Kumbolo in Semeru Mountain. Blame it to 5cm. Yes, since I love to the story and had found story about climbing mountain in that novel, I had wish to visit Semeru Mountain.

Rabu, 15 Mei 2013

Mendaki Gunung Namsan

"Kalo dilihat di peta, Namsan Park letaknya nggak jauh dari tempat kita berada. Coba naik bus aja yok."

Sunset di Namsan

Ternyata,, naik bus nggak segampang naik subway. Kami salah turun dan

Rabu, 08 Mei 2013

Baju Untuk Musim Semi Bagi Turis Tropis

"Datang ke negara 4 musim pas spring aja. Musim semi. Itu waktu paling ideal untuk jalan-jalan. Udaranya sejuk."

Begitulah nasehat teman-teman pada saya untuk melakukan perjalanan di negara 4 musim. Ketika musim semi suhu mulai menghangat, bunga-bunga bermekaran dan udaranya hampir sama dengan di Indonesia yang beriklim tropis. Koleksi pakaian musim semi bahkan dirilis bersamaan dengan koleksi pakaian musim panas, yang berarti kemungkinan besar udara di musim semi dan musim panas itu sebelas dua belas alias hampir sama. Berlibur saat musim semi berarti cocok buat aku si orang tropis yang suka dengan angin sepoi-sepoi bersuhu 25-30 derajat celcius. Rasanya nggak ada masalah tentang baju, bawa baju-baju yang biasa aku pakai di Indonesia ah.


The Fact:
  • Musim semi itu bersuhu 4 - 18 derajat celcius. Belum lagi ditambah angin,, bikin tambah dingin.
  • Kalo nggak tahan dingin mending bawa jaket tebel. Biasanya dinginnya berasa ketika pagi hari, malam hari, dan ketika angin berhembus.
  • Jangan terkecoh dengan dandanan orang lokal yang pake jaket jeans biasa, kemeja flanel, dan rok mini dengan kaos kaki panjang. Mereka udah biasa.
  • Meskipun jeans itu super modis dan paling cocok untuk suasana apapun,, jangan pake jeans di udara dingin deh [kecuali si jeging yah,, karena dia nempel ketat jadi bikin anget, bahannya pun beda dari jeans biasa]. Saya udah nyoba pake jeans dialasi long john di dalamnya,, yg ada malah hawa dingin meresap ke kulit. Mending pake stocking deh,, karena dia nempel ketat, jadi nggak ada angin dingin masuk.

Dinilint
Enjoy your spring, tropical people!

Senin, 06 Mei 2013

Makan, Ngemil, Gaul Ala Korea

Bener kata orang, kalo mau belajar tentang kebudayaan setempat, cobalah makanan lokalnya! Jadi, di post kali ini saya bakalan kasih beberapa foto makanan. Siap-siap ngiler yah ;)


Selama enam hari jalan-jalan di Korea, apa saja yang saya makan? Demi mengingatkan diri sendiri dan berbagi cerita ke kamu, saya bakal ceritain per hari makanan jenis apa yang masuk ke badan saya seminggu itu.

Minggu, 05 Mei 2013

Ketika Instagram Tak Selalu Kotak

Instagram,, salah satu social media paling hip Di antara pengguna smartphone. Berawal dari aplikasi Di iPhone, kemudian melebarkan sayap ke android. Berbagi visualisasi pun menjadi lebih mudah dan seru.

Awalnya saya agak kurang setuju dengan pembatasan frame kotak. Gambar yg biasa saya lihat itu dalam frame persegi panjang. Landscape untuk gambar pemandangan atau potrait untuk gambar manusia. Tapi instagram hanya memberikan saya gambar kotak. Untuk apapun. Tanpa pilihan.

Saya pun mengamati gambar-gambar dalam frame kotak itu. Dari situ saya bertemu sudut pengambilan gambar yg unik, objek tak biasa, dan pengalaman visualisasi yg berbeda. Kotak-kotak ini menjadi seru, menantang, dan tentu saja menyenangkan.

Sampai akhirnya saya bertemu aplikasi photo square. Postingan foto Di instagram tak lagi utuh kotak. Ada bagian putih atau hitam sebagai sisa. Rasanya beda.

Sekarang tak seperti dulu. Ada yang beda. Ada yang berubah. Ya seperti hidup. Tak pernah sama. Saya pun harus meninggalkan keseruan saya menikmati frame kotak. Saya belajar melihat space putih atau hitam di antara gambar. Saya bahkan pakai juga aplikasi yg mampu membuat gambar landscape dan potrait menjadi square tanpa proses crop.

Cara paling seru untuk menghadapi perubahan adalah berdamai dengan perubahan kan. Saya percaya perubahan selalu hadir untuk membuat sesuatu menjadi lebih baik.

@dinilint

Rabu, 01 Mei 2013

Sakura di Korea; Perginya Bulan April Aja ;)

Kenapa saya pilih bulan April untuk trip saya ke Korea? Demi ngerasain lihat sakura!!

sakura di pinggir jalanan Seoul

Sakura itu identik dengan Jepang. Bahkan negara ini menyebut dirinya negeri sakura. Ketika hawa dingin mulai menghangat, bunga mungil ini pun memenuhi ranting pohon. Pemandangan cantik mekarnya sakura cuma bertahan selama kurang lebih dua minggu. Tapiiii,,, sebenarnya bunga sakura nggak cuma tumbuh di Jepang. Jadi saya pun merencanakan pergi ke Korea demi menikmati mekarnya si bunga cantik ini yang di Korea disebut cherry blossom. 

Selasa, 30 April 2013

Belajar Sejarah Lewat Beruang

Entah mengapa saya suka sekali dengan boneka beruang, yang lebih populer disebut teddy bear. Jadi ketika berkunjung ke Seoul, Korea saya tidak akan melewatkan masuk ke Teddy Bear Museum. Tapi, kenapa beruang?

Museum beruang di area Namsan Tower, Seoul

Untuk masyarakat Korea, beruang punya cerita rakyat sendiri. Konon kabarnya jaman dulu harimau dan beruang berdoa pada dewa supaya bisa menjadi manusia.

Minggu, 28 April 2013

Bobo di Mixed Dorm, Why Not?

Sebagai penikmat jalan-jalan, saya selalu suka mencoba hal baru. Di trip kali ini saya mau nyobain bobo di mixed dormitory. Iya, ini yang sekamar rame-rame. Kamar saya kalo penuh bisa menampung sepuluh orang. Iya, kamarnya bisa buat cowok dan cewek. Seru!

Foto bareng temen-temen satu hostel.

Sabtu, 27 April 2013

I Just Fall In Love, Don't Ask Me Why


Perjalanan


Membuatku melongok ke depan, ke atas, juga ke bawah dan belakang


Menikmati apapun yang terjadi di sekitar


Seperti warna cerah di musim semi. Warna pink dari bunga cherry yang sedang mekar

Warna bumi yang coklat berbaur merah
Yang mereka sebut
Vintage


Tak lupa ada krem di antara biru
Berdansa,, berbagi rasa


Dan kuning yang bersenandung dengan titik-titik hijau


Memandang ke kejauhan,, menikmati apa yang terhidang di hadapan,,


Ketika warna langit berubah menjadi lebih biru,, gelap,, dan cahaya terang memantul di kejauhan,,


,,dan gelap pun berganti menjadi terang. Dunia sedang berputar sayang.


Biarkan aku menikmati cinta dan menjalaninya,,
Dengan cinta
@dinilint

Kamis, 25 April 2013

Berkunjung dengan Visa Turis ke Korea Selatan

Jadi kenapa Korea? Alasan pertama, saya dapat tiket murah setahun yang lalu,, sekitar tiga koma dua juta rupiah pp dengan air asia. Kedua, ini temennya Jepang,, bahkan sekarang Korea jadi salah satu rivalnya Jepang, dan saya udah berkunjung ke Jepang,, jadi mesti bikin semacam perbandingan. Ketiga, tentu saja hasil bawah sadar saya setelah menikmati cerita seru sinetron-sinetron Korea, setting lokasi syuting yang eye-catchy, wardrobe yang colorfull, sampe aktor dan aktrisnya yang bikin mata nggak berkedip. Here we go, Korea Selatan!! [iya belum berani ke Korea Utara]

Yeay Lintang nyampe Korea ^^

Sabtu, 06 April 2013

...

When I feel the time still moving, everything around me keep on moving, and I feel like I'm just stuck here, God make me stop and see to my back. What I've done these years?

I remembered when I do my job for the first time. I was so young and childish (well, today I'm still young but little mature ;)). I see that all of my partner is professional mature young women. They are very cool. Some of them able to manage her time between job and family. Some of them is very happy with their single life and do everything they want to do. One I adore so much, is a thirties women that always spent her holiday to travel.

That day, after some weeks I work officially in that ward, fortunately I met her. She just come back from her vacation in Singapore. Her skin so tan and her smile so bright. She told us story about her vacation to all of us as a gift. I admire her so much and wondering, can I do a life like her?

Years go by. I'm not longer work in that ward. I met more people. I do my lovely job and not living half day in ward anymore for life. Then I realize, I've done more than that girl done in my life right now. I'm still twenties. Wow. I did and still do to travelling to many places.

When I ask to my life why am I stuck, I just realized that my life become my life I've dreamed about some years ago. I'm moving too. And I have to feel grateful because my life move to something amazing.

For the next years that waiting me in life, I just do the life. I believe that God has prepare my blue plot for my life. I have to do it happyly. 

@dinilint
always moving to the better. 

Rabu, 03 April 2013

Madre dan persepsi saya

Saya nggak pernah nyangka, roti itu punya makna 'lebih' di balik adonan mengembang yang dimakan.

take from here

Madre, saya baca ceritanya beberapa tahun yang lalu. Saya dibuat takjub dengan cara bercerita Dewi Lestari tentang adonan roti. Cerita tentang biang istimewa yang hidup serta toko roti yang mati suri. Juga kehidupan Tansen yang nggak biasa. Cerita Tansen ini nih, menjadi salah satu cerita yang menyuburkan bibit-bibit bertualang dalam diri saya dan akhirnya dalam kehidupan saya. Dan saya jadi lebih menghargai sesuatu,, apa pun bentuknya lewat madre.

Tahun ini, saya menikmati Madre dalam bentuk audio visual. Cantik sekali. Terima kasih untuk om Benny Setiawan dan semua pendukungnya yang berhasil mem-film-kan Madre dengan indah. Kali ini saya menikmati cintanya Madre. Bentuk persepsi lain yang saya dapat dari Madre. Saya menikmati tiap adegan yang bercerita pada saya tentang perubahan dan cinta.

Seperti juga diri saya ketika mendapat inspirasi dari suatu karya, yang berubah, perubahan itu selalu ada dan pasti. Hal paling pasti di dunia memang perubahan kan. Selamat berubah.
Psst,,, saya yakin perubahan-perubahan yang terjadi selalu mengarah ke arah yang lebih baik ;)

@dinilint
is changing everyday, to better way

Senin, 25 Maret 2013

Surat Cinta di balik Visa Korea Selatan

Dear ibu pegawai travel agen langganan,

Sudah sekitar dua tahunan ini keluarga kami percaya sama layanan travel agen tempat ibu bekerja. Saya ingat terakhir kali pakai jasa travel agen tempat ibu bekerja dalam rangka pembuatan visa jepang. Saya bahkan rekomendasikan teman saya untuk bikin di travel agen tempat ibu bekerja. Saat itu yang melayani saya bukan ibu, melainkan rekan ibu yang muda dan ramah.

Saya berharap, ketika kembali lagi ke travel agen tempat ibu bekerja, saya menerima pelayanan yang memuaskan. Hari itu saya datang lengkap dengan persyaratan visa korea selatan dari daftar yang diberikan oleh travel agen tempat ibu bekerja. Paspor asli, copy ktp, copy akta lahir, copy kartu keluarga, surat reerensi bank, copy buku tabungan, copy tiket pesawat, bukti penginapan, surat sponsor, dan pas foto latar belakang putih 4x5, itenary selama di korea, sampai perkiraan budget sudah saya siapkan. Semuanya baik-baik saja. Sampai Anda melihat jumlah saldo tabungan saya. 

Anda mengharapkan saya menambah jumlah saldo tabungan saya supaya berjumlah sepuluh kali lipat. Saya berkata ketika saya mengurus visa jepang saya tidak perlu menunjukan kepemilikan sekian puluh juta dan visa saya diterima. Tapi Anda menolak dan mencari-cari alasan demi saya menambah jumlah saldo tabungan saya. Saya ingat kata rekan Anda yang muda dan ramah, bila saya menambah saldo tabungan secara mendadak, ada kemungkinan untuk ditolak karena curiga uang tersebut hanya pinjaman. Salah satu pelanggan Anda pernah ditolak visanya karena tabungannya mencurigakan. Anda tetap berharap saya menambah saldo tabungan saya.

Ibu pegawai travel agen langganan, saya tidak punya uang sebanyak puluhan juta. Apakah saya tidak boleh bepergian? Apakah traveling ke luar negeri milik orang kaya saja?

Saya pilih diam dan mencari alternatif yang lain. Di Semarang ini banyak travel agen yang bersedia membantu menguruskan visa ke luar negeri. Dengan berbagai syarat tentunya. Saya memilih Agen Travel Modern di jalan gajahmada. Begitu datang dengan dokumen lengkap saya disambut dengan hangat. Bahkan saya tidak perlu bolak-balik ke kantornya, karena begitu visa saya jadi saya tinggal transfer dana dan visa diantar sampai ke rumah. Ya, saya dapat visanya. Dengan tabungan saya yang apa adanya ibu pegawai travel agen langganan. Ups,, sekarang sudah ganti langganannya.


Terima kasih Tuhan, saya diijinkan melanjutkan perjalanan menikmati ciptaanMu. Thanks to South Korean Embassy for accept my visa aplication. Terima kasih Agen Travel Modern Semarang dalam membantu pengurusan visa. Thanks to myself for not giving up to make dream come true.

@dinilint
budget traveller yang uang nggak banyak-banyak amat

Childhood Memories from #castle

Kotak kecil itu berubah warna. Perlahan muncul berbagai warna yang saya kenal sebagai warna pelangi, merah, hijau, kuning, ungu. Seingatnya saya, ada lebih banyak warna lagi. Blarrrr,,,,, ratusan kertas kecil beterbangan di angkasa. Gambar berubah perlahan disertai musik ceria yang saya suka. Anak-anak berdansa gembira lengkap dengan kostum aneka warna. Anak-anak kecil yang berdansa tampak mengecil, dan di belakangnya aku melihat istana.

Ini adalah kenangan masa kecil saya. Childhood memories. Mengapa istana? Masa kecil saya penuh dengan cerita dongeng. Mulai dari cerita princess yang selalu berakhir dengan happily ever after atau pun dongeng binatang yang selalu berbagi tawa dan kue teh yang enak. Di setiap sudutnya selalu ada tempat menyenangkan, happy places, tempat mereka berbagi. Saya suka menganalogikannya sebagai istana. Di fantasi saya, tempat itu besar, berwarna cerah, dipenuhi detail ornamen yang rumit dan artistik, dan berisi orang-orang bahagia.

Tanpa sadar, memori masa kecil saya membawa saya ke masa sekarang saya yang senang bepergian dan bertemu banyak happy places. Di happy places tersebut saya juga bertemu happy people. Saya menemukan happy places terombang-ambing di Samudra Hindia dalam jukung berisi tiga orang. Saya menikmati tambahan liburan ketika tertinggal pesawat di negeri orang. Saya menemukan happy place ketika dihantam badai di pulau tak berpenghuni. Saya menemukan happy places ketika ditemani jalan-jalan seorang bapak ojek. Saya menemukan happy places ketika mesti mengatur keuangan mepet saya di kota paling mahal sedunia. Saya juga menikmati happy places ketika harus berjalan berjam-jam demi bisa menikmati tidur di salah satu puncak tertinggi di Indonesia. Ah,, masih banyak happy places yang bisa saya ceritakan padamu. Dan masih banyak happy places yang masih ingin saya datangi. Selamat menikmati happy places :)

@dinilint
terinspirasi ketika meng-apload #castle #childhood di instagram

Minggu, 17 Maret 2013

Perempuan Muda

Pagi datang perlahan sambil membawa sinar harapan dari ujung timur di kejauhan. Meski matahari baru saja memunculkan sedikit wajahnya, Terminal Lebak Bulus masih saja berkutat dengan kebisinginannya. Di ujung sana tampak bapak-bapak sedang berhitung dengan cermat hasil pendapatannya semalam, berapa banyak penumpang bus yang berhasil dia bantu untuk mendapatkan bus tujuan. Di sebelehnya tampak seorang laki-laki beraksen batak yang sedang bercerita mengenai anaknya yang baru bisa jalan, namun harus ditinggalkan demi mengempan tugas membawa kelapa ke ujung barat Pulau Jawa. Di ujung yang lain kulihat seorang nenek sedang terkantuk-kantuk di depan tulisan 'kencing 1000, berak 2000, mandi 3000'.
Aku memanggul ranselku dan melanjutkan kegiatanku di awal hari ini. Nampaknya perjalanan membuat energiku cepat minta isi ulang. Peristaltik ususku bergemuruh lebih kencang pagi ini. Tanda aku harus mencari sebuah warung makan di terminal ini.
Aku memilih untuk masih ke dalam sebuah bangunan semi permanen di ujung terminal. Makanan maupun tempat di sini memang tidak akan mengalahkan kenikmatan sarapan di rumah meskipun aku sangat jarang makan pagi di rumah. Namun, aku tergoda oleh bau sambal yang sedang digoreng. Seorang perempuan muda tersenyum ramah dan menanyakan pesananku. Ah, tentu saja aku pilih nasi rames dengan sambelnya yang menggoda.
Nasi setengah  porsi dan teh hangat seharga 8000 rupiah ini membuat kantukku hilang begitu saja. Aku memutuskan untuk duduk-duduk sejenak sebelum kembali memanggul ransel dan mengejar bus ke Bandung. Kembali aku bertemu dengan drama anak manusia. Seorang balita yang sedang bermain seadanya dengan piring plastik dan sendok makan, sembari menunggui adiknya yang masih bayi dalam gendongan dari jarik yang diikatkan ke atap. Aku melirik perempuan muda yang saat ini sedang sibuk menuangkan air panas dalam cangkir berisi kopi bubuk. Perempuan itu pasti lebih muda dari aku. Dan sepertinya perempuan itu adalah ibu dari si balita dan si bayi.
Aku tergelak. Coba lihat kehidupan mereka. Tinggal di ujung terminal, bergaul dengan preman, dan harus memutar uangnya setiap hari untuk makan. Bila hari ini si perempuan muda tidak berjualan, tidak ada susu untuk si bayi dan si balita. Warung ini bahkan mesti membuka pintunya sepanjang hari. Sembari menanti pelanggan yang selalu silih berganti, mereka harus tidur bangun dan tidur lagi di waktu-waktu yang tak pasti.
Aku memberikan selembar uang sepuluh ribuan. Si perempuan muda tersenyum. Tak ada tanda kekhawatiran pada wajahnya. Aku membalas senyumnya dan menerima empat keping lima ratusan. 
Ranselku kembali berada di belakang punggung, dan kakiku kembali melangkah. Dalam hati aku berterima kasih pada perempuan muda, untuk mengajarkanku arti 'tidak khawatir'. Bila perempuan muda bersama balita dan si bayi bisa hidup dengan bahagia tanpa kekhawatiran, untuk apa aku khawatir akan hari depan. Tuhan selalu ada. Kali ini dalam bentu perempuan muda dan balita serta bayinya.

@dinilint
less worry, God with us

Jumat, 15 Maret 2013

Tawang Jaya, Maret 2013

Januari 2013
"Tiket berangkat udah beres beb. Pulangnya mau pake apa?"
"Tantangan yuk. Kita pulang pake kereta ekonomi. Berani nggak?"
*ketik-ketik di laptop
"Mau yang jam berapa nih beb? Jam 15, 17, 19, 21?"
*melihat layar laptop sambil mikir sok serius
"Yang Tawang Jaya aja."
*ketik-ketik di laptop.
"Berdua seratus ribu ya beb. Aku pesen nih."
*ngangguk "Yah ntar kalo berubah pikiran yang lima puluh ribu itu diikhlasin ya beb."
"Deal.

Maret 2013
Stasiun Senen masih rame aja. Padahal di luar masih hujan deres. Kami harus berjuang jalan kaki dari Atrium   Senen ke Stasiun Senen. Jarak yang aku ingat cuma nyebrang jalan doang, ternyata lebih jauh dari yang terbayang. Sambil tanya sana-sini, yang kemudian dibekali dengan kalimat 'hati-hati ya neng', akhirnya kami sampai juga di Stasiun Senen. Fiuh,, baju ini sedikit basah oleh keringat dan sedikit cipratan hujan akibat pake payung kecil untuk berdua.
Atmosfer stasiun emang nggak bisa dikalahin sama atmosfer terminal maupun bandara.
Kereta yang dinanti akhirnya tiba. Waktu lima belas menit ternyata terasa sangat cepat berlalu ketika kita harus berlarian di kerumunan orang banyak, mencari gerbong, dan berusaha naik ke gerbong kereta tanpa bantuan tangga pijakan.
Kami berhasil naik ke gerbong no.1, gerbong dimana no 11 A dan B menjadi tempat duduk kami selama 7 jam malam itu. Tapi ternyata untuk bisa duduk di kursi yang kami pesan, kami harus rela menanti kerumunan di depan kami. Entah apa yang mereka ributkan. Berisik sekali.
Sampai kami tiba dan duduk di tempat duduk kami, dengan mengusir seorang perempuan dan bayinya yang menduduki tempat duduk kami, kerumunan orang masih menyemut di sekitar tempat duduk kami. Masih ribut. Dan tentu saja bonus berisik.
Kereta berjalan perlahan. Makin lama makin kencang layaknya kereta api bisnis dan eksekutif yang sering kunaiki bertahun lalu. Di luar hujan makin intensif mengguyur bumi. Kami harus menutup jendela untuk menghindari tampias.
Malam semakin gelap dan jalanan perkotaan berubah menjadi hitam. Kerumunan di sekelilingku bertambah ramai. Sepertinya mereka saling mengenal satu sama lain. Atau, memang beginilah adanya proses sosialisasi di kereta ekonomi? Semua orang tiba-tiba saling kenal, saling berbagi minum dan makan, juga berbagi cerita layaknya sahabat lama.
Seseorang menyorongkan dua bungkus roti tanpa merk pada kami. Aku membalasnya dengan senyum dan gelengan. Si bapak pemilik tangan yang membawa roti pun membuka pembicaraan. Kami pun mulai membuka diri, melanjutkan perbincangan.
Ternyata satu gerbong kereta ini dipesan khusus. Semua orang di gerbong ini, kecuali kami, berasal dari desa yang sama. Persamaan lain yang mereka miliki adalah sama-sama mencari makan di ibukota, dipisahkan jarak, dan jarang berjumpa dengan teman sekampung. Seorang dari desa yang mencalonkan diri menjadi lurah, berbaik hati menanggung biaya mereka pulang kampung dengan kereta dan bus carteran sampai desa. Inilah ajang pertemuan kawan lama, yang sama-sama merantau ke Jakarta, tapi tidak punya daya untuk bersua sama-sama di sana.
Sepanjang malam suasana selau riuh rendah. Ada yang bercerita tentang kehidupan barunya di Jakarta, beranak sampai bercucu. Ada yang merasa cuma Jakarta yang mampu membuat dia bekerja, karena di kampungnya, tidak ada yang buka usaha. Ada yang bercerita tentang keinginan untuk berumah tangga, tapi masih mencari cara bagaimana supaya orang yang di suka balik suka.
Malam makin malam, kereta terus melaju, dan rombongan bedol desa ini belum kehabisan cerita. Kami memilih untuk tidur saja dengan nina bobo celotehan mereka yang tak ada habisnya.

@dinilint

Senin, 18 Februari 2013

RectoVerso

Cinta.

Hari ini aku boleh menikmati cinta dalam sebuah karya.

Beberapa tahun yang lalu aku boleh menikmati rangkaian kata yang kemudian berubah menjadi makna dari sebuah cerita. Pendek. Aku bukan orang yang suka dengan cerita satu babak, cerita yang tahu-tahu berada di tengah dan ujung emosi. Tapi hari itu aku berkenalan dengan serpihan emosi lewat sebuah karya. Cerita pendek.

Aku pun menikmatinya lewat alunan nada. Menikmati emosi yang mampu kuraup ketika mendengarkan nada demi nada yang bergetar ke udara. Hari itu aku menangkap emosi lewat sebuah karya. Lagu.

Dan hari ini, aku menangkap rasa itu lagi. Walau rasa itu tak terucap di udara dan tak bergetar memenuhi gendang telinga. Tapi hari ini aku menikmati pengalaman yang lain. Menangkap lewat getaran rasa. Hari ini aku menerima rasa lewat sebuah karya. Film.

*ditulis setelah menikmati RECTOVERSO. Karya luar biasa dari Dewi Lestari.

---

i wish to fall
but i don't want to get break
i know it's funny,,
because falling always correlate with being break
if i have a choice,,
let me choose to fly
i wish to be like as light as fur
so the wind can blow away me

Sabtu, 26 Januari 2013

Snack(in) Japan

Orang Jepang sangat peduli dengan hal-hal kecil, misalnya menciptakan pembersih teralis yang efisien atau memanfaatkan celah sempit di kamar untuk tempat penyimpanan koper. Sama hal nya dengan makanan kecil, makanan yang tinggal masuk ke mulut bisa dihias dan dibuat sedemikian rupa.


Rabu, 23 Januari 2013

Makan di Jepang

Cara untuk membuat acara jalan-jalan ke Jepang murah adalah dengan melakukan penghematan di pos makan. Tapi masa udah jauh-jauh ke Jepang cuma makan mi instan sama onigiri demi ngirit -___-


Yang membuat budget jalan-jalan ke Jepang adalah tingkat harga transportasi dan makanan yang rata-rata sepuluh kali lipat dibanding Indonesia. Kalo di transportasi kita bisa mengakali dengan jalan kaki atau naik sepeda [kalo kakinya nggak gempor], nah di makanan kita bisa makan mi instan yang dibawa dari Indonesia.

Sabtu, 12 Januari 2013

Ke Jepang Saat Winter,,, Not Really Good Decision

Mantel tebal berbulu yang cantik. Boot selutut yang gaya. Salju yang putih dan dingin. Itu yang ada di kepala saya ketika merencanakan #wintertrip. Tapi yang sesungguhnya terjadi adalah,,,,


Tepat pukul 22.30 waktu Tokyo pesawat landing dengan sempurna [ini adalah landing terbaik yang pernah saya nikmati, mengalahkan