Sabtu, 16 November 2013

Sehat :)

Sejak masih kecil, aku selalu punya keinginan untuk bisa berkeliling dunia. Bagaimana caranya? Entahlah.
Meninginjak usia dewasa, aku mulai sadar akan beberapa hal untuk mewujudkan impianku itu. Salah satunya adalah dengan menjaga kesehatan.

Aku ingat guyonan-guyonan di antara pejalan. Ketika muda, kita punya banyak waktu, tapi nggak punya banyak uang. Ketika kita punya banyak uang, kita tak punya waktu. Ketika kita punya banyak uang dan waktu, kita sudah terlalu tua untuk berjalan-jalan. 
Mereka menganggap tua itu dekat dengan penyakit, penurunan fungsi tubuh, dan hanya diam di rumah.
Berhubung aku masih muda, aku mau membentuk masa tua ku. Aku tidak mau masa tua ku dekat dengan kata penyakit, fungsi tubuh yang menurun, bahkan hanya bisa diam saja di rumah. Bersyukur aku dikelilingi orang-orang yang menunjukkan bahwa di masa tua mereka, mereka bahkan bisa lebih produktif lagi, lagi dan lagi. 

Luka Sobek di Kaki

Setelah suara mesin kapal perlahan berubah menjadi pelan, kapal akhirnya berhenti di tengah laut. Pulau berpasir putih tampak di kejauhan. Apa kita bakalan snorkeling lagi?
"Dari sini kita hanya bisa jalan kaki. Lautnya terlalu dangkal sehingga kapal tidak bisa ke pantai." penjelasan mas Ta'il menjawab pertanyaanku.
Olala,, setelah agak kering, aku mesti basah-basahan lagi nih. 
Kedalaman laut ini hanya sepaha. Dasarnya adalah pasir putih super lembut. Namun, kita harus hati-hati. Kita harus melihat ke bawah, jangan menginjak karang yang warnya coklat. Di balik karang, seringnya ada ikan karang yang bersembunyi. Bila terinjak dia bisa mengeluarkan racun sebagai pertahanan diri.
Demi selamat dan nyaman, aku mengikuti arahan untuk jalan di pasir yang tampak berwarna putih. 
Duh,, tampaknya kaki kananku menginjak karang. Rasanya nyut-nyutan. Pasti ada luka ini. Aku pasti kurang hati-hati. Aku pelankan langkahku, dan menajamkan penglihatan. Aku buat diriku berjalan tetap di pasir yang berwarna putih.
Sesampainya di pulau, kakiku masih berasa nyut-nyutan. Huh,, lukanya belum menutup juga rupanya. Tapi jika dibuat berjalan di pasir, sakitnya tidak terlalu berasa. Aku beranikan untuk melihat telapak kakiku. Tepat di bagian yang sakit, warnanya merah segar, tanda darah segar keluar dari balik kulit yang rusak. Aku ingat cara penanganan luka terbuka adalah dengan mengkompres NaCl. Aku pikir air garam nggak jauh beda dengan air laut kan. Aku bersihkan kakiku dengan air laut super bening. Kulihat kembali. Ya Tuhan,, ternyata kakiku sobek lumayan dalam. Baru semenit, darah segar sudah keluar lagi dari sobekannya. Tak ada apotek atau apa pun di pulau tak berpenghuni ini. Aku tetap memanfaatkan alam untuk pengobatan pertama, kompres air laut.
Aku teringat obrolanku dengan salah seorang penduduk pulau utama Karimunjawa di kapal ferry kemarin. Di Kepulauan Karimunjawa tidak ada rumah sakit, hanya tersedia satu puskesmas. Dokter yang bertugas adalah dokter dari Pulau Jawa. Sering di kepulauan tidak ada dokter karena dokternya ke Jawa, tetapi ada bidan dan perawat. Masyarakat Karimun juga kurang percaya dengan pengobatan medis, mereka lebih suka memeriksakan anak mereka yang sakit ke dukun dengan pengobatan ala dukun. Bila sakitnya parah, mereka baru datang ke puskesmas. Seringnya puskesmas sudah tidak bisa mengatasi sehingga harus dirujuk ke rumah sakit di Jepara. Untuk membawa pasien dan keluarga ke Pulau Jawa, mereka mau tidak mau charter kapal puskesmas seharga 3 juta dari kantong sendiri.
Mendengar ini, aku jadi merenung. Karimunjawa bisa digapai dengan kapal cepat dari Jepara sekitar 2 jam, tapi untuk masalah kesehatan, mereka seperti masyarakat terpencil. Pengetahuan tentang kesehatan sangat minim, fasilitas kesehatan pun sangat terbatas. Bahkan ada cerita, ibu-ibu melahirkan bayinya di kapal. Haduh.
Berbicara tentang fasilitas kesehatan, aku kembali melongok kakiku. Darah merah segar masih saja mengalir dari luka sobekku. Tampaknya lukanya cukup dalam. Begitu sampai di pulau utama, aku segera cari plester dan menempelkan plester ala kadarnya itu. Aku berharap aku tidak perlu sampai dijahit di puskesmas. 


*Dibutuhkan sekitar 1-2 hari sampai darah tidak merembes dari plester. 
*Dibutuhkan sekitar 5-7 hari sampai kulit telapak kakiku benar-benar menutup, kulit terluarnya tetap harus dibuang karena sudah mati.
*Plester hanya dibutuhkan ketika aku tidak memakai alas kaki. Aku tidak butuh dijahit. Luka sembuh dengan sendirinya

-geLintang-

Kamis, 14 November 2013

Dear Karimunjawa

Nggak tahu kenapa kok saya pernah bilang sama Bali, saya bakalan balik tiap tahun buat mengunjungi kamu! Tahun lalu saya sampe datang dua kali. Tahun ini pun saya sudah  mengantongi tiket JOG-DPS-JOG di bulan November yang saya dapetin di bulan Januari. Tapi rencana manusia ya cuma rencana aja. Saya batal ke Bali tahun ini. Hiks.


Banyak hal yang menyebabkan saya nggak bisa memenuhi perkataan saya untuk mengunjungi Bali tahun ini. Sebelum memutuskan batal, saya sempat bertanya pada diri saya sendiri, kamu maunya apa? Kalo inget Bali, saya pasti inget laut biru, pasir putih, dan main air. Saya kangen snorkeling. Saya akhirnya menggeser tujuan saya. Saya inget kalo nggak jauh dari Semarang ada spot snorkeling yang cantik dan melambai-lambai manggil saya. Karimunjawa.

Sabtu, 09 November 2013

Sabtu siang ini mestinya kita sudah santai santai di pantai menikmati semilir angin Pantai Kuta sambil menenggak sebotol minuman kemasan dingin. 


Perjalanan ini mestinya jadi lanjutan akan cerita-cerita dan mimpi-mimpi kita untuk mengelilingi nusantara. Tapi hari ini aku duduk di rumah, menghabiskan satu kemasan jumbo facial tisu untuk mengusap ingus, dan berjalan tertatih menahan perih akibat sobekan karang di telapak kaki. Aku tak tahu kabarmu saat ini dimana,, dan tampaknya aku malas untuk mencari tahu. Yang aku sadari sekarang,, rencana tinggal rencana. Rencana manusia apalah artinya. Aku tak tahu di benakmu perbincangan kita beberapa bulan lalu berarti apa. Tapi buatku, itu seperti janji tak terucap untuk kemudian dilakukan actionnya. Aku tak menuntut harus jalan bersama kamu. Ahh,, lagi-lagi aku disadarkan, sesuatu yang pasti di dunia ini hanya perubahan. Bahkan janji manusia pun tidak bisa dipegang. Lagipula, siapa suruh percaya pada manusia. Pelajaran hari ini,, jangan pernah percaya dan bergantung pada manusia!

Kamis, 07 November 2013

Catatan Lima Tahun Lalu

"Karimunjawa. Pernah denger nggak?" |  "Kayaknya semacam pulau kecil gitu ya. Denger-denger bagus." | "Ada yang ngajakin. Mau?" | "Mau!"

sunset dari Pelabuhan Karimunjawa

Jumat, 01 November 2013

Nonton

"Beb, nonton yok. Jadwalnya jam 20.45. Tiga puluh menit lagi kita ketemu di XXI yaa. See you!"


Ah,, saya kangen masa-masa nonton impulsif. Kolaborasi antara keinginan, chat-chat singkat yang random, dan berakhir dengan keputusan dadakan yang seringnya malah terlaksana dengan sukses. Lari-larian ke kamar mandi, nyetir lima menit, cari parkiran asik, sampe ngos-ngosan manjat eskalator. Baru atur nafas pas di dalam gedung teater sambil mengais partikel-partikel otak demi memahami film yang sedang ditonton. 

Belakangan saya merasa hidup saya sedikit membosankan. Dunia kerja yang dulu bikin saya penasaran, akhirnya sudah saya cicipi. Bukan cuma nyicip ding, tapi juga menggelogok. Ternyata saya sudah bergaul dengan pekerjaan saya yang sekarang selama 4 tahun. Lama juga ya. Betah juga saya sama kerjaan ini. Tapi kok lama-lama saya merasa saya stuck. Saya merindukan kehidupan yang statis, berubah, bergerak.

Kemudian, Tuhan seperti jawab pertanyaan saya. Malam ini saya menikmati layar lebar di dalam teater bersama teman nonton baru. Saya kembali menikmati deal satu jam sebelum film dimulai. Saya lagi-lagi janjian di depan gedung bioskop. Kamu memang sudah nggak bisa lagi nemeni saya, tapi ada temen baru yang siap berbagi rasa tentang cerita. Ternyata dunia saya sudah berubah.

Saya jadi tarik garis lagi ke belakang. Saya ingat masa-masa awal saya kenalan sama bioskop dan film berlabel dewasa. Kala itu saya nonton film fenomenal Titanic bareng ibu. Pas di bioskop saya ketemu temennya ibu, dan bercanda tentang umur saya yang mesti dituain sepuluh tahun biar bisa nonton film yang ada adegan orang telanjangnya itu. Hahahahah. Dunia saya berubah. Saya juga berubah. Sekali lagi saya diingatkan, perubahan itu pasti. Kepastian di dunia itu ada.