Sabtu, 27 Desember 2014

Jalan - Jalan [lagi] ke Korea Selatan

Aku bukan penggemar garis keras K-pop atau K-drama. Artis yang aku tahu cuma Lee Min Ho. Tapi Korea Selatan membuat aku rela bayar mahal untuk maen lagi kesana setahun kemarin, bulan kemarin, dan mungkin tahun depan :P

Jalan-jalan ke Korea Selatan yok!

Senin, 03 November 2014

Enaknya Solo Backpacking

Solo backpacking,, atau jalan-jalan sendirian dengan budget terbatas ternyata seru juga,,,,, setelah dicoba :D. Dulu aku juga ragu untuk jalan sendirian,, apalagi dengan budget minimal. Bayangin mesti cari tahu arah sendiri, cari tahu transport sendiri, nyasar sendiri, terutama,, nggak ada yang bisa diutangin. Hahahaha

Foto dengan latar belakang Wat,, tangannya tok tapi :P

Solo backpacking aku dimulai dari

Rabu, 29 Oktober 2014

Museum Nasional Thailand di Bangkok

Hari pertama jalan-jalan saya di Bangkok untuk pertamanya, dengan situasi saya benar-benar jalan sendirian, tiba-tiba ada orang asing yang menghampiri saya dan berkata;
"Kalo kamu mau tahu tentang Thailand datang ke museum. Kamu bisa datang ke kuil-kuil yang sudah berubah fungsi jadi barang komersil dibanding tempat ibadah, atau istana boongan yang digunakan untuk menarik banyak uang dari turis, lain waktu. National Museum will be good."
Halaman depan Museum Nasional Bangkok tempat saya leyeh-leyeh sebentar

Keesokan harinya, setelah puas melepaskan hasrat pada tangga-tangga curam Temple of a Dawn atau Wat Arun, berjalan-jalan di sekitar Great Palace, dan berusaha mendapatkan harga termurah untuk celana kain khas Thailand (100 Baht untuk sepotong celana khas Thailand), akhirnya saya memutuskan untuk mencari tahu dimana letak National Museum of Thailand. Saya rasa saya kena pelet :P

Saya tinggal di kawasan Khaosan Road. Saya cukup naik gethek menuju Wat Pho. Dari sana saya jalan kaki ke arah Grand Palace. Sepanjang Grand Palace saya dihibur dengan alunan lagu klasik. Sebenarnya lagu klasik itu untuk pemberitahuan pada pengunjung bahwa untuk memasuki Grand Palace hanya melewati satu pintu, yaitu di pintu utama. Banyak cerita bahwa turis-turis terjebak rayuan sopir tuk tuk. Cara yang kreatif dan menghibur untuk pemberitahuan, musik klasik itu.

Jalanan Bangkok yang ramah pejalan kaki

Bangkok ramah untuk pejalan kaki macam saya. Saya nggak berani naik taksi sendirian. Konon, bila kita tidak bisa berbahasa Thai, si sopir enggan menyalakan meter / argo. Sedangkan saya orang yang disorientasi tempat dan susah mengira-ira jarak. Daripada saya keblondrok, mending jalan kaki sekalian ngirit. Hihihihi. Di sepanjang jalan, ada petunjuk dan peta jalanan. Mungkin karena ini adalah area turis. Untuk orang yang susah baca peta dan place disorientated macam saya, saya berhasil sampai ke National Museum dengan hanya bermodal petunjuk di jalanan. Bangkok ramah, kan?

National Museum ternyata sangat-sangat besar. Museum ini terdiri dari beberapa bangunan. Saya pilih leyeh-leyeh sambil ngemil roti dulu di bawah pohon rindang di taman besar di area depan museum. Di sana banyak biksu-biksu yang juga lagi leyeh-leyeh kepanasan. Di bangunan pertama terdapat kuil besar dengan lukisan cerita Budha di tembok-temboknya. Di gedung berikutnya menceritakan sejarah Thailand dari masa ke masa, juga beberapa cerita tentang negara-negara Asia Tenggara. Negara Thailand adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara yang selalu merdeka alias nggak pernah dijajah. 

Di bangunan selanjutnya terdapat rumah raja yang diangkut sengaja dari desa ke ibukota. Bangunan tersebut menyimpan hadiah-hadiah dari berbagai kepala negara untuk raja Thailand. Ada bangunan yang berisi beraneka macam kereta kencana, ada pula bangunan yang menyimpan sisa-sisa peninggalan masa lampau, salah satunya dari jaman kerajaan Sriwijaya. Mmm,,, saya menduga kita pernah sodaraan sama orang Thailand. 

Tidak hanya tentang Thailand, museum nasional Bangkok ini juga bercerita tentang garis besar negara-negara Asean

Berkeliling di museum ternyata memperkaya wawasan saya,,, dan saya rasa peletnya kali ini sangat berguna. Saya janji sama diri sendiri, kalo berkunjung ke negara lain, saya mesti menyempatkan main ke museum nasionalnya.

Omong-omong tentang museum nasional, saya pernah dong ke Monas. Ups,, itu Monumen Nasional yak,, tapi kan ada museum di bawahnya. Iya deh,, besok ke jakarta bikin jadwal ke museum nasional atau lebih dikenal dengan nama Museum Gajah ;)

Dinilint - is learning to learn about history, my favorite is from attractive museum

Selasa, 21 Oktober 2014

Naik Kereta dari Butterworth (Penang) ke Bangkok

Perjalanan saya di Penang sudah berakhir. Hari ini saya siap berpindah ke Bangkok. Ini yang saya tunggu-tunggu karena saya pengen naik sleeper train. Sleeper train ini kereta internasional antarbangsa dimana kursinya bisa berubah menjadi kasur alias tempat tidur.


Saya beli tiket antarbangsa ini via email.

Rabu, 08 Oktober 2014

Transit di Penang

Penang merupakan salah satu kota yang saya kunjungi ketika melakukan perjalanan #crosscountry, perjalanan singkat mengunjungi Singapura, Malaysia, dan Thailand lewat jalan darat. Aku pilih berhenti di Penang selain karena rute kereta api menuju Bangkok ada yang berasal dari Penang (Butterworth), tapi juga karena kata Penang sangat populer di telingaku. Kenapa ya? Yuk transit di Penang.

Spot foto seru di Penang
Meskipun diambil malam hari, tetep Ok kan cahayanya.

Aku naik bus dari KL menuju Penang yang makan waktu sekitar

Sabtu, 16 Agustus 2014

I'm Proud To Be Part Of This Nation

There's always reason for everything.
I admit that.

So, there's reason why I have to be born in Indonesia and to be Indonesian.
When I was child, I ask why am I should live in this country. All I heard about this country that time, only the stuck things that can not be fix by us, the people, or can I call it 'wong cilik' in Indonesian bahasa. They told me that it would be so hard for me to live in the future. The competition between Indonesian that limited with people from around the world. And I wonder, 'is it true?'

After so many years pass by, I learn more about the country I'm livin, Indonesia. I try by read some books about this country. About how Indonesian and people who live in Indonesia life. About how Indonesian that live a life in other country. About Indonesian who known by many people in the world. I try to travel around my hometown, Semarang, Central Java. I learn about the weather, the condition, the culture.

Many years pass, many kilometers I had done, many smiles I receive. I have no about Indonesia, Nusantara better yet. There's so many question still around my mind. But, slowly but sure, I'm continously fall in love to this Nusantara.

Thank God, this year I can experience optimism about Indonesia. This year we really celebrate the democration and can call it democration party. We do it happily. I feel the peace all over Indonesia.

I just know so little, and there's more journey I have to take to know more about Indonesia, why am I born here, why am I called Indonesian, why am I live in here. In the same time, I also feel grateful to be born in Indonesia, to be called Indonesia, to live in Indonesia.

Dirgahayu Indonesiaku!!

Rabu, 13 Agustus 2014

Swimming With Jellyfish in Kakaban Island, East Borneo

In early August I have opportunity to visit East Borneo. I had Derawan Island and surround in my wishlist. Lucky me, I can enjoy these islands in perfect moment. After lebaran holiday for mostly people in Indonesia, the island is just quiet. This is the review through pictures.


It's not easy to reach Derawan.

Jumat, 25 Juli 2014

Bye Singapore & the Story Behind

Akhirnya hari-hari penuh perhitungan akibat perbedaan nilai tukar rupiah terhadap dolas singapura yang signifikan akan segera berakhir. Malam ini kami bisa bergeser ke Genting, Malaysia dengan menumpang bus malam dari Golden Mile Tower dengan membayar 35 SGD. Jam keberangkatannya jam 11.30 malam, dan kami harus siap di Golden Mile Tower jam 11. Woke!

Malam itu kami balik lagi ke hostel di daerah Bugis untuk ambil backpack. Saat itu masih jam 9. Kami masih punya sekitar 2 jam untuk cari makan malam. Cari sana-sini, pilihannya balik lagi ke resto fast food. Ya sudahlah. Sekitar jam 10.30 kami keluar untuk cari taksi. Kenapa taksi? Kalau menurut info, Golden Mile Tower dan Bugis area itu letaknya berdekatan. Biaya taksi sekitar 5 SGD. Dengan backpack gede, rasanya males balik ke mrt, diperiksa tas gedenya sama petugas, mesti transfer line mrt lagi.

Kami dengan pede nangkring cantik di salah satu halte bus. Sekian menit berlalu, tidak ada tanda-tanda taksi kosong meluncur. Haishhh,,,. Kami pun mulai berpikir untuk pakai bus. Banyak jalur bus yang bisa membawa kami ke Golden Mile Tower. Sayangnya, kami nggak tahu arah Golden Mile Tower kemana. Kami juga nggak punya koneksi internet. Tapi ini kan Singapura. Kami pun bagi tugas. Kuncrit jagain taksi kosong, aku ke halte cari info bus apa yang melintas di halte itu. 

Ternyata dari sekian banyak bus, nggak ada yang ke arah Golden Mile Tower. Oia,, kita juga bisa tahu arah bus itu kemana ternyata. Kami harus cari arah Nicoll Highway yang sepertinya bersebrangan dengan halte tempat kami nunggu. Kami pun nyebrang dan jalan ke halte yang berlawanan. Tunggu,, tunggu,, tunggu,,. Taksi nggak ada, bus pun nggak ada. Jamnya udah nambah aja. Di sisi jalan lain, kami lihat banyak taksi kosong melintas. Kami pun mutusin buat pindah jalur.

Halte itu agak sepi. Kami cuma nemu satu mbak-mbak dan beberapa orang tua di ujung. Udah males cari-cari info bus di papan halte, kami pun nanya sama mbak-mbak itu. Si mbak diem aja dan cuma utak-atik hp. Taksi juga nggak kunjung datang. Huft,,. Ternyata si mbak lagi cariin info buat kami. Dan kami salah jalur lagi. Ini halte letaknya di jalur searah, dan kami di jalur dengan arah yang berlawanan dari Golden Mile Tower. Terpaksa kami harus jalan cari belokan, dan cari halte di sisi lain.

Pas lagi jalan cepat di belokan, nggak sengaja lihat bus melintas. Kami pun lari ngejar bus itu. Bus itu merupakan salah satu bus yang bisa bawa kami ke Golden Mile Tower. Sayangnya halte busnya nggak di pojokan. Ya udah kita lari ngejar bus. Tapi, busnya ninggalin  kami gitu aja. Huhuhuhu. Jamnya udah makin mepet aja. Di halte itu ternyata banyak yang nunggu taksi juga. Kami pun cari segala macam kesempatan, nanyain orang-orang yang nunggu taksi apa mereka searah dengan kita biar bisa barengan. Kalo sikonnya nggak mepet kayak gitu, aku nggak berani deh minta nebeng gini.

Beberapa menit nunggu taksi yang nggak mau berhenti, rasanya kami udah putus asa. Pikiran-pikiran kalo ketinggalan bus ke Genting mulai bermunculan. Kalo mesti nginep lagi di Singapura, rasa-rasanya udah males banget (*baca: nggak punya duit). Huhuhuhu. Tetiba ada bus datang. Kami pun lari lagi ke arah bus. Kali ini bisa masuk. Yes! Pas nanya sama sopirnya, "Are you going to Golden Mile Tower?" si sopir malah bengong. Haish. Ternyata itu bus jalan ke arah yang berlawanan, info ini didapat dari penumpang. Huhuhuhu. Kami mesti balik ke halte di arah yang lain.

Rasanya putus asa saat itu. Mau jalan kaki tapi nggak tahu arah. Mau balik ke MRT station tapi udah lari jauh banget dan kemungkinan waktunya nggak nyampe. Mau cara paling enak, pake taksi, taksinya nggak ada yang available. Huhuhuhu. Tapi justru di saat-saat putus asa gitu ada bus melintas. Kami langsung cegat dan nanya ke sopirnya "Are you going to Golden Mile Tower?", dan si sopir India itu menganggukan kepalanya. Fiuhhhh,,, satu masalah terlewati.

Si sopir baik hati menghentikan bus nya di halte Golden Mile Tower dan kasih tau kami kalo kami mesti berhenti disini. Katanya, Golden Mile Tower terletak di seberang. Thank you om sopir. Saat itu jam 11 lewat 5. Masih deg-degan karena belum konfirmasi. Yang bikin deg-degan lagi jalanan di deket halte itu sepi. Hanya tampak satu dua orang di kejauhan. Ini jalan raya yang gede banget dengan pembatas jalan. Gimana nyebrangnyaaaaa.

Oooh ternyata di ujung yang agak jauh ada jembatan penyebrangan. Ngos-ngosan lari-larian dari halte, naik jembatan, akhrinya lihat bangunan Golden Mile Tower dan bus-bus gedhe yang banyak. Yeay. Dengan keringat buanyak, akhirnya kami pun sampe. Konfirmasi. Naik bus deh. Yeay! Kami jadi juga ninggalin Singapura. Bye bye Singapore!

This is why I love traveling:
  • Ada banyak surprise tak terduga
  • Belajar untuk ambil keputusan dengan cepat dan memutuskan sesuai skala prioritas
  • Bertemu banyak orang dan berinteraksi dengan mereka
  • ....and a lot more
@dinilint
Thanks God I be traveler some time in my some life :D

Selasa, 15 Juli 2014

Bertahan Hidup di Singapura yang Mahal

Singapura? Kenapa? Karena kebanyakan orang Indonesia memulai perjalanan ke luar negeri pertama kali nya kesini. Singapura dekat dengan Indonesia dan sangat 'beda' dengan Indonesia, apalagi banyak tiket promo super murah untuk kesini. Meski tiket pesawat untuk pergi ke Singapura sangat murah, sayangnya biaya hidup di Singapura makin hari makin mencekik. Hiks.

Singapura oh Singapura

Pertama kali ke Singapura, aku nekat bawa uang hanya 100 dolar singapura. Sebenernya karena

Minggu, 13 Juli 2014

Penantian 2jam Demi Makan di Kupang

Sore itu kami kembali lagi ke Kupang dengan selamat. Berhubung Kak Geni nggak ada di Kupang, jadilah kami harus mandiri semalam di Kupang, artinya nggak ada yang jemput di bandara, nggak ada yang bawain motor buat kami jalan-jalan. Tapi Kak Geni tetep antisipasi atas keadaan kami tanpa dia di Kupang ini. Kami sudah dibekali nomor telpon taksi langganannya dan kunci kos Kak Ulfa yang juga lagi pulang kampung.

Tidak ada angkutan umum semacam bus apalagi kereta dari bandara Kupang ke kota. Kami bisa pakai taksi dari bandara atau telpon taksi langganan. Taksi-taksi di Kupang menggunakan mobil avanza, xenia dan berplat nomor hitam sehingga agak susah dibedakan dengan mobil pribadi. Untuk mengantar kami dari bandara ke kota, kami harus membayar 80,000 rupiah. Jumlahnya sama dengan taksi bandara.

Begitu sampai di kosan Kak Ulfa, yang untungnya hari ini airnya sudah menyala dengan sempurna, kami bisa mandi dan bebersih diri. Inget kemaren cuma mandi di laut bersama air laut dan punya keterbatasan dengan air segar, rasanya seneng banget. Apalagi pas kami ninggalin kos Kak Ulfa beberapa hari lalu, air bersih di Kupang nggak ngalir. Thanks God, kita direstui untuk mandi :D.

Setelah mandi, bawaannya laper dan pengen makan. Tengok kiri-kanan sekitar kosan kok nggak ada warteg yah. Kabarnya si warung-warung di sekitar kosan tutup semua karena semua anak kos juga pada pulang liburan akhir tahun ke kampung halaman. Jadi di hari yang tidak biasa ini, Kupang terasa sepi, karena pada hari biasa yang banyak mengisi Kota Kupang ya anak-anak perantauan. Karena kami juga nggak punya alat transportasi dan males bergerak akhirnya diputuskan untuk pesan antar dari satu-satunya restoran cepat saji yang kami tahu -dan sudah kami nikmati beberapa hari lalu- yang ada di Kota Kupang.

Tut,, tut,, "Mbak pesan untuk ke Kupang ya," "Apa mbak?" "Kupang," "Hah?? Kupang?" "Iya mbak, Kupang." "Sebentar ya mbak saya cek."
Firasat buruk, mbak operator di ujung aja nggak yakin ada cabang restonya sendiri di Kupang. -___-
"Mbak kalo diantarnya jam 8 malam gimana? Ini semua petugasnya lagi sibuk."
Saat itu jam 6 sore. Makanan kami baru akan diantar jam 8 malam. Berarti kami harus menunggu 2jam untuk menikmati makanan kami. Huhuhu. Tapi apa boleh buat, kami iyakan saja. Kami bahkan pesan dua kali lipat sekalian untuk sarapan besok pagi. Semoga aman.

Sebenarnya jarak restoran cepat saji dengan kosan nggak jauh banget dan lalu lintasnya sangat lancar. Ketika kami pakai motor beberapa hari yang lalu, dari kosan ke resto cepat saji hanya memakan waktu sekitar 15 menit. Tapi ya,, ngantri di restonya panjang banget. Sepertinya orang Kupang suka banget makan ayam disana. Ada juga yang jauh-jauh datang dari pulau seberang dan beli ayam itu untuk oleh-oleh. Ini beneran, soalnya yang beli itu mamanya temen di Flores.

Gara-gara nggak tahan cuma bengong nunggu makan sampe dua jam dan cacing-cacing dalam perut sudah berubah jadi naga, akhirnya aku mutusin buat gerakin kaki lagi entah kemana. Si Kuncrit yang udah teler pilih tinggal sendirian di kosan. Ternyata pas jalan kaki gelap-gelapan, aku menemukan fakta baru di Kupang. Kalo kamu jalan, ntar ada motor klakson-klakson, itu artinya dia nawarin ojek. Dan ternyata ojeknya banyak banget. Karena nggak tahu mau kemana, jadi ya aku tolak-tolak itu ojeknya. Pas udah di jalan gede, angkotnya juga banyak. Biasanya mereka pasang lagu-lagu heboh yang kenceng. Lagi-lagi karena nggak tahu mau kemana, aku nggak berani nyobain angkot.
Hasil dari jalan kaki itu, aku ketemu semacam supermarket gede yang ada resto franchisenya. Lumayan bisa ganjel perut pake jus. Padahal biasanya aku udah kenyang pake jus, kali ini buat ganjelan doang.

Pas balik ke kosan sekitar jam 8an malam, ternyata ayam yang ditunggu-tunggu belum juga datang. Ayam penantian baru datang setengah jam kemudian. Olalala,,,, sabaaaaarrrrrr.

*cerita ini jadi penutup #jalanketimor. Aku berharap ada lebih banyak cerita lagi dari timur.

Dinilint

Jumat, 11 Juli 2014

One un[Perfect] Afternoon in Bangkok

Sore itu adalah sore paling bete sepanjang perjalanan aku #crosscountry. Setelah mendapat banyak momen gila dengan dek crit di Singapura, dapat teman baru yang super asik di Penang, ini saatnya aku untuk jalan sendirian di Bangkok. Rencanya sih nggak sendirian. Ada teman yang bersedia menampung aku di Bangkok. Paling nggak seharusnya sore itu aku ada teman bicara. Tapi mendadak dia ada urusan di luar Bangkok sehingga kami nggak bisa bertemu dan aku nggak jadi nginep di tempat dia. Yah,, sudahlah. 
Dari awal berangkat aku udah siap dengan semua konsekuensi di perjalanan yang mungkin terjadi, termasuk jalan sendirian dan bener-bener jadi solo traveller. Udah diniati si,, tapi pas kejadian tetep aja ada rasa nelangsa. Itu orang-orang semua ada temennya, kenapa aku jalan sendirian gini. Biasanya pas makan ada temen ngomongnya sekarang cuma lihat-lihatan sama handphone yang bahkan nggak dapat koneksi internet. Khaosan Road yang ramai orang, rasanya kurang friendly sore itu. Di tiap sudut aku selalu lihat traveler yang lagi jalan dengan partner mereka. Kiri-kanan jalanan juga terasa kurang menarik sore itu. Ah,, pengen pulang.
"Where are you come from?" tiba-tiba ada sapaan bernada ramah dari sebelah kanan. Aku menengok dan mendapati penampakan traveler berambut gimbal.
"Indonesia." jawabku. 
"Where will you go?" 
Aku yang sore itu juga masih bingung mau kemana menjawab sekenanya, "Wat Pho." Kenapa Wat Pho? Yaaaa,,, nama kuil itu yang terlintas di kepala. Tiap aku inget Bangkok aku selalu ingat akan patung Budha dan kuil, disusul dengan belanja. Kalo untuk belanja,, nggak deh. Aku udah mblenger belanja di Singapura dan berniat untuk mengeluarkan uang sesedikit mungkin. Jadi ya aku pengen ke kuil aja. Aku kemudian teringat ada satu kuil yang diberi nama dalam Bahasa Inggris 'Temple of A Dawn'. Kayaknya cocok nih kalo sore-sore gini melakukan pembuktian akan nama kuil tersebut. Masalahnya aku nggak tahu Temple of A Dawn ini nama Thailandnya apa. Si teman baru menanyakan apa aku punya gambarnya, supaya dia tahu kuil mana yang aku maksud. Yah,, aku nggak pernah bawa gambar tujuan kalo lagi jalan-jalan. Biar indra visual dan persepsi otakku saat lihat, yang memberi kejutan di perjalananku.
Aku nggak tahu kenapa, si traveller gembel ini jalan searah dengan jalanku, nunjukin arah, dan akhirnya jadi menemanu perjalananku. Surprise,, dia temen perjalanan yang menyenangkan lho. Kami bisa bicara banyak hal sore itu. Mulai dari asal-usul kami sampai tentang pemikiran-pemikiran yang absurb, yang biasanya aku nggak bisa ngomong asal ke semua orang. God is so good.
Kami jalan bersama sepanjang Khaosan Road, tiba di sebuah pelabuhan kecil yang entah namanya pier entah apa. Kami naik boat lokal seharga 15 baht yang berjalan ngebut di aliran sungai besar Chao Phraya. Yeay, wishlistku di Bangkok terlaksana. Kami berhenti di pier selanjutnya yang entah namanya apa,, mungkin kalo sore itu aku jalan sendirian bakalan nyasar entah kemana. Kami tiba di Wat Arun yang ternyata dikenal dengan kuil dengan Budha tidur di dalamnya. Aku nggak mau masuk karena ya memang nggak ada keinginan untuk masuk saat itu. Toh, aku sudah bisa melihat patung Budha tidur dari balik jendela di kuil itu. Aku bilang pada teman baruku itu, ternyata bukan kuil ini yang ingin aku datangi. Kalau namanya bukan Wat Pho berarti temple of a dawn bernama Wat Arun. Dia dengan sukarela mengantarku lagi ke Wat Arun. Kirain sampe di Wat Pho bakal say goodbye lho, ternyata dianterin lagi. Senangnya.
Kami harus nyebrang Sungai Chao Phraya dengan boat seharga 3 baht. Meski boat yang ini lebih kecil, tapi jalannya tetep ngebut dan ngepot. Sampai-sampai air bisa masuk ke dalam boat. Tas temen bahkan sempat kena air karena ditaruh di bawah. Whoaa.
Taaadaaaa,,, akhirnya aku sampai juga di Wat Arun. Indahnya. Karakteristik bangunannya tidak sama dengan wat - wat kebanyakan di Thailand yang terbuat dari semacam aluminium dan berwarna emas. Di sekeliling bangunannya ada tempelan porselen-porselen dengan detail yang sangat cantik. Di bangunan utama ada tangga curam ke atas. Aku berharap untuk naik ke atas sambil menikmati senja. Kalau bisa melihat dengan sudut 360 derajat dari atas, pasti bisa dapat spot cantik saat matahari perlahan menghilang di barat. Saat aku datang, matahari belum sepenuhnya tenggelam. Sayangnya, Wat Arun sudah ditutup pukul 6 sore. Yah,, sayang sekali. Padahal aku berharap karena namanya temple of a dawn, aku bisa menikmati senja disana. Ya sudahlah. Wishlistku sudah terlaksana, menyebrang ke Wat Arun ketika matahari mulai terbenam.
Jadi selanjutnya apa? Ternyata di dekat Wat Arun ada wat lain yang tidak terkenal. Mungkin karena tidak dikenal dan benar-benar untuk tempat beribadah, maka wat yang satu ini bebas dimasuki siapa saja tanpa ada biaya administrasi. Demi melengkapi catatan perjalananku, aku coba masuk ke wat yang satu ini. Setelah itu. Selesai agendaku untuk hari ini. Yang jelas aku nggak tahu jalan pulang dan nggak punya rencana selanjutnya. Si teman baru tetepa ada di samping aku tanpa ada tanda-tanda untuk say goodbye.
Entah kenapa, aku mau aja tu ngikut si teman baru pergi. Dia ngajak berhenti di sebuah cafe kecil di pojokan. Dia minum kopi, dan aku kembali memenuhi wishlistku untuk minum jus di Bangkok. Meski nggak seutuhnya real jus (menurut temenku itu dari jus mangga, kiwi, lemon yang dicampur air dan es, yang asli cuma lemonnya aja) yang dibuat dalam porsi super gede yang pada akhirnya nggak habis aku minum sendiri dan terpaksa berubah rasa akibat kelamaan diminum dan dibuang seperdelapan bagiannya karena nggak habis.
Aku nggak perlu cerita detail tentang apa yang terjadi malam itu di Bangkok di blog ini kan. Malamnya aku masih kelayapan di tempat yang aku nggak tahu dengan teman baru ini. Aku naik ke condonya yang berada di lantai entah berapa yang aku lupa pas nulis ini untuk menikmati lampu Bangkok dari atas. Kami makan malam bersama dengan menu roti prata, humus, dan pasta tomat lengkap dengan minum jus mint dan lemon, yang kalo di rumah pasti aku nggak mau nyoba yang ternyata rasanya seger. At the end i have to admit that I did kissing with strangers, that strangers. Kalo ditanya, kenapa, ya aku nggak tahu jawabannya. 
At the end, aku selalu berpikir kalo semua yang ada di hadapanku hanyalah ilusi. Kenapa aku bertemu dia, mungkin itu alam bawah sadarku yang minta ditemani dan minta orang seperti dia yang datang ke kehidupanku. Mungkin takdirku cuma sehari. Makanya aku tulis judulnya sebagai [un]perfect. Dibalik sesuatu yang sempurna di dunia, ada ketidaksempurnaan di sana. 
Bad me, aku kasih nama facebook ku ketika aku setting untuk menyembunyikan facebook dari publik. Dia kasih alamat email tapi secara lisan dan jeleknya aku selalu lupa apa yang tidak bisa dilihat secara visual. Ah,, if our fate is only for a day, thank you for this wonderful day. I wish to talk to you more.

Sabtu, 05 Juli 2014

My Wishlist for Batu, Malang

I've been dreaming about visiting Batu many times. I had some opportunity but I feel it's not enough. This time I have three days to enjoy Batu. Yeay!


First day is the arrival day. After many hours stuck in economic taste train that so uncomfy, we decided to just stay at villa and do reunion with family all day long. At night I have opportunity to visit BNS (Batu Night Spectacular). Unfortunately I feel disappointed because I had too much expectation. It just night market that we had done in our local area, but in bigger market and it happen every night there.

Second day is for my sister wedding. It was sweet wedding that happen in small garden. Congratulation sista!

Third day is the nicest day in Malang. We take ticket for Eco Green Park, Jatim Park 2, and Museum Satwa. All these places is awesome! You have to come and experience it by yourself. Pssst,,, it's better to come in non-holiday-day.








Senin, 09 Juni 2014

Hi Malang!

It feels good to be back in Malang again. This time I had 3/4 day to spend the day at Malang. What did I do?


The thing I want to do since long time ago; eat ice cream in Oen's Restaurant Malang. This old restaurant still has nice homemade ice cream. I taste gula jawa and speculas ice cream. Yummy. I also enjoy the old atmosphere of the restaurant. 


Do you want to know how Malang looks like in ancient era? I do. So I came to Museum Tempoe Doeloe Malang. The museum near Restaurant Inggil. In this museum I felt like I come into time machine. The museum took me from ancient era, go to the kingdom era, the colonial era, until Malang today. It's good to know the story about a city.









I'm so impressed with this museum. I wish every city can tell me about their story in such grogeus way as Museum Malang Tempo Doeloe.

 @dinilint ;)

Jumat, 18 April 2014

One Day Tour in Phi Phi Island

Ini adalah salah satu alasan mengapa aku membuat rencana perjalanan ke Phi Phi Island saat main ke Phuket,,,,,, menikmati satu hari tur dari dan pulang ke Phi Phi Island.


Phi Phi Island bisa dijangkau dari Phuket. Datang ke Phuket Pier (pelabuhan), naik ferry yang berangkat 2 kali sehari; jam 11 & jam 13. Duduk manis, makan pizza, bobo cantik/ganteng, ngecengin bule-bule, kayang, atau apa aja yang bisa dilakukan di ferry selama 2jam. Taa-daa,,, selamat datang di Phi Phi Island!

*pssst,,,,, did my pictures tell you what I've done in one day tour phi phi island?

Sabtu, 12 April 2014

#BersamaGaruda Demi Ikut Mesakke Bangsaku Pandji

Sebagai orang yang jujur dan apa adanya, aku ngaku aja dari awal kalo post kali ini sengaja aku buat supaya bisa ikutan om Pandji dalam world tour Mesakke Bangsaku. Siapa tahu aku bisa nonton stand up show nya Pandji secara langsung di London, Amsterdam, Berlin, Melbourne, Brisbane, Adelaide, GuangZhou, Beijing, Kuala Lumpur, atau Singapore.


Jujur nih, baru tadi malem aku nonton pertunjukan stand up-nya Pandji. Itu aja nggak sengaja, gara-gara ibu nyetel Kompas TV semalem. Tapi dari nonton nggak sengaja itu aku dapat hiburan cerdas. Sepanjang malam aku nggak berhenti ngakak lewat ucapan-ucapannya Pandji, dari mulai kaum minoritas, perbedaan pdkt cowok-cewek, sampe perkosaan. Tapi di balik ngakak-ngakak itu, aku dapat pengetahuan baru. Pandji emang bisa aja menyampaikan hal serius dengan cara yang santai. Salah satu hal yang 'kena' di aku adalah ketika Pandji cerita soal 'orang kalo beli beras kan nggak bisa dengan jawab pertanyaan, siapa bapak pendidikan Indonesia.'. 

Aku suka sama orang-orang macam Pandji, orang-orang pemikirannya luas, terbuka, dan bisa menyampaikan apa yang ada di pikiran dia ke orang banyak, khususnya anak muda, dengan cara yang menyenangkan. Aku inget pertama kali ngunduh bukunya Pandji yang nasional.is.me. Pandji berhasil menyampaikan pesannya lewat buku digital itu, 'kalo kamu mau hal yang lebih baik pada dirimu, bangsamu, jangan tunggu orang lain bekerja, tapi mulai dari diri kamu, apa yang bisa kamu lakukan'. Rasa-rasanya kalimat barusan berat ya,, tapi di bukunya Pandji jadi terasa enteng dan menyenangkan dan sangat praktis, mungkin dilakukan. Ah,,, kayaknya aku mesti banyak belajar lagi sama om Pandji untuk belajar menyampaikan sesuatu supaya lebih kena dan lebih asik.

Lewat karyanya Pandji -baru nasional.is.me dan Mesakke Bangsaku yang gratisan- aku belajar untuk lebih peduli, terutama di bidang politik. Sebelum baca dan dengar Pandji bercerita, aku merasa nggak perlu tahu sama yang namanya politik. Buat aku politik itu urusannya pejabat dan politikus, orang-orang yang duduk di kursi-kursi sakti itu dan nggak ada hubungannya dengan aku. Tapi ada satu kalimat di buku Pandji yang bilang kalo 'politik itu mempengaruhi semua orang'. Politik sedikit banyak mengatur hidupmu. *plak. Iya juga ya. Semua kebijakan itu muncul dari politik, dan kita yang rakyat ini kan wajib mematuhi kebijakan yang dibikin. Nah, kalo kita nggak peduli berarti kita nggak peduli dengan hidup kita dong. Nah, kalo kita nggak peduli dengan hidup, berarti kita menghina yang kasih kita hidup dong. Dosa gila kalo buat aku. Mmmmmffff,,, aku mulai berkata-kata nggak jelas lagi deh. Saranku mending baca deh bukunya om Pandji, beliau lebih lebih lebih pinter jelasinnya.

Nah,, akibat dari menikmati baru dua karya gratisannya om Pandji, aku penasaran buat menikmati salah satu karya pertunjukannya om Pandji secara langsung. Apalagi kalo dibayarin :p, di luar negeri pula. *bayangin denger lagu karya Guruh Soekarno Hatta diputer di luar Indonesia.


Thank God, Pandji bersama Garuda Indonesia membuka kesempatan untuk aku untuk mungkin bergabung dalam Mesakke Bangsaku keliling dunia. Yeap, aku yakin aku memenuhi semua syaratnya. Aku punya passpor yang masih berlaku. Aku follow @pandji dan @IndonesiaGaruda. Aku punya blog dan bersedia nulis. Aku udah punya KTP, yang berarti umurku udah lebih dari 17 tahun. Lalala yeyeye.

Ih aku udah bayangin aku duduk di dalam pesawat Garuda-Indonesia, makan nasi kuning prasmanan Indonesia di udara, dan lagi cekikikan bareng kru Mesakke Bangsaku. Senangnya. Kalo gini jadi inget pengalaman liburan ke Bali tahun lalu bareng Garuda-Indonesia. 

Thank God, Garuda-Indonesia yang merupakan maskapai full board kasih tiket promo. Kalo biasanya aku nunggu menjalankan tugas negara dulu biar bisa terbang bareng Garuda-Indonesia, kali ini aku bisa liburan bareng Garuda-Indonesia. Kali ini aku pilih rute dari Semarang - transit di Jakarta - lanjut ke Denpasar. Perjalanan panjang. Bayangin aja kalo mesti jalan darat naik bus dan ferry yang makan waktu 24 jam, apalagi kalo jalan kaki. Bisa sampe seminggu kali ya. Kalo pake Garuda jadinya cuma makan waktu 3 jam total di udara.

Aku selalu menikmati tiap perjalan dengan Garuda-Indonesia. Aku suka banget bagian masuk pesawat. Memasuki badan pesawat, aku boleh mendengar musik indah Indonesia sembari menunggu seluruh penumpang masuk, duduk, dan pesawat siap berangkat. Interior pesawat yang serba biru selalu bersih. Kursinya super empuk dan ergonomis. Kebayang kalo jadi ikutan tur Mesakke Bangsaku aku betah banget duduk berjam-jam di kursi nyaman itu. Selama di dalam pesawat juga nggak bakalan mati gaya, majalah dengan foto-foto indah, personal tv, dan makanan enak selalu menemani. Ah,, nyaman bener.

Garuda-Indonesia landing dengan mulus di Bandara Ngurah Rai. Aku kembali ke Bali untuk yang kesekian kalinya. Bali buat aku adalah tempat tujuan wisata mainstream yang selalu ngangeni dan selalu aku kasih ucapan 'sampai ketemu lagi'. Ketika terlintas kata Bali, di otakku selalu bersliweran gambar pantai berpasir halus, ombak yang bergulung-gulung teratur, suara gamelan bali yang adem, sawah hijau ubud, pasar seni, dan senyuman para bli dan nyai di ujung gang. Bagian menyenangkan dari Bali yang selalu aku simpan baik-baik di memori.


Liburan kali ini, aku belum memutuskan mau main kemana di Bali. Tujuan pasti setelah turun dari pesawat Garuda-Indonesia ini adalah cari taksi biru, minta diantar ke Nusa Dua. Aku mau nebeng bude nginep di hotel bintang. Muehehehehe. Ketahuilah, aku adalah pejalan berduit cekak dan emang nggak rela keluar duit banyak-banyak buat liburan kalo bisa dapet murah :p.

Aku pikir-pikir, dapet hotel berbintang dengan kamar super luas dan punya private beach, kenapa aku mesti pergi ke tujuan lain. Kali ini aku mau diem di hotel aja, menikmati setiap fasilitas hotel yang ditawarkan. Biarpun cuma di hotel, tapi suasana Bali tetep kental. Di mana-mana aku denger gamelan Bali. Ketika malam salah satu bagian hotel berubah jadi mirip pasar seni, banyak nini buka lapak jualan kerajinan tangan lucu-lucu. Yang paling menyenangkan adalah momen sunrise dan sunset. Karena hotel ini punya privat beach, jadi aku tinggal lompat aja ke pantai, goler-goler cantik sambil menikmati langit berwarna kemerahan oranye. Ah,,, momen-momen ini selalu bikin aku merinding. Seneng banget bisa jadi orang Indonesia, tinggal di Indonesia, dan bisa menikmati alam Indonesia dengan gembira.


Total 3 malam aku habiskan dengan leyeh-leyeh cantik di private beach, bangun pagi untuk ketemu sunrise di ujung hotel, jalan-jalan santai keliling hotel demi ngecengin bule-bule ganteng berperut rata. Hari terakhir akhirnya aku keluar hotel dan mutusin buat jalan-jalan. Pilihannya jalan ke Uluwatu. Coba deh ke sana pas senja, beli tiket untuk nonton pertunjukan Fire Dance. Kamu bisa lihat sunset di ujung barat sebagai latar belakang, pas persis ketika matahari terbenam, api tersulut ke udara dan semua penari menari dengan tarian yang super indah. Ah,,, Bali emang luar biasa.

Saatnya pulang. Buat aku hal paling menyenangkan dari sebuah perjalanan adalah pulang ke rumah. Apalagi pulang ke rumah dengan cara super nyaman. Berangkat pake Garuda-Indonesia, pulang naik Garuda-Indonesia juga dong. Kan promoooooo :p. Biar promo tetep fasilitasnya komplit. Perjalanan total di udara selama 3 jam, ditemani bacaan bagus dari majalah in-flight-garuda, makan siang yang enak, dan kudapan yang menyenangkan. Nyaman dan puas :D


Semoga pengalaman menyenangkan bersama Garuda-Indonesia bisa terulang lagi. Aku berharap Garuda-Indonesia bisa menemani aku jalan-jalan ke luar negeri. Pasti lebih menyenangkan lagi ketika menikmati karya anak bangsa di negeri orang. Pandji,,,, aku mau ikut Mesakke Bangsaku keliling dunia.

@dinilint

Kamis, 03 April 2014

Hello [again] Solo


What to do in Solo?
Use becak (three wheel vehicles). Take a lot of photos. Eat a lof of Solo traditional food and snack. Go to the market, traditional and modern.

@dinilint