Selasa, 04 Februari 2014

Antara Kupang, Ende, dan Moni

Buat kami saat itu, transit sehari di Kupang sudah lebih dari cukup. Ternyata,, cuaca berkata lain. Kami dipaksa berdiam lebih lama di Kupang.


Seharusnya pagi itu menjadi kali kesekian untuk aku bangun ekstra pagi demi mengejar pesawat jam 6 pagi. Tapi mataku baru terbuka sekitar jam 7 pagi. Rasanya aku malas sekali membuka kain bali yang menjadi selimutku. Handphone ku membunyikan lagu cadas,, meraung-raung minta dipencet, menandakan ini sudah saatnya untuk bangun. Mau tak mau aku harus bergerak seperti bumi yang berputar terus menerus selama 24 jam seharian.