Selasa, 17 April 2018

Makanan Lokal Ubud Bali

Salah satu hal menarik dari jalan-jalan ke Ubud adalah makan-makan. Tak diragukan lagi kalau ada banyak jenis makanan yang bisa dinikmati saat kita jalan-jalan ke Ubud. Dari mulai makanan internasional dengan rasa autentik hingga makanan lokal yang rasanya menurut aku lebih nendang di lidah. Ketika jalan-jalan ke Ubud awal tahun ini aku beruntung bisa menemukan makanan lokal khas Ubud, Bali. Selain bisa menikmati bumbu khas Bali yang dominan dengan kelapa, kedelai, dan cabe serta ada menu sayur-mayur - poin plus banget buat aku yang kebutuhan seratnya tinggi -, harga makanan lokal juga jauh lebih murah daripada makanan internasional.



Makanan ini disebut Srombotan oleh orang lokal. Aku nemu makanan lokal Ubud ini bukan di pusat Ubudnya, tapi

Sabtu, 14 April 2018

Akademi Bicara: Bicara Ada Ilmunya

Bicara, hal yang tidak pernah absen dilakukan hampir semua manusia di dunia, ternyata punya ilmu tersendiri yang menarik untuk dipelajari. Bicara tidak hanya sekedar mengeluarkan suara dan berkata-kata. Bicara melibatkan tubuh dan segala macam gerakannya. Bicara juga seperti lagu, ada nada, ada intonasi, dan ada durasi. Bicara bahkan bisa membuat mood turun, naik baik dari si pem-bicara maupun si pendengar bicara. Melalui Akademi Bicara aku boleh belajar ilmu tentang bicara, khususnya bicara di depan orang banyak atau kerap disebut public speaking.




Hari libur paling baik digunakan untuk piknik dan jalan-jalan. Kalau selama ini piknik bersenang-senang, nggak ada salahnya piknik untuk belajar. Bareng temen-temen dari Akademi Bicara aku ikutan belajar berbicara.

Senin, 09 April 2018

Jajan Pasar di Pasar Tradisional Semarang (Pasar Prembaen dan Pasar Gang Baru)

Kalo kamu berencana jalan-jalan ke Semarang jangan lupa selain nyiapin budget, tiket pesawat, atau tiket kereta atau tiket kapal atau tiket apa pun, tempat nginep atau tempat nebeng, inget juga untuk nyiapin lidah dan perut. Semarang dikenal dengan makanan yang enak. Makanan enak Semarang nggak cuma makanan berat aja, tapi juga jajan pasar. Ya,, jenis makanan ringan yang bisa ditemukan di pasar, khususnya pasar tradisional. Siap-siap ngiler ya.




Tempat paling bener untuk cari jajan pasar adalah di pasar tradisional. Meskipun di Semarang pasar tradisionalnya rata-rata buka 24 jam, tapi waktu terbaik untuk berkunjung ke pasar tradisional di Semarang menurutku adalah

Rabu, 04 April 2018

Walking Tour Menyusuri Kampung Kota Semarang

Semarang. Kota tempat aku tinggal ini ternyata menyimpan banyak cerita seru dan layak untuk dijelajahi dengan jalan kaki. Tur jalan kaki atau yang lebih populer disebut dengan walking tour juga ada di Semarang. Thanks God to sekelompok anak muda yang suka jalan-jalan dan menyebut dirinya tukang cerita atau story teller yang sudah mencari rute menarik di Semarang, riset untuk membawakan cerita seru dan membuat acara jalan-jalan di Semarang lebih berkesan.  



Sabtu sore adalah saat paling tepat untuk ikutan tur jalan kaki atau walking tour. Rute walking tour kali ini adalah Kampung Kota. Kenapa namanya kampung kota? Karena tur jalan kaki kali ini akan membawa kita masuk ke kampung yang terletak di pusat kota Semarang. Jadi di balik gedung-gedung megah khas bangunan pusat kota, masih ada kampung kota warisan masa lalu yang masih rapi. Apa bedanya dengan kampung yang lain? Mmmm,,, apa yaaaa.

Jumat, 30 Maret 2018

Camping di Hotel

Camping itu kalo diterjemahin secara bebas artinya nenda, kalo mau dijabarkan lebih detail lagi mungkin bisa jadi pindah tidur di tenda atau menginap di dalam tenda. Tapi kalo menginap berarti ritual macam mandi, boker, pipis, makan juga mengikuti dan,,,, mengingat fasilitas tenda yang minimalis kemungkinan printilan-printilan macam itu juga harus menyesuaikan dengan fasilitas. Mmmm,,, untuk orang kota yang sudah terbiasa dengan kemewahan rasa nyaman agak berat juga ya. Mungkin salah satu jawabannya ya dengan camping di hotel.


Fotonya mas Teguh

Jumat, 23 Maret 2018

Telomoyo: Jeep Ride, Sunrise, dan Off Road

Naik gunung itu identik dengan capek yang berteman dengan betis berkonde. Belum lagi kalo pake acara ngejar sunrise di puncak,, udah badan berlimpah dengan asam laktat ditambah nggak tidur semalaman dan ngos-ngosan sekaligus deg-degan kareana ada kemungkinan nggak ketemu matahari pertama hari ini. Tapi ya,, naik gunung itu ngangenin. Andai saja naik gunung itu tinggal duduk manis sambil (*nanyi mode:on) kanan kiri,, kulihat saja,, banyak pohon cemara,, a,, a,, trus tahu-tahu nyampe puncak, kan enak banget kan ya. Kalo aku cerita ke temenku yang anak gunung, mereka si cuma bales ketawa aja,, yang aku artikan secara harafiah, 'Ini seninya naik gunung. Kalo naik gunung macam naik bus antar kota semua orang bakalan naik gunung dan gunung nggak lagi asik.' Mmmm. Eh tapi lain cerita lho  kalo naik gunungnya naik Gunung Telomoyo (1894 mdpl) di Salatiga. Ini beneran aku tinggal duduk manis, lihat kanan-kiri [yang bukan pohon cemara tapi jurang], terus ketemu sunrise deh. Ya meskipun jalanan gunung nggak semulus pantat bayi dan harus pake kendaraan off road dengan mesin 4 x 4 tapi tetep uhuyy.


Photo by Rivai Hidayat

Senin, 19 Maret 2018

Jakarta: Pameran ge.lintang, Workshop SEO, Content Creator 101, dan Java Jazz 2018

Hai Jakarta,
Terima kasih ya sudah ramah denganku kali ini. Terima kasih sudah jadi tempat belajar untuk aku dengan ge.lintang, clothing line ku yang berdesain simple, modern, dan beda yang menggunakan material kain tradisional Indonesia favorit aku. Terima kasih juga dengan tanggal yang kebetulan pas untuk aku ikutan workshop SEO bareng Blogger Perempuan Network. Dan kebetulan lain yang membuat aku bisa ikut Workshop Content Creator 101 bareng om Arbein Rambey, mas Lucky Pransiska dan kak Gandhi Fernando berbonus nonton Java Jazz Festival 2018 seharian. O yeay.

Indah dilihat, sedih untuk dijalani.

Ada yang bilang kebetulan itu nggak ada, everything happen for a reason. Tapi rasanya perjalanan ke Jakarta kali ini penuh dengan kebetulan-kebetulan yang menyenangkan. Semuanya berawal dari nekat

Sabtu, 10 Maret 2018

Jalan-Jalan Keliling Indonesia Melalui Film

Salah satu impian terbesarku adalah jalan-jalan keliling Indonesia. Harapanku nggak cuma jalan-jalan di kota-kota besarnya aja, tetapi juga mengunjungi daerah-daerah baru dan bertemu dengan orang-orang lokal yang tinggal di tiap daerah sambil berkenalan dengan budaya setempat. Salah satu budaya yang ingin aku nikmati adalah bahasa. Indonesia dan 1158 bahasa daerahnya (wikipedia) menjadi salah satu daya tarik untukku jalan-jalan keliling Indonesia. Meskipun belum benar-benar membawa raga dan telinga untuk mendengar tiap bahasa daerah di Indonesia secara langsung, thank God di tahun 2018 ini aku bisa jalan-jalan keliling Indonesia melalui film Indonesia berbahasa daerah. Aku akan bercerita tentang pengalamanku dengan film Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak dan Sumba, pengalamanku dengan film Yowis Ben dan Jawa, serta pengalamanku dengan film Sekala Niskala (The Seen And Unseen) dan Bali.



Aku suka sekali dengan film. Di dalam film ada rangkaian cerita yang diceritakan secara visual. Saat menonton film aku seperti masuk ke dalam dunia si tokoh dan menikmati latar belakang waktu dan tempat dari cerita tokoh tersebut. Kadang aku menggunakan film untuk jalan-jalan secara imajinatif atau sebagai referensi jalan-jalan, misal aku ingin mengendarai kuda di Sumba karena ada adegan di Pendekar Tongkat Emas dengan kuda dan latar belakang bukit telletubies yang indah atau aku ingin goler-goler di padang pasir Bromo setelah nonton Pasir Berbisik. Aneh ya,,, Hehehe.

Sabtu, 24 Februari 2018

Semarang yang Damai, Tertib, dan Aman

Bertahun-tahun tinggal di Semarang, aku makin betah dengan kota ini. Makanannya enak, temennya banyak, dan tempat pikniknya makin hari beranak-pinak.


Semarang dulu dan Semarang sekarang emang beda. Semarang yang dulu, dari sudut pandangku, adalah kota yang sederhana dengan tampilan apa adanya. Bangunan-bangunannya sederhana dengan warna-warna klasik. Sudut kotanya juga tampil apa adanya. 

Rabu, 14 Februari 2018

Can't you see the different


Story behind this post:

Saya baru saja mendengar berita tentang kasus kekerasan yang dilakukan oleh orang tidak bertanggung jawab yang menikam pemuka agama saat sedang memimpin kegiatan agama. Satu hari sebelumnya ada twit tentang penolakan terhadap salah satu acara agama minoritas di salah satu daerah di Indonesia, sedangkan di sisi lain beberapa kelompok mengecam kasus Rohingya. Salah satu pesannya berbunyi, "Jika kita mengecam yang terjadi di sana (Rohingya) dan menghalalkan yang terjadi di Tangerang, rasa keadilan kita palsu. -Goenawan Mohamad-" 

Postingan saya di Instagram @dinilint pada tanggal 11 Februari 2018 memang bercerita tentang perbedaan, tapi sebenarnya bukan perbedaannya yang ingin saya tonjolkan, namun di balik semua perbedaan ini ada persamaan yang menyatukan.

Saya sedih dengan apa yang terjadi dengan Indonesia. Indonesia yang katanya sudah merdeka sejak tahun 1945, yang dibangun dari beribu-ribu suku dan bahasa adat, yang memiliki dasar bernama Pancasila yang bersimbolkan Bhineka Tunggal Ika, kenapa harus bertengkar atas nama agama?
Saya, sebagai orang Indonesia, masih berharap negara ini tetap ada, tetap bersatu, dan damai selalu. Saya juga percaya bahwa sebagian besar penduduk negeri ini punya harapan yang sama seperti saya.

May God be with us.

Dinilint

Sabtu, 10 Februari 2018

Sakura

Sakura. Bunga cantik berwarna pink yang muncul setahun sekali sebagai peringatan bahwa musim semi akan segera tiba dan mengakhiri masa-masa dingin di musim yang lalu. Pertemuanku dengan bunga sakura cukup memberikan memori yang menyenangkan.

sakura di jalanan Seoul

Saat itu musim semi di Seoul dan di tiap sudut jalan

Jumat, 02 Februari 2018

Indonesia. Aku cinta.

Pernah nggak kamu bertanya 'Kenapa kamu terlahir sebagai Indonesia'? Aku pernah.

Berfoto bersama presiden dan wakil presiden pertama RI, Sukarno Hatta di Bandara Sukarno-Hatta

Saat aku cuma punya TV & koran sebagai media untuk mendengar cerita dan berita, rasa-rasanya mendengar

Rabu, 31 Januari 2018

The Joy Of Blogging

Apa sih enaknya nge-blog? Jadi gini, aku dulu penasaran dengan traveling dan nggak tahu harus mulai dari mana hingga akhirnya kenalan dengan yang namanya mesin pencarian di internet yang kemudian mengantar aku bertemu cerita-cerita seru dari orang-orang yang sama sekali belum aku kenal. Akibat inspirasi dari orang-orang baru ini, aku pun penasaran dengan blog dan akhirnya mencoba membuat satu.

Maaf foto kaki,
Tapi kalo lagi nge-blog ya begini ini keadaannya :P

Aku mulai nge-blog untuk having fun.

Selasa, 23 Januari 2018

Karimunjawa: Jalan-Jalan (Lagi)

Berkali-kali jalan-jalan ke Karimunjawa bukannya bikin bosen, malah nagih. Karimunjawa ini nggak cuma deretan pulau-pulau dengan pasir pantai putih yang enak buat goler-goler, dan surga untuk snorkeling dan diving sepanjang hari, tapi juga semacam playground dengan pasir pantai lembut lengkap dengan air laut tenang dan langit yang super luas.

foto full team di Bukit Love Karimunjawa

Rabu, 10 Januari 2018

Karimunjawa: Kapal Kapasitas 1000 orang untuk 10 orang

Udah banyak yang nulisin tentang liburan ke Karimunjawa kan. Nah,, kalo yang nulisin liburan ke Karimunjawa pake kapal gedhe kapasitas 1000 orang tapi penumpangnya cuma 10 orang udah ada belum? Whatever udah ada yang nulis atau belum aku mau berbagi pengalaman ke Karimunjawa dari Semarang pake kapal Pelni yang muat 1000 orang itu.

K.M Lawit Semarang - Karimunjawa