Jumat, 30 Maret 2018

Camping di Hotel

Camping itu kalo diterjemahin secara bebas artinya nenda, kalo mau dijabarkan lebih detail lagi mungkin bisa jadi pindah tidur di tenda atau menginap di dalam tenda. Tapi kalo menginap berarti ritual macam mandi, boker, pipis, makan juga mengikuti dan,,,, mengingat fasilitas tenda yang minimalis kemungkinan printilan-printilan macam itu juga harus menyesuaikan dengan fasilitas. Mmmm,,, untuk orang kota yang sudah terbiasa dengan kemewahan rasa nyaman agak berat juga ya. Mungkin salah satu jawabannya ya dengan camping di hotel.


Fotonya mas Teguh


Aku sendiri sudah beberapa kali camping alias nenda. Pengalaman pertama camping ya jelas pas ikutan pramuka jaman SD dulu. Aku kok lupa detailnya ya,, tapi yang jelas aku dan temen-temen dianterin pake mobil sama ortunya temen, tenda dan barang-barang dibawain masuk truk. Di lokasi tidur di tenda, nggak mandi, nggak ganti baju, dan pulang-pulang dikomentarin sama orang rumah kalo aku jorok banget karena 2 hari 1 malem nggak ganti baju dan nggak mandi. Pas SMP berangkatnya udah lebih bener yaitu nebeng truk tentara yang super gedhe. Waktu itu campingnya di barak super gedhe, jadi nggak pake tenda tapi pake tiker. Kamar mandinya gedhe juga,, jadi mandinya rame-rame. Camping selanjutnya di masa lepas SMA udah beneran camping sih. Salah satu camping berkesan ya waktu naik ke Rinjani, camping dari satu pos ke pos berikutnya yang berlanjut dengan camping di Gili Trawangan. Di camping-camping ini udah mulai belajar boker di tanah yang pake ritual gali lubang tutup lubang.


Agak ribet ya camping itu. Eh bukan cuma agak,, tapi beneran ribet. Mulai dari bawa-bawa tenda yang berat, perlengkapan, nyari travelmate yang pas, sampe keribetan masalah milih pipis di sebelah mana pas acara nendanya. Tapi atmosfer camping ini bener-bener ngangenin. The feeling of doing nothing instead just enjoy the camping ground and surround ini beneran bikin nagih. Tapi kalo dikasih pilihan camping dengan fasilitas ala hotel ya jelas nggak nolak dong. Ehehehehe.

Bulan Maret ini aku dapet travelmate baru untuk nyobain camping di hotel. Syaratnya cuma bawa diri dengan perasaan happy. Wuah,,, siapppppp! Berhubung campingnya di hotel - bukan di gunung atau hutan atau pantai yang lokasi persisnya belum jelas - jadi titik kumpul kami bertemu ya di hotel. Kami camping di Hotel D' Emmerick Salatiga. Aku dari Semarang tinggal nyetir aja sekitar 1 jam lewat jalan tol Semarang-Salatiga dan menuju ke arah Kopeng. Hotel D' Emmerick ada di sebelah kiri jalan dan titiknya tepat persis seperti panduannya google maps. Kalo mau pake kendaraan umum juga gampang banget. Dari Semarang bus Semarang-Solo kan beroperasi 24 jam (tapi kalo yang patas mulai jam 5 pagi sampe jam 5 sore aja). Nah naik aja bus ke arah Solo trus turun di pasar sapi Salatiga. Dari pasar sapi Salatiga minta jemput aja sama pihak hotel.

Hotel D' Emmerick


Antara parkiran sama lobi hotel ternyata lumayan jauh. Berhubung kontur tanah di area hotel naik turun, jadi aku harus jalan mendaki ke arah lobi hotel. Di depan lobi hotel ada bangunan semacam kincir angin mini yang jadi semacam icon selamat datang di Hotel D' Emmerick. Mungkin adanya kincir angin yang sepertinya tiruan bangunan-bangunan di Belanda ini untuk mengingatkan bahwa Hotel Emmerick ini dulunya adalah tempat penampungan pengungsi korban Gunung Kelud yang meletus di tahun 1901 yang digagas oleh Bapak Emmerick dan istrinya  Alice yang adalah orang Belanda. Seingatku di tahun 90an sampai masa sebelum 2017 hotel ini dikenal dengan nama Salib Putih yang kemudian per 2017 lebih dikenal dengan nama Hotel D' Emmrick.


Yang istimewa dari Hotel D' Emmrick ini adalah meskipun hotel yang modern, namun hotel ini tetap menyajikan sajian-sajian tradisional khas Salatiga. Salah satunya adalah hidangan makan siang aku yang disebut dengan gecok cabut gunung. Konon menu ini adalah menu khas daerah Salatiga dan sekitarnya. Katanya gecok cabut gunung adalah kasta terendah olahan daging setelah sate, gule, dan tongseng karena menggunakan bahan sisa-sisa. Meskipun begitu, gecok cabut gunung di Hotel D' Emmerick siang itu enak. Tapi kalo untuk aku pribadi, yang lebih enak adalah ada banyak hidangan sayur dan buah dalam menu makan. Ini penting! Karena aku nggak bisa kelamaan nggak makan serat. :))

Adventure Park


Setelah disuguhi makan siang yang enak dan banyak, kami diajak untuk mencoba adventure park milik Hotel D' Emmerick. Yeay. Jadi kalo camping di hotel itu bisa maen-maen ke taman hotelnya. Nah kebetulan kalo hotel ini punya taman luas banget sampe bisa bikin tempat untuk latihan memanah (archery), outbond (high rope), dan bisa buat archery battle. Buat aku yang paling seru ya high rope. Ada sekitar 7 atraksi seru dari mulai panjat tebing ke atas pohon, melewati semacam ayunan untuk pindah ke pohon lain, naik sepeda di tali, masuk ke lubang tikus, jalan di lubang jala-jala, pelana kuda, sampe turun lagi pake jaring-jaring. Aku berhasil dong melewati semua tantangan itu. Selain memacu adrenalin, main high rope juga melatih ketenangan hati dan percaya diri. Asek. Nah kalo aku berhasil di high rope, lain hal dengan archery. Semua anak panah yang berusaha aku bidik meleset. Duh. 

Fotonya mas Wahid

Selesai keringetan, aku dan teman-teman naik lagi mendaki bukit dan nemu kolam renang. Sayangnya aku nggak bawa baju renang dan males banget bawa pulang baju basah. Temenku iseng nanyain ada sewa baju renang nggak. Ternyata kalo baju renang cowok stoknya habis, tapi kalo baju renang cewek ada. Yuhuuu,,, berenang deh. Meskipun udara di kaki gunung ini dingin, tapi berenang disini jatuhnya seger. Belum lagi dari kolam renang kita bisa melihat pemandangan kota Salatiga di kejauhan. Pelan-pelan warna langit berubah menjadi lebih gelap dan lampu-lampu kecil di ujung sana mulai menyala. Saatnya makan malam lagi nih.

Jadi begini, kalo kamu nge-camp bareng blogger, fotografer, videografer alias pembuat konten (content creater) diskusi malamnya juga seputar dunia create and share konten. Thanks to mas Danang Dhave (blogger), mas Erfix (youtuber), dan Om Sarbu (fotografer senior) yang bersedia share pengalaman kalian malam itu. Kalo sering-sering ikut even begini rasa-rasanya aku makin kaya aja, kaya wawasan, kaya pengalaman (meskipun banyak pengalaman orang yang aku ambil hikmahnya), dan kaya teman. Suka. Malam makin larut, obrolan makin seru, tapi rencana untuk bangun jam 3 pagi demi ngejar sunrise nggak bisa dilupakan. Kalo beberapa teman ada yang memilih untuk nggak tidur sekalian, aku tetap memaksa diri untuk tidur. Gini nih nggak enaknya piknik nyetir sendiri, harus jaga diri biar besok bisa pulang dengan selamat dong.

Tenda


Eh aku belum cerita tentang tendanya ya. Tenda untuk camping ini udah berdiri rapi. Beneran aku cuma bawa badan aja dan perlengkapan pribadi. Tendanya semacam tenda dari terpal tebel yang mengakibatkan di dalamnya jadi anget. Di dalam sudah ada alas dan semacam matras empuk untuk tidur. Yang nggak ada cuma selimut aja yang mestinya dibawa sendiri karena tetep judulnya nenda. Di tiap tenda ada satu colokan yang fungsingnya sebagai colokan untuk penerangan di atas tenda. Tapi kalo kamu bawa kabel berarti bisa numpang nge-charge handphone, laptop, dan kamera. Di area tenda ada wifi yang kenceng, siapa tahu mau share ig story atau video call yang menunjukkan kamu survive pas camping. Kamar mandi nya pun berupa kamar mandi modern yang luas dengan shower dan wc duduk dan wastafel. Mushola juga ada di area camping ground. Lengkap kan.


Camping di hotel ini tambah istimewa karena bisa ngetrip ngejar sunrise ke puncak Gunung Telomoyo pake jip. Ceritanya di post terpisah ya,, biar seru. Klik aja di tulisan yang biru kalo mau tahu. ;)

Off road


Naik gunung pake jip aja udah seru. Ternyata ada yang lebih seru: off road di halaman Hotel D' Emmerick. Iyaaaa seluas itu halaman hotelnya sampe bisa dibuat off road. Aku pikir lintasannya semacam lintasan ATV seperti yang ada di adventure park-nya, cuma ditambah lumpur-lumpur aja biar kaya di video-video itu. Tapi ternyataaaa,,, lintasannya beneran emejing, naik turun nggak beraturan, genangan lumpur dimana-mana, belokan nggak jelas, nabrak pohon sana-sini (dan pohonnya tetep kekeuh, nggak tumbang), ditambah teriakan rame kami saking seru dan unpredictable-nya off road ini. Duh D' Emmerick,, ini kalo macam ketagihanku nambah lagi jadi ketagihan off road gimanaaaa.

Halaman belakang Hotel D' Emmerick untuk lintasan off road

Acara camping bareng temen-temen blogger, fotografer, dan videografer ini ditutup dengan ngantri nasi pincuk di Cleavery Eatery. Sebenernya kegiatan makan siang dan makan malam hari sebelumnya juga selalu di Cleavery Eatery. Cleavery Eatery ada di area Hotel D' Emmerick. Konsepnya adalah tempat makan terbuka yang menyajikan menu-menu khas Salatiga yang dikemas ala hotel dengan rasa yang enak. 

Jadi kenapa temen-temen blogger, fotograger, dan vidografer ini bisa bikin konten yang menarik? Ya karena mereka mengalami hal yang menarik yang kemudian dibagi melalui tulisan, foto, dan video yang kemudian bisa dinikmati melalui medsos, youtube, dan blog.

Foto bareng travelmate di Cleaverly Eatery

Terima kasih juga Hotel D' Emmerick untuk hospitality dan segala keseruannya. Suka.
Terima kasih untuk Titik Tengah Partnership yang sudah mengatur even ini.
Terima kasih untuk temen-temen blogger, fotografer, dan videografer yang sudah menambah kaya pertemanan, wawasan, dan keseruan aku; Isul, mbak Nia, mbak Domi, mas Wahid, mbak Archa, bang Doel, bang Salman, Bayu, Nico, bu Wati, Erina, mas Aji, mas Manji, mas Dhave, mas Teguh, mbak Mauren, mbak Archa, mbak Ika, mak Winda, Nyi, om Sar, Rais, mas Vay, Zain, mbak Dian, Hadi, mas Deta, Leon, mbak Siti, mas Adiq.

- Dinilint -

19 komentar:

  1. kemping asik bareng temen-temen rame, kalo yang sepi sama kekasih eakk :v

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eaaaa,,, enak kalo ada kekasihnya,, kalo nggak adaaaa,,,, wkwkwkwk

      Hapus
  2. Wah, seru bener camping di hotel :D Eak sajian perutnya berkonsep terbuka gitu dan khas Salatiga. Semua lengkap sampe colokan di tenda ada, wifi kenceng, sekitar tenda ada mushola. Tinggal bawa selimut dari rumah. Asyik deh! :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo pun lupa bawa selimut bisa pinjem selimut hotel si mbak. Wkwkwkwkwk,,, ketauan banget anaknya cuma bawa diri :P

      Hapus
  3. Seru banget ya kayaknya, apalagi rame2 gitu.
    Berasa banget campingnya :D
    Oh iya, camping itu emang ribet sih.
    Pasang tendanya ribet, bongkarnya pun ribet.
    Tapi kalo rame2 ya tetep aja bakalan seru :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixixi,, apalagi aku nggak pernah sukses pasang tenda sendiri,, tahunya beres :P

      Hapus
  4. Duh, makin banyak yang posting acara kemaren itu..

    Sayang nggak bisa ikut soalnya pas weekdays..
    Seru banget ya acaranya.. Terutama yg ke Telomoyo itu..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bikin acara sendiri massss,,, aku tak ikutan

      Hapus
    2. Waduh.. Masih dalam taraf nyari-nyari event buat join ni.. hehe

      Hapus
    3. Kalo nggak dapet bikin sendiri aja mas,, nyari temen buat seseruan bareng-bareng, share cost,, seru juga kok,, nggak harus melulu nungguin sponsor. Hehe

      Hapus
  5. Asik banget ya acaranya, terlebih banyak yang ikut. Selain seru dapet ide untuk nulis juga ya, pengen off roadnya deh, seru pastinya ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa,,, tiap piknik selalu jadi bahan tulisan kalo aku,, biar selalu inget serunya piknik kalo lagi nggak piknik. Hehehe

      Hapus
    2. Setuju, seenggaknya ada dokumentasinya ya..
      Kalau kangen bisa dibaca kapan aja..he

      Atau, piknik juga bisa dijadikan alternatif ide disaat kita lagi mentok mau nulis apa. Kan satu kali piknik bisa dijadikan cerita banyak, tergantung kitanya pastinya..he

      Hapus
    3. iyes,,
      Btw kalo di aku,, nulisnya kalo udah piknik. Wkwkwkwk

      Hapus
    4. Jadi piknik itu bukan alternatif,, tapi kebutuhan :P

      Hapus
  6. Din, menurutmu lebih berkesan mana antara ngemping di alam bebas dan ngemping di kawasan yang udah dikelola sama hotel yang apapun fasilitasnya udah disediain ?

    Gpp tanya,ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gapapa dong.

      Kalo aku camping di alam bebas dan di hotel sama-sama meninggalkan kesan,, tapi jelas kesannya berbeda.

      Kalo camping di alam bebas, aku jadi lebih menghargai hidupku yang nyaman, segala sesuatu lebih gampang dilakuin. Di sisi lain, aku juga belajar hidup dengan alam liar yang seadanya, nggak kebanyakan nuntut ini dan itu, dan juga rasanya lebih syahdu karena bisa berinteraksi dengan alam secara langsung.

      Kalo camping di hotel, semuanya terasa lebih gampang aja, mau ke toilet tinggal melipir ke belakang, nggak perlu gali lubang tutup lubang dulu, tenda udah berdiri dengan gagah, buang sampah udah ada plastik di depan tenda, makan juga tinggal jalan naik dikit dan nggak mikir kali ini masak apa ya. Ya,, lebih gampang aja sih kalo camping di hotel,, istilahnya ya cuma bawa diri aja jadi.

      Jadi mana yang lebih berkesan? Sama-sama berkesan yaa. Aku tetep mau tuh ngulang dua-duanya. Hahaha

      Hapus
  7. Kita kayanya setenda ya..hahahah
    Pengalaman menyenangkan yg paling berkesan saat liat sunrise dan off road. Berasa kurang waktunya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,, tenda paling ujung yang deket kamar mandi. Hahaha,, main lagi yuk

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)