Sabtu, 10 Maret 2018

Jalan-Jalan Keliling Indonesia Melalui Film

Salah satu impian terbesarku adalah jalan-jalan keliling Indonesia. Harapanku nggak cuma jalan-jalan di kota-kota besarnya aja, tetapi juga mengunjungi daerah-daerah baru dan bertemu dengan orang-orang lokal yang tinggal di tiap daerah sambil berkenalan dengan budaya setempat. Salah satu budaya yang ingin aku nikmati adalah bahasa. Indonesia dan 1158 bahasa daerahnya (wikipedia) menjadi salah satu daya tarik untukku jalan-jalan keliling Indonesia. Meskipun belum benar-benar membawa raga dan telinga untuk mendengar tiap bahasa daerah di Indonesia secara langsung, thank God di tahun 2018 ini aku bisa jalan-jalan keliling Indonesia melalui film Indonesia berbahasa daerah. Aku akan bercerita tentang pengalamanku dengan film Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak dan Sumba, pengalamanku dengan film Yowis Ben dan Jawa, serta pengalamanku dengan film Sekala Niskala (The Seen And Unseen) dan Bali.



Aku suka sekali dengan film. Di dalam film ada rangkaian cerita yang diceritakan secara visual. Saat menonton film aku seperti masuk ke dalam dunia si tokoh dan menikmati latar belakang waktu dan tempat dari cerita tokoh tersebut. Kadang aku menggunakan film untuk jalan-jalan secara imajinatif atau sebagai referensi jalan-jalan, misal aku ingin mengendarai kuda di Sumba karena ada adegan di Pendekar Tongkat Emas dengan kuda dan latar belakang bukit telletubies yang indah atau aku ingin goler-goler di padang pasir Bromo setelah nonton Pasir Berbisik. Aneh ya,,, Hehehe.

Di tahun 2017 dan 2018 ini ada film-film tak biasa, khususnya film Indonesia yang mampu membawa aku jalan-jalan ke beberapa tempat di Indonesia, ya anggap saja ini adalah pemanasan sebelum benar-benar jalan-jalan keliling Indonesia. Film-film ini aku pilih karena masing-masing film ini menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa percakapan sepanjang film. 

Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak


Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak mempunyai latar tempat di Sumba. Meskipun beberapa adegan di film ini bisa dikategorikan menjadi sadis dan ngeri (bayangin ada adegan menggal kepala pake golok dan bawa-bawa kepala orang sambil naik angkutan umum) tapi film ini termasuk salah satu film yang indah dalam sudut pandangku. Salah satu keindahan dalam film ini karena Sumba! 


Meskipun aku belum pernah jalan-jalan di Sumba, namun aku sudah sangat familiar dengan visualisasi alam Sumba. Aku berkali-kali melihat Sumba melalui gambar, foto, post di instagram, dan film. Semua visualisasi tentang Sumba sangat indah dan photogenic. Selain alam Sumba yang terekam indah di film ini, penggunaan kain tradisional Sumba juga membawa suasana Sumba dengan sangat kental. Kain dan alam Sumba ini sungguh membuat aku mupeng pengen segera jalan-jalan ke Sumba.

Selain secara visual Sumba ini sangat indah, suara tentang Sumba juga terdengar indah di telingaku. Meskipun di film Marlina, Si Pembunuh Dalam Empat Babak tidak sepenuhnya menggunakan bahasa daerah Sumba, namun logat Indonesia Timur khas Sumba terdengar sepanjang film. Aku paling suka bagian percakapan antara Marlina dan Novi, mendengar mereka bercakap-cakap seakan mendengar percakapan dari teman lama yang berasal dari Indonesia Timur saat sedang jalan-jalan di Sumba.

Yowis Ben


Pertama denger ada film karya youtuber Bayu Skak yang postingan videonya di blog bikin ngakak udah kebayang kalo film Yowis Ben ini bakalan bikin rahang pegel sepanjang nonton. Aku pas nonton Yowis Ben ini juga pas lagi capek berat akibat baru pulang dari luar kota dan cuma tidur ala kadarnya malam sebelumnya. Biasanya kalo nonton film-film biasa wae dalam kondisi fisik seperti ini aku bakalan ketiduran di tengah cerita dan bangun lagi ketika ceritanya sudah habis. Meskipun demikian, nonton Yowis Ben nggak bikin ngantuk. Mungkin gara-gara ngakak nggak habis-habis, jadi secara nggak langsung matanya melek. Dan karena film ini nggak bikin mikir sama sekali jadi ya enjoy aja nontonnya, ngalir dan menikmati.


Satu hal lagi yang bikin takjub, dalam film ini selain menjadi penulis naskah, si Bayu Skak-nya sendiri juga jadi tokoh utamanya. Well di dunia perfilman Indonesia yang selalu menampilkan wajah-wajah ciamik yang menarik, bentuk muka macam Bayu Skak bisa di zoom untuk tampil di layar sedemikian besarnya di bioskop ini sesuatu yang istimewa.

Kalau kamu pernah lihat video-video Youtube Bayu Skak, maka kamu sudah terbiasa dengan bahasa Jawa medok Suroboyonan khas Bayu Skak, yang kemudian dihadirkan sepanjang film Yowis Ben. Iya,,, sepanjang film Yowis semua pembicaraan terjadi dalam bahasa Jawa. Bahkan ungkapan khas Jawa Timuran macam jancuk, koen, cangkemmu dengan lantang diucapkan tanpa ada sensor suara. Aku sih suka ya.

Rasanya nonton Yowis Ben yang berlatar tempat di Malang seperti main ke rumah teman lama di Malang, ikut dalam kehidupan sehari-hari mereka, dan diajak nongkrong layaknya anak lokal. Latar tempat rumah Bayu Skak di Kampung Pelangi Jodipan yang penuh warna juga membawaku seakan jalan-jalan di Malang, Jawa. Tapi tetep sekali lagi yang membuat film ini istimewa adalah percapakan bahasa Jawa sepanjang cerita dan tokoh utama si Bayu Skak yang mukanya jauh dari ganteng khas pemeran-pemeran utama film-film Indonesia pada umumnya macam Reza Rahardian, Vino G. Bastian, atau Nicholas Saputra. 
*sori yo Mas Bayu, tapi ancen e ngono kuwi, aku mung nulisno opini.

Sekala Niskala


Sekala Niskala berkisah tentang proses menuju kehilangan dan mengikhlaskan. Ceritanya ada sepasang kembar Tantra dan Tantri. Tantra memiliki benjolan di kepala yang sudah memengaruhi semua sarafnya dan harus dirawat di RS selama berhari-hari, mungkin berminggu-minggu, atau bahkan berbulan-bulan. Kondisi Tantra tidak cenderung membaik malah cenderung stagnan atau justru memburuk. Tantri, kakak kembarnya merasa kehilangan. Tantri kehilangan adik kembarnya karena tidak dapat bermain bersama lagi.


Adegan awal Sekala Niskala adalah adegan saat Tantri membawa anjing mereka secara diam-diam dengan memasukkannya ke dalam tas ke RS dan membawanya pada Tantra. Disini budaya Bali sudah kental terasa. Aku teringat setiap jalan-jalan di Bali aku selalu bertemu dengan anjing-anjing khas Bali, khususnya saat aku tinggal di rumah orang lokal Bali. Rata-rata semua orang Bali pasti punya anjing, minimal anjing lokal di rumah mereka. 

Dalam Sekala Niskala semua percakapan pun menggunakan Bahasa Bali. Mendengar Bahasa Bali sepanjang film seakan membawaku terbang ke Bali. Selain itu Sekala Niskala juga kental dengan pertunjukan budaya Bali dalam tiap adegan film. Ada tarian yang menunjukkan pergolakan batik Tantri untuk melawan penyakit Tantra. Ada musik tradisional khas Bali yang dimainkan melalui sitar oleh Tantra. Ada pula adegan mandi di sungai dengan aliran air yang bersih oleh ibu dan Tantri. Semuanya indah dan kental dengan budaya Bali. Menonton film ini seakan aku sedang jalan-jalan di Bali dan tinggal di rumah seniman Bali dengan sawah di sekeliling rumah dan mengamati kehidupan sehari-hari mereka di Bali.

Keliling Indonesia


Ketiga film di atas lumayan mengobati kerinduan aku untuk jalan-jalan keliling Indonesia. Penggunaan bahasa daerah sepanjang film memberi warna tersendiri di film-film tersebut dan di imajinasiku sendiri membuat sensasi mengunjungi latar tempat di film terasa lebih nyata. Semoga di tahun-tahun mendatang akan ada lebih banyak lagi film-film yang kental budaya, salah satunya dengan budaya bahasa dari Indonesia yang diputar di bioskop Indonesia. 

Dinilint

17 komentar:

  1. Keliling Indonesia siapa yang ga mau ,, aku pun mau atuh haha

    eta dari semua film di atas aku paling demen sama marlina, cerita Sumbanya kental banget.
    Dari bahasa, pakaian, culture. semuanya kusuka ! Aku kasih 4 jempol deh buat para pemeranya.

    kadang kalo abis nonton film genre traveling jiwa jalan-jalanku meningkat lagi.
    terus Langsung cek bucket list, liat daftar tempat yang belum pernah aku kunjungin. abis itu ngumpulin duit untuk mewujudkanya.

    Jadi bagiku film itu ga cuma jadi pengobat kerinduan, tapi juga motivasi untuk meraih mimpi, aheey

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaaa,,, tiap habis nonton film (nggak cuma film travelling kalo aku) bawaannya selain nyari tahu behind the scene & lagunya aku juga nyari tahu tentang daerah latar tempatnya.

      Hapus
  2. Nonton Salawaku dong mba, hayo jalan2 ke Maluku, keren loh lokasi syutingnya, pasti habis itu pengen main ke Maluku :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya nih,,, Maluku juga salah satu wishlist ku. Thank you referensi Salawaku nya mbak

      Hapus
  3. Menarik mbak, memvisualisasikan keliling Indonesia lwt film..
    Klo gk salah dulu sblm booming laskar pelangi jg bnyak film2 yg menggambarkan keindahan indonesia, cmn lupa apa judulnya. Haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Banyaaakkk,, salah satu yang aku inget Denias di Atas Awan dan satu judul lagi yang menceritakan tentang bulu tangkis, shoot nya di daerah Jawa Timur. Tapi film-film yang aku tulis disini yang punya benang merah sepanjang film pake bahasa adat :D

      Hapus
  4. Wah jd tertarik nih pingin nonton ketiganya. Terimakasih referensinya ya��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mbak nonton,, di bioskop yaa,, biar lebih dapet atmosfernya ;)

      Hapus
  5. Sama niiih ... aku juga sangat pengin terlaksana bisa keliling Indonesia sampai ke daerah2 terpencilnya.

    Semoga Tuhan mengijinkan untuk itu,ya, Amiiiin

    BalasHapus
  6. Sejak nonton Denias, aku belum kesampaian ke Papua :( Film Marlina juga bikin sakau pingin ke Sumba huhuhuhu. Semoga ada kesempatannya nanti. Amiiiin.

    BalasHapus
  7. Mau jg keliling indonesia, tp kantongin dulu impian satu ini hehehe. Semoga terwujud ya Mba bisa keliling indinesia

    BalasHapus
  8. Kalau melihat film-film yang beragam yang menampilkan bahasa-bahasa daerah di Indonesia serta latar tempatnya, sebenarnya Indonesia ini adalah sumber kekayaan ide dan inspirasi yang bisa diangkat menjadi karya-karya seni yang luar biasa, ya Mba. Ah bangganya menjadi bagian negeri kaya budaya ini :)

    BalasHapus
  9. Ide bagus ini, semoga kedepan lebih banyak film yang memilih setting wilayah eksotik di Indonesia. Biar semakin kuat benang merah antara film dan pariwisata :)

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)