Jumat, 23 Maret 2018

Telomoyo: Jeep Ride, Sunrise, dan Off Road

Naik gunung itu identik dengan capek yang berteman dengan betis berkonde. Belum lagi kalo pake acara ngejar sunrise di puncak,, udah badan berlimpah dengan asam laktat ditambah nggak tidur semalaman dan ngos-ngosan sekaligus deg-degan kareana ada kemungkinan nggak ketemu matahari pertama hari ini. Tapi ya,, naik gunung itu ngangenin. Andai saja naik gunung itu tinggal duduk manis sambil (*nanyi mode:on) kanan kiri,, kulihat saja,, banyak pohon cemara,, a,, a,, trus tahu-tahu nyampe puncak, kan enak banget kan ya. Kalo aku cerita ke temenku yang anak gunung, mereka si cuma bales ketawa aja,, yang aku artikan secara harafiah, 'Ini seninya naik gunung. Kalo naik gunung macam naik bus antar kota semua orang bakalan naik gunung dan gunung nggak lagi asik.' Mmmm. Eh tapi lain cerita lho  kalo naik gunungnya naik Gunung Telomoyo (1894 mdpl) di Salatiga. Ini beneran aku tinggal duduk manis, lihat kanan-kiri [yang bukan pohon cemara tapi jurang], terus ketemu sunrise deh. Ya meskipun jalanan gunung nggak semulus pantat bayi dan harus pake kendaraan off road dengan mesin 4 x 4 tapi tetep uhuyy.


Photo by Rivai Hidayat


Naik Gunung Telomoyo yang tinggal duduk manis ini bukan tanpa perjuangan. Bangun jam 3 pagi saat matahari belum terbit buat aku adalah perjuangan super beraaaaat. Aku yang sehari-hari bangun ketika matahari sudah super tinggi mau nggak mau harus mau bangun pagi. Ya iyalah,, kan namanya mau ngejar matahari terbit, jadi ya harus bangun sebelum mataharinya terbit dong. Kalo kaya gini aku jadi pengen berkhayal lagi; gimana kalo nendanya di puncak sekalian,, jadi bangunnya itu pas ketika mataharinya terbit,, sekitar jam 5an lah, nggak jam 3 kaya kemaren. Beberapa kali naik gunung, semuanya kudu bangun pagi atau nggak tidur semalaman lanjut mendaki ke puncak demi lihat sunrise. Eh tapi pernah juga cuma males-malesan di tenda sambil nungguin matahari terbit pelan-pelan pas naik ke Rinjani ding, tapi nggak summit attack. :P

This color is my favorite

Bangun pagi

Sebenernya perkara bangun jam 3 pagi yang menyebabkan porsi tidur berkurang dari biasanya dan gampang terserang virus ngantuk ini bisa diatasi sih. Kan kali ini naik gunungnya nggak jalan kaki, tapi pake jeep. Sebenernya bisa aja si duduk anteng di kursi penumpang terus lanjut tidur lagi. La wong dulu pas naik Semeru sempet tidur pas lagi jalan kaki saking capeknya. Tapiiiii,, kehilangan momen perjalanan mendaki gunung itu sayang banget. Ada banyak scene yang kata anak sekarang 'instagramable' di tiap perjalanannya. Apalagi aku suka banget merhatiin langit dari warna gelap, muncul semburat-semburat oranye, kemudian jadi cerah. Jadi ya kalo aku pilih berusaha tetep bangun, buka mata, sambil menikmati tiap goncangan dalam mobil yang sedang mendaki menuju puncak Telomoyo. Iya, mobilnya penuh dengan guncangan karena jalanan menuju puncak Gunung Telomoyo tentu saja bukan jalan aspal mulus, melainkan jalan berbatu khas jalanan pegunungan yang dibangun tepat di sebelah jurang mengelilingi lereng Gunung Telomoyo. Aku selalu menikmati bagian-bagian lewat sisi jurang, jalanan berliku, dan pemandangan dari lereng gunung menuju puncak. Apalagi ketika duduk di kursi penumpang,, momen macam ini sayang untuk dilewatkan.

Jeep-jeep 4x4 yang mengantarku menuju puncak

Jalanan ekstrim

Mengingat perjalanan mendaki puncak Gunung Telomoyo ini tergolong ekstrim, kami menggunakan jeep 4x4. Beruntungnya aku bisa ikutan trip bareng Komunitas Jeep Salatiga. Mobil yang aku naiki adalah Katana yang sudah dimodifikasi menjadi jeep 4x4, tapi mesinnya masih tetep pake mesin Katana Suzuki. Mobil ini juara banget,, meskipun medan mendaki yang lumayan curam dengan tikungan di sana-sini dengan jalanan berbatu-batu atau sering disebut 'ancur', tapi mobil ini naik dengan mulus-mulus aja. Jadi penasaran kalo nyetir mobil semacam jeep katana modifikasi ini sensasinya gimana ya.

Setelah satu jam duduk manis, lihat kanan kiri, mendaki tanpa pakai kaki, dan badan sediki terlempar kesana kemari, akhirnya jeep kami berhenti. Katanya sih udah di puncak, tapi kok tetep masih ada jalan ke atas ya. Eh,, tapi biasanya tempat macam gunung begini tetep ada jalur trekkingnya.  Mengingat Gunung Telomoyo adalah bener-bener gunung yang tingginya aja sampe 1894 mdpl, kemungkinan besar dan sangat mungkin bahwa jalur trekkingnya bikin keringetan dan ngos-ngosan. Aku jadi inget acara bangun pagi demi ke Puncak Suroloyo kemaren juga kudu mendaki ratusan anak tangga. Tetep ngos-ngosan.

Sunrise

Tapi ternyata spot untuk melihat matahari terbit bisa dicapai pake jeep dan jeep aku berhenti tepat di depan spot sunrise. Aaaaahhhhh,, nikmatnya acara mendaki Gunung Telomoyo ini,,, ya iyalah,, mendakinya pake jeep. Meskipun awal perjalanan molor dari jam 3 jadi jam 3.30 tapi pas nyampe di puncak sekitar jam 4.30 atau jam 5 (lupa persisnya jam berapa,, nggak cek jam juga) matahari belum terbit. O yeay,, nggak ketinggalan matahari kayak waktu nanjak di Ijen kemaren. 

Langit sudah berubah warna dari gelap pekat menjadi berwarna semacam jingga dan oranye tua. Perlahan tapi pasti warna oranyenya lebih dominan dibanding warna hitamnya. Oranyenya nggak lagi tua tapi jadi muda. Saat warna langit seperti ini temen-temen blogger, fotografer, dan videografer berlomba-lomba membidik kamera ke arah matahari di ujung sana. Kalo aku,, sibuk pose yoga siapa tahu ada yang mau bantuin bikin dokumentasi bersama. Hahahaha.

Puncak Telomoyo ini nggak hanya digunakan untuk ngejar sunrise aja. Di dekat jurang ada papan kayu yang fungsi utamanya adalah untuk landasan paralayang. Doh,, pengen paralayang kan jadinya. Berhubung paralayang di Gunung Telomoyo Salatiga ini hanya terjadi saat ada kompetisi paralayang dan konon kabarnya belum digunakan untuk wisata, jadi ya papan kayunya dipake buat alas nonton matahari terbit aja. Eh tapi kalo aku lebih suka nonton matahari terbitnya dengan berdiri di atas jeep. Ternyata beberapa temen ada yang ngeri lihat aku dan temen-temen lain manjat-manjat, berdiri, pose ala-ala di atas jeep. Tapi sebenernya di atas jeep adalah best view untuk menikmati pemandangan spektakuler Gunung Telomoyo.

Photo by Rais Wildan

Pemandangan dari puncak gunung emang selalu membuat aku berdecak kagum. Berkali-kali menikmat puncak dan berkali-kali pula dibuat speechless, rak iso ngomong, ini aja mau nulis perasaannya saat itu bingung. Sebenernya momen ini nih yang bikin kangen naik gunung meskipun bonus betis berkonde dan kalo pulang pasti ditanyain sama ibu, 'Kowe bar ngopo to nduk, kok lethek men.' ('Kamu habis ngapain sih, lecek banget'). Pemandangan dari puncak Gunung Telomoyo pagi itu juga,,, ah kesana sendiri deh, rasain, bingung juga ini nulisnya. Dari puncak Gunung Telomoyo aku bisa lihat ada Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, Rawa Pening, dan Kota Salatiga dalam satu frame. Indah banget.

Selain memuaskan pandangan mata, yang bikin kangen saat naik gunung, terutama di pagi hari adalah udara bebas polusi. Meskipun aku dan teman-teman mendaki menggunakan jeep, tapi jeep nya bukan jeep yang ngebul dan ngeluarin asap item. Amaaan. Kemaren sebenernya pengen yoga beneran, nggak cuma pose-pose yoga di atas jeep. Udaranya enak banget dan jarang aku hirup tiap hari karena aku hidup di kota. Tapi bakmi godog lebih menggoda iman daripada olah raga. Hahaha.

Mi godog

Emang jodohnya naik gunung itu ya mi godog. Kalo biasanya bawanya mi instan, naik Gunung Telomoyo ini spesial karena dari pihak Hotel Emmerick bawa chef untuk menyiapkan sarapan di puncak gunung! Mi godog itu bahasa harafiahnya mi kuah ya,, mi yang dipakein kuah, yang cocok banget dimakan pas laper pas udara lagi dingin seger gitu. Makan mi kuah, dibikinin chef, disiapin papan kayu sambil menikmati pemandangan Puncak Gunung Telomoyo sambil boleh milih mau minum teh atau kopi atau dicampur dua-duanya juga boleh. Semua ini priceless. Ini mi nya beneran enak lho,, bukan tipe mi instan atau mi yang rasanya biasa aja, beneran gurih dan enak banget. Teh dan kopinya juga enak,, dan ini penting banget. [Aku orang yang bisa turun mood nya ketika minum teh atau kopi yang tidak sesuai ekspektasi].

Breakfast at the peak.

Kalo biasanya acara turun gunung jadi pr lanjutan setelah mencapai puncak dan bisa leyeh-leyeh, acara turun gunung Telomoyo ini semacam tinggal pencet saklar aja terus semuanya berjalan dengan sendirinya. Bahkan bagian turun gunung ini lebih menyenangkan. Acara mengelilingi lereng Gunung Telomoyo, melewati lagi tikungan-tikungan mesra dan berjalan bersisian dengan jurang sangat menyenangkan buat aku. Sekali lagi aku buka mata lebar-lebar dan menikmati tiap visualisasi perjalanan kali itu. Perjalanan naik jeep 4x4 ini tetep penuh dengan guncangan tapi tetap menyenangkan. Telomoyo, terima kasih


Mau juga dong!

Acara jeep ride, mengejar sunrise, sambil sedikit off road ini bisa juga kamu nikmati dengan mengambil paket jeep naik Gunung Telomoyo dari Hotel Emmerick yang bekerjasama dengan s4x4tiga Adventure Salatiga. Mulai dari jeep ride, breakfast, sampe turun lagi jadi satu paket. Satu jeep untuk 3 penumpang dan 1 driver yang ketrampilan nyetirnya nggak diragukan lagi. Harganya sekitar Rp 350,000 per orang.

Terima kasih untuk Hotel Emmerick, Titik Tengah Partnership, dan teman-teman blogger, fotograver, dan videografer untuk acara seru Blogger Camp di Emmerick Hotel. See you soon.

Blogger Camp bareng Hotel Emmrick Salatiga

-Dinilint-

22 komentar:

  1. Enak banget bisa naik gunung rame-rame gini. Saya kapan ya bisa naik gunung, dari dulu cuma wacana donag XD.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dong. Asal niat, research, ketemu travelmate yg ok, pasti bisa ;)

      Hapus
  2. Waaaaa.... Seru banget ya pengalaman naik gunungnya...jadi pengen nih secara belum pernah naik gunung

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaa,, cobain deh mbak,, paling nggak sekali. Naik gunung pake jeep kayak aku gini enak mbak, asal drivernya punya skill nyetir ok & menguasai medan.

      Hapus
  3. Sunrisenya bagus banget deh, off road ya naik ke gunungnya asyik nih ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbam Vita. Ada off road lebih seru lagi pas di area hotel. Publish soon. :D

      Hapus
  4. Sunrisenya bagus banget deh, off road ya naik ke gunungnya asyik nih ☺

    BalasHapus
  5. Wohoooo, tempatnya keren banget ya mbas.
    Udah keren, eh naik jeep pula.
    Seru!!
    Jadi kangen naik jeep lagi deh, udah lama gk keluyuran bareng kk ipar pake jeep :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa,,, nyenengin,, maen lagi mas

      Hapus
  6. Waaah langsung bahas telomoyo. Dan km menang banyak di sini ya, banyak foto. Wkkwwkwk aku ga ada. Ngiahahaha seru si perjalanan naiknya, ya gak? 😂😂😂

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahahaha,,, kamu juga banyak fotonya mas,, pake reportase juga kannnn. Seru banget kemarennnn

      Hapus
  7. Dan aku baru tahu istilah betis berkonde dan asam laktat lebih populer dari keringet..hihihihi

    BalasHapus
  8. Balasan
    1. Seru dong. Apalagi ada Bang Doel

      Hapus
  9. wah...enak banget bisa sampai puncak + dapet mi godog ..hehehe
    Dulu waktu pkl di Semarang juga sempet nanjak di gunung Teloyomoyo ini, bedanya waktu itu tidak menggunakan jeep tapi menggunakan motor. Karena jalan yang dilalui semakin nanjak dan nggak karuan kondisinya, terpaksa berhenti dan nggak sampai puncak deh. Tapi meskipun tak sampai puncak perjalanan lumayan bikin capek..hehe

    BalasHapus
  10. Reward berhasil naik Gunung Telomoyo adalah makan mie godog hihihi, mantap mbak DIni :) Aku pernah juga naik jeep tapi pas mau ke Bromo dan di Jogja. Jadi ga tau rasanya kalo naik jeep ke gunung macam gini kata mbak jalannya ga semulus panta bayi hahahah.. Selamat ya behasil!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahaha,, Makasih udah ikutan naik gunung lewat postingan ini ya mbak :)

      Hapus
  11. Baru tau ke Telomoyo ga sah ribet bawa caril ,duduk manis pake jepp sampe puncak...


    Pgn saya gtu, ikut kaya begitu ? Blogger camp,

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga baru tahu,, kalo nggak ikutan acara itu juga nggak ngerti. Hehehehe

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)