Sabtu, 14 April 2018

Akademi Bicara: Bicara Ada Ilmunya

Bicara, hal yang tidak pernah absen dilakukan hampir semua manusia di dunia, ternyata punya ilmu tersendiri yang menarik untuk dipelajari. Bicara tidak hanya sekedar mengeluarkan suara dan berkata-kata. Bicara melibatkan tubuh dan segala macam gerakannya. Bicara juga seperti lagu, ada nada, ada intonasi, dan ada durasi. Bicara bahkan bisa membuat mood turun, naik baik dari si pem-bicara maupun si pendengar bicara. Melalui Akademi Bicara aku boleh belajar ilmu tentang bicara, khususnya bicara di depan orang banyak atau kerap disebut public speaking.




Hari libur paling baik digunakan untuk piknik dan jalan-jalan. Kalau selama ini piknik bersenang-senang, nggak ada salahnya piknik untuk belajar. Bareng temen-temen dari Akademi Bicara aku ikutan belajar berbicara.


Akademi Bicara


Akademi Bicara didirikan untuk memenuhi kebutuhan belajar bicara di depan orang banyak atau lebih dikenal dengan sebutan public speaking. Akademi Bicara berbagi tentang ilmu bicara, lebih spesifik lagi public speaking dengan gaya anak muda atau kalau sudah merasa tidak muda di umur tapi masih muda di jiwa. Yang mendirikan Akademi Bicara ini adalah dua MC kondang; Mas Adi Siswowidjono dan mbak Nessa Ghozal yang tampak muda dan ketahuan kalo mereka berjiwa muda. Meskipun namanya kedengaran serius, akademi, tapi Akademi Bicara memfasilitasi kelas-kelas short course yang cukup diambil sekitar 2 hari aja dengan maksimal peserta 10 orang. Wah,, aku termasuk beruntung nih bisa ikutan kelas basic speaking Akademi Bicara. Tapi agak random juga, ikutan kelas Akademi Bicara tapi dengan embel-embel blogger. Ternyata yang ikutan kelas Akademi Bicara nggak cuma orang-orang yang emang pengen belajar di depan umum semacam MC, tapi ada banyak profesi yang ikutan seperti pengacara, dosen, mahasiswa, ibu rumah tangga, bahkan ada orang yang belajar bicara demi bisa bicara pas acara nikahannya.

Konon kabarnya kelas di Akademi Bicara ini santai tapi serius, serius tapi santai. Ya inget deh jiwa muda yang diusung oleh Akademi Bicara membuat kelas ini menjadi kelas yang menyenangkan. Mas Adi dan Mbak Nessa bahkan sering melontarkan banyolan-banyolan khas MC kondang untuk mencairkan suasana. Peserta bahkan bebas nyeletuk, nyela, dan komentar sepanjang mereka ngomong dan mereka nggak marah karena disela. Suasana kelas begini beda banget sama kelas kuliah yang bikin ngantuk dan penuh drama dosen yang minta diperhatikan.

#Repost @maritaningtyas (@get_repost) ・・・ Hari ini alhamdulillah berkesempatan untuk belajar public speaking langsung dari ahlinya; mbak @nessaghozal dan mas @adisiswowidjono_mc. Keduanya merupakan founder dari @akademibicara. Dua jam yang sangat padat. Materinya dagiing banget, dibawakan dengan fun dan asyik, tapi tetap ngena dan bikin pengen cepet praktek. Halaaah ibu rumah tangga aja pakai belajar public speaking buat apa? Eh eh eh.. emangnya public speaking bolehnya buat yang kerja di ranah publik aja? IRT juga perlu dan butuh lo belajar public speaking, at least saat menasehati anak (baca: ngomelin) bisa pakai teknik yang tepat. Intonasi, artikulasi harus pas biar pesan dari nasehat yang kita sampaikan sampai ke anak-anak. Hehehe. Thank u @akademibicara . Thank u juga buat @titiktengahpartnership, acara Guyub Bloggernya kece banget. Ditunggu next event yang penuh faedah kaya gini :) #akademibicara #titiktengahpartnership #guyubbloggersemarang
Sebuah kiriman dibagikan oleh akademibicara (@akademibicara) pada

Bicara


Bicara di depan umum untuk orang normal seperti aku adalah hal yang menakutkan, bikin grogi, dan endingnya lebih baik nggak usah - kan ada orang lain yang lebih kompeten. Padahal semua orang punya kesempatan yang sama untuk mampu berbicara di depan umum. Kenapa ada rasa grogi dan nggak percaya diri? Karena berbicara di depan umum ini berarti keluar dari zona nyaman. Keluar dari zona nyaman itu nggak menyenangkan, kan. Padahal otak manusia secara alami dirancang untuk melihat segala sesuatunya impossible, nggak mungkin. Jadi ya sebaiknya disadari, keluar dari zona nyaman, dan coba segala potensi diri, termasuk bicara di depan umum.

Nggak semua orang yang bicara di depan umum, omongannya enak didengar. Malah kadang ada yang terkesan cerewet dan pembicaraannya cenderung nggak ada isinya. Nah, salah satu kunci supaya kita bisa berbicara yang enak didengar adalah dengan menyamakan derajat kita dengan audience. Sebenernya salah satu perasaan nggak nyaman saat berbicara di depan umum adalah perasaan dinilai, di-judge oleh audience. Ya emang begitulah naluri alami manusia dewasa: judging. Cara judging manusia dewasa ini seringnya nampak dari raut wajah mereka. Melihat raut wajah kurang bersahabat saat kita bicara di depan mereka bisa membuat bad influence. Tapiiiiii perhatiin lagi deh raut wajah audience satu per satu,, pasti ada raut wajah audience yang menyenangkan. Nah,, fokus sama yang menyenangkan aja, ntar mood naik lagi, dan percaya diri datang lagi. Catet ya ilmu ini.

Kalo tadi cerita tentang raut wajah, ingat juga untuk melihat mata lawan bicara kita, termasuk saat kita berbicara di depan umum. Kenapa lihat mata, kan bikin grogi? Ya dengan melihat mata lawan bicara, itu adalah gesture kalau kita menghargai lawan bicara. Melihat mata juga menarik perhatian mereka terhadap apa yang sedang kita bicarakan di depan. Another point to be noted.

Body language. Bahasa tubuh.


Selain lewat kata-kata, tubuh kita juga berbahasa. Gerak tubuh menandakan suatu tanda. Ada beberapa gerakan tubuh yang buruk saat kita melakukan bicara di depan umum atau public speaking.

(1) Melakukan silang tangan dan atau silang kaki menandakan kalau kita sombong dan memberi kesan kalau pembicara lebih tinggi derajatnya dibanding audience. Inget dong, kalo posisi pembicara sama dengan audience, cumaaaa pembicara punya ilmu lebih yang bisa dibagikan ke audience, makanya bicara.

(2) Membelakangi audience mengartikan tidak mengharagai. (3) Menghindari kontak mata juga diartikan tidak menghargai audience dan ketahuan banget kalo pembicaranya grogi. (4) Melihat satu titik, hanya satu titik audience adalah salah, kan audience nggak cuma satu, audience-nya banyaaaak. (5) Berdiri di satu posisi, nggak enak buat yang lihat, apalagi kalo ada yang duduk di belakang, ketutup tu yang ngomong, geser dikit dong. 

(6) Jalan terlalu cepat, mirip lagi lomba jalan cepat, jalan terlalu lambat, semacam lagi latihan jadi model panggung, jadi jalan wajar aja ya. (7) Mengulangi gerakan itu lagi itu lagi,, ketahuan banget lagi grogi. (8) Mainin tangan, kaki, atau apapun juga nunjukin kalo lagi grogi dan berusaha ngilangi grogi, padal kalo lagi di depan umum sebaiknya pencitraan yang keren aja, grogi-nya nggak usah ditunjukin. 

Ketika bicara dan lupa dengan ekspresi wajah sendiri dan (9) lupa senyum, ini parah banget sih. Siapa yang mau lihat muka flat terus-terusan coba. Senyum juga salah satu bentuk penghargaan kita terhadap lawan bicara lho. (10) Ngomong terlalu cepat berakibat yang dengerin nggak denger apa-apa. Ya percuma dong jadi pembicara tapi nggak ada isi pembicaraannya.

Suara

Berbicara di depan umum dan mengeluarkan suara serta kata-kata ternyata mirip-mirip dengan perform nyanyi, sebaiknya terdengar enak dan menyenangkan. Untuk itu kita mesti mengolah suara kita supaya terdengar enak dan menyenangkan saat bicara di depan umum. 

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dan menurutku dilatih saat berbicara. (1) Intonasi, semacam tinggi rendahnya suara yang keluar dari mulut kita. Sebaiknya sih bergantian sehingga nggak terdengar flat dan membosankan. (2) Aksen, penekanan pada kata-kata yang ingin orang perhatikan, penekanan pada poin pembicaraan. Kalo masalah aksen ini aku ingetnya sama kata-kata Pak Jokowi kalo lagi ngomong "kerja, kerja, kerrrrja". (3) Artikulasi, cara kita mengucapkan tiap kata dengan jelas. Latihannya dengan mengucap A, I, U, E, O dengan lantang. Mirip latihan nyanyi.

(4) Speed, kecepatan, (5) Pace, derap langkah, (6) Pause. Inget dong kalo dengerin lagu pasti ada tempo, ada not yang ditahan, ada juga not yang dinyanyikan secara cepat. Ya mirip begitu. Fungsinya supaya orang mencerna pesan kita dan menarik perhatian.

Dua jam yang menyenangkan


Ikut dalam kelas yang menyenangkan membuat aku dan teman-teman nggak sadar kalau kami sudah duduk manis selama dua jam untuk mendengarkan Mas Adi dan Mbak Nessa berbicara tentang ilmu bicara. Ilmu bicara yang diajarin kelas ini bukan sekedar teori tapi juga banyak sharing tentang pengalaman Mas Adi dan Mbak Nessa berbicara di depan orang banyak selama belasan tahun. Yang paling seru ya pas mereka lagi mraktekin teori-teori yang mereka bicarakan, semacam Mas Adi lagi ber-ekspresi goda-godain MC, atau mbak Nessa lagi mraktekkin ketawa bikinan. Yang lebih seru lagi di kelas boleh makan. Makananya dibawain lagi. Dibawain cupcake-nya seni rasa komplit dengan kopinya. Makasih ya Akademi Rasa dan Seni Rasa.

Kalau penasaran dengan Akademi Bicara, langsung kontak mereka yaaa.
-Dinilint-

8 komentar:

  1. Berbicara didepan umum mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja. Tapi bagi saya kalau belum tau ilmunya pasti grogi bukan main. Sama halnya dengan presentasi didepan kelas harus menguasai dulu materinya. Bahasa tubuh juga bisa mempengaruhi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya bener mas. Tambah lagi selain perlu ilmu, butuh jam terbang juga,, dapetnya ya dari latihan.

      Hapus
  2. Memang ya kita nggak bisa lepas dr berbicara dlm kehidupan sehari2.. Tp untuk berbicara di depan umum harus menguasai byk hal.. Nice sharing nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak. Semoga bermanfaat ya.

      Hapus
  3. Lengkapp banget ceritanya. Seru yaa kemarin itu, jadi pingin ngulang ikutan lagi di sesi yang lebih dalem

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makin dipelajari makin merasa belum tahu apa-apa ya mbak

      Hapus
  4. Kebiasaan kalau lagi bicara di depan orang banyak seketika langsung bunyar yang ada di kepala karena grogi dan pada akhirnya bicaranya jadi cepet dan jelas tidak teratur juga. Hehe..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,, kalo udah tahu dan sadar, bisa diperbaiki,, kata mas dan mbak pakarnya.

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)