Rabu, 04 April 2018

Walking Tour Menyusuri Kampung Kota Semarang

Semarang. Kota tempat aku tinggal ini ternyata menyimpan banyak cerita seru dan layak untuk dijelajahi dengan jalan kaki. Tur jalan kaki atau yang lebih populer disebut dengan walking tour juga ada di Semarang. Thanks God to sekelompok anak muda yang suka jalan-jalan dan menyebut dirinya tukang cerita atau story teller yang sudah mencari rute menarik di Semarang, riset untuk membawakan cerita seru dan membuat acara jalan-jalan di Semarang lebih berkesan.  



Sabtu sore adalah saat paling tepat untuk ikutan tur jalan kaki atau walking tour. Rute walking tour kali ini adalah Kampung Kota. Kenapa namanya kampung kota? Karena tur jalan kaki kali ini akan membawa kita masuk ke kampung yang terletak di pusat kota Semarang. Jadi di balik gedung-gedung megah khas bangunan pusat kota, masih ada kampung kota warisan masa lalu yang masih rapi. Apa bedanya dengan kampung yang lain? Mmmm,,, apa yaaaa.


Kampung Kota


Jadi kenapa sih memilih rute kampung kota? Rute ini menarik juga sih karena rute ini dekat dengan Verve Bistro & Coffee Bar yang terletak di Jalan Pemuda Semarang. Verve Bistro & Coffee Bar yang bernuansa modern, yang juga jadi satu lokasi dengan Rooms Inc, hotel lifestyle modern pertama di Kota Semarang bekerjasama dengan Bersukaria Walking Tour mengajak tamu-tamunya untuk menikmati suasana Semarang yang berbeda. Jadi setelah nongkrong-nongkrong ala anak jaman now yang modern, lanjut jalan kaki ke arah belakangnya Verve Bistro & Coffee Bar Semarang yang suasananya beda banget. Kalo misal pas jalan kaki takut laper atau haus bolehlah bawa produk Grab & Go buat bekal.

Trotoar ramah pejalan kaki di Jalan Pemuda Semarang.
Trotoarnya lebar, rata, ada bagian untuk disable, dan jalur mobil naik mengikuti trotoar (nggak naik turun ngikuti jalur mobil)

Apa sih yang bisa dinikmati dari walking tour rute kampung kota? Kalo dari lokasi Verve Bistro & Coffee Bar sih,, jalan keluar ke arah jalan Pemuda aja udah dapet cerita tentang pintu gerbang. Kita jalan ke arah timur dan nyobain nyebrang pake pelikan (kata story tellernya sih cara nyebrang dengan mencet bel trus nunggu bunyi tot,, tot,, tot,, disebut pelikan karena mirip sama suara burung pelikan). Pas di Jalan Pemuda nyari pohon asem (kata Semarang sendiri berasal dari pohon 'asem' dan 'arang'). Pas di ujung jalan dengerin cerita tentang tempat hiburan Semarang dari jaman dulu sampe jaman now dan akhirnya masuk gang untuk menikmati kampung di dalam kota yang namanya adalah Kampung Sekayu. Disebut Kampung Sekayu karena jaman dulu yang tinggal disana adalah para tukang kayu. Sisa-sisa kejayaan tukang kayu masih ada di masjid tertua yang masih pake kayu tua juga untuk pilar-pilarnya. Sepanjang jalan-jalan di dalam kampung, aku sering menemui rumah-rumah cantik khas rumah jaman dulu dengan warna-warni cerah yang menarik. Ada juga sisa peninggalan masa lalu semacam wartel yang nge-hits pada jamannya tapi sekarang cuma jadi properti foto doang. Meskipun kampung ini terletak di pusat kota, tapi bentuk jalannya macam labirin yang berbelit-belit dan bikin tambah disorientasi tempat kalo untuk aku. Kemungkinan kalo aku balik sendiri di kampung itu bakalan nyasar. 

Jalan labirin di rute kampung kota

Meskipun rute jalan-jalannya cuma eksplore satu kampung, tapi ternyata capek juga dan makan waktu. Matahari yang tadinya masih cerah saat jam 4 sore tiba-tiba udah ngilang aja dan tahu-tahu udah jadi jam 6 sore. Bekal es coklat dan sandwich dari Grab & Go juga udah habis. Capek. Untungnya Pemkot Semarang sekarang udah punya free shuttle elf (mereka nyebutnya shuttle bus sih, tujuannya mengatasi macet di Jalan Pandanaran dengan memindahkan kantong parkir di area Batan dan membawa para turis naik shuttle ke pusat oleh-oleh Jalan Pandanaran). 

Lawang Sewu


Kami turun persis di depan Lawang Sewu. Eh jadi kalo misal kalian mau piknik ke Lawang Sewu tapi bingung parkir dimana, mendingan parkir di area Batan aja (belakang DP Mal) trus naik shuttle sampe depan Lawang Sewu persis. Lawang Sewu ini juga punya cerita tersendiri dari mulai lokomotif yang dipajang di depan sampe foto karyawan kereta api di Lawang Sewu yang jadi bahan seru si story teller bawain rute kampung kota ini. Kesimpulan dari cerita di Lawang Sewu adalah roda dunia berputar, sama kaya roda kereta api.

Gedung pemerintahan ini dulunya ternyata panti jompo dengan kamar-kamar mirip RS

Lawang Sewu ini udah deket banget sama area Verve Bistro & Coffee Bar, tinggal jalan dikit udah nyampe deh. Berhubung tenaga udah terkuras, saatnya makaaaan. As always makanan di Verve Bistro & Coffee Bar selalu enak. Tapi kali ini yang jadi favorit aku Belgian Chocolate-nya Grab & Go yang minumnya diguyur ke es batu. Enak.

Grab & Go


Cerita dikit tentang Grab & Go ya. Jadi Grab & Go ini adalah brand retailnya Verve Bistro & Coffee Bar. Grab & Go mengusung konsep ready to go. Sesuai dengan namanya Grab & Go lebih berfokus menyediakan varian menu praktis dan healthy seperti; supreme sandwich, beef wraped, chicken wrapped, variasi donut dan muffin yang seluruhnya diproduksi di hari yang sama untuk dikonsumsi di hari yang sama juga. Kalo varian drink product-nya Grab & Go ada Thai Tea, Belgian Chocolate (yang aku suka banget), Matcha Latte, Avocado Latte, Coffee Latte, Red Velvet. Beberapa waktu dekat ini Grab & Go juga meluncurkan varian cold brew tea yang menggunakan produk Gryphon Tea dari Singapura yaitu White Nile, Golden Sencha, dan Mint Lime Tea Cooler. Hingga saat ini Grab & Go masih terus mengembangkan produknya, tidak hanya fokus pada minuman, tetapi juga telah mengeluarkan produk pastry, salad, dan dessert yang seluruhnya dikemas dengan konsep take away. Beberapa macam produk lainnya adalah pannacotta, granola yoghurt, dan fresh fruit. Ada juga gelato dengan 7 varian rasa; rhum & raisin, chocolate, strawberry, hazelnut, matcha, tiramisu, dan cookies & cream.


Grab & Go sendiri tempatnya juga seru, dia punya area co-working space yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat penyelenggaraan mini workshop, launching product, afternoon tea, fashion and flower class, serta event-event yang berbasis komunitas lainnya.

Sebuah kiriman dibagikan oleh Verve Bistro & Coffee Bar (@vervebistro_smg) pada

Thanks to Verve Bistro & Bar dan mbak Lintang Kinasih (Corporate Creative Director), Grab & Go dan mbak Dilla Maulida (Public Relations), Bersukaria Tour for letting me join Unlock The City & Heritage Explore with Gran & Go.
See you again!

- Dinilint -

33 komentar:

  1. Nama sekayu itu nggak asing sama telingaku, Mbak. Nggak tahu kenapa. Dan ternyata ada cerita unik di baliknya ya. Keren2. Di tengah gempuran wisata modern, sisa2 kenangan Semarang masih dijaga dengan baik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya,, nama sekayu dapet karena dulu penduduknya kebanyakan bekerja sebagai tukang kayu. Semoga aja kampung nya masih tetep ada ya mbak. Aku pernah denger cerita juga di kampung sebelah habis karena dibangun hotel

      Hapus
  2. Sekayu itu jalan kenangan jaman kecilku. Saat masih sering dolan dari kampung asalku di Jagalan, jalan kaki sampe Sekayu. Jauh loh, tapi asik aja karena bareng2

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serunyaaa,,, sekarang jalan lagi sejauh itu masih ok kan?

      Hapus
  3. Halo, Mba Dini. Hm, menarik ya Mba walking tour ini, gara-gara baca tulisan ini saya jadi pengen walking tour di kota sendiri dengan bikin rute sendiri. *Mikir dulu ah mau ke mana* Hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Ajeng,, nanti kalo udah ketemu mau kemana aku dicolek yaa,, siapa tau mampir ke tempat mbak Ajeng buat jalan-jalan.

      Hapus
  4. Kalau aku belum pernah bersukariawalk di areal ini, masih sempet dulu di kawasan kota lama aja ☺

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sini maen lagi ke Semarang mbak Vit,, kalo sama Bersukaria ada sekitar 9 rute walking tour,, nggak cuma kota lama aja

      Hapus
  5. Kalau aku belum pernah bersukariawalk di areal ini, masih sempet dulu di kawasan kota lama aja ☺

    BalasHapus
  6. Ternyata di Semarang ada Kampung Kota & Kampung Sekayu ya mbak. Yang aku tahu cuma Kampung Pelangi & Kampung Batik aja di Semarang. Nice sharing mbak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak kampung mbak,, dan ternyata tiap kampung punya cerita dan ciri khas masing-masing,, aku pernah denger juga tentang kampung pembuat kulit lumpia tapi belum nyampe sana.

      Hapus
  7. Salah satu yang aku cari waktu jalan-jalan itu ya walking tour macem begini. Seru. Wisata sambil belajar.
    Semarang kotanya enak. Trotoarnya lebaar, Mantep buat jalan kaki.
    Cuma sayang panas aja sih. Hahah
    Dan banjir :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixixixi,, kalo pagi banget ato sore udah nggak panas kok,, cocok buat jalan kaki. Kalo banjir,, sekarang udah cepet surut sih,, gorong-gorongnya udah dibersihin nggak kayak dulu.

      Hapus
  8. Aku belum pernah jalan2 di Semarang. Cuma lewat aja hihihi..asyik banget walking tour bareng temen2. Suasananya seperti back to nature ya.. jln kaki nambah semangat berwawasan dan sekaligus olahraga kecil heheh lumayan ngurangi kalori.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,, itung-itung olahraga ringan sambil have fun. Hehehe

      Hapus
  9. Seru bangeeet..kampung sekayu rumahnya nh dini ya...semoga bisa ajak bocah ikutan acara ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener mbak Dew,, kemaren lewat depan rumahnya,, asri banget rumahnya. Sayangnya yang kemaren pesertanya rame. Aku diceritain pernah pas walking tour kampung kota pesertanya dikit, pas dilihat sama yang tinggal di rumah oma, diajak masuk deh.

      Hapus
  10. ternyata dibalik hirup pikuk nya kota semarang masih tersimpan sisa sisa masa lampau yang masih bisa kita pelajari ya

    BalasHapus
  11. Saya baca Sekayu dari novelnya Nh. Dini. Sepertinya menarik merasakan bagaimana keadaan kampung ini, yang sepertinya masih kental dengan cerita masa lalunya. Saya sepakat, tur jalan kaki saat ini memang sedang populer-populernya. Ia jadi sarana yang seru dan tidak terlalu memusingkan peserta guna berbagi cerita (yah, ketimbang peserta disuruh ke museum dan membaca semua informasi yang padat dan cenderung memusingkan itu, mendengar cerita jauh lebih menyenangkan, kan?). Apalagi dengan jalan-jalan langsung di lokasi jadi bisa menyelami kehidupan di kampung itu seasli-aslinya. Mudah-mudahan saya bisa ikut salah satu tur seperti itu suatu hari nanti, hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Memang di Kampung Sekayu ada rumah kecilnya eyang NH Dini.
      Setuju,, ikutan tur jalan kaki begini emang seru dan nambah wawasan.

      Hapus
  12. Asyiknya acaranya seru banget.pengrn lah ikutan acaranya bersukaria t kok blm kesampean sampr skr

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ikut aja mbak. Mereka punya jadwal reguler 2 kali seminggu kok. Kl mau suka2 bisa minta privat walking tour jg

      Hapus
  13. Kalo walking tour gini asiknya sama temen yang suka jalan suka, jadi gak manja.
    Males kan baru jalan dikit udah ngeluh capek atau kakinya sakit, hahahah :))
    Kayaknya boleh juga sih ini idenya, patut dicoba :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaaaa. Kalo manja & males jalan pasti udah nggak mau ikutan tur jalan kaki tu mas, ikutnya tur pake bus.

      Hapus
  14. wah asik juga ya. jadi kepikiran buat bikin komunitas gitu di kota sendiri. Jalan-jalan ke tempat yang tidak ter-ekspose dan yang penting bikin sehat. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo udah dpt rute nya kabarin yaaa,, siapa tahu aku kesana trus ikutan jalan-jalan.

      Hapus
  15. Teman saya ada yang rumahnya Sekayu, saya kalau dolan ke sana pasti longok-longok pas lewatin depan rumah Ibu NH. Dini. Rumahnya besar dan asri, sayang belum pernah bertemu, hehe..

    Saya juga asli Semarang, mbak. Tapi kurang piknik banget-banget, hahah. Ini acaranya asyik sekali ya, bisa blusukan dari kampung ke kampung. Kapan-kapan saya diajakin dong mbak, biar nggak kuper yess..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku ngikut jasanya Bersukaria Walking Tour mbak. Ada di Ig. Mereka udah punya jadwal reguler tiap minggu 2 rute yang berbeda di hari weekend. Ikutan itu aja mbak,, pasti ada temennya.

      Hapus
  16. Seru ya, jalan2 mengitari kota sendiri. Di Solo ada beberapa agenda sejenis. Laku lampah namanya,,cuma belum pernah ikut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa. Aku juga pengen nyobain tu tur jalan kaki di kota Solo,, tp belum tau kapan.

      Hapus
  17. Beberapa waktu lalu juga saya ke Semarang. Bingung mau kemana selain wisata kuliner.
    Next time ke Semarang saya akan coba walking tour juga sama seperti Mbak-nya. Thanks for your info! :D

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)