Minggu, 22 Juli 2018

Menginap Semalam di Wae Rebo

Bisa merasakan tinggal semalam di salah satu desa dengan akses yang lumayan sulit adalah lifetime experience buat aku. Seharian aku berinteraksi dengan warga, dari mulai anak-anak, kakak-kakak, sampai bapak-bapak. Hahaha,, agak maksa nih biar belakangnya terdengar senada dengan akhiran -ak,, aku juga berinteraksi dengan mbak-mbak dan ibuk-ibuk kok. Satu hal yang bikin aku belajar banyak dari warga Wae Rebo adalah sikap mereka yang sangat terbuka, sederhana, dan mampu bekerja sama. Keren kannnnn.



Kegiatan pertama begitu memasuki Desa Wae Rebo adalah masuk ke rumah kepala adat. Di rumah kepala adat ini semua pendatang wajib
menjalani upacara adat penyambutan tamu. Kepala adat akan menggunakan bahasa adat Wae Rebo, kalau tidak salah bahasanya adalah Bahasa Manggarai, Flores. Inti dari upacara adat ini adalah mohon ijin kepada leluhur penduduk Desa Wae Rebo untuk menerima kami, para pendatang, supaya diterima di Desa Wae Rebo. Apabila sudah melalui upacara tersebut, kami bukan lagi orang asing, melainkan saudara.

Diterima sebagai saudara


Seperti layaknya saudara jauh yang datang kembali ke rumah, kami disambut dengan hangat. Setiap hari warga Wae Rebo selalu menerima orang asing dan dengan tangan terbuka mereka menyambut tiap orang asing tersebut dan menganggapnya sebagai saudara. Selain dipersilakan untuk tinggal di rumahnya, orang-orang asing ini juga diberi makan dengan hidangan istimewa mereka. Mengapa istimewa? Berbeda dengan kehidupan masa lalu warga Wae Rebo yang mengandalkan hasil kebun seperti jagung dan ubi, di masa kini warga Wae Rebo harus mengangkut bahan-bahan makanannya dari Desa Dintor naik ke atas bukit. Mereka mengangkut bahan-bahan makanan mereka dengan berjalan kaki dan memanggulnya di atas kepala. Kebun mereka saat ini digunakan untuk menanam kopi.


Sore itu kami diantar menuju rumah untuk kami tinggal semalam bersama pendatang-pendatang yang lain. Malam ini kami akan tinggal di salah satu rumah adat Wae Rebo yang berbentuk kerucut berwarna hitam. Saat kami datang sore itu, sudah ada beberapa rombongan yang menempati separuh bagian dari rumah adat. Rumah adat ini diperkirakan mampu menampung sekitar 30-35 orang. Jadi kalau separuhnya sudah ditempati, kemungkinan besar sudah ada sekitar 15 orang yang datang ke Wae Rebo lebih dulu dari kami sore itu.


Setelah memilih tempat kami tidur (disediakan matras dan selimut tebal yang bersih dan nyaman), kami disuguhi kopi Wae Rebo. Kopinya hanya diseduh dengan air panas, atau kita orang kota menyebutnya sebagai kopi hitam tanpa ampas. Kopinya enak, tidak terlalu asam, dan cenderung segar menurutku. Aku suka. Aku memilih kopi tanpa gula, seperti yang selalu aku lakukan saat minum kopi. Namun mereka menyediakan gula pasir untuk yang membutuhkan gula dalam kopi mereka.

Main bola dan rumah baca


Sore itu lapangan di depan rumah-rumah desa ramai dengan anak-anak yang sedang main bola. Kebetulan kami datang ke desa saat anak-anak sedang libur sekolah. Apabila masa sekolah, maka anak-anak ini akan tinggal di desa kembaran Wae Rebo - yang disebut Desa Kombo - yang terletak di bagian bawah. Desa Kombo tidak terletak di dalam hutan seperti Desa Wae Rebo. Di Desa Kombo ada sekolah, puskesmas, dan fasilitas umum lain yang lebih terjangkau dibandingkan di Desa Wae Rebo yang letaknya di tengah hutan. Baca deh artikel tentang bagaimana cara aku mencapai Desa Wae Rebo.

Selis, guide kecil menuju rumah baca

Selain bermain di lapangan luas, anak-anak Desa Wae Rebo juga punya taman baca. Sore itu seorang bocah lucu bernama Selis menemani kami untuk naik ke atas bukit demi berkunjung ke rumah baca. Rumah baca adalah bangunan mirip rumah adat Wae Rebo yang letaknya sedikit lebih tinggi dibanding desa. Buatku dan teman-teman jalan menuju rumah baca lumayan membuat nafas ngos-ngosan, tapi si Selis kecil yang baru berusia sekitar 4 tahun memimpin kami sambil berlari ke atas. Selain bisa bermain-main dan membaca koleksi buku di rumah baca, kami juga bisa melihat rumah-rumah kerucut Desa Wae Rebo dari kejauhan.

Rumah adat Wae Rebo


Pusat Desa Wae Rebo adalah 7 rumah kerucut berwarna hitam yang terbuat dari semacam alang-alang. Rumah paling besar yang terletak di tengah adalah rumah kepala adat. Rumah adat Wae Rebo disebut juga Mbaru Niang. Berhubung masyarakat Wae Rebo terus bertambah, selain bisa tinggal di Desa Kombo di luar hutan, masyarakat Wae Rebo juga bisa membangun rumah di luar lingkaran tempat 7 rumah utama berdiri. Sayangnya tidak semua warga Wae Rebo bisa membangun Mbaru Niang yang berbentuk kerucut dan terbuat dari semacam alang-alang. Untuk membangun rumah adat tersebut dibutuhkan dana kira-kira 300 juta. Semua bahan dasar rumah adat mulai dari kayu besar untuk penyangga serta alang-alangnya harus diangkut dari luar hutan. Alang-alang untuk atap rumah mereka dapatkan dari Pulau Mules. Tidak ada paku di rumah adat karena semuanya adalah permainan kunci dan ikat.

suasana di dalam rumah

Puas main-main di Taman Baca, kami pun turun kembali ke area tujuh rumah utama Desa Wae Rebo. Kami diundang oleh Pak Kondradus, bapak guide baik hati yang kami temui di perjalanan menuju Wae Rebo, untuk masuk ke rumahnya. Rumah Pak Kondradus adalah salah satu dari rumah utama di Wae Rebo. Bentuk bangunannya mirip dengan rumah tempat kami menginap malam ini. Namun rumah Pak Kondradus digunakan untuk benar-benar tinggal dan beraktivitas. Kalau di rumah menginap kan cuma ada deretan tempat tidur yang rapi, maka di rumah Pak Kondradus ada dapur di tengah rumah lengkap dengan apinya (yang mengakibatkan warna rumah tinggal lebih hitam dan katanya membuat rumah lebih awet), ada tumpukan kayu dan bahan makanan yang disimpan di lantai atas, ada kamar-kamar seperti layaknya rumah modern (namun kamar disini murni untuk tidur saja), dan ada keluarga Pak Kondradus. Dalam satu rumah adat biasanya ditinggali lebih dari 1 keluarga.

Bermalam di Mbaru Niang


Puas menikmati suasana rumah Pak Kondradus dan saudaranya, kami kembali ke rumah tempat kami menginap. Suasana di dalam rumah makin ramai dan makin hangat. Malam itu ada beberapa rombongan lagi yang datang dan menginap di Desa Wae Rebo. Kapasitas rumah adat pun menjadi penuh,, kemungkinan ada sekitar 35 orang pendatang yang menginap di Desa Wae Rebo malam itu. Menginap di Desa Wae Rebo bukan sesuatu yang sulit. Untuk kepentingan mandi-cuci-kakus sudah tersedia toilet dan kamar mandi. Toiletnya juga lengkap; toilet duduk dan toilet jongkok. Bangunan toilet dan kamar mandi ini dibangun di luar rumah adat. Meskipun tidak ada fasilitas air panas, tapi mandi di Wae Rebo tidak membuat kita menggigil. Malah selesai mandi badan akan terasa lebih hangat. Untuk makan, kita akan dijamu makan besar saat menginap. Malam itu aku merasakan makan ramai-ramai bersama semua pendatang yang menginap di Wae Rebo. Kami makan sama-sama di dalam rumah adat tempat kami tidur. Lauk malam itu adalah sayur labu yang super enak lengkap dengan sambal, dan lauk ayam atau telur.

makan malam

Malam di Wae Rebo memang cukup dingin. Wae Rebo sendiri terletak di ketinggian 1200 mdpl. Meskipun demikian fasilitas matras dan selimut tebal juga faktor tidur beramai-ramai di dalam satu ruangan membantu mengatasi hawa dingin di Wae Rebo. Di Wae Rebo ada listrik yang didapat dari genset dan solar panel, tapi ketika tidur listrik dimatikan. Oya,, saat aku ke Wae Rebo listriknya hanya menyala saat menjelang jam makan malam dan pagi hingga selesai jam makan pagi. Saat listrik menyala aku bisa mengisi daya baterai peralatan elektronik seperti handphone dan kamera. Sepertinya masyarakat Wae Rebo sudah paham tentang kebutuhan listrik dan segala sesuatu yang berhubungan dengan charge things, jadi sudah tersedia rol kabel sangat banyak.

Selamat pagi Wae Rebo


Aku bangun cukup pagi di Wae Rebo. Suasana masih sepi dan gelap, tapi panggilan alam tidak bisa ditunda. Ketika aku keluar dari kamar mandi, ternyata sudah ada beberapa orang yang di luar, di area lapangan desa. Beberapa dari mereka adalah pendatang seperti aku yang sedang menikmati pagi tanpa polusi, hal langka yang kami dapatkan ketika hidup di kota. Aku juga bertemu dengan warga Wae Rebo. Beberapa dari mereka sedang bersiap untuk berkebun. Warga Wae Rebo hidup dari hasil pariwisata dan menjual kopi. Seperti yang sudah aku ceritakan di atas, kopi mereka super enak. Namun mereka hanya menjual kopi mereka di Wae Rebo saja.

Heidi, nggak suka difoto tapi hepi banget pas dipinjemin kamera

Ketika matahari sudah mulai meninggi, anak-anak mulai bangun dan mulai main bola lagi. Sebenarnya siapa pun boleh ikut main bola di lapangan bersama anak-anak, namun sayangnya permainan bola hanya untuk anak laki-laki. Nah, yang perempuan main apa dong? Anak perempuan boleh main bola voli, bukan sepak bola. Tapi pagi itu aku melihat anak-anak perempuan malah pegang handphone. Meskipun di Wae Rebo tidak ada sinyal dari provider manapun, anak-anak main handphone untuk berfoto. Mungkin mereka terbiasa melihat para pendatang mengambil gambar, jadi mereka penasaran juga. Ada satu anak kecil yang kegirangan saat aku meminjamkan kameraku padanya. Dia mengambil banyak sekali gambar. Padahal saat aku ajak berfoto dia menolak. Lebih seru di belakang layar ya dek.

sarapan

Pagi itu kami disuguhi nasi dengan campuran jagung, sambal, dan telur rebus. Ibu-ibu di Wae Rebo punya jadwal piket untuk bergotong-royong memasak bagi para pendatang seperti aku ini. Selain jadwal piket untuk memasak, ada juga jadwal untuk membersihkan rumah tempat menginap. Mereka sangat rukun dan bergotong-royong mengatur keuangan dan hal-hal yang berkaitan dengan kunjungan orang asing bersama-sama. Bagi ibu-ibu apabila mereka punya waktu senggang, mereka bisa menenun kain untuk kemudian dijual.

Kopi enak yang bikin kangen Wae Rebo


Pagi itu aku sempat ngopi lagi. Kopi terakhir di Wae Rebo,, bikin kangen nih. Thank God kami sempat membawa biji kopi Wae Rebo pulang. Kalau aku pilih kopi arabika dan kolombia untuk dibawa pulang. Kami sudah pesan kopi saat berada di rumah Pak Kondradus kemarin sore. Ada teman yang pesan mendadak saat akan pulang, tapi ditolak oleh warga. Pasalnya mereka baru menyangrai kopi ketika ada yang pesan, jadi memang tidak bisa pesan mendadak. Kalau mau bawa kopi yang sudah digiling mereka juga bisa menyediakan.


Aku memilih untuk pulang agak siang, jam 10 pagi. Rombongan-rombongan yang lain sudah pulang dari Wae Rebo lebih pagi, sekitar jam 8 pagi. Jadi aku sempat merasakan Wae Rebo tanpa banyak rombongan piknik,, lebih syahdu. Hahaha. Perjalanan turun gunung pagi itu rasanya lebih licin dan memang aku tergelincir beberapa kali. Di ujung perjalanan kami menemukan sungai bening yang bisa dibuat mandi. Jojo, temanku bahkan sempat mandi. Aku ingin,, tapi apa daya cewek kalo mandi ribet dan aku malas bawa-bawa baju basah.

Yeay,, pulang


Sebenarnya perjalanan pulang ini cukup membuat aku deg-degan. Saat berangkat ada malaikat baik hati bernama Kak Frendy yang membantu aku menyetir motor dan aku cuma duduk manis di belakang. Saat perjalanan pulang kali ini aku mau tak mau harus nyetir sendiri,, karena tidak ada yang bantu nyetir lagi. Duh,, pilihannya,,, ya nggak ada pilihan. Aku harus kembali ke Labuan Bajo dengan motor sewaan kan.


Beruntungnya aku bisa tukar motor dengan Bang Dul. Kami bertemu di Wae Rebo dan memutuskan untuk pulang beriringan. Entah kenapa, tapi rasanya motor sewaan Bang Dul lebih enak untuk aku pakai daripada motor sewaanku sendiri. Hari ini kami pulang berlima naik empat motor. Ternyata beriring-iringan ala konvoy motor ini seru juga. Aku bahkan berhasil melewati sungai tanpa jembatan yang penuh dengan batu-batu saat konvoy. Hal paling serem sebenernya saat melewati jalanan berliku yang naik turun ditambah kabut. Yah,, nggak kebayang deh kalo sendirian. Thank God for good friends.


Cek juga cerita Jalan-Jalan ke Wae Rebo Naik Motor untuk tahu awal mula perjalanan Wae Reboku di Flores, NTT.



- Dinilint -

PS: Untuk menginap di Wae Rebo kami membayar Rp. 325,000 per orang. Selama di Wae Rebo kami hanya perlu membayar biaya ini saja. Kalau membawa pulang biji kopi, aku membayar Rp.60,000 untuk empat genggam biji kopi (aku lupa berapa tepatnya,,, jadi ya kira-kira segitu). Saat datang di Wae Rebo dan kelaparan aku sempat minta tolong dibuatkan mi instan, tapi tidak ada biaya tambahan untuk permintaan membuat mi instan ini. Kata-kata favoritku selama di Wae Rebo adalah, "Saudara tidak menjual makanan untuk saudaranya.".

10 komentar:

  1. Aku kangen menyeduh kopi dari sana :-)
    Nggak foto bareng secangkir kopi mbak? hahahahha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah dong,, tapi yang nampak kaki aja,, aku kan antimainstream selfi-nya mas :p

      Hapus
  2. Satu kata untuk pemandangan alam gambar pertama "KEREEEEENN" jadi pengen kesana

    BalasHapus
  3. penasaran dengan dampak pariwisata terhadap penduduk Wae Rebo, salah satunya anak-anak jadi senang main handphone, apakah kepolosannya akan terpengaruh kemajuan zaman seperti anak-anak zaman sekarang ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah iyaaa,,, aku lupa bilang kalo di Wae Rebo nggak ada sinyal sama sekali. Jadi mereka kalo mainan hp ya cuma pake fitur camera aja. Wajar kannnn,,, semua orang yang datang kesana pasti bawa camera dan pasti ambil foto minimal satu. Nggak jarang anak-anak juga dijadikan objek foto oleh berbagai macam jenis camera. Jadi pasti mereka penasaran dan pengen nyoba juga. Ketika aku tanya tentang email dan ubo rampe-nya mereka semua nggak paham. Bahkan ada pendatang yang cerita tentang kedatangan salah satu presenter jalan-jalan kondang yang sering nongol di TV yang datang seminggu sebelum kedatangan kami, tapi warga Wae Rebo nggak ada yang 'ngeh',, karena mereka nggak mainan TV, sosmed, dan semacamnya.

      Kebetulan pas aku ke Wae Rebo bersamaan dengan kunjungan dinas berkedok jalan-jalan dari personel telkomsel, satu-satunya provider yang berjaya di Pulau Flores. Aku sempat bertanya, "Kenapa kalian kesini? Mau memberdayakan sinyal Telkomsel disini?". Jawaban mereka adalah, "Nggak bisa. Warga menolak untuk diadakan sinyal di daerah sini."

      Hapus
  4. Beda ya tingkat kemajuan fasilitas umum di pedalaman dengan di pantai. Semoga pembangunannya bisa setara sebagai mana wisata pantai labuan bajo.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo fasilitas umumnya tentang jembatan putus, aku setuju pak.
      Tapi kalo fasilitasnya tentang akses jalan yang melewati hutan, aku nggak setuju kalo jalan itu dipermudah. Salah satu keunikan Wae Rebo ya akses jalannya.
      Untuk fasilitas publik bagi warga semacam fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan, mereka sudah punya win-win solution dengan pemerintah, yaitu dengan adanya desa kembaran Wae Rebo yang letaknya di luar hutan.
      IMHO yaaa

      Hapus
  5. heidi kayak aku dong ya, sukanya moto :)

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)