Minggu, 26 Agustus 2018

One Day Trip ke Pulau Padar, Labuan Bajo

Tujuan utama arrange one day trip di Labuan Bajo adalah membuktikan apakah Pulau Padar emang secantik foto unggahan para selebgram di feed media sosial mereka. Selain Pulau Padar, saat one day trip di TN Komodo kami juga menjelajah Pulau Kanawa dan Pulau Bidadari yang masih berada di dekat-dekat Labuan Bajo. Lho,, udah di Taman Nasional Komodo kok nggak lihat komodo di Pulau Komodo atau Pulau Rinca? Kan udah pas living on board kemaren.



Meskipun sudah LOB selama 4 hari 3 malam dari Lombok ke Labuan Bajo, tapi rasanya kami kurang puas menjelajah lautnya Flores. Padahal
saat mendarat setelah total 4 hari di laut, rasanya dunia ini goyang-goyang. Kami nambah perjalanan laut satu hari lagi karena saat LOB 4H3M kemarin tidak ada jadwal main-main ke Pulau Padar. Pulau Padar ini populer sebagai salah satu pulau tercantik se-medsos raya. Semua foto-foto yang diambil di Pulau Padar pasti menuai banyak likes di instagram dan menghasilkan emot 'wow' di facebook.


Kami harus bangun super pagi untuk mengejar waktu terbaik berlayar ke Pulau Padar. Sekitar jam 5 pagi kami sudah ngumpul di kantornya Family Trip Flores di Jalan Sukarno-Hatta. Dari situ kami jalan kaki bareng ke pelabuhan. Meskipun langit masih gelap, tapi Pelabuhan Labuan Bajo sudah ramai. Ternyata nggak cuma kami yang berencana berlayar pagi itu. Ada puluhan orang lain yang siap berlayar, ada belasan kapal kayu yang siap berangkat.


Kapal kayu yang kami gunakan untuk one day trip Labuan Bajo ini lebih kecil dibandingkan kapal kami untuk LOB 4H3M. Kapal kayu ini juga punya matras waterproof yang bisa dimanfaatkan untuk tidur lagi karena perjalanan dari Labuan Bajo ke Pulau Padar makan waktu sekitar 3 jam. Sayangnya aku sendiri cuma bisa tidur-tidur ayam karena ombak cukup besar dan air nyiprat masuk ke kapal. Alhasil aku udah basah kuyup duluan sebelum sampe Pulau Padar. Kalo begini, jadi bersyukur udah siap-siap bawa tas tahan air. Kamera, handphone, dan printilan lainnya masih tetep kering di dalam tas. 


Kapal ini hanya berisi kami bertujuh. Kami emang sengaja sewa kapal untuk kami sendiri. Harga sewanya sekitar 3 juta untuk satu hari. Kami juga diberi pilihan untuk beli lunch box atau nggak. Tentu saja kami pilih beli lunch box, kan di laut nggak ada angkringan atau ind*m*ret. Lunch box berisi nasi, ayam, tahu, tempe, dan lalapan yang dihargai Rp.50,000 ini lumayan mahal sih. Tapi ya memang harga makanan di Labuan Bajo rata-rata lebih mahal dibanding harga makanan di Jawa. 


Di kapal kami juga dapat free flow air panas yang bisa dibikin kopi atau teh. Bubuk kopi dan teh celup sudah ready di kapal. Paginya kami juga dapat bonus pisang Flores yang sintal dan padat. Cocok untuk sarapan. Ditambah senyum manis dari kakak-kakak kru kapal, lengkap sudah perjalanan menuju pulau cantik, Padar.


Meskipun sepanjang perjalanan menuju Pulau Padar ombaknya lumayan gedhe, tapi ombak di sekitar Pulau Padar cenderung lebih tenang. Pulau Padar sudah punya fasilitas dermaga, jadi kami nggak perlu basah-basahan nyemplung laut seperti ketika mendarat di Pulau Gili Lawa. Di Pulau Padar juga udah ada toilet, bahkan ada yang jualan kelapa, padahal nggak ada pohon kelapa. Jalan menuju puncak Pulau Padar juga cenderung lebih mudah karena sudah dibangun tangga untuk menuju ke atas.


Ya meskipun udah banyak anak tangga dengan ketinggian yang cenderung landai, tapi lumayan ngos-ngosan juga untuk naik ke atas. Ditambah udara panas banget, padahal saat itu masih jam 10 pagi. Sepanjang jalur perjalananku, aku cuma menemukan satu pohon besar untuk berteduh. Itu pun juga nggak bisa berteduh sih, karena udah ada banyak orang yang berteduh duluan di bawah pohon. Alternatif berteduh lainnya adalah di balik batu besar.


Pulau Padar ini emang cantik banget. Saat aku kesana lagi musim kering, jadi rumput-rumputnya berwarna kuning. Aku suka banget tone warna rumput kering yang berpadu dengan gradasi laut biru dan langit cerah. Indah.


Ada hal unik yang aku temukan di Pulau Padar. Aku melihat ada 3 jenis dalam satu pandangan mata. Dari puncak Padar aku bisa lihat pantai pasir putih, pantai pasir hitam, dan pantai pasir pink. Serunya lagi pantai-pantai itu sepi. Kemungkinan besar bahaya untuk main ke pantai-pantai itu, karena aku lihat ombaknya gedhe banget.


Puas melihat Padar dari puncak, aku pun turun ke bawah dan nyebur ke laut. Perjalanan 3 jam di tengah ombak gedhe ditambah panasnya Pulau Padar dengan visualisasi laut biru yang tenang membuat kami nggak sabar untuk segera turun ke laut. Guide kapal kami pun mempersilakan kalo emang kami butuh berenang dulu. Inilah enaknya sewa kapal sendiri, kami bebas memutuskan mau ngapain tanpa takut ganggu rencana orang lain. Yippie.


Kami harus menempuh kurang lebih 3 jam lagi dari Pulau Padar untuk menuju Pulau Kanawa. Mau nggak mau kami harus melewati ombak lagi. Kali ini seluruh kapal tepar dan tidur ala kadarnya di kapal. Beberapa kali air masuk ke kapal dan membuat baju basah. Sebenernya saat itu sebagian dari kami masih pakai baju renang, jadi basah-basah juga nggak masalah. Tapi mengingat perjalanan panjang menuju Pulau Kanawa, cuma pakai baju renang dengan angin laut super kenceng begitu bikin nggak nyaman juga. Untungnya aku selalu bawa kain yang cepet kering. Jadi sambil kesiram air laut, sambil selimutan dengan kain cepat kering.


Pulau Kanawa ini dikelola oleh manajemen resort. Untuk datang ke Pulau Kanawa kami harus bayar parkir kapal Rp. 50,000. Sebenarnya di Pulau Kanawa ada restoran yang selain menyediakan makanan, juga menyediakan fasilitas leyeh-leyeh di pantai semacam bean bag dan payung. Kami lebih milih masuk ke air dan snorkeling. Saat kami tiba di Kanawa pasir pantai sedang surut. Jadilah kami bisa lihat koral tanpa harus benar-benar ngambang di air. Jadi, ketika ketinggian air pantai cuma sedada, di bawah kami sudah banyak koral cantik berwarna-warni. Aku sendiri merasa agak serem sih, takut kepentok koral pas lagi enak-enaknya snorkeling. Tapi enaknya,, nggak bakalan takut tenggelam karena cethek banget airnya.


Destinasi selanjutnya adalah Pulau Bidadari. Destinasi ini sebenarnya adalah destinasi bonus. Saat kami tiba di Pulau Bidadari, tidak ada rombongan lain. Pasir pantai Pulau Bidadari putih dan bersih. Snorkeling di Pulau Bidadari juga menyenangkan sekali, banyak koral warna-warni lengkap dengan ikan-ikan yang berlarian, maksudnya berenang kesana-kemari. Sama seperti di Pulau Kanawa, saat kami datang ke Pulau Bidadari air sedang surut. Akibatnya air sangat dangkal. Snorkeling di Pulau Bidadari semacam nggak perlu effort, tinggal masuk ke air dan ngambang tahu-tahu udah ketemu koral dan ikan cantik.


Kami menghabiskan waktu hingga matahari terbenam di Pulau Bidadari. Sunset hari itu sangat indah. Langit berubah warna menjadi pink. Perlahan-lahan warna langit menjadi lebih gelap. Ketika hari gelap kami baru sadar kalau kami kedinginan. Sudah saatnya pulang kembali ke daratan.


Jarak Pulau Bidadari ke Labuan Bajo sangat dekat. Mungkin nggak sampe satu jam kami sudah kembali ke Labuan Bajo. See you again laut.


- Dinilint -

6 komentar:

  1. Pulu Padar memang menggoda, sayangnya setelah insiden kebakaran kemarin menjadi menyesakkan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yang kebakaran kemarin Gili Lawa mas, bukan Pulau Padar

      Hapus
  2. Menarik sekali, semoga nanti bisa ngebolang lagi sama Suami ke Pulau Padar😗tfs kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wuih asiknya mbak Sandra,, udah ke Padar bareng suami. Seru yaaa

      Hapus
  3. Mupeng banget kesini lihat poto2nya Mbak. Sumpah instaInstagra banget, sekarang Lombok gimna yah ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Cakep banget emang, padahal aku bukan fotografer pro.
      Lombok mulai pulih kok. Bahkan di beberapa titik di bagian Lombok tengah sudah mulai ramemoleh wisatawan.
      Keep moving on Lombok

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)