Jumat, 05 Oktober 2018

Itinerary Jalan-Jalan Ngirit ke Myanmar

Yeay, akhirnya ada satu cap baru lagi di paspor. Makasih Myanmar udah mau nerima aku dengan senang hati. Apalagi sekarang udah nggak perlu bayar visa untuk masuk Myanmar. Myanmar ada di Asia Tenggara, tetanggaan dengan Indonesia. Myanmar baru saja membuka diri pada dunia. Di Myanmar aku merasakan banyak hal yang bisa dibilang jadul seperti jalan tanah, tradisi makan sirih, dan gedung-gedung tua yang kumuh. Tapi di sisi lain Myanmar juga lagi giat-giatnya membangun, transportasinya oke banget, banyak gedung-gedung modern, dan sistem pariwisatanya mulai membaik.



Ini adalah catatan ringkas perjalanan aku selama jalan-jalan ke Myanmar 8 hari, termasuk budget dana yang aku keluarkan selama jalan-jalan 8 hari di Myanmar. Aku mulai jalan-jalan dari Yangon, kemudian naik bus malam ke Mandalay, lanjut ke Bagan, naik bus malam lagi ke Inle Lake, kemudian balik ke Yangon. Aku bagi di sini ya, siapa tahu kamu butuh kan.

Hari 1: dari KL menuju Yangon


Coba tebak aku lagi ngapain

Aku naik Air Asia dari KLIA2 dan mendarat di Yangon International Airport sekitar jam 8 pagi waktu Yangon. Begitu sampe di terminal kedatangan, aku langsung nyari ATM untuk ambil kyat, mata uang lokal Myanmar.

Aku nggak tuker uang di Indonesia karena mata uang Kyat nggak dijual di Indonesia, di Malaysia pun nggak ada. Aku juga nggak tuker uang Kyat di money changer di Myanmar karena uang rupiah nggak diterima di Myanmar. Hiks. Hasil ngintip di money changer, mereka cuma terima uang USD dan Euro aja. Duh.
Soal ATM, kalo ambil uang di ATM, aku dikenakan biaya administrasi sebesar 6,500 kyat sekali ambil, ditambah biaya administrasi dari BNI sebesar Rp. 25,000. Jadi, sebaiknya ambil Kyat sebanyak2nya. 

Aku sengaja ambil jumlah terbesar yang bisa aku ambil, yaitu 300,000 kyat atau setara dengan 3 juta rupiah. Kayaknya cukup sih untuk bekal jalan-jalan 8 hari di Yangon, Mandalay, Bagan, & Inle Lake. Let's see.

Tiket naik Circular Train

Dari bandara aku pilih untuk order Grab dari Gate 5. Ada booth taksi di depan terminal kedatangan, ada tulisan "fixed price" juga. Penasaran, aku datengin dong booth-nya. Ternyata aku tetep harus tawar-menawar. Jadi aku tetep pilih pake Grab yang harganya udah jelas, 8,000 kyat untuk rute bandara ke downtown Yangon.

Setelah proses check-in, mandi, dan pake baju bersih, aku jalan-jalan di sekitaran hostel di Pecinan sambil cari makan. Kami makan di warteg lokal yang jual makanan khas Myanmar yang super bersih. Dari situ lanjut ke mal buat nyari SD card (temenku SD card-nya bermasalah dan sayang banget kan udah jauh-jauh ke Myanmar kalo nggak bisa foto-foto).


Dari mal kita jalan kaki ke stasiun kereta terdekat untuk nyobain naik Circular Train. Circular Train ini semacam KRL kalo di Jakarta. Kalo naik Circular Train bisa ngerasain kehidupan orang lokal dan lihat pinggiran Kota Yangon. Kami menghabiskan wakti sekitar 3 jam untuk nyoba rute memutar Circular Train dan berhenti di Yangon Station. Berhubung pas sampe Yangon Station hujan turun, kami memutuskan untuk pesen Grab dan pergi ke mal lagi. Kali ini buat nonton di CGV-nya Yangon. Ada acara hormat bendera lho sebelum film dimulai.

Hari 2: Keliling Yangon Seharian


Penampakan warteg lokal Yangon

Hari kedua di Yangon dimulai dengan tidur di kasur empuk. Ini sih penting banget diceritain, berhubung 2 malam sebelumnya aku mengandalkan karpet KLIA untuk tidur. Hahaha. Pagi itu aku dapat sarapan enak di hostel; pancake, pisang, roti, teh/kopi, samosa, dan buah. Banyak kan.

Meskipun udah makan pagi, ternyata kami udah lapar lagi pas keluar sekitar jam 11-an. Kami nemu resto yang bagus banget yang jualan Mohinga dan tea leaf salad. Katanya sih dua jenis makanan ini wajib dicoba kalo lagi travelling di Myanmar. Aku juga nyobain sejenis es dawet yang disajikan bareng es krim kelapa.

Bogyoke Market

Dari area Pecinan kami jalan kaki random. Tahu-tahu udah nyampe Bogyoke Market, pasar seni wajib kunjung di Yangon. Pasar seni tradisional ini sebelahan sama mal modern, bahkan ada jembatan penghubungnya. Aku sempat masuk ke mal juga karena Yangon hujan sekalian nyari toilet.

Pas hujannya udah reda, kami lanjut jalan kaki. Kami lewat Kampung Arab dan jalan lewat gang di antara bangunan tua. Sebenernya jalannya lumayan gedhe, tapi kalo pilih naik taksi bakalan lama sampainya karena jalannya macet akibat penuh orang dan mobil. Tahu-tahu kamu udah nyampe di Sule Pagoda.

Sarung dan payung panjang, dresscode wajib di Myanmar

Dari Sule Pagoda kami pesen Grab untuk pergi ke Shwedagon Pagoda. Kami diturunin di gerbang kedatangan untuk turis mancanegara dan wajib bayar 1,000 kyat. Berhubung aku pake celana dengan belahan yang lumayan tinggi, aku mesti pake longyi. Aku dipinjemin longyi tapi harus kasih uang jaminan 300 kyat, nanti kalo longyi-nya udah balik, uangnya juga dibalikin.


Malam itu kami langsung balik ke hostel, mandi kilat, dan langsung berangkat ke Mandalay naik bus malam. Kami bayar 16,500 kyat untuk bus malam VIP. Ini harga paling murah dari semua pilihan tiket VIP yang ada. Sayangnya bus-nya nggak sebagus yang aku bayangin. Ya seat-nya tetep 2-1, tapi interiornya biasa aja, reclining seat-nya ada yang rusak, dan kami pergi bareng barang dan orang.

Hari 3: Keliling Mandalay Seharian


Mandalay dan pagoda

Kami sampe di Mandalay sekitar jam 6 pagi. Terminal bus Mandalay rame banget. Sama seperti di Indonesia, kalo ada orang asing turun dari bus, pasti ada sopir taksi yang ngerubutin dan nawarin jasa pengantaran.

Singkat cerita kami pilih naik tuktuk untuk menuju Mandalay Hill. Kami bayar sekitar 6,000 kyat. Kami sarapan di depan tangga menuju Mandalay Hill. Kami juga sekalian nitip tas di ibu yang jual sarapan. Ada dua pilihan untuk mencapai puncak Mandalay Hill, dan gilanya kami pilih jalan kaki lewat ratusan anak tangga. Cerita konyolnya di post tersendiri tentang Mandalay aja ya.

U Bein Bridge sepanjang 2 km

Dari Mandalay Hill kami nyari tuktuk untuk bawa kami muter-muter di Mandalay. Kami dapat tuktuk yang mau dibayar dengan harga 15,000 untuk menuju U Bein Bridge kemudian antar kami ke terminal. Dalam perjalanan menuju U Bein Bridge kamu sempat mampir ke beberapa pagoda.


Sore itu kami langsung naik bus ke Bagan. Jaraknya sekitar 4 jam. Harga bus Mandalay - Bagan 9,000 kyat. Kami baru pesen penginapan di Bagan saat makan siang di Mandalay. Kami pesen pake booking(dot)com di Golden Rose Guest House dengan harga 27,000 per kamar.

Hari 4: Bagan, Negeri Kuno Yang Cantik


Foto di candi di deket guest house

Kalo kebanyakan turis akan menghabiskan pagi dengan ngejar sunrise di area temple, kami pilih bangun siang. Lagipula pagi itu Bagan lagi diguyur hujan. Kami masih sempat ngejar sarapan sebelum jam 10 pagi. Di Bagan sarapannya mesti milih; nasi atau mohinga atau toast. Selain menu utama kami dapat potongan buah dan jus.

Ananda Temple, candi paling cantik di Bagan

Siangnya aku keluar sendirian buat nyari makan western di sekitaran guest house. Aku makan kentang goreng dan jus nanas. Surprise, si mbak kasih potongan semangka segar dan permen asem sebagai present. Yeay.


Dari jam 2 sampe malem, aku dan temanku sewa e-bike untuk keliling Old Bagan. Sewa e-bike setengah hari 3,000 kyat dan satu e-bike bisa dipake berdua. Ternyata di deket guest house udah ada temple kecil. Meskipun udah setengah hari, tapi kami belum puas keliling dari satu temple ke temple lainnya. Tenang, masih ada hari esok. Kami menutup sesi keliling temple dengan main ke bukit untuk lihat sunset. Suka.

Hari 5: Bagan, Sunset, & Sunrise


Sunrise di Bagan

Kalo kemaren pilih tidur di kasur, hari ini aku harus ngejar sunrise. Kami ketemu orang lokal di tengah jalan. Dia bawa kami untuk lihat sunrise di secret temple. Kami sempet balik ke guest house lagi untuk sarapan dan lanjut tidur. Sekitar jam 2 an kami keluar lagi untuk main ke Old Bagan dan puas-puasin main di tiap temple. Termasuk nyari another secret temple untuk lihat sunset.


Hari itu kami kembali naik bus malam untuk pergi ke Inle Lake. Biaya bus-nya 18,500 kyat. Kami dijemput pake shuttle di guest house dan langsung ke terminal bus. Kalo bus yang ini jauh lebih bagus daripada bus Yangon - Mandalay. Interiornya sedikit rame khas Myanmar, tapi bus-nya nyaman.

Hari 6: Boat Trip Keliling Inle Lake


Boat trip di Inle Lake

Di bus kami ketemu temen dari Malaysia. Kami janjian untuk share cost saat ikutan boat trip. Bener aja, begitu kami turun dari bus, kami udah diserbu banyak orang yang nawarin kami untuk boat trip. Berhubung kami berempat, kami dapat harga 7,000 kyat per orang. Satu boat maksimal untuk 5 orang.

Selama boat trip di Inle Lake kami bertemu nelayan yang sedang mancing dengan cara khas Myanmar yang mirip orang lagi akrobat pake bawa-bawa  jala yang lebih mirip kurungan ayam. Ada yang beneran mancing, ada yang emang dandan lengkap untuk atraksi turis.

Cara menangkap ikan yang unik dari nelayan di Inle Lake

Kami dibawa ke pengarajin perak, pembuat kain tenun dari lotus, pengrajin payung kertas, tempatnya para long neck lady, juga ke montessory. Oh iya, ada pagoda juga. Kami cuma mampir ke satu pagoda aja, yang ada ATM dan money changernya. Ketebak dong kenapa.


Malamnya kami langsung naik bus malam ke Yangon. Sayangnya kami kehabisan tiket bus VIP yang harganya 20,000 kyat. Kami ditawarin untuk pake bus biasa dengan seat 2-2 tapi dipesenin 2 seat untuk 1 orang. Maksudnya biar lega gitu. Kami diantar pake shuttle ke terminal bus yang ternyata di pinggir jalan. Ternyata kami dapat bus yang jelek banget dengan AC yang panas banget. Komplain dong. Akhirnya di tengah jalan kami dipindah ke bus standar yang lebih bagus, tapi cuma dapat 1 seat per orang dan busnya penuh orang lokal. Apes deh.

Hari 7: Yangon Sehari Lagi


Sule Pagoda dari jembatan penyebrangan

Kami nyampe di Yangon sekitar jam 7 pagi. Kali ini kami pilih nginep di hostel dekat bandara dengan pertimbangan besok nggak perlu bingung bangun terlalu pagi dan deg-degan kalo belum dapat transportasi ke bandara. Ternyata opsi nginep deket bandara ini sangat menghemat lho. Hostelnya namanya Roly dan letaknya sekitar 1 km dari bandara. Jadi kalo ke bandara bisa jalan kaki. Sekarang juga udah ada bus bandara menuju downtown Yangon. Bayarnya cuma 500 kyat. Busnya bagus banget, macem bus di Jepang dan Korea dengan 1 petugas yang paham bahasa Inggris sederhana.


Hari itu kami main-main ke Yangon pake bus bandara. Turunnya di Sule Pagoda. Dari Sule Pagoda tinggal jalan kaki kemana-mana, deket banget. Asal suka jalan sih kalo ini. Hahaha. Nah, balik ke hostelnya, naik bus ke bandara lagi. Gampang banget, murah meriah pula.

Hari 8: Bye Yangon

Bus dan taksi di Yangon

Akhirnya harus say goodbye sama Yangon dan Myanmar. Kami beneran jalan kaki ke bandara dan cuma makan waktu sekitar 20 menit aja. Bye Myanmar, thank you for good memories.

- Dinilint -

NB: Cerita detail di tiap kota bakal aku catat satu per satu. Tungguin yaaaa.

10 komentar:

  1. Kyaaa seru nih mba Petualang, jadi pengen jalan-jalan lagi sama keluargašŸ˜ ditunggu detail post nya ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Sandra,,
      Iya nih,, kudu cepet-cepet ditulis,, biar nggak lupa. Hehe

      Hapus
  2. baca ini jadi pengen travelling hehehe, moga bisa sama keluarga ya

    BalasHapus
  3. Mirip mirip ya sama indonesia suasananya.
    Tapi boleh deh nanti kalau ada long weekend kesana :D
    Terimakasih juga sudah ada daftar budget perhari , sangat membantu untuk persiapan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Serupa tapi nggak sama kok. Ada banyak hal seru yang bisa dijelajah dan dinikati di Myanmar yang nggak ada di Indonesia. ;)
      Terima kasih kembali ya sudah baca mas RIDWAN

      Hapus
  4. Wkwkwkw...di Yangon ada Warteg (=Warung Tegal)
    Itu nelayan cara nangkep ikannya unik banget ya...sampe akrobat begitu. Tapi keren tulisannya Mba, bakalan saya inget saat pingin liburan ke sana nanti.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Xixixi,, begitulah. Tapi soal rasa tetep menang warteg yang asli kok. Hahaha
      Makasih, semoga segera liburan ke sana, sebelum pembangunan merubah wajah Yangon jadi lebih modern.

      Hapus
  5. Wiih ternyata udah bebas visa ya. Ditunggu mbak cerita tiap kotanya lebih detail. Kayaknya seru ngeliat opening(?) nya hihi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah dong,, makanya aku main kesana. Wkwkwkwk.
      Siappp,,, segera ditulis kok perjalanan di tiap kota-kotanya

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)