Sabtu, 20 Oktober 2018

Travelling ke Mandalay, Myanmar. Kurang Informasi Bikin Sakit Kaki.

Mandalay adalah salah satu kota yang aku jelajahi saat travelling ke Myanmar. Kenapa sih pilih Mandalay? Alasannya cuma sesederhana aku sering baca kata Mandalay di itinerary travelling Myanmar dari travel blog favorit. Hahaha,,, alasan yang nggak banget kan.


Mandalay ternyata seru untuk dijelajahi seharian. aku naik bus malam dari Yangon. Pagi-pagi mampir ke Shwenandaw Kyaung Montasory, naik ke Mandalay Hill, foto-foto di pagoda berwarna putih dan emas di Sanda Muni dan Kuthodaw, jalan-jalan santai di jembatan kayu sepanjang 2 km di U Beien Bridge. Malamnya langsung naik bus kecil ke Bagan. Ini nih cerita lengkapnya.




Ketika sampai di terminal Mandalay pagi itu, aku sedikit kaget. Dalam imjinasiku Mandalay adalah kota yang adem, semacem Bandung kalo di Indonesia, atau Dalat kalau di Vietnam. Aku pikir Mandalay adalah kota yang ijo royo-royo dengan atmosfer yang adem ayem, dan dikelilingi pemandangan bukit-bukit yang indah. Aku kok bisa dapet imajinasi begini dari mana, aku pun bertanya-tanya. Nyatanya, pertama kali bertemu dengan Mandalay, aku mendapati jalan tanah yang sangat berdebu dengan udara yang terasa kotor. Begitu turun dari bus, banyak para sopir taksi dan sopir tuktuk berlomba-lomba menawarkan jasa mereka. 

Sambutan sopir taksi dan sopir tuktuk ini sejujurnya bikin mood jadi jelek. Belum lagi mereka bahasa Inggrisnya pas-pasan, tapi nggak pernah ngasih harga pas alias mesti tawar-menawar. Aku tu paling nggak bisa nawar pakkkk.

Aku pun cek aplikasi Grab dan membandingkan harga yang tertera di sana. Ternyata si pak sopir juga pakai app Grab untuk patokan harga, tapi dinaikin dikit. Dia juga nawarin untuk nganterin kita seharian keliling Mandalay pake mobilnya yang ber-AC. Mandalay lumayan panas hari itu, jadi AC sepertinya jadi pilihan yang menarik. Tapi, kami nolak setelah tahu ada opsi yang lebih murah: naik tuktuk. 

Shwenandaw Kyaung dan Bagaya Monastery


Tujuan pertama kami di Mandalay adalah Mandalay Hill. Jarak Mandalay Hill dari terminal bus Mandalay sekitar 1 jam. Lumayan jauh juga kan. Untuk jarak lumayan jauh itu, kami membayar harga 6,000 kyat naik tuktuk. 

Tuktuk bisa muat 3 orang. Tapi aku pernah lihat ada yang maksa naik tuktuk sampe 7 orang; 5 orang empet-empetan di kursi penumpang dan 2 orang di sebelah sopir. Gila.

Dalam perjalanan menuju Mandalay Hill, pak sopir yang baik hati sempet ngajak kami mampir di salah satu monastery, kalo nggak salah namanya Shwnandaw Kyaung.


Montesory ini semacam asrama bagi para biksu. Mereka tinggal dan belajar di sini. Yang menarik dari Shwenandaw Kyaung Monastery adalah bangunan yang terbuat dari kayu jati yang diukir. Saat aku sampai di sana, bangunannya masih tutup dan sepi banget.


Nggak jauh dari bangunan kayu jati tadi ada bangunan seperti ini. Kemungkinan besar namanya Bagaya Montesory. Pagi itu masih sepi juga.


Pas masuk, ketemu beberapa biksu yang bawa gentong kecil untuk ambil beras dari masyarakat. Jadi ada 2 hari dalam satu minggu, para biksu keliling kota untuk mengumpulkan beras dari masyarakat. Beras atau uang atau apapun itu semacam persembahan atau sumbangan dari masyarakat. Kebetulan saat aku travelling ke Mandalay, aku bertemu banyak biksu yang sedang keliling kota.

Mandalay Hill


Setelah diajak jalan-jalan ke Shwenandaw Montesory dan Bagaya Monastery, sopir tuktuk yang baik hati nawarin kami untuk pake jasanya keliling kota Mandalay seharian. Kami menolak dan tetap pada keputusan awal untuk berhenti di Mandalay Hill dan bayar 6,000 kyat. Si sopir tampak jengkel dan aura baik hatinya hilang seketika. Yang tadinya ramah dan cerita banyak mendadak diam seribu bahasa. Si sopir baru ngomong lagi setelah sampai di depan gerbang singa, tanda Mandalay Hill sudah dekat.


Di depan patung singa, ada banyak warung yang sudah buka. Kami juga bisa pake kamar mandi di area warung itu. Kami perlu bayar 200 kyat untuk pake kamar mandi. Kamar mandinya kecil banget, nggak ada kran atau air mengalir, dan bau. Aku aja pilih sikat gigi dan cuci muka di luar kamar mandi. 


Ini adalah penampakan warung di depan patung singa di Mandalay Hill. Aku pilih sarapan dengan noodle soup dan temenku pilih makan vermicelli soup. Mengingat pengalaman makan makanan lokal Myanmar di Yangon, kami pilih makan makanan yang 'aman'. Noodle soup dan vermicelli soup ini adalah makanan instan, ya semacam indomie lah kalo di Indonesia. Rasanya enak dong.


Mengingat kami bakal manjat bukit, kami nitipin ransel kami di warung. Nggak ada biaya nitip tas, ibunya baik banget. Si ibu sempat nawarin kami untuk naik angkot ke Mandalay Hill. Kami menolak dengan asumsi bahwa naiknya nggak jauh-jauh amat, itung-itung mau ngerasain sensasi naik anak tangga ke bukit. Pasti mirip-mirip lah sama naik Imogiri.


Menurut informasi yang ditemukan temenku, bakalan ada eskalator super panjang yang menanti di Mandalay Hill. Keren kan naik bukit pake eskalator.
 

Ternyata naik Mandalay Hill dari patung singa sungguh menyiksa. Kami harus lepas alas kaki, jadi kami jalannya nyeker. Sepanjang tangga kotor, ada pup anjing pula. Jalannya sepi banget, cuma ada satu dua orang aja. Dan yang jelas, tangganya banyak bangetttttt. Jadi inget pengalaman nyasar di Namsan, Seoul.

Konon katanya kalo kamu berhasil naik tangga dari patung singa sampe puncak Mandalay Hill, kamu bakalan punya Long Life. Ya iyalah, artinya kamu sehat kan, bisa naek tangga segitu banyaknya, segitu tingginya. Jadi mestinya kamu punya umur panjang. Haha.

Setelah melewati ratusan anak tangga, akhirnya kami menemukan tanda-tanda mencapai puncak Mandalay Hill. Tapi ada pertanyaan lagi sih, dimanakah eskalatornya? Pas menemukan tanda-tanda kehidupan, ketemu lebih banyak orang dan menemukan adanya kendaraan, kami pun menunjukan foto eskalator yang kami dapat dari hasil googling ke petugas.


Ternyata oh ternyata, kami harus jalan kaki lagi lewat jalan aspal, dengan nyeker a.k.a tanpa alas kaki, sekitar 10 menit. Untungnya Mandalay Hill punya banyak pohon, jadi ya nggak kepanasan meski jalan kaki nyeker siang bolong begitu. Coba bayangin kalo nggak ada pohon, nggak pake alas kaki, jalan di aspal. Doh, malu-maluin banget sih.


Akhirnya kami menemukan pintu masuk ke arah puncak Mandalay Hill. Ada dua pilihan untuk naik ke atas, bisa naik lift atau eskalator. Berhubung dari tadi mikirin eskalator ke atas bukit, jadi kami milih naik eskalator. Ternyata eskalatornya ya biasa aja, cuma letaknya di atas bukit gitu.


Mandalay Hill adalah titik tertinggi di Mandalay. Mandalay sendiri kotanya datar. Jadi dari puncak Mandalay Hill aku bisa lihat seluruh Mandalay,, yang ternyata cantik banget kalo dilihat dari atas. Udara di Mandalay Hill juga seger banget. Sama kaya ekspektasi aku tentang Mandalay yang adem dan ijo royo-royo.


Di bagian tertinggi Mandalay Hill ini sebenernya adalah pagoda. Aku bisa lihat biksu-biksu Myanmar dari dekat di sini. Mereka nggak cuma berdoa dan melakukan ritual kepercayaannya, tapi juga piknik.


Pagodanya cantik banget. Tiap sudut ada ornamen super cantik. Di bagian atasnya tertulis doa-doa dalam Bahasa Burma.


Maaf ya, aku banyak foto selfi di sini. Instagrambale banget sih. Jadi inget cerita temen yang bilang kalo 'Myanmar is very photogenic place'.


Yes, Myanmar is a photogenic place. Mandalay Hill is very instagramable in every corner.


Sebagai turis asing, aku harus bayar 1,000 kyat kalo berkunjung ke Mandalay Hill. Kalo orang normal sih gratis.


Mandalay Hill merupakan objek wisata populer di Mandalay. Turis lokalnya pun banyak banget.


Mandalay Hill juga tempat yang cocok buat melepas lelah. Turisnya nggak sebanyak di Shwedagon Pagoda di Yangon. Ada banyak space untuk leyeh-leyeh, tiduran juga boleh.


Berhubung kami tadi udah naik pake eskalator, kami pengen ngerasain turun pake lift. Eh, ternyata nggak boleh sama petugasnya. Kami mesti turun pake tangga manual. Lah ternyata kalo pake tangga ada bnyak orang jualannya.


Kami balik lagi ke warung tempat kami nitip tas. Kami sekalian makan siang di warung. Kali ini aku pilih pesen nasi goreng. Kalo temenku tetep milih pesen vermicelli soup dengan asumsi nggka tercemar babi. Kalo menurutku pribadi, masakannya nggak ada rasa babinya sama sekali.

Sandamuni Pagoda 


Kami nyari tuktuk lagi untuk lanjut ke arah U Bein Bridge. Kami ketemu dengan sopir tuktuk yang jago bahasa Inggris. Setelah tawar menawar akhirnya kami sepakat di harga 15,000 kyat. Harga segitu istilahnya untuk nganterin kami keliling Mandalay setengah hari.


Di dekat Mandalay Hill, tepatnya dekat patung singa, ada pagoda unik berwarna putih dan emas.


Sandamuni punya warna putih dan emas, perpaduan yang cantik, apalagi kalo langitnya lagi biru cerah.


Nggak ada tiket masuk di Sandamuni Pagoda. Yang jelas harus lepas alas kaki, kaos kaki juga nggak boleh. Kalo datang pas siang bolong kaya aku, lumayan nyiksa telapak kaki banget sih. Kuncinya adalah jalan di keramik yang berwarna putih. Kenapa? Karena warna putih memantulkan panas, sedangkan warna hitam menyerap panas. Jadi, berjalan di keramik putih lebih adem daripada berjalan di keramik hitam.

U Bein Bridge


Untuk menuju U Bein Bridge butuh waktu sekitar 1 jam naik tuktuk. Kami melewati Kota Mandalay, dan kembali menemukan para biksu laki-laki dan perempuan yang kliling kota untuk mengumpulkan sumbangan. Kebanyakan sih biksu anak-anak.

Beberapa keluarga di Myanmar sangat miskin. Untuk mendapatkan pendidikan, anak-anak dari keluarga di Myanmar dikirim ke montesory. Di montesory pendidikan dan makanan mereka terjamin. Bahkan mereka bisa belajar bahasa Inggris di montesory. 

Sopir tuktuk kami jago bahasa Inggris. Kami bahkan bisa bicara politik sederhana tentang negara masing-masing dan bertukar pendapat.


Yang membedakan U Bein Bridge dengan jembatan lainnya adalah dia terbuat dari kayu dan panjangnya hingga 2 km. Gilanya, aku mnyusuri U Bein Bridge dari ujung ke ujung dan balik lagi. Pantesan pulang dari U Bein Bridge aku sedikit sempoyongan.


Di bawah U Bein Bridge ini semacam rawa-rawa. Turis bisa naik kapal di danau rawa ini. Kalo anak lokal lebih suka lompat dari jembatan trus berenang.


Jalan di U Bein Bridge ini agak nyeremin juga, soalnya di kanan kirinya nggak ada pembatasnya. Padahal, orang yang melintas di U Bein Bridge ini banyak banget. Kebayang dong kalo senggol-senggolan terus ada yang iseng, bisa jatuh nyebur ke danau rawa kan.


Waktu terbaik untuk menikmati U Bein Bridge adalah saat sore hari. Katanya sunset di sini cakep banget. Aku yang main pas nggak sunset aja seneng.


U Bein Bridge adalah destinasi wisata terakhir kami di Mandalay. Selanjutnya kami kembali naik tuktuk untuk ngejar bus ke Bagan. Waktu tempuh Mandalay - Bagan adalah 4 jam. Sempet bete sih pas turun bus di Bagan. Ceritanya di post terpisah aja ya.

- Dinilint -

8 komentar:

  1. Asyik banget sih perjalanannya, kebayang tadi baca pas tiba di Mandalay, tanah debu begitu dengan supir-supir taksi menawarkan tumpangan hahahaha :D kayak di negeri sendiri kan rasanya :P

    Nyeker-nya lumayan ... sehat + capek :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha,, mirip-mirip yaa.
      Tapi sekarang kalo travelling di Indonesia, khususnya kalo di terminal-terminal di Jawa, sopir-sopir juga nggak segitunya kaya pas di Mandalay itu.

      Nyekernya lumayan gila. Cukup sekali aja sih itu. Haha

      Hapus
    2. Hwwakakakak supir2nya sekarang lebih sopan ya, sist.

      Kalau ke Ende, jalan kaki aja cukup buat keliling kota. Kota, bukan kabupaten. Kalau keliling kabupaten jalan kaki tidak saya sarankan *ngikik* tapi jangan nyeker lah, kasihan kakinya :D

      Hapus
    3. Eh iya kah?
      Aku pernah ke Ende, numpang lewat doang sih, trus lanjut ke Moni buat lanjut ke Kelimutu.
      Besoknya mampir Ende lagi trus bablas ke Bajawa.
      Kalo ada rejeki aku mampir lagi ke Ende buat jalan-jalan ah.

      Hapus
    4. Horeeee ditunggu selalu di Ende yaaaa *hug*

      Hapus
    5. Asik. Ada yg nungguin :D

      Hapus
  2. Baca postingan ini ketawa2 sendiri Aku Mbak haha. Seru banget sih perjalanan ya, tempatnya juga bagus, poto2 Di pagoda nya bikin ngiler Saya pengen kesana 😂.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,, nggak nyangka drama kebegoan aku malah bikin hiburan.

      Mas Didy, itu iler-nya di lap dulu, trus nabung, trus berangkat ke Mandalay, baru deh foto-foto di pagoda ;)

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)