Senin, 25 Maret 2019

Travelling ke Bromo Secara Mandiri, Tanpa Ikutan Open Trip

Tiap tahun ribuan orang dari seluruh dunia datang ke Bromo. Agenda mereka hampir sama, melihat sunrise di Bromo. Emang Bromo dan kawasan Tengger Semeru ini sangat istimewa. Dia punya magnet kuat yang membuat ribuan orang rela menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan berhari-hari untuk sekedar datang ke Bromo dan menikmati pesonanya.


Aku pun tertarik magnet Bromo. Bulan Maret ini aku memutuskan untuk kembali ke Bromo. Kali ini aku cuma travelling berdua. Bermodal pengalaman travelling ke Bromo sebelumnya, kami pergi ke Bromo bermodalkan tiket kereta ke Probolinggo. Kami memutuskan untuk travelling mandiri, tanpa ikutan open trip dan sejenisnya. Alasannya sederhana, kami ingin bebas dan nggak terikat. Tapi yaa,,, tentu saja ada tantangannya kan.



Sebelumnya, ijinkan aku bercerita tentang pengalaman travelling ke Bromo sebelumnya. Nggak cuma sekali, dua kali, tapi berkali-kali aku rela balik lagi ke Bromo. Perjumpaan pertama kaliku dengan Bromo ketika aku masih sangat kecil. Waktu itu aku belum paham lihat sunrise di gunung. Yang aku ingat saat itu aku kedinginan. Saking dinginnya, badanku rasanya pegel semua, kalo mangap dari mulut keluar asap. Aku bahagia banget ketika matahari datang. Bukan karena lihat pemandangan spektakuler macam jepretan fotografer profesional, tapi karena ketika matahari muncul, udara perlahan-lahan menghangat.

"Kadang kita lupa bersyukur sudah diberi sinar matahari melimpah tiap hari, sepanjang tahun. Coba deh inget-inget masa di mana kamu kedinginan dan nggak ada sinar matahari. Hal sesederhana sinar matahari bisa jadi barang mewah."

Perjumpaan dengan Bromo selanjutnya, aku udah paham mau ngapain ke Bromo. Kali ini udah bisa travelling sendiri, nggak sama ortu. Selain agenda lihat sunrise dari Penanjakan Sunrise Point Bromo, naik ke kawah Bromo, naik jeep, dan seru-seruan di pasir berbisik dan padang savana, tentu saja ada agenda kangen-kangenan dengan travelmate kesayangan. Bahkan kami rela berbagai satu jeep untuk 8 orang. Lumayan empet-empetan dan engep di dalam, tapi tetep happy karena maen sama travelmate yang asik.

Sesaat setelah matahari terbit,
di Penanjakan

Masa-masa bahagia di mana open trip belum menjamur seperti sekarang, kami janjian untuk share cost. Kami menghitung semua pengeluaran kami untuk backpacking ke Bromo, kemudian dibagi rata. Nggak ada tuh yang dapet keuntungan. Ngurus ini itu-nya juga barengan sih. Hasilnya, biaya yang kami keluarkan untuk liburan ke Bromo sangat murah. Ceritanya pernah aku tulis di www.dinilint.com/2012/03/new-year-trip-on-pictures.html

Menghangatkan badan di depan perapian,
di dalam warung di Cemoro Lawang.

Aku juga pernah solo trip ke Bromo yang berakhir dengan naik ojek sampe Malang. Si bapak ojek nggak cuma bertugas jadi driver aja, tapi sekaligus merangkap sebagai penunjuk jalan, travel guide, teman jalan, hingga teman curhat.

Pertemuan dengan bapak ojek luar biasa ini pun berlangsung di salah satu warung di Desa Cemara Lawang saat aku sedang makan malam dan kedinginan. Emang kalo yang ngatur Tuhan itu segala sesuatunya cakep. Ceritanya pernah aku tulis di slang-with-local-end

"Semuanya udah ada yang mengatur. Kita jadi manusia sih tinggal jalanin aja."

Tahun ini aku travelling ke Bromo secara mandiri. Kalo cek cerita tentang Bromo, kebanyakan bercerita tentang pengalaman orang-orang yang memilih untuk ikut open trip, semacam tur dengan harga yang lebih miring dengan random people. Enak sih, tinggal duduk manis udah beres. Tapi aku memilih travelling mandiri ke Bromo, tanpa open trip. Kami memilih mendapatkan kebebasan dan fleksibilitas.

Probolinggo - Cemoro Lawang naik elf umum


Aku melakukan perjalanan ke Bromo ini berdua. Kami naik kereta api menuju Stasiun Probolinggo. Dari Stasiun Probolinggo kami naik elf untuk menuju Cemoro Lawang, desa terakhir di Kawasan Bromo, Tengger, Semeru. Informasi mengenai elf ini kami dapatkan dari banner di Stasiun Problinggo. 


Elf dari Stasiun Probolinggo ke Cemoro Lawang rutin berangkat tiap hari. Jamnya sesuai dengan jam kedatangan kereta, dan tentu saja dengan perjanjian. Ada nomor WA yang bisa dihubungi. Harganya Rp. 50,000 per orang. Yang mengoperasikan elf ini adalah pihak swasta yang merupakan travel agent.


Travel agent ini juga menawarkan paket naik jeep selama di Bromo dengan rute umum: sunrise, kawah, dan pasir berbisik seharga Rp. 100,000.

Kami pilih sewa jeep sendiri dan menyusun jadwal kami sendiri. Kami nggak minat bangun jam 3 pagi untuk desak-desakan dengan banyak orang lain demi lihat sunrise. Alasannya sih males kedinginan. Kami memilih untuk memulai perjalanan dari jam 5.30 pagi. Tidur lebih puas, bisa pake skincare dulu biar pas pulang kulit nggak gosong dan kucel, dan tentu saja hasil foto lebih oke. Haha.

Menginap di Cemoro Lawang


Kami menginap di salah satu guest house di Cemoro Lawang. Kami book online melalui salah satu online travel agent. Guest house ini letaknya agak jauh dari keramaian, yang artinya jauh juga dari sumber makanan a.k.a warung.

Pemilik guest house pengertian sih. Di dalam guest house ada dapur. Kami bisa ambil mi instan di lemari dan membayarnya kemudian. Kalau sayur di kebun sudah matang, boleh diambil juga untuk masak. Kami juga bisa melakukan delivery dari warung tertentu. Menu dan nomor telponnya ada di meja makan guest house.

Penginapan kami terletak di tengah kebun sayur. Pagi itu kami menikmati matahari terbit dari depan penginapan sambil menunggu jeep datang. Tepat jam 5.30 pagi jeep merah sewaan sudah menjemput di halaman penginapan.


Untuk masuk ke area Bromo, Tengger, Semeru, kami harus bayar Rp. 10,000 untuk mobil ditambah Rp. 25,000 per orang untuk tiket masuk. Harga ini adalah harga weekday dan berubah kalau datang di hari Minggu. Kami datangnya hari Sabtu.

Kawah Gunung Bromo


Berhubung kami punya rute yang berbeda, kami nggak berpapasan dengan terlalu banyak orang. Saat kami tiba di parkiran kawah Gunung Bromo, belum banyak orang datang. Padahal, dari kunjunganku terdahulu, juga foto dan video dari teman-teman yang travelling ke Bromo, kawah Gunung Bromo selalu penuh orang.


Dari mulai parkiran ada banyak kuda dan pawangnya yang menawarkan jasa untuk mengantar kami sampai ke tangga kawah. Untuk rute pulang pergi bayar Rp. 150,000. Kalo cuma pergi naik aja Rp. 100,000, tapi kalo cuma rute turun untuk kembali ke parkiran Rp. 50,000. 


Kami pilih naik kuda untuk naik. Alasannya sederhana, kami mau cepet sampe ke kawah saat belum terlalu banyak orang. Harapannya di kawah nanti kami bisa foto-foto dengan bebas. Kami juga belum mau keringetan, kan masih objek pertama. Demi foto paripurna kannnn. Hahaha.


Naik kuda ini sungguh menghemat tenaga dan kasih pengalaman baru. Harga Rp. 100,000 ini worth it lah untuk pengalaman berkuda di padang pasir dengan pemandangan Gunung Batok dan Gunung Bromo, yang emang cakep. Nggak keringetan, pas naik tangga ke kawah masih fresh, foto-foto di kawah mukanya juga seger. Haha.


Kuda cuma mengantar sampe di tangga. Untuk naik tangga ke kawah, ya harus jalan kaki. Lumayan pegel juga nih, meskipun naik tangga. Asiknya lagi, kawah yang biasanya penuh orang, hari itu masih sepi. Udara juga seger banget, nggak ada bau-bau belerang sama sekali. Aku bisa bebas jalan-jalan di pinggir kawah, malah ada bule yang lari-larian sampe jauh. 




Kami pilih jalan kaki untuk kembali ke parkiran. Jalan kaki untuk turun kan lebih asik daripada jalan nanjak. Lumayan juga lho jaraknya untuk jalan kaki. Kalo pake motor, tempat parkir motornya lebih dekat ke tangga kawah, jadi jalannya lebih sedikit.


Di dekat parkiran ada toilet bersih yang emang sengaja dibuat untuk para wisatawan. Yang mengelola warga sekitar. Toiletnya bersih dan nampak selalu dirawat. Biaya untuk ke toilet Rp. 2000 per orang. Wajar lah.

Di area parkiran juga banyak orang jualan makanan. Harganya juga normal. Aku beli jagung manis seharga Rp. 5000, bakso malang Rp. 10,000 dan air minum kemasan botol sedang Rp. 5000. 

Di parkiran, ada banyak jeep dengan bentuk dan warna yang hampir sama satu sama lain. Kami kesulitan menemukan jeep kami, dan pilih menelpon si driver. Untung ada sinyal. Emang di awal udah diingetin sama driver untuk motret jeep kami, supaya nanti gampang nyarinya.



Padang Savana dan Bukit Telletubies

Ketika orang-orang mulai berdatangan, kami malah meninggalkan area kawah menuju padang savana. Kami sengaja minta ke driver untuk duduk di atap jeep. Rasanya pandangan lebih luas dan seru banget. 


Padang savana adalah main interest kami ketika travelling ke Bromo. Aku pribadi selalu kaguma dengan pemandangan di padang savana ini. Sejauh mata memandang ada ilalang, rumput, bunga liar, dan langit cerah. Indah.

Kami menghabiskan waktu terbanyak di padang savana ini. Kami emang sengaja ke sini untuk foto-foto sih. Banyak juga yang bisa di-explore di sini. Ada ilalang-ilalang cantik, bunga-bunga liar warna-warna, dan tentu saja Bukit Telletubbies.




Hari itu, beneran ada Telletubbies yang nongol di Bukit Telletubbies. Tapi ada bagian yang kurang menyenangkan menurutku, tulisan BUKIT TELLETUBIES gedhe yang dipasang di sana. Buat aku pribadi alamnya malah jadi kurang natural. Tapi, buat sebagian orang ada tulisan begitu malah jadi spot foto ya.

Pasir Berbisik


Sebenernya kami udah lumayan lemes sih pas balik dari padang savana. Lemes dan puas. Matahari udah mulai naik ke atas. Bromo yang tadi pagi dingin, ketika siang berasa panas.

Tapi sayang juga kalo skip Pasir Berbisik. Toh, kami juga akan melewati Pasir Berbisik di perjalanan kembali ke guest house.




Kami nggak lama di Pasir Berbisik. Ya sedikit foto-foto dan menikmati suasana padang pasir luas berwarna hitam ini.

Ketinggalan elf untuk pulang ke Probolinggo


Dengan rute suka-suka begini, kami kembali ke guest house sekitar jam 11 siang. Padahal menurut informasi elf ke Probolinggo cuma berangkat sekali dan udah berangkat sekitar jam 10 pagi tadi.

Menurut info dari bapak pemilik guest house, ada elf yang digunakan warga, tapi berangkatnya nunggu ada penumpang dan mesti penuh. Kami mencari keberuntungan dengan nongkrong di warung, sambil mencari tahu apakah ada elf yang akan berangkat ke Probolinggo lagi hari ini. Sekalian makan siang gitu.

Karena guest house kami terletak jauh dari keramaian, bapak pemilik guest house meminjamkan motornya untuk kami pergi ke sana, untuk cari makan dan cari info tentang elf. Pinjamannya tanpa biaya.

Kami usaha nanya ibu pemilik warung, jawabannya nggak tahu. Kami nanya ibu pemilik toko kelontong, jawabannya nggak tahu. Rata-rata jawab, tergantung sopirnya. Kami nanyain nomor telpon sopirnya, nggak ada yang tahu, bahkan nggak kenal.

Ada rasa agak aneh sih ini. Cemoro Lawang bukan desa yang besar, tapi kenapa penduduknya nggak mengenal satu sama lain. Cemoro Lawang adalah desa wisata, paling nggak mereka punya kontak satu sama lain, dan bisa memberikan informasi terkait dengan wisata ini.

Duh, begini kok pengen turis mancanegaranya nambah banyak. Aku yang orang lokal aja suka males kalo travelling mandiri gara-gara hal begini.

Karena informasi yang nggak jelas, kami memutuskan untuk menginap semalam lagi di Cemoro Lawang. Tentu saja di guest house yang sama. Meskipun lokasinya jauh dari keramaian, tapi nyaman banget.


Pas mau balik ke guest house, tiba-tiba hujan turun. Udara Bromo kembali dingin. Kami pun lanjut nongkrong di warung sembari ngobrol-ngobrol dengan ibu pemilik warung. Eh, tahu-tahu ada yang nawarin kami untuk balik ke Probolinggo karena elf-nya mau berangkat dengan 2 tamu bule.

Berhubung kami book-nya online, kami nggak bisa batalin. Jadilah kami tetep aja pulang besok.

2 malam di Bromo

Extend semalam di Bromo adalah pilihan yang bijak. Kami suka banget tinggal di guest house kami di tengah kebun sayur. Namanya Ellen Homestay, kami pesen via Traveloka.

Malem itu kami mager, nggak mau keluar rumah. Kami coba pesan makan lewat telpon. Sayangnya menu yang kami incar nggak ada hari itu. Kami pun masak mi telor rebus dan ngambil beberapa daun bawang di luar.

Paginya kami cukup buka jendela. Kami bisa menikmati sunrise dari atas kasur dan selimutan. Mewah banget sih ini. Kami juga sempat jalan-jalan ke sekitar guest house. Kami puas banget lihat kebun di sekitar dan lihat warga beraktivitas.





Kami janjian per telpon dengan driver elf yang akan membawa kami ke Probolinggo pagi itu. Elf kami udah siap jam 9 pagi. Kami dijemput di depan guest house.

Perjalanan Cemoro Lawang ke Probolinggo memakan waktu sekitar 1 jam. Kami turun di Terminal Probolinggo dan lanjut ke Surabaya.

Kena tipu dooong


Ada sedikit kejadian nggak enak di Terminal Probolinggo. Begitu masuk, ada yang nyaranin untuk beli tiket di ITC (Information Tourist Center), di seberang terminal supaya bisa dapat bus patas. Di sana mendadak harga tiket busnya jadi Rp. 90,000 per orang. Ini sebenernya ITC apa agen tiket sih?

Kami nyebrang lagi dan pilih naik bus dari terminal. Di tengah jalan ada bapak-bapak yang nemenin kita jalan dan kasih wejangan. Menyusul bapak-bapak yang lain. 

Tahu-tahu kami udah digiring masuk ke dalam bus jurusan Surabaya yang katanya bakal berangkat seperempat jam lagi. Kami langsung diminta bayar RP. 45,000 per orang di atas bus. Kami diberi tiket yang ada harganya. Ada feeling nggak enak, tapi kami tetep bayar.

Si bapak berpesan, kalo di bus banyak copet, jadi harus hati-hati.

Pas bus udah naik, baru kami ketemu kernet resminya. Beliau berkata kami udah kena tipu. Tapi beliau juga nggak berani ngingetin tadi, karena di sekeliling bapak tadi ada banyak gerombolannya. Harga bus Probolinggo - Surabaya cuma Rp. 25,000. Dan ternyata bus yang kami naiki bukan bus patas, tapi bus biasa. Kalo bus patas Probolinggo - Surabaya harganya Rp. 35,000 dan waktu tempuhnya lebih cepat sekitar 1 jam.


Duh Indonesia, aku pengen banget menjelajahi setiap jengkal alammu. Tapi kok, masih ada orang-orang yang suka menipu gini, sistem belum jelas, semua hal serba nggak jelas. Mbok ya ada sistem yang memudahkan orang melakukan perjalanan. Kalo begini aku rindu travelling ke Jepang, Korea, Singapura, bahkan Thailand yang informasinya terpampang di depan mata.

- Dinilint -

42 komentar:

  1. Bromo keindahannya tak terbantahkan, suasana segala penjuru indah, apalagi melihat sunrise dan kabut yang perlahan bergerak diantara sela kawah. Sungguh ciptaan Tuhan yang membuat kita tak henti berasa bersyukur

    BalasHapus
  2. duh liat fotonya jd pengen ke bromo lagi..
    dulu seorang teman ngingetin kalau nunggu bis, diluar terminal aja, ternyata di dalam terminal seperti ini..ngeri juga kalau g tau apa2 disana.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ternyataaaaa,,
      Lain kali aku pasti lebih hati-hati nih.

      Hapus
  3. Aku belum pernah keBromo secara mandiri. Boleh juga dicontek nih itinerary nya. Minus ditipu ah. Kesel bgt ya ama org2 kek gitu deh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jangan sampe ketipu. Semoga berhenti di aku aja.

      Hapus
  4. Waaah seru banget ya Mbak main ke Bromo.Apalagi perginya susun jadwal sendiri nggak pakai open trip. Fotonya seru, cakep-cakep. Aku belum pernah kesampaian ke Bromo ajak family. Dulu pernah ke Bromo tahun 2000, 19 th lalu pas masih kuliah.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak.
      Semoga kesampaian ya travelling dengan keluarganya.

      Hapus
  5. Hebat dan keren sekali foto-fotonya...

    Dulu sempat ke Bromo sendirian, naik motor dari Kota Solo-Probolingga..
    Tapi capek banget kalau naik motor, apalagi kalau musim kemarau pasirnya susah dilewati sepeda motor..
    Pengen balik lagi ke sana, tapi komplet dengan fasilitas wisatanya seperti jeep biar semakin puas.. haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah,, capek banget ituuu.
      Aku pernah juga naik motor dari Bromo ke Malang. Mbonceng doang sambil deg-degan karena lewat pasir-pasir itu ngeri-ngeri sedap.

      Hapus
  6. Duh Indonesia, aku pengen banget menjelajahi setiap jengkal alammu. Saya juga pengeeeeen.... Semangaaat! Btw seru banget perjalanannya....

    BalasHapus
  7. Dari dulu g=pgn bgt ke Bromo tp belum kesampean, mudah2an thn ini bisa ke bromo

    BalasHapus
  8. Gunung yang punya berjuta view; lautan pasirnya, ya mountain view, lalu padang ilalang. Cantik puolnya! Pengen bawa anak-anak ke sana. Insya Allah nanti deh.

    BalasHapus
  9. Bromo memang harus didatengin, kdng melihat dr kejauhan kyknya kok ngak bakal kuat stamina. Ternyata paling menyenangkn adalah perjalanan ke puncak, pas sudah diatas kawah bromo biasa ajah heheh. Dulu habis dr bromo aku naik bus ke malang juga biar sekalian.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku malah dibikin surprise begitu sampe puncak kawah. Mungkin karena faktor ke sanany pagi banget dan nggak terlalu banyak orang ya. Asapnya nggak ada, nggak ada bau belerang juga. Ya,, persis seperti yang di foto amatiranku mbak.

      Hapus
  10. Bromo masih jadi wishlistku mbak Din..Duuuuh cakep banget pemandangannya, apalagi modelnya. Kalah Gigi Hadid. hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amin mbak. Semoga segera terwujud.
      Makasih ya :D

      Hapus
  11. Menarik juga ke Bromo dengan cara mandiri seperti ini. Berarti sunrise nya skip ya mbak. terus datang lebih dahulu ke kawah sebelum orang-orang yang nonton sunrise sampai disana. Pemilihan rute yang cerdas 😄

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener.
      Bukan cerdas sih mbak, tapi malas. Hehe

      Hapus
  12. Yah ingat pas ke Bormo mandiri itu pas masih jaman SMA dan kuliah. BAreng ama teman2 seru banget. Dan kayaknya aku pengen ke Bromo lagi nih mba suatu saat nanti ama keluarga :)

    BalasHapus
  13. Sering baca pos tentang Bromo dan masih saja tetap terpesona pada cerita dan foto-fotonya. Saya suka banget foto Kakak bersama si kuda putih ... wardrobe-nya itu awesome! Bikin saya terinspirasi huehehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak.
      Kelimutu yang di Flores juga bikin aku kangen lho. Pengen balik lagi ke sana.

      Hapus
  14. nikmatnya perjalanan itu mulai dari proses menyusun rencana perjalanannya, bukan hanya ketika melakukan perjalanannya. Itu sebabnya saya nggak pernah ikut opentrip, lebih suka sharecost.


    Soal Bromo, saya pun juga suka untuk kembali ke sini. Tapi saya biasa ke Bromo itu saat bulan puasa, jadinya sepi.

    Terima kasih ya sudah sharing pengalaman kamu ke Bromo :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget bang, nyusun rencana untuk perjalanan selanjutnya itu emang nikmat banget.

      Wah, asik juga ya puasa-puasa ke sana. Bisa nih dicoba.

      Hapus
  15. Wah iyaaa kalau bus banyak banget penipunya... aku biasanya langsung tanya sama.driver atau kernetnya biasanya sopir atau kernet pake baju seragam busnya gt... kalau ada bapak bapak nyamperin aku bilang aja makasih... maaf sudah..dg wajah sok tau sok gak takut hahaaha padahal.mah di dlm dada deg deg ser lwkkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nah, ini salah satu bapaknya pake seragam dan beneran bawa semacam karcis bus gitu. Gila kan.

      Hapus
  16. Mba Din, menyenangkan banget, sih, homestay-nya, yaa.. Seru bisa metik sendiri sayur di kebun buat dimasak... :D Duh, aku ke Bromo udah 15 taun lalu pas masih sekolah. Dan itu juga cuma di kawasan pasir, gak ke bukit dan savana.. Pingin ngajak anak-anak ke sana juga jadinya.. Jatohnya lebih enak mandiri ya mba daripada pake jasa tour open trip gitu? Kalo dari segi biaya lebih murah mana? Cerita terakhirnya bikin gemesst ya.. Masih ada aja spam bahkan ke warga lokal...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak mana?
      Tergantung kebutuhan sih mbak. Kalo males arrange segala sesuatunya, punya waktu terbatas, mendingan ikut open trip. Kalo fleksibel, suka seenaknya sendiri kaya aku, itinerary-nya nggak umum, enak mandiri.
      Murah nggak-nya hampir sama sih mbak.

      Hapus
  17. Itulah negeri kita, sorga yang tidak dimaksimalkan :(

    BalasHapus
  18. duh yang agen itu bikin jelek wisata domestik kita aja.. sesama orang Ind aja ditipu gimana kalo WNA ya hadeuh.. padahal daerah wisata kita sungguh indah

    BalasHapus
  19. Udah pernah nyoba start dari malang? kalo menurutku lebih asik sih. Cuma butuh cost nya lebih karena pake jeep

    BalasHapus
    Balasan
    1. Udah pernah pulang via Malang. Pake mampir-mampir ke kebun warga dan main ke air terjun. Malah pake motor waktu itu. Nyewa ojek seharian.
      Asik banget dan jadi salah satu perjalanan berkesan buat aku.

      Hapus
  20. Jadi pengen mengulang perjalanan ke Bromo setelah melihat foto-foto yang indah di sini. Sekian tahun lalu kurang sukses karena anak saya terus menerus menangis. Kayaknya dia kesel karena masih ngantuk udah harus jalan buat melihat sunrise hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Balik lagi mbak.
      Mungkin si adek kedinginan mbak, jadi bete dia.

      Hapus
  21. Hati-hati mbak di dalam bus, emang sudah umum banyak copetnyanya, kita harus lebih waspada, dan memang sebagai catatan, transportasi ke Naik ke daerah Bromo memang terbatas bahkan turun dari desa cemoro lawang juga sulitnya minta ampun, transportasi umum memang jam 10 rata2 sudah turun ke Probolinggo, untuk naiknya sekitar jam 4 sore dari terminal probolinggo karena harus menunggu lebih banyak hingga penuh, mungkin artikel mbak ini banyak yang baca agar tidak ada kelalaiyan saat ke gunung Bromo, terimakasih

    BalasHapus
  22. s3lain mempersiapkan fisik gunung bromo, sewa jeep juga harus diperhatikan karena sangat terbatas, jika musim ramai biasanya mudah full

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)