Minggu, 16 Juni 2019

Tempat Wisata Unik Berbentuk Sangkar Burung Raksasa di Bawen

The power of social media di jaman sekarang emang gila ya. Kemarin, pas libur lebaran, banyak temen-temen sosmed-ku yang posting foto dengan latar belakang bangunan arsitektur serba bambu yang menyerupai sarang burung raksasa. 


Penasaran.

Lokasi tempat foto dengan arsitektur bambu yang nge-hits itu bernama Dusun Semilir. Aku pikir, mungkin ini salah satu desa di dekat Semarang yang lagi mem-branding dirinya supaya jadi tempat wisata kekinian yang baru.

Tempat wisata kekinian ini maksudnya, banyak spot foto yang tentu saja instagramable. Jadi sangat cocok untuk digunakan foto sana-sini dan dipamerin di sosmed. Pengunjung happy, pengelola pun happy karena dapat publikasi dari mulut ke mulut melalui sosmed.

Untuk menjawab rasa penasaran, akhirnya aku berangkat ke Dusun Semilir. 


Sebenernya agak ragu juga sih, biasanya kan pas musim liburan begini akan ada lebih banyak orang yang datang ke tempat wisata, apalagi tempat wisata baru. Tapi ya, mumpung punya waktu, jadi ya, berangkat aja.

Toh lokasinya deket, cuma di Bawen. Semoga aja jalanan ramah dan nggak macet.

Berangkat lebih pagi, dengan harapan tempat wisata lebih sepi.


Aku sih pengennya berangkat pagi, biar lebih sepi baik di jalan maupun di lokasi. Pas cek ke medsos-nya Dusun Semilir, eh ternyata mereka baru buka jam 09.30 pagi. Dari medsos mereka juga aku menyimpulkan bahwa Dusun Semilir ini semacam tempat makan.

Oke baik. Berarti besok jangan kenyang-kenyang dulu pas berangkat ke Dusun Semilir. Kalo bisa start jam 8 pagi dari Semarang biar nggak kesiangan.

Waktu tempuh Semarang-Bawen cuma setengah jam via tol Semarang-Bawen dan 1 jam via jalan biasa.

Kami memutuskan lewat jalan biasa, Dari Semarang lurus aja ke arah Ungaran lanjut ke Bawen. Pas di Ungaran kami udah nyalain google map dan mohon petunjuk jalan. Pas mau nyampe Bawen, eh tiba-tiba di arah kanan jalan kami lihat ada ...

Bangunan unik berbentuk sarang burung raksasa.


Bangunan sarang burung raksasa

Yaelah, ternyata Dusun Semilir ini letaknya persis di pinggir jalan gedhe. Lokasinya sebelahan dengan Hortimart dan sangat eye cathcing, jadi nggak mungkin terlewatkan. 

Btw, Hortimart itu tempat jualan sayur dan buah yang seger-seger, kebun buah dan sayur, dan ada tempat makannya juga. Jalan-jalanku ke Hortimart pernah aku tulis di Piknik Asik ke Hortimart.

Kalau lewat tol Semarang-Bawen, begitu keluar GT Bawen, belok ke kanan dan ambil jalan ke arah Semarang. Ntar bangunan unik Dusun Semilir yang eye catching ini ada di kiri jalan.

Parkiran luas dan tarif flat!


Parkirannya luas banget dan masuknya enak. Tarif parkirnya juga flat. Rp. 5,000 untuk mobil dan Rp. 2,000 untuk motor. Untuk sepeda kurang tahu deh. Tarif parkir flat ini penting banget, jadi nggak keblondrok cuma buat bayar parkir.

Kami sampai di Dusun Semilir sekitar jam 9.20. Gilanya, di luar udah banyak orang ngantri mau masuk. Wew,, yang mau datang lebih pagi nggak cuma aku doang. Ya, jam 9 juga nggak pagi-pagi banget sih.

Tiket masuk Rp. 5,000 per orang.


Tepat jam 9.30 gerbang pun dibuka. Begitu masuk ada antrian lagi untuk nunjukin tiket. Ya, ada tiket masuk untuk masuk ke Dusun Semilir. Murah banget, cuma Rp. 5,000 per orang.

Udah bisa masuk, antrian masih ada lagi. Kali ini antri untuk beli kartu dan isi saldo. Jadi, kalo makan dan jajan di Dusun Semilir, pembayarannya menggunakan sistem tap kartu. 

Sistem pembayaran pake kartu. Isi saldo secukupnya. Kalo sisa bisa refund.


Untuk pembelian kartu pertama kali Rp. 50,000 dengan nominal saldo Rp. 40,000. Kalau saldo di kartu masih bisa, saldo masih bisa digunakan sampai 30 hari ke depan. Kartu dan sisa saldo juga bisa di-refund dalam bentuk uang cash.

Nggak cuma tempat makan.



Begitu masuk ke area dalam Dusun Semilir, aku disambut dengan pohon besar yang jadi pusat perhatian. Pohon besar itu nggak cuma jadi spot foto, tapi jadi semacam aliran sirkulasi udara yang membuat Dusun Semilir beneran silir, atau bahasa Indonesianya, sepoi-sepoi.

Ada spot untuk jualan oleh-oleh makanan.



Kami lanjut menyusuri sisi sebelah kanan. Di sana ada berbagai makan jajanan untuk oleh-oleh. Mulai dari keripik, dodol, coklat, ada semua deh. Kalau belanja di tempat oleh-oleh ini bisa pakai uang cash. Saldo kartu masih aman.

Area jembatan dan pondokan dengan aneka jajanan.




Kami lanjut jalan ke area jembatan. Bangunan jembatan ini unik, nggak ber-AC. Bentuknya mirip sarang raksasa yang terbuat dari bambu yang dianyam. Angin masuk begitu aja, udaranya sejuk, dan kita bisa lihat gunung-gunung yang mengeliling Dusun Semilir.

Di area jembatan ini ada banyak pondok-pondok yang ternyata jadi tempat jualan jajanan, semacam cilok, tahu goreng, sosis bakar, dsb. Sayangnya pas kemaren aku ke sana, belum semua pondok buka.

Coba ada jajan pasar juga, komplit banget ntar.

Sistem pembayaran untuk beli jajan.


Salah satu pondok juga jadi tempat untuk top up saldo di kartu. Sayangnya, sistem pembayaran via kartu mereka belum canggih. Jadi kalau beli jajan: pesen jajan di pondokan - dapat nota - tap di pondok top up - dapat bukti bayar - balik lagi ke pondokan untuk ambil jajan

Nggak efisien banget kan. Coba kalo sistem pembayaran dipotong jadi pesen jajan di pondokan - tap bayar di pondokan - ambil jajan.

Semoga sistem pembayaran ke depannya lebih baik ya.

Food court. Aneka makanan khas Semarang kayaknya bakal ada di sini.


Kalau jalan terus ke arah belakang, maka akan ada food court besar. Desain food court Dusun Semilir ini juga asik banget. Ada banyak ornamen kayu di sana-sini. Masih mengandalkan sirkulasi udara Bawen yang sejuk. Ada juga ornamen tanaman, cuma kebanyakan pakai tanaman imitasi. Mungkin ribet di bagian pemeliharaan kali ya.


Sayangnya, pas aku ke sana, belum semua tenant buka. Padahal sepertinya food court di Dusun Semilir ini punya aneka kuliner khas Semarangan.

Ibuku pengen pesen tahu bandungan, eh ternyata tahu belum datang karena kena macet. Btw, istimewa sih sampe tahu bandungan mau buka cabang di salah satu tenant di Dusun Semilir. Tahu bandungan asli yang enak dulu cuma buka di satu tempat aja, di Bandungan, depannya Wisma Elika.

Nah kalo di food court pembayaran bisa dilakukan dengan tap kartu di masing-masing tenant. Sistem pembayaran di food court praktis dan nggak seribet di pondokan jajanan.

Dusun Semilir dengan arsitektur yang bikin silir.


Meskipun hari itu Dusun Semilir penuh dengan orang, tapi kami nggak merasa sumpek sama sekali. Desain bangunannya emang oke sih. Berasa sumuk atau cium bau badan orang juga nggak. Keren lah.



Di Dusun Semilir juga ada semacam departement store yang jualan barang-barang khas seperti pakaian batik, printilan dekorasi dari kayu, souvenir, dan sejenisnya. Harganya juga masih harga normal lho, nggak dimahal-mahalin.

Instagramable. Photogenic. Eye catching.


Yang jelas Dusun Semilir ini sangat sangat memanjakan mata, dan tentu saja bikin pengen foto di sudut sana sini yang emang photogenic.

Baliknya kami pilih ngembaliin kartu dan ambil saldo yang tersisa. Berhubung saldo kartu cuma terpakai Rp. 22,000 untuk beli gado-gado di food court, kami dapat refund Rp. 28,000. Aku ingetin lagi ya, tadi beli kartunya Rp. 50,000 dengan saldo Rp. 40,000. Nggak rugi kan.


Nah, buat kamu yang juga penasaran mau ke Dusun Semilir, datang aja. Cuma mungkin, belum semua tenant makanannya buka. Dusun Semilir ini juga belum full buka. Rencananya bakal lebih banyak atraksi seru di Dusun Semilir.

Aku juga punya video blog dari hasil jalan-jalan ke Dusun Semilir ini. Cek aja di tulisanku yang berjudul Dusun Semilir, Tempat Instagramable Baru di Semarang. A Video Blog.

Terima kasih ya udah main ke www.dinilint.com dan baca artikel ini sampai habis. :)
Sampai ketemu lagi.

Dinilint

24 komentar:

  1. Tempatnya bagus tapi sayang rame banget ya mbak, aku suka sebel kalau ramai gitu, ga bisa puas foto2 hahahhaa

    BalasHapus
  2. Waaah liburan lebaran kemarin lewat Bawen. Tapi nggak ngerti tempat ini. Makanya nggak mampir. Padahal tiket masuknya murah yaa. Banyak spot kece juga ya.

    BalasHapus
  3. Tadinya kupikir desa beneran. Ternyata tempat wisata buatan. Menarik juga konsepnya. Tapi mungkin cuma ramai pas libur dan weekend aja ya? Kalau dari deskripsi di atas, masih baru juga ya? Belum terisi penuh tenantnya.

    BalasHapus
  4. Asli aku sukak sama arsitektur bangunanya asik banget dan kekinian yaah hehe. Btw, aku kok ngakak yaa pas baca "Ibu ku pesen tahu Bandungan tapi belum ada karena kena macet wkwk. Ada-ada ajaa yah wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih tahu. Tahu bandungan yg ini cuma bisa didapap kalo ke Bandungan aja. Jadi kan langka. Pas tahu ada di sini, udah happy nih. Eh tahunya nggak jadi dapet karena tahunya kena macet. Semacam kena php gitu. Hiks.

      Hapus
  5. Mungkin maksud kamu "sangkar burung" kali ya, bukan "sarang burung".

    Bawen dan Ungaran ini pernah rutin kulewati saat pulang kampung ke Jogja dari Bandung dan sebaliknya di bangku kuliah. Waktu itu aku langganan bus Bandung Express. Selain karena bisa naik langsung dari kawasan kampus di Jatinangor (kab. Sumedang), saat itu perkeretaapian kita juga belum sebagus sekarang. Selain itu aku pernah beberapa kali retreat di Salatiga dan rumah salah satu temenku ada di Bawen. Pernah mampir ke sana.

    Tiket masuk dan ongkos parkirnya murah bangeeettt! Nggak kayak tempat wisata kekinian lainnya di Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iyaaaa.

      Makasih koreksinya ya.

      Aku baru tahu nih, kalo rute Bandung - Jogja tetep melewati Bawen dan Ungaran. Aku pikir lewat jalur lintas selatan.

      Yes, tiket parkir dan tiket masuknya murah banget. Nggak perlu mikir dua kali karena tiket dan nggak perlu pusing kalau lama-lama di sini.

      Hapus
  6. Waaa cakep banget sih bentuk bangunannya. Unik gitu
    Itu serius tiket masuknya hanya 5K/orang. Kok murah sekali ya. Keren ih
    Itu semua bangunannya terbuat dari bambukah? Alami sekaliii

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak semuanya sih mbak, tapi emang nuansa alaminya berasa banget.

      Iya nih murah. Coba main ke sana mbak.

      Hapus
  7. Kesan saya sih, "Arsiteknya niat banget". Tapi bangunan bentuk sangkar burung gini kalo dipikir-pikir kok biasa aja lama-lama. Mungkin cuman untuk menarik perhatian doang. Sebetulnya yang lebih penting bagian dalamnya sih. Harus dipikirin apakah orang masuk ke sana sungguhan mau belanja atau cuman mau selfie-selfie doang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.

      Nggak papa kali mbak kalau ke sana cuma butuh selfie. Yang bikin juga udah niat banget bikin bangunan super cantik begitu untuk spot foto juga. Toh, sekarang trend-nya lagi ke arah ambil foto dan video dan bagi-bagi di medsos.

      Yang penting sih nggak merugikan orang lain mbak. Mereka kan masuknya juga bayar.

      Hapus
  8. Serius itu strukturnya semua dari bambu? Keren abiiiis...Bambunya besar² pasti. Hmmm...tapi blm tahu juga ya kena hujan-panas terus menerus. Mudah²an tetap dijaga & diganti kalau lapuk...

    BalasHapus
  9. Aku kira awalnya Bawean, taunya Bawen 😅
    Bagus banget sih konsep dusun semilir ini. Cuma yang aku ragu itu ketahanan bambunya. Kalau nggak tahan lama, berarti harus ajin ganti bambu gitu ya?

    BalasHapus
  10. awalnya pas baca judul aku kira bentuknya 'sarang' yang biasa foto sambil duduk gitu. tapi eh ternyata bukan.

    btw itu tarif parkir sama tiket masuknya sumpah murah banget. kadang kan kita liburan gk puas gegara takut jebol parkir. lah ini flat? demi apa. semoga kenyamanan tetap terjaga ya walaupun flat

    food courtnya fresh banget ya desainnya. jadi seru makan di tempat semi terbuka gitu.

    BalasHapus
  11. Padahal pas liburan lebaran lalu aku sekeluarga ke Semarang dll loh. Tapi ga tau ada Desa Semilir ini :( Tempat wisata kuliner dan foto2 yang bagus banget ya meskipun masih banyak tenant belum buka :) Muraaah banget HTM nya 5K hihihi. Zaman sekarang emang deh kalo resto2 gitu sistem pembayarannya pake kartu ditap2 gitu, udah modern sih. AKu suka desain interiornya banyak lampu2 ala sangkar burung. Unik, indah jadi betah berlama2 makan dan istirahat di sana. Mau coba pas lagi bukan musim liburan ah kali aja sepi hihihi :D

    BalasHapus
  12. Et dah kak Dini kenapa selfie nya melas gitu hihi..

    Dari jauh sangkar burungnya raksasa gitu ya, pas ke dalam nya bikin berkesan suasana

    BalasHapus
  13. Konsep baru untuk membuat sebuah desa menjadi tempat wisata dengan mengandalkan potensi yang ada disekitar tempat tersebut. Ini patut dijadikan bahan kajian banyak pihak termasuk kementerian terkait (Kemenpar atau Kemendesa)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lho kak,, baru baca judulnya aja yaaa.

      Aku jadi bingung nih baca komennya.

      Hapus
  14. Rame aja. Tetapi, gak heran karena lagi musim liburan. Apalagi tempatnya masih baru, ya :)

    BalasHapus
  15. Bentuk bangunan sarang burungnya memang bikin penasaran sih, bahan bangunannya juga ramah lingkungan dan pasti adem banget makanya biarpun penuh pengunjungnya tapi ga berasa sumuk ya mba

    BalasHapus
  16. Tempatnya unik banget...Tiketnya murah juga ih..wajar kalo rame ya..heheh...Nambah lagi deh wishlist Jateng...

    BalasHapus
  17. Wow unik banget... Cakep ih. Kayanya kalau saya ke sini, bakal betah deh motret sana sini..Tarif masuknya murah lagi.

    BalasHapus
  18. Cakep banget, ini masih baru ya mbak tempat wisatanya? Berarti enggak jauh dari Semarang ya?
    Asyik banget belanja pakai kartu dan masih bisa refund, jd tetep gak rugi ya mbak. soalny ada yg isi kartu tapi bikin kita wajib membelanjakan sejumlah itu :D

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)