Senin, 02 September 2019

Pengalaman Ikut Kirab Pusaka di Keraton Kasunanan Solo

Malam satu suro.

Bukan, post kali bukan untuk membahas hal-hal horor atau semacamnya. Tapi aku mau menceritakan tentang ritual malam satu suro yang aku ikuti untuk menyambut tahun baru Muharram tahun ini.Aku ikutan kirab pusaka di Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat.
Sekali lagi, nggak ada horornya. 


Eh, ada dikit sih.


Aku nggak pernah merayakan tahun baru Muharram sepanjang hidup, tapi ketika Koko nawarin untuk ikutan kirab di malam satu suro, aku langsung mengiyakan. Aku selalu suka dengan petualangan baru yang seru. Apalagi kalau ikutan kirab di malam satu suro, aku berkesempatan untuk masuk ke area Keraton Kasunanan Solo Hadiningrat.

Di Solo sendiri tradisi Kirab Pusaka sudah berlangsung sejak lama sekali. Berhubung ada dua keraton di Solo; Keraton Kasunanan dan Keraton Mangkunegaran, jadi acara kirab pusakanya juga ada dua macam.

Ikut kirab pusaka, harus pakai kebaya, jarik, dan konde


Untuk ikut kirab pusaka, aku harus mengenakan pakaian adat. 
  • Untuk putri pakaian adatnya berupa kebaya warna hitam, jarik batik solo, kendit (semacam sabuk super panjang yang dililit berkali-kali di perut), samir, bros keraton, dan rambut dikonde. 
  • Untuk putra pakaian adatnya berupa beskap warna hitam, jarik batik solo, kendit (ukurannya lebih besar daripada untuk putri), ada sejenis kendit bercorak (bisa motif kembang/bunga atau jumputan, sabuk, keris, samir, bros keraton dan blangkon.
Pakaian adat jawa sesuai pake keraton Solo

Ternyata nggak gampang buat pake pakaian tradisional sesuai pakemnya. FYI, kami memakai pakaian adat kami sendirian, tanpa bantuan ibu-ibu salon atau semacamnya. Hal paling memakan waktu adalah saat memasang konde. Well, konde ini harus dipakai karena memang pakemnya begitu. Kalau aku sih pengennya cuma uwel-uwel rambut aja *baca: dicepol aja.

Benerin konde biar tetep bertahan di tempatnya

Drama pemasangan konde ini adalah konde nggak simetris, konde nggak nempel di rambut, jepit biting terasa menusuk-nusuk kulit kepala, konde seakan mau jatuh dari kepala, kena semprot hair spray yang menimbulkan sensasi pahit di bibir, dan aneka drama-drama perkondean lainnya.

Selesai dengan konde, kami harus berjuang pakai jarik. Sesuai pakem, jarik ini harus diwiru dan wirunya harus benar-benar simetris berada di tengah. Kamu tahu kan, kalau tubuh manusia itu penuh dengan lekukan. Bagaimana caranya membuat wiru bertahan di tengah, padahal jarik harus digulung menutupi seluruh tubuh bagian bawah. Cuma Koko lah yang paham bagaimana caranya. Meskipun aku, Kuncrit, Lee, Diko, dan Cus berusaha pakai jarik sendiri, tapi tetap remidi dan harus dipakaikan lagi oleh Koko.

Nggak sesuai rencana


Akibatnya, prediksi waktu kami molor malam itu. Ini nih yang agak horor. Kami seharusnya sudah berangkat ke keraton jam 7 malam, tapi baru selesai dengan segala macem cara berpakaian pakem adat keraton solo jam 8 malam. Kalau kami terlambat sampai ke keraton, bisa-bisa gerbang sudah ditutup dan kami batal ikut kirab pusaka, padahal udah pake konde. Oh no!

Saat kami keluar, jalanan sudah penuh. Mobil yang kami tumpangi agak tersendat. Jalanan Kota Solo juga cenderung sempit. Di satu persimpangan ada bapak yang menggebrak mobil karena merasa tidak mendapat jalan. Duh.

Singkat  cerita, kami sampai di area keraton. Mobil-mobil sudah penuh di parkiran. Thank God, kami masih dapat tempat untuk parkir. Mulai dari sini kami sudah tidak pakai alas kaki.

Abdi dalem


Kami memang ceritanya jadi abdi dalem. Seragam abdi dalem itu ya memang nggak pakai alas kaki. Eh, tapi emang untuk kirab pusaka ini pakemnya tidak pakai alas kaki.

Saat masuk ke bagian keraton, aku agak deg-degan. Aku takut berulang dan bertingkah yang tidak sesuai dengan tata krama keraton. Aku pun lupa aku masuk dari pintu mana. Yang jelas pintu keraton itu super besar dan kayunya sangat kokoh.

Masuk keraton


Pertama masuk, aku melihat ada banyak orang sedang memasak. Sepertinya ini bagian dapur. Lalu lanjut berjalan lagi, melewati beberapa ornamen yang cantik, dan akhirnya tiba di tengah keraton, yang ada pasir pantainya.

Suasana di dalam keraton menjelang acara kirab pusaka

Di satu sisi, orang-orang banyak yang sembahyang sambil membawa dupa. suasana antara syahdu dan gembira. Aku merasa orang-orang sedang bergembira, sedang berpesta, tapi dalam suasana yang tenang dan syahdu.

Orang-orang yang berdoa

Kami hanya duduk anteng (*baca: diam, nggak banyak bicara) di area keraton yang diperbolehkan. Jadi ada beberapa bagian yang nggak boleh kami, rakyat jelata injak. Ada beberapa aturan keraton semacam kalau Sinuhun (raja) akan lewat, kaki kami nggak boleh menyentuh pasir padahal bokongnya sedang duduk di joglo dan hal-hal semacam itu.

Suasana hening tapi happy menjelang kirab pusaka di dalam keraton

Malam makin larut, dan para Gusti (bangsawan) melakukan pembagian kembang melati. Kembang melati ini ada yang berbentuk kalung, ada yang berbentuk rantai pendek yang dipasang di telinga dan disebut sebagai gajah ngoling. Konon gajah ngoling ini memberikan kekuatan untuk para pembawa pusaka.

Kirab pusaka


Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu tiba, jelang tengah malam. Para pembawa pusaka, gusti-gusti, tamu, dan abdi dalem bersiap untuk melakukan kirab. Kirab sendiri adalah jalan kaki menggiring pusaka keraton. Tahun ini ada 9 pusaka yang dikirab.

Kebo bule memimpin kirab pusaka
Foto dari Pariwisaata Solo

Pemimpin kirab pusaka ini adalah kebo bule. Kebo-kebo bule ini tidak dipasang tali, tidak dicucuk hidungnya, mereka berjalan sebagai kebo yang merdeka dari siksaan manusia. Anehnya, kebo-kebo ini tahu lho rute jalan mereka.

Jadi urut-urutan prosesi kirab di Keraton Kasunanan Solo adalah kebo bule sebagai pemimpin, yang diikuti oleh pusaka pertama, pusaka kedua, hingga pusaka ke-9. Masing-masing pusaka diikuti oleh para gusti, tamu, dan abdi dalem.

Berjalan sekitar 8,7 km di tengah malam, tanpa alas kaki


Rutenya sendiri mengelilingi Kota Solo sejauh kurang lebih 8,7 km. Kirab pusaka dimulai saat tengah hari, entah apa maksudnya, mungkin saat-saat memasuki tahun baru. Entah mengapa tahun ini kami berjalan cepat sekali. Kami mengikuti ritme perjalanan si kebo bule.

Sepanjang jalan ada janur untuk petunjuk arah, tapi tetap yang mengarahkan jalan adalah para kebo bule. Kami dilarang berbincang sepanjang kirab. Lampu-lampu di sepanjang rute kirab juga dimatikan, supaya tetap gelap.

Jujur aja, sebenarnya aku ingin menyerah di tengah-tengah perjalanan. Berjalan tanpa henti sejauh 8,7 km, tanpa alas kaki, tengah malam, lumayan bikin aku mikir juga. Tapi toh aku tetap jalan. Semua orang di kanan kiri depan belakang nggak ada yang menyerah lho. Bahkan kebanyakan sudah sepuh (*baca: lansia). Rasanya energinya berbeda.

Kami sampai kembali di keraton sekitar jam 2 pagi. Rasanya senang bisa berhasil kembali ke keraton. Untuk mengabadikan momen langka -pake sanggul, berkebaya dengan pake keraton Kasunan Solo, dan berada di dalam keraton- kami foto-foto. Ya, boleh banget untuk foto-foto di keraton, asal sopan dan nggak naik ke tempat Gusti dan Sinuhun. Maklum, masih rakyat jelata.

Kami juga kebagian kembang yang dipercaya membawa rejeki. Bahkan saat pulang diberi bekal lemper. Kebetulan, kami juga lapar.

Pagi itu kami tidur dengan super nyenyak. Aku sendiri senang bisa jadi bagian dari kebudayaan Jawa yang masih ada hingga saat ini. 

Handiko, Koko, Dinilint, Lee, Kuncrit, Kuspriyatna

Terima kasih untuk teman seperjalanan kali ini; Koko, Diko, Kuncrit, Cus, Lee.
Terima kasih untuk kamu yang sudah datang ke www.dinilint.com dan baca artikel tentang Kirab Pusaaka di Keraton Kasunanan Solo ini. Sampai bertemu lagi!

Dinilint

21 komentar:

  1. Pasti pengalaman yang menyenangkan mengikuti acara Kirab Pusaka di keratom Solo, kalau belum terbiasa berjalan 8,7 KM pasti lelah yah mba

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sempet ngerasain nyut-nyutan pas jalan, merasa nggak sampe-sampe, dan ragu sama diri sendiri. Tapi energinya luar biasa kak, aku tetep jalan meski sambil ngantuk-ngantuk bareng ratusan orang -dan banyak yang lebih tua dari aku- dan berhasil balik ke keraton.

      Hapus
  2. Astagaaaa.. Dinii..keren sekali kamu ikutan kirab itu. Kusangka hanya asisten-asistennya Sunan aja yang boleh ikut kirab. Kok bisa sih, Din? Kalo orang lain pingin ikutan juga, caranya gimana? Eh itu sambil marching boleh bawa HP nggak sih?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak.
      Temenku ada yang abdi dalem, jadi aku bisa ikutan, dengan persetujuan dari pihak keraton tentunya.
      Sebenernya ada tamu-tamu yang bisa ikutan kirab pusaka, tapi prosedurnya gimana aku kurang paham. Mungkin undangannya para Gusti (bangsawan keturunan keraton) yang bisa mengundang.
      Saat kirab boleh bawa HP, yang nggak boleh berisik. Kemarin ada yang berisik sambil live, eh pas di tengah jalan jatuh sendiri sampe jariknya sobek.

      Hapus
  3. eh mbak, boleh ikut to?? keren ini pingin ikut kalau boleh.

    masih penasaran juga sama kebo bulenya itu, sejarahnya seperti apa sih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebo bule ini merupakan hadiah dari Bupati Ponorogo kepada Sunan Pakubuowono II sebagai hadiah karena telah berhasil memindahkan Keraton Kartosuro ke Keraton Surokarto mas

      Hapus
  4. wahhh seru juga ya mbak acara adatnya masih cukup kental dan dilestarikan sampai saat ini.

    btw Kebo Bule itu Kebo yang berasal dari luar negeri mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kebo bule disebut bule bukan karena berasal dari luar negeri, tapi karena si kebo albino, jadi seluruh tubuhnya putih (seperti orang kaukasia yang berasal dari luar negeri)

      Hapus
  5. Aku di Semarang kamu di Solo. Aku di Solo kamu di Semarang wkwk
    Ini seru yah apalagi kalo ada ceritta horrornyaa ehehehe. Btw, besok aku ke Solo loh wkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ish,, aku ke Jogja kamu sibukkk.
      Kalo di aku nggak jadi horor,, setannya nggak minat.

      Hapus
  6. Padahal menantikan cerita horornya wkwkwk *ter-KKN Desa Penari

    Tapi ternyata syahdu yang penuh makna ya, aku pikir beneran yang penuh horor dan misteri gitu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mbaaakkkk,,,

      Gimana mau horor, orangnya rame banget begitu.
      Ya mungkin campur baur ya nggak cuma orang aja yang ada di situ.

      Yang jelas syahdu sih mbak.

      Hapus
  7. lumayan jauh juga ya mbak rute jalannya. Tapi ada pengalaman horor ngak mbk pas pejalanan kirabnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Horornya itu di bagian mesti terus jalan kaki, padahal badan ini udah ngantuk berat. Hahaha.

      Tapi aku berasa di satu titik aku jalan sambil tidur. :p

      Hapus
  8. Diniii. Keren banget bisa ikutan kirab seperti ini. Semuanya serba detail Tak boleh salah.karena sudah Ada pakkemnya ya

    BalasHapus
  9. Whoaaa asik banget nih ikutan kirab pusaka! Aku 18 tahun tinggal di Jogja nggak pernah ikutan wkwkwk. Kalo di mataku sih kesannya mistis mistis gitu, Din :D
    Jauh juga ya jaraknya, 8.7 km. Sama kayak Bandung dan Jogja, jalannya kecil-keciiilll.

    Salam ya buat Kus dan si kembar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya nih, untung dapat pengalaman seru begini.
      Sebelum jalan aku nggak mau nanyain berapa kilo. Setelah semua selesai baru nanyain, eh ternyata aku kuat juga yaa :D

      Hapus
    2. Jangan cuma salam dong, sini ke Semarang biar ketemu mereka.

      Hapus
  10. apa kabar dengan telapak kaki setelah jalan nyeker 8 kilo?
    kesempatan langka banget bisa ikut kirab... di barisan ya, bukan cuma nonton...
    beruntung banget deh Din

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes, beruntung aku kak dapat pengalaman seru begini.
      Kaki tetep sehat dan bebas lecet, cuma jadi item banget dan mesti digosok biar balik seperti sedia kala. Hehe.

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)