Minggu, 19 Agustus 2018

LOB di Taman Nasional Komodo, Flores, NTT

Bisa merasakan living on board selama 4 hari 3 malam di Taman Nasional Komodo, Flores, NTT adalah salah satu my lifetime experience, pengalaman berkesan yang akan aku ingat-ingat sepanjang aku hidup. Aku sudah memasukkan LOB ke dalam bucketlist-ku sejak beberapa tahun yang lalu. Tahun ini aku berhasil mewujudkan impian untuk mengarungi lautan Flores yang luar biasa. Meskipun tinggal di laut selama 4 hari 3 malam, tapi rasanya masih kurang aja. Pemandangan alam di permukaan laut, bawah laut, hingga pulau-pulau di TN Komodo yang eksotis membuat aku nggak pernah bosan selama LOB. Perjalanan LOB ini dimulai dari Lombok, menjelajah laut dan pulau-pulau di Taman Nasional Komodo Flores, dan berakhir di Labuan Bajo.


Highlight of the #komodotrip is meeting the komodo dragon

Sebelum membaca ceritaku tentang pengalaman living on board di TN Komodo, Flores, NTT, ada baiknya kalian juga baca cerita sebelumnya tentang awal perjalanan LOB-ku yang dimulai dari Labuan Lombok, mampir ke air terjun bertingkat di Pulau Sumbawa, dan terombang-ambing di laut selama 18 jam di Living On Board 4 hari 3 malam: Lombok - Labuan Bajo.

Epic

Setelah kapal kami berhasil melewati badai sepanjang malam, akhirnya kami sampai juga dengan selamat di Flores. Yeay. Kami disambut dengan pulau-pulau indah berwarna coklat kekuningan di sepanjang perjalanan. Aku suka banget dengan tone warna pulau kering dan laut biru yang menyatu dengan langit cerah berwarna biru. Epic

Gili Lawa


Pemberhentian pertama hari ini adalah Pulau Gili Lawa. Kami beruntung masih bisa menikmati Pulau Gili Lawa yang indah sebelum ada orang bodoh yang membakarnya demi kepentingan foto pribadi. Pada saat kami datang, beberapa hari sebelum peristiwa kebakaran di Gili Lawa, pulau ini sedang kering-keringnya. Meskipun kering, tapi keindahan Gili Lawa luar biasa. Aku suka sekali dengan tone alami yang dihasilkan dari warna kuning yang terdapat pada warna rumpur kering di seluruh pulau ini. Nah, rasa-rasanya melihat daun kering begini, apabila ada yang membawa biang api sedikit saja, seperti rokok atau kembang api, apalagi api unggun, jelas tidak butuh waktu lama untuk membakar pulau cantik ini, ditambah angin bertiup sangat kencang di Gili Lawa, jadi mudah saja untuk membawa api ke seluruh pulau. Duh, bikin sedih deh ngomongin peristiwa ini.

Yeay. Gili Lawa I'm coming

Daripada sedih, aku mau berbagi serunya menjelajah Gili Lawa aja ya. Kami sampai di Gili Lawa lumayan pagi sekitar jam 9-10, tapi sinar matahari rasanya sudah lumayan terik. Beberapa teman bule pilih langsung nyebur ke air dan berenang untuk menuju ke pinggir pantai. Kalau aku sih menunggu giliran naik ke atas kano untuk diantar menuju pinggir pantai. Untuk menikmati Gili Lawa secara maksimal kami harus trekking naik ke puncak. Katanya pemandangan dari atas puncak Gili Lawa sungguh sangat amazing. Perjalanan naik ke puncak Gili Lawa nggak tanggung-tanggung sih. Kami harus mendaki jalanan curam berbatu bersama ratusan pendatang lainnya. Nah disini aku sering melihat banyak orang-orang lokal yang terengah-engah dan memilih untuk balik turun ke bawah di tengah perjalanan. 

Belum nyampe puncak aja pemandangannya udah kaya gini

Jalan menuju puncak Gili Lawa emang nggak ada jalan bonus, semuanya nanjak malah cendrung manjat. Nggak ada tu tangga macam di Pulau Padar, semuanya masih alami dan menantang. Kalau ketemu temen-temen bule mereka malah cenderung separuh berlari untuk cepat-cepat sampai di atas. Guide kami berkali-kali berkata, "Kalau nggak kuat nggak usah dipaksa, nih dari sini aja udah kelihatan cakep kan?" katanya ketika kami sudah separuh jalan. Bener aja, saat kami menoleh ke arah laut, pemandangan bak di foto-foto fotografer yang bagus-bagus tentang laut dengan gradasi biru yang komplit dengan foreground rumput kuning terpampang di depan mata. Indah banget. Hal ini membuat aku semangat untuk menuju puncak. Kalau di bawah aja seindah ini, di atas kaya gimana.

Puncak Gili Lawa

Benar aja, perjuangan mendaki di bawah terik matahari ini nggak sia-sia. Aku berhasil sampe atas dan ndomblong. Ndomblong itu adalah bahasa Jawa daru terperangah alias nggak bisa berkata-kata dan cuma bisa ngowoh, mmmm isitilahnya apa ya,, sejenis amaze, mulut sedikit ternganga, dan mata membuka lebar, berusaha merekam sebanyak-banyaknya memori pemandangan dari atas Gili Lawa melalui mata dan rasa. 

Thank you Gili Lawa

Melihat pemandangan alam dari puncak Gili Lawa rasanya seperti masuk ke dalam dunia Doraemon dimana semuanya serba indah dan sempurna. Perfecto. Ya meskipun buat beberapa orang suasana saat itu nggak sempurna. Coba bayangin kamu berada di puncak bukit gersang saat matahari sedang membakar kepala. Tapi aku justru orang yang menikmati hal-hal semacam ini, nggak tiap hari kan disguhi pemandangan istimewa di depan mata dengan cuaca cerah dan sinar matahari yang nggak bikin gerah karena sepanjang perjalanan angin laut bertiup tanpa mendesah. Satu tips yang perlu kalian ingat kalau mau menikmati momen seperti ini adalah dengan menggunakan kostum yang benar. Pakai aja baju yang tipis, menyerap keringat, dan nggak bikin gerah. Inget untuk selalu membawa topi untuk melindungi kepala dan kacamata hitam untuk melindungi mata. Hindari pake baju berlapis yang justru bikin berasa kepanasan dan membawa keribetan karena angin lautnya lumayan kenceng. Buat aku angin laut adalah sahabat. Angin ini menambah perfect suasana, udara tropis yang hangat berpadu dengan angin laut adalah dan kelembaban udaara yang pas menghasilkan suasana yang menyenangkan.

Manta Point


Puas menikmati daratan, kami pun nyebur ke laut menikmati laut dan pemandangan seru yang akan menyambut kami disana. Kami nyebur di Manta Point. Bagian seru pertama adalah aku bisa lompat dari atas dek kapal ke laut lepas. Cobain deh,, sensasinya beda banget dibanding nyeburnya pake tangga atau cuma lompat dari pinggir kapal. Air laut saat itu adem, pas banget dengan panasnya udara di atas. Kalau beruntung kami seharusnya ketemu manta, tapi hari itu keberuntungan kami adalah dengan bertemu banyak ikan-ikan lucu yang berenang kesana kemari. Pemandangan bawah laut disini emang menyenangkan dan bikin males pulang. Konon TN Komodo adalah salah satu spot terbaik untuk menyelam. Berhubung belum bisa menyelam, aku cukup menikmati juga snorkeling di permukaan.

Let's get wet

Pulau Komodo


Agenda selanjutnya adalah berkunjung ke Pulau Komodo untuk bertemu komodo. Haha,, nggak lengkap rasanya kalo pergi ke TN Komodo tapi nggak ketemu komodo kan? Ini udah pernah aku lakukan beberapa waktu lalu, bukannya mengunjungi komodo di Pulau Komodo atau Pulau Rinca, saat itu aku malah pilih tinggal di salah satu pulau tidak berpenghuni di area TN Komodo. 

Komodo di balik pohon

Kali ini aku berkesempatan untuk bertemu komodo di habitat aslinya. Kami memilih di Pulau Komodo yang menghabiskan waktu kira-kira 1,5 jam. Selama jalan-jalan di Pulau Komodo kami bertemu beberapa komodo, dari mulai komodo kekenyangan yang cuma bisa tidur, komodo males yang males-malesan trus berhubung males dilihatin dia mlengos dan jalan buat cari tempat untuk ngumpet, juga ada bonus ketemu komodo lagi jalan-jalan di pinggir pantai. Sesungguhnya sepanjang perjalanan di Pulau Komodo kami dikawal oleh ranger. Satu ranger untuk lima orang. Nah, pas udah tinggal pulang menuju dermaga, say goodbye dengan para ranger yang orang asli komodo, dan kami masih leyeh-leyeh di pantai, tiba-tiba si komodo dengan santainya jalan ke arah kami. Kami pun panik dan berhamburan menjauhi si komodo. Aku sendiri panik dan berpikir kenapa babang ranger yang baik hati kok hilang dari hadapan. 

Hello human!

Thank God, si komodo nggak ada niat sama sekali mendekati manusia, dia cuma mau jalan-jalan doang seperti kami juga jalan-jalan di pantai di Pulau Komodo. Guide kami cukup sigap juga melihat si komodo yang jalan-jalan sendirian dan bikin panik. Dia ambil tongkat bercabang dua untuk jaga-jaga dan aku pun pilih lari ke belakang si bapak guide. Si komodonya emang nggak ada niat untuk deket-deket ke manusia, tapi alangkah baiknya untuk mencegah sesuatu yang buruk kan ya. Komodo emang bukan binatang jinak, tapi asal kita nggak ganggu dan bersikap sopan saat berkunjung ke rumahnya, si komodo juga akan baik-baik sama kita. Namanya juga bertamu, kudu sopan dan terserah sang tuan rumah.

Pulau Kalong

Malam terakhir kami dikapal dihabiskan dengan tidur di perairan tenang di sekitar Pulau Kalong. Kalau beruntung kami bisa lihat banyak kalong atau kelelewar yang keluar dari gua untuk beraktivitas malam-malam, sayangnya kami belum beruntung malam itu. Tapi malam itu kami dapat suguhan beribu bintang di langit Pulau Kalong. 

Let's share the story

Malam itu nggak hanya kapal kami yang menghabiskan malam di laut, tapi ada beberapa kapal lain juga. Tetangga kapal yang lebih besar dan punya speaker bagus membagi lagu-lagunya untuk seluruh kapal yang bermalam malam itu. Suasana laut jadi berbeda. Malam itu beberapa di antara kami naik ke atas kapal dan saling berbagi cerita ditemani minuman dan cemilan. 

What a night

Ketika stok minuman dan snack sudah habis, tiba-tiba ada anak remaja dengan kapal kecilnya mendekat ke kapal dan menawarkan bir. Sayangnya dia cuma bawa bir bintang dengan botol besar yang dibandrol seharga RP 50,000. Coba dia bawa es krim dan kripik, lebih laris lagi nih anak. Si anak tersenyum gembira mendapati dirinya berhasil menjual beberapa botol di kapal kami. Dia juga laris di kapal lain dan untung lumayan. Kalau sudah habis semia dia akan balik pulang ke Labuan Bajo. Mungkin besok dia akan datang lagi kesini, berjulanan lagi dengan orang lain lagi di kapal yang lain yang juga sedang menikmati langit penuh bintang di sekitar Pulau Kalong.

Pink Beach

Paginya kami berlayar menuju Pink Beach. Pink Beach adalah salah satu spot yang aku tunggu-tunggu. Aku ingin membuktikan apa bener Pink Beach ini berwarna pink. Kalo menurut Pak Soni, guide kami selama LOB, namanya adalah Pantai Merah, tapi berhubung yang main kesini lebih banyak bule, namanya jadi diterjemahkan menjadi Pink Beach. 

It's real pink!

Agenda kami dari Pak Soni di Pink Beach adalah snorkeling. Koral di Pink Beach adalah salah satu yang terindah dan itu benar adanya. Selain koral warna-warni, ikan warna-warni juga berenang kesana-kemari. Maka dari itu, Pak Soni nggak menawarkan untuk mengantar ke pinggir pantai. "Kalau mau mantai ya berenang aja kesana." kata Pak Soni. Oke! Challenge accepted.

challenge accepted

Selain snorkeling di laut, aku pilih berenang ke pantai dan membuktikan kebenaran tentang warna pink di pantai itu. Saat matahari mulai bersinar lebih tinggi, warna pink dari pantai pun mulai lebih jelas. Warnanya emang beneran PINK! Omaigod, indah sekali. Belum lagi pasir pantainya sangat halus dan teksturnya jadi lebih mirip scrub yang biasa aku pakai untuk perawatan kulit, lembut tapi yaaa seperti scrub untuk perawatan kulit. Aku pun iseng pake scrub dari pasir pantai Pink Beack. Hasilnya kulit yang mendapat olesan pasir Pink Beach berasa lebih lembut. Is it my imagination or is it real? Buktiin sendiri deh.

Pulau Kelor

Pemberhentian terakhir kami adalah Pulau Kelor. Pulau Kelor ini adalah pulau dengan pasir super putih dengan pemandangan laut yang super indah. Kalau di Pulau Kelor yang seru adalah bermain-main dengan ikan warna-warni. Sayangnya ikan-ikan ini agak takut dengan kedatangan kami. Beberapa kali kaki dan pantatku digigit ikan. Ternyata aku berada di atas tempatnya menyimpan telur. Maaf ikan, aku nggak bakal ganggu telur-telurmu. Aku cuma mau snorkeling dengan santai dan menikmati setiap hamparan ikan dan koral penuh warna di laut.

White sand beach and good coral inside

LOB ku selama 4 hari 3 malam akhirnya berakhir. It's such wonderful experience to me. Semua hal menarik, hal menyenangkan, dan hal kurang menyenangkan aku simpulkan menjadi satu kata: AMAZING. Kalo diminta untuk mengulang keseruan LOB ini, aku nggak akan pikir dua kali dan pasti jawab mau. Thank God for this dan semoga semua orang yang datang dan menikmati alam di TN Komodo juga menjaga dan merawat alam ini, supaya semua orang bisa menikmatinya dengan bahagia. Aku menutup perjalanan LOB dari Lombok ke Labuan Bajo dengan mendarat di dermaga Labuan Bajo dengan selamat. Oh, terima kasih juga untuk Pak Soni dan kru kapal yang sudah mengantar kami ke tempat-tempat indah ini. Bayar satu setengah juta dapat pengalaman berharga ini luar biasa. See you.

See you!

Dinilint

8 komentar:

  1. GILAK, PARAAAAH IIIIH :')

    Daerah Tengah atau Timur sana itu sudah tidak bisa diragukan lagi deh ya wisata lautnya :'

    Lombok terkece banget sih ini. Suwer :'

    Tapi sekarang disana beberapa kali gempa ya, Mbak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yap. Bener mas.
      Yg di post ini aku udah bahas pas udah nyampe Flores,, cerita Lombok ada di post sebelumnya ;)
      Yah,, pas aku nulis ini Lombok lagi kena gempa sampe ratusan kali. Pray for Lombok, wish everything allright.

      Hapus
  2. Indaaahhhh huhu pengen kesana...

    Sedih bgt ya gili lawa kebakar :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sediiiiiih :(
      Semoga ini jadi bahan pembelajaran buat kita semua, semoga setelah ini dan di masa mendatang orang-orang lebih menghargai alam.

      Hapus
  3. Tjakev gela semoga bisa honeymoon kesana, aamiin😗

    BalasHapus
  4. astaga birunya laut dan pemandangan dari puncak Gili Lawa, duh bikin speechless Din.
    kepingin sekali jalan-jalan sore pas mau sunset di pinggiran pink beach apa lagi sama orng yg kita sayang ya, eh >.<

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)