Minggu, 14 Oktober 2018

Inle Lake, Myanmar. Boat Trip Seharian, Kehabisan Uang, dan Nggak Kebagian Bus Pulang.

Inle Lake masuk ke dalam daftar kota yang harus aku jelajah saat travelling ke Myanmar. Aku makin penasaran dengan atmosfer Inle Lake saat lihat Ig Stories salah satu travel influencer favorit di instagram, Inle Lake rasanya syahdu banget.


Tapi emang iya sih, seharian ikutan boat trip dan keliling danau super luas di Myanmar ini seru banget. Aku memulai boat trip di pagi hari saat udara di Inle Lake dingin, lanjut sampe kepanasan di bawah terik matahari siang-siang, sampe mataharinya udah mau tenggelam lagi. Waktu favoritku tentu saja ketika sudah sore, ketika matahari sudah mulai meredup, ketika warna langit mulai bergradasi dengan warna-warna jingga di ujung sana. Jadi kalo boat trip ngapain aja sih? Aku ceritain dari awal sampe akhir ya.


Naik bus malam ke Inle Lake



Untuk mencapai Inle Lake, aku naik bus malam dari Bagan sekitar 8 jam. Bus malam ini adalah salah satu bus malam terbaik yang aku naiki selama travelling di Myanmar. Busnya bersih, tempat duduknya nyaman dan lega dengan formasi 2-1, reclining seat-nya berfungsi maksimal, sampe bisa dibuat posisi hampir jadi flat bed, AC-nya pas, ada bantal tidur, ada selimut, dan ada toilet bersih. Pertama kali masuk ke dalam bus, ada rasa pengen ngakak bahagia. Interior bus-nya Myanmar banget, ceria dengan warna terang dan pattern dimana-mana. Di bus ini hampir 80% penumpangnya adalah traveller. Ini salah satu pertanda baik, bahwa bus ini bener-bener bus yang nyaman.


Kami sempat berhenti untuk makan malam di sebuah rest area, yang buat aku lebih mirip warung jadul. Lokasinya di antah berantah, sekelilingnya gelap. Di rest area ini cuma ada meja dan kursi untuk makan yang jumlahnya mungkin sama kaya jumlah meja kursi di warung padang, ada toilet bau yang flush-nya rusak di pojokan, dan yang jelas, ada yang jualan makanan. Aku nggak makan dong. Berhubung yang tersedia di warung itu cuma makanan Myanmar, aku pilih main aman. Lidahku kurang cocok dengan rasa asam masakan Myanmar. Pas keliling warung, aku nggak sengaja lihat si ibu yang ngambilin nasi, ngambil nasinya langsung pake tangan, tanpa ada plastik, sarung tangan, apalagi centong. Itu mungkin rahasia nikmatnya makanan di warung itu. Xixixi.


Sebelum tiba di Inle Lake, ada petugas yang masuk ke dalam bus dan menarik retribusi. Traveller dari luar Myanmar wajib membayar 13,500 kyat untuk masuk ke dalam kawasan Inle Lake. Awalnya aku pengen mengecoh si petugas dengan diam aja dan pake sarung di dalam bus. Petugas sih kayaknya nggak sadar kalo aku bukan warga lokal. Eh, temenku tiba-tiba ngasih uang dolar ke petugas dong. Gagal deh berlagak jadi orang lokal.

Boat trip seharian di Inle Lake



Saat di dalam bus, aku dan temanku celingak-celinguk nyari barengan untuk share boat trip di Inle Lake. Rencana kami, seharian ini akan kami habiskan dengan boat trip -yang mana emang hal wajib ketika kamu travelling ke Inle Lake- kemudian langsung naik bus malam ke Yangon. Lucky us, tepat di belakang kami ada 2 cewek Malaysia yang juga punya rencana yang sama dengan kami. Kami janjian di atas bus untuk share the boat trip. Begitu turun bus, para penggiat wisata Inle Lake udah sigap menangkap mangsa. Kami sendiri dapat tawaran untuk boat trip ber-4 dengan harga 7,000 kyat per orang.

Hal wajib yang harus dilakukan di Inle Lake adalah boat trip. Boat trip keliling danau Inle dengan kapal kecil berkapasitas maksimal 5 penumpang dengan 1 boat driver. Idealnya boat trip dilakukan seharian. Boat trip sebaiknya dimulai saat sunrise dan diakhiri saat sunset. Satu kapal bisa muat sampai 5 orang. Menurut ulasan beberapa travel blogger harga untuk boat trip di satu kapal adalah 30,000 kyat. Pada saat aku travelling, di Myanmar sedang low season. Mungkin itu sebabnya kami dapat harga yang sedikit lebih murah, 7,000 kyat per orang, berarti satu kapal 28,000 kyat. Di tengah jalan kami bertemu solo traveller yang boat trip sendirian. Dia kena harga 15,000 kyat. 

Kami harus naik angkot dengan harga 1,000 kyat per orang untuk menuju rumah the boat driver. Kami akan memulai boat trip kami dari belakang rumahnya the boat driver. Jadi kalo di Inle Lake, kapal itu mirip sama motor kalo di Indonesia, hampir semua rumah punya kapal. Mereka punya pelabuhan pribadi di belakang rumah. Ya karena belakang rumah mereka adalah danau itu sendiri.  Bagusnya kami bisa sekalian cuci muka, sikat gigi, pup, pee di rumah the boat driver. Kalo mau mandi juga bisa sih,, tapi kami pilih langsung cus boat trip di Inle Lake.

Berasa masuk ke dalam halaman-halaman di travel magazine



Kami naik perahu kecil yang panjang untuk boat trip. Tipikal kapal di Inle Lake memang selebar satu orang. Kami memulai boat trip pagi itu dengan melewati semacam kali di belakang rumah the boat driver. Di kanan kiri kali ada rumah-rumah penduduk Inle Lake. Nggak berapa lama kami sampai di danau luas dengan latar belakang pegunungan yang indah. Tiba-tiba di depan kapal kami ada orang yang akrobat di atas kapal yang panjang dan tipis. Orang yang ternyata adalah nelayan Inle Lake, sedang berdiri di ujung kapal sambil membawa alat semacam jaring ikan yang terbuat dari bambu, yang sudah dibuat sedemikian rupa sehingga berbentuk kerucut seukuran manusia dewasa. Ketika kedua tangannya sedang memegang bambu kerucut tadi, satu kakinya memegang semacam bambu panjang yang nampaknya jadi alat kayuh, dan satu kaki lainnya jadi tumpuan badannya di kapal. Aku ingat pernah lihat adegan ini di majalah wisata, eh hari itu aku lihat di depan mata.

The floating garden



Kapal kecil kami kembali berjalan menyusuri danau pagi itu. Hawanya seger banget, bahkan aku harus memakai jaketku saking dinginnya. Sepanjang mata memandang kami melihat danau, pegunungan, dan floating garden. Jadi di tengah danau ini, ada semacam taman mengambang yang bisa ditanami aneka jenis tanaman seperti tomat, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran. Tamannya beneran ngambang, karena pas digoyang-goyang pake bambu dayungnya the boat driver, taman itu bisa geser-geser. Tapi uniknya ada tanah di taman itu. Entah mereka pake teknik apa untuk bikin floating garden. Menarik.

Sarapan dan drama kehabisan uang



Pemberhentian pertama kami hari itu adalah di restoran terapung untuk sarapan. Sayangnya teman-teman yang lain nggak mau makan di situ karena di resto tersebut menjual menu babi. Ya sangat sulit untuk mendapatkan menu halal di Myanmar, apalagi di Inle Lake. Rata-rata restoran di Inle Lake, terutama di bagian danau, menyediakan semua menu, termasuk menu ayam, daging, seafood, babi, bahkan menu vegetarian dalam satu restoran. Jadi nggak ada restoran khusus gitu. Harganya pun cenderung lebih mahal daripada di daerah lain.


Saat di Inle Lake aku baru sadar kalau aku sudah kehabisan uang. Sebenernya ini nanggung banget sih, tinggal 2 hari lagi di Myanmar tapi udah habis aja duitnya. Belum lagi aku harus bayar bus untuk balik ke Yangon. Ada hal yang sulit aku bahas di sini tentang alasan kenapa aku bisa sampe kehabisan uang cash. Untuk yang pengen tahu, tanyain langsung ke aku dan dibahas di ranah pribadi ya. Intinya hari itu aku cuma punya uang untuk makan 2hari aja. Sayangnya, aku harus kembali ke Yangon, naik bus malam, yang cuma bisa dibeli dengan uang cash bermata uang kyat. Kalo nggak balik keYangon, ya nggak bisa balik ke Indonesia, karena flight balik ke Indonesia dari Yangon.

Workshop perak, workshop tenun lotus, floating art market, dan rokok Myanmar



Daripada panik, mendingan nikmatin dulu deh boat trip hari ini. Pemberhentian selanjutnya adalah mengunjungi workshop pengrajin perak. Kerajinan perak adalah salah satu unggulan pariwisata di Inle Lake. Menarik melihat pengrajin sedang mengerjakan ukir-ukiran pada peraknya dan melihat berbagai macam koleksi perak yang mereka pamerkan di workshop. Aku sebenarnya tertarik dengan anting perak bergambar the long neck lady berwarna hitam. Sayangnya mereka menjualnya dengan harga yang terlalu mahal. Aku dipersilakan untuk menawar sih, tapi kalo udah bagian tawar-menawar aku kok malah jadi males. Mereka menjual dengan US dolar dan menyediakan mesin gesek.


Kami lanjut ke tempat pembuatan tenun lotus. Aku baru tahu kalo ternyata tanaman lotus bisa dijadikan kain. Di workshop ini dijelasin dengan detail sambil ditunjukin gimana caranya mereka bisa bikin kain dari serat lotus. Si mbak juga jago banget ngomong Inggrisnya. Kalo proses pembuatan kain tenunnya sih sama kayak proses pembuatan kain tenun troso di Jepara. Yang bikin beda ya karena bahannya dari lotus. Di Inle Lake sendiri ada banyak lotus yang tumbuh di permukaan danaunya. Kain lotus teksturnya mirip kaya kain linen. Konon katanya kain ini hangat kalo dipake di hawa dingin, dan adem kao dipake di hawa panas. Aku sih, nggak beli, harganya lumayan mahal dan lagi-lagi bayarnya pake USD.


Dari tempat pembuatan tenun, kami pergi ke floating market. Beda dengan floating market yang ada di Thailand atau Kalimantan, floating market di sini nggak berada di atas kapal terus terapung-apung.  Masih ada daratan solid untuk para pedagang itu jualan. Aku sih paling suka di bagian souvenir dan art. Beda dengan di workshop, harga barang di sini cendrung lebih murah dan merakyat. Meskipun lebih murah, tapi barang yang dijajakan bagus-bagus lho. Kalo jalan agak ke belakang lagi, isinya mirip pasar tradisional yang jual kebutuhan sehari-hari, makanan, dan sayuran.


Kami juga mampir ke tempat pembuatan rokok. Tahu kan orang Myanmar suka banget ngunyah sirih. Ada juga yang mengganti kebiasaan ngunyah sirih dengan merokok. Bedanya rokok di Inle Lake dengan rokok pabrikan adalah rokok Inle Lake dibuat dari daun yang cuma ada di Inle Lake. Bentuk daunnya lebar dengan bau yang khas. Daun tersebut direndam dan dikeringkan sedemikian rupa hingga bisa dibuat sebagai bungkus rokok. Semua proses pembuatan rokok dilakukan manual dan ditunjukin di depan kami. Di sini ada mbak yang pinter bahasa Inggris yang menerangkan langkah-langkah pembuatan rokok satu demi satu. Bisnis rokok di Inle Lake adalah bisnis keluarga yang diwariskan turun-temurun. Karyawannya juga keluarga sendiri. Oya, katanya rokok ini sih cenderung mild. Ada aroma buah-buahan yang seger juga.

Floating post office, the long neck lady, dan payung cantik



Saat mau menuju ke lokasi selanjutnya, kami nggak sengaja lihat kotak pos yang terapung di tengah danau. Nggak jauh dari situ ternyata ada floating post office. Kebetulan temenku lagi butuh ngirim postcard. Kami pun mampir. Ternyata,, yang namanya post office itu sebenernya adalah warung kelontong, mirip banget sama warung langganan pas jaman aku SD, yang jualan beraneka makan jajanan, tapi juga jualan sembako. Aku pikir post office-nya itu beneran kantor pos, dengan petugas yang pake seragam, dan rame dikunjungi orang-orang yang mau kirim barang. Yang jelas sih floating post office-nya masih berfungsi untuk ngirim postcard.


Tujuan kami selanjutnya adalah bertemu dengan the long neck lady. Aku pribadi antara sungkan dan ewuh kalo ketemu the long neck lady cuma untuk foto-foto. Rasanya kurang nyaman menjadikan mereka cuma untuk objek tontonan dan objek foto. Tapi melihat reaksi mereka, mereka kok kesannya seneng-seneng aja ya. Sepanjang boat trip keliling danau, aku cuma lihat ada 4 long neck lady aja. Kayaknya long neck lady di Inle Lake ya cuma mereka. Kalo aku search "long neck lady Inle Lake" gambar yang muncul adalah gambar 4 wanita yang aku temui saat itu. Foto di majalah wisata tentang long neck lady Inle Lake juga foto mereka. The long neck lady memakai kalung emas yang berat seumur hidupnya. Jumlah kalungnya sesuai jumlah umurnya. Yang 2 umurnya udah lanjut, kalungnya udah banyak, yang 1 masih muda banget, kalungnya nggak sebanyak yang lebih tua, dan ada 1 lagi mungkin sekitar 40an usianya, nggak ngitung sih jumlah persis kalungnya. Yang muda ini jago juga bahasa Inggrisnya. Dia jelasin, mereka pake kalung panjang gitu karena budaya. Tapi di masa kini, para perempuan pelan-pelan udah ninggalin budaya ini. Aku lihatnya juga nggak nyaman sih, kaya kesulitan kalo mau tengok kanan-kiri dan yang jelas berat banget. Aku nyobain dummy-nya aja berat, biar mereka saja. *Dilan mode: on.


Masih di lokasi yang sama, ada workshop pembuatan payung kayu. Di workshop ini semua bahan untuk membuat payung kertas -kertas payung, pegangan kayu, dan printilannya- dikerjakan secara manual oleh tangan manusia. Ya bahasa sederhananya handmade. Mulai dari kertas untuk payungnya, dibuat dari adonan, terus diremas-remas, tahu-tahu jadi kertas. Kertasnya dihias sedemikian rupa dengan pola-pola unik. Salah satu pattern unik di sini adalah pattern dari kelopak bunga asli. Hasilnya payung-payung unik yang cantik. Aku sih nggak berani nanya harga, emang nggak minat. Haha.

Montessory, jembatan yang bikin baper, dan drama lagi



Kami juga mampir ke montessory yang ada di Inle Lake. Montesorry itu semacam tempat belajar untuk para biksu sekaligus tempat tinggal mereka. Uniknya, di dinding-dinding montessory ada ilustrasi tentang sejarah Budha. Sayangnya, montessory ini terkesan pengap dan gelap. Saat aku ke sana malah nggak nampak ada biksu yang sedang beraktivitas. Tapi di halaman teras ada beberapa orang lokal yang lagi duduk-duduk santai.


Di ujung boat trip, kami diajak ke sebuah jembatan kayu panjang. Di jembatan kayu ini ada banyak orang Myanmar, dan ternyata mereka turis yang sedang jalan-jalan juga di Inle Lake. Ternyata jembatan kayu ini adalah salah satu icon wisata Inle Lake. Kami sih cukup lihat dari danau dan nggak turun. Menurut kami biasa aja dan terlalu rame. Mmm,, alesan sih,, sebenernya udah kecapekan aja dan baper gara-gara lihat banyak pasangan foto-foto di sana. Kan jadi pengen. :P


Boat trip udah berakhir, saatnya kami balik pake bus malam ke Yangon. Eh, emang bisa bayar? Katanya tadi udah kehabisan uang Kyat di tengah danau? Iya sih, tadi pas di danau uangnya udah habis. Pas nanya sama the boat driver tentang ketersediaan money changer atau ATM di area danau, the boat drivernya kurang yakin. Belum lagi the boat driver ini kurang javo bahasa Inggris, dia cuma ngerti, tp nggak bisa ngomong Inggris. Susah deh komunikasi. Di tengah kegalauan, kebimbangan, dan terus terang aja, sedikit kepanikan, otakku bisa diajak mikir cepet juga. Lah aku kan punya smartphone dan koneksi internet yg oke banget. Aku pun googling dan menemukan kalo ada ATM di area danau. Ternyata di salah satu pagoda di Inle Lake ada ATM dan money changer. THANK GOD.

Sebenernya rugi banget ngambil uang lewat ATM -aku harus bayar 6,500 kyat untuk administrasi bank Myanmar ditambah 25,000 rupiah untuk administrasi BNI- tapi mau gimana lagi, daripada nggak bisa hidup di negeri orang kan. Meskipun punya uang cadh USD banyak, meskipun punya CC segudang, meskipun punya nominal gedhe di tabungan, tp kalo nggak puya uang cash Kyat di Myanmar, rasanya ngenes banget. Berasa aku nggak bakalan bisa lanjut hidup dan ada kemungkinan bisa jadi gelandangan. Duh. Singkat cerita aku cuma ngambil sekitar 40,000 kyat dengan biaya administrasi sekitar seperempatnya. Hiks.

Satu drama selesai, drama lain muncul


Setelah drama kehabisan uang di Myanmar teratasi, ternyata aku harus menghadapi drama lagi. Kali ini soal bus malam ke Yangon. Tadi pagi, mas penggiat wisata Inle Lake menawarkan untuk membantu membelikan tiket bus malam ke Yangon. Berhubung kami memulai boat trip sebelum kantor bus malam buka, jadi kami mau nggak mau nitip beli tiket bus ke Yangon lewat masnya. Harapannya, begitu selesai boat trip, tinggal lanjut naik bus tanpa takut kehabisan tiket.

Harga tiket bus VIP Inle Lake - Yangon 20,000  kyat. Kalo dibandingkan dengan harga tiket bus malam Yangon - Mandalay dan Bagan - Inle Lake, harga tiket bus Inle Lake - Yangon cenderung lebih mahal, padahal jarak tempuhnya sama, sekitar 8 jam. Kami pun coba cek harga tiket bus VIP yg dijual secara online. Ternyata harganya lebig mahal, sekitar 30,000an kyat. 

Jadi kami memutuskan untuk beli tiket bus malam di masnya. Ternyata tiket bus VIP sudah habis. Duh, drama nih. Lusa kami punya flight pagi dari Yangon dan malam ini kami nggak punya tiket ke Yangon. Seandainya kami harus nginep semalem di Inle Lake dan berangkat ke Yangon besoknya, aku nggak yakin lusa bakalan bisa ngejar flight pagi dari Yangon untuk pulang ke Indonesia. Dear God, drama ketinggalan pesawat jangan terualang lagi dong.


Mas-nya kemudian menawarkan tiket bus kelas biasa, tapi dapat 2 tempat duduk, biar lega. Katanya sih harga tiket satuannya 18,000 kyat, tapi dia kasih harga spesial sehinggal 20,000 kyat dapet 2 kursi. Perasaan udah nggak enak nih. Bener dong, pas kami ketemu sama busnya, penampakan dari luarnya biasa aja. Bus ini sejenis bus malam di Indonesia tapi tampak lebih kumuh dengan setir di kiri. Pas masuk, bus-nya klihatan kotor banget. Parahnya AC busnya nggak berasa, alias panas pengap di dalam bus. Nggak kebayang deh 8 jam di dalam bus macam begitu.


Kami protes dong. Dan ternyata,, harga satu kursinya itu cuma 13,000 kyat. Mas-nya ambil untuk 5,000 kyat sendiri. Di dalam bus penumpangnya cuma 3 orang bapak-bapak bersarung. Tapi sopirnya masih muda dan ganteng. Meskipun sopirnya enak dilihat, kami tetep protes lah. Akhirnya kami dijanjiin pindah bus di kota sebelah. Kami harus naik bus jelek yang sopirnya ganteng ini dulu. Pas di kota sebelah kami beneran ganti bus. Bus yang ini juga bus kelas biasa, dengan tempat duduk 2-2, sopirnya nggak ganteng, tapi ada semacam pramugara di dalam bus. Sayangnya kami cuma dapat 1 tempat duduk untku 1 orang. Ya udahlah ya, bisa pulang malam ini ke Yangon udah syukur.


Cerita travelling ke Myanmar-ku belum berakhir. Masih ada beberapa cerita yang bakalan aku bagi di sini. Terima kasih ya sudah baca. Buat yang sudah travelling ke Myanmar selamat nostalgia, buat yang belum travelling ke Myanmar, semoga kamu juga punya pengalaman serupa dan lebih seru.

- Dinilint -

18 komentar:

  1. Nggak tau kenapa liat foto-foton di Inle Lake vibes nya mirip Rawa Pening. Hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Haha.

      Kamu pasti udah sering ke Rawa Pening ya.
      Semoga kamu juga bisa travelling ke Inle Lake, biar ngerasain vbes-nya Inle Lake.

      Kalo menurut aku, aku pernah beberapa kali keliling Rawa Pening naik kapal juga, atmosfer dua danau ini sangat berbeda sih. Tapi beda orang, beda rasa kan ya.

      Makasih udah mampir :)

      Hapus
  2. Menarik ya apalagi pas bagian kayak Travel magazine, petualang sejati nih mba🤗

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak,, biasanya kan foto di travel magazine itu bagus banget, ada editannya lah pasti.

      Paling seru emang lihat pake mata kepala sendiri, ngalamin sendiri, dan membuktikan bahwa foto-foto bagus di travel magazine itu aslinya juga bagus.

      Makasih udah baca mbak Sandra :)

      Hapus
  3. Waduh, si Ibu ambil nasi gak pake centong........hahahahaha.....mungkin bukan lidahnya yg kurang cocok Mba, tapi karena habis melihat cara si Ibu ambil nasinya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.

      Travelling di Inle Lake adalah di hari ke-5 pak. Aku udah nyoba makan di warung lokal Myanmar di hari pertama, dan langsung nggak cocok. Yang warung pertama bersih banget dan ngambil nasinya pake centong.

      Btw, makasih udah baca ;)

      Hapus
  4. the long neck lady, sama kaya salah satu suku di Indoensia juga yaa..

    Kehabisan uang pasti menjadi pengalaman yang tak terlupakan bangat

    BalasHapus
    Balasan
    1. Suku apa tu mas Idris, aku malah nggak tahu lho. Aku tahunya yang perempuan pada pake anting sampe telinganya jadi panjang.

      Haha,, parah banget kemaren sampe kehabisan uang cash. Nggak lagi-lagi deh.

      Hapus
  5. unik juga ya di danau itu banyak yang floating2,, asal jangan yang kuning2 aja yang floating wkwkwk..

    banyak amat dramanya,, tapi itu justru menambah serunya perjalanan saat dikenang nanti ya hehe..

    -Traveler Paruh Waktu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahahaha,, danaunya bersih kok. Masyarakatnya juga kalo buat yang kuning-kuning itu udah di wc bener, bersih pula.

      Iya nih, banyak drama. Sekarang sih bisa ngakak, pas ngalamin, duh,, dramaaaa.

      Hapus
  6. Wah ada yang nulis tentang traveling ke Myanmar. Salah satu list aku nih, keliling Asia Tenggara termasuk Myanmar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku juga masih kurang nih mbak negara Asia Tenggaranya. Moga-moga tahun depan kesampaian.

      Moga-moga mbak Hanum juga segera travelling ke Myanmar. Amin

      Hapus
  7. Oke noted. Ini sukses bikin iri. Btw suka sama gaya menulisnyaaaaa tralala sekali pas baca :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasiih.

      Aku juga tralala lho baca komen kamu. Bikin semangat nulis. :D

      Hapus
    2. Qiqiqiq ... pertahankan semangat ituuuu *toss*

      Hapus
  8. sebel ya diboongin sama supir bus gitu, huhu. gak apa apa deh tapi mba buat pelajaran dan pengalaman, kalo gak ada pait-paitnya pasti flat aja.. gak seru huhu btw salam kenal

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bener.
      Pas ngerasainnya sebel sih,, tapi namanya travelling ya gitu kan,, harus siap dengan segala jenis kemungkinan, dari yang untung banget sampe yang buntung

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)