Jumat, 16 November 2018

Bagan, Negeri Dongeng Dengan Seribu Candi

Berkunjung ke Bagan seperti masuk ke dalam mimpi. Ratusan, bahkan ribuan candi dan bangunan kuno menyambut di tiap sudut. Datang ke Bagan seperti datang ke masa lalu, masa yang diceritakan dalam buku dongeng berlatar waktu beribu-ribu tahun lalu. 


Bagan, negeri seribu candi


Sayangnya, sambutan Bagan di awal kedatanganku membuat aku hampir frustasi.

Aku datang ke Bagan dengan menggunakan bus dari Mandalay. Aku butuh waktu sekitar 4 jam untuk sampai di Bagan. Kira-kira jam 8 malam waktu setempat aku dan travelmate memasuki terminal Bagan.

Ketika kenyataan berbeda dengan impian


Ekspektasi malam itu adalah kami bisa order taksi pakai aplikasi Grab, dan ketemu sopir ramah yang membuat perjalanan kami memasuki negeri dongeng, sempurna. Sayangnya kenyataan sangat jauh berbeda dari impian.

Bus Mandalay - Bagan

Yang kami temukan malah sopir taksi yang memaksa kami untuk masuk ke dalam taksinya dan memaksa kami untuk membayar lebih mahal dari yang seharusnya. Kami tahu kalo kami sedang kena scamming karena kami turis luar negeri dan cewek, tapi kami nggak bisa menolak :( :( :(

Singkat cerita kami naik taksi mahal dari Terminal Bagan menuju Nyang-U --lokasi guest house kami selama di Bagan-- dengan tarif terminal ke Old Bagan. Kami bayar harga 14 km perjalanan untuk perjalanan sejauh 7 km. Intinya kami  bayar 2 kali lipat lebih mahal ke sopir sialan itu. Belakangan kami bertemu dengan cowok asal Jepang yang tinggal di KL, yang juga dapat scamming yang sama.

Tiket masuk Bagan: 25,000 kyat untuk 3 hari


Kami berhenti dulu di pos petugas untuk membayar 25,000 kyat sebagai tiket masuk Bagan (semua turis asing wajib membayar untuk waktu kunjung 3 hari). Sampai di guest house suasana hati kami sudah super bete. Kami kecapekan, kelaperan, dan berasa sangat gerah.

Tiket masuk Bagan untuk 3 hari

Thank God, bapak pemilik Golden Rose Guest House lumayan sabar dan baik. Kami disambut dengan baik, diberi kamar yang lumayan luas, lengkap dengan kamar mandi dalam yang bersih, kasur empuk, dan AC (bagian ini penting banget karena Bagan super panas).

Chinese restaurant is my life saver


Bagusnya lagi kami bisa langsung makan malam karena persis di seberang Golden Rose Guest House ada chinese resto yang buka sampe malam dengan menu super lengkap. Masakannya cenderung enak dan gurih. Aku pernah cerita kalo makanan lokal Myanmar kurang pas dengan seleraku saat aku nulis tentang Yangon di sini. Bener kata orang kalo makanan enak bisa naikin mood, mengobati ke-bete-an akibat kena scamming di Bagan.

Malam di Bagan

Biasanya orang yang datang ke Bagan akan hunting sunrise pagi-pagi bener. Tapi kami pilih tidur aja di kasur empuk sampe siang. Rencananya kami masih akan nginep di Bagan sampe besok, jadi masih ada waktu untuk hunting sunrise besok.

Today is gonna be a good day


Keputusan kami tepat, pagi itu ternyata hujan. Cuacanya cocok banget kan buat bangun siang. Tapi demi sarapan, sebelum jam 10 pagi kami naik ke rooftop. Pilihan sarapan di Bagan adalah: toast, mohinga (semacam soto-nya orang Myanmar), atau nasi goreng. Selain itu ada juga menu pelengkap seperti buah dan gorengan. I think today is gonna be a good day because we start with a good food.

Sarapan ala Bagan

Berhubung Bagan kalo siang lumayan panas, kami pilih leyeh-leyeh aja di kamar sesiangan. Aku malah sempat nyuci baju. Jemur di bawah panas matahari Bagan bikin pakaian cepet kering. Ini salah satu rahasia kenapa aku bisa travelling 10 hari tapi cuma bawa satu ransel sehingga nggak butuh beli bagasi pesawat. Perlu ditulis nggak sih rahasia travelling 10 hari tapi cuma bawa 1 ransel aja? Kasih tahu ya.

Pijet lokal ala Bagan, Myanmar


Siang itu travelmate pilih nyobain pijet lokal Myanmar. Ada ibu-ibu lokal Bagan yang datang ke kamar dan kasih pijet, macam mbok-mbok di Indonesia. Tahunya dari nanya ke owner guest house. Travelmate selalu suka nyobain pijet lokal kalo jalan-jalan. Katanya, selama dia nyobain pijet di Indonesia, Myanmar, Thailand, dan Vietnam, yang paling juara adalah pijet di Thailand. Kalo pijet di Bagan ini nggak reccommended katanya. Ibunya kurang kuat mijetnya, nggak bawa minyak pula, jadi seret.

Mbok pijet di Bagan

Kalo aku milih jalan-jalan ke sekitaran guest house. Beberapa hari di Myanmar, aku kangen makanan internasional dengan citarasa gurih. Jadilah aku nyari-nyari resto yang jual makanan internasional. Aku nemu satu restoran dengan konsep resto taman dan nampak ada beberapa turis internasional yang lagi makan di sana.

Makan siang di Bagan, bonus kacang dan semangka super manis


Aku pesen kentang goreng dan jus buah segar. Pelayannya rata-rata bisa bahasa Inggris. Menu makanan juga dalam bahasa Inggris. Sebelum makanan keluar, aku disuguhi kacang panggang untuk mengganjal perut yang lapar. Pas keluar, porsi makanannya besar banget, porsi untuk berbagi gitu, bukan untuk satu orang. Setelah makan, aku masih dapet bonus berupa semangka segar yang super manis dan permen asem. Harga makanan di Bagan udah aku catet di sini ya. Klik aja.

Kentang goreng porsi besar dan jus buah segar

Sewa e-bike untuk keliling Old Bagan


Sekitar jam 2 siang aku dan travelmate baru mulai berpetualang ke Old Bagan, negeri seribu candi yang seperti negeri dongeng. Kami sewa e-bike setengah hari di guest house. Harganya sekitar 3,000 kyat. Cara naik e-bike ini gampang banget. Tinggal ngegas, udah jalan sendiri. Tenaganya dari listrik, e-bike-nya di charge dulu baru bisa dipake. Kalo sewa, kita udah terima beres aja.

E-bike untuk keliling Old Bagan

Baru jalan sedikit dan belum memasuki area Old Bagan, kami sudah ketemu dengan candi kecil di pinggir jalan. Berhubung kami jalan-jalannya random, nggak ada itinerary Bagan yang fix, jadi kami mampir dulu di candi pertama untuk foto-foto.

Foto-foto di candi yang nggak tahu namanya apa

Old Bagan, kota kuno dengan seribu candi, eh lebih deh kaya'nya


Memasuki Old Bagan, pemandangannya lebih magis lagi. Beneran masuk ke kota kuno. Di sana-sini ada banyak candi. Di sini kami mulai bingung. Kalau kami berhenti di tiap candi dan bangunan kuno, kami pasti bakal kehabisan waktu.

Bu Paya

Sungai dekat Bu Paya

Akhirnya kami buka google map dan cari tahu referensi candi mana yang layak didatangi di Old Bagan. Pilihan pertama adalah berkunjung ke Bu Paya di Old Bagan. Kalau cek di g-map, candi ini unik karena letaknya di pinggir sungai. Warna candinya juga putih, tidak seperti candi lain di Bagan yang cenderung berwarna merah bata.

Candi besar yang entah apa namanya

Kami lanjut ke candi selanjutnya, tapi pas di tengah jalan kami ketemu kompleks candi yang lumayan besar, jadi kami melipir lagi ke candi ini. Pas jalan-jalan di kompleks candi ini aku lihat ada tangga nganggur, jadi ya aku naik aja. Padahal kata bapak owner guest house, sekarang candi-candi di Bagan nggak boleh dipanjat. Candi ini cenderung sepi pengunjung, entah kenapa.

Yes! Ada terjemahannya

Candi di Bagan

Kemudian kami mampir ke Gaw Daw Palin Paya. Katanya sih ini adalah second tallest temple in Bagan. Candinya berwarna putih kehitaman. Hitamnya cenderung karena nggak terawat sih. Tapi emang ngerawat candi-candi ini butuh biaya yang lumayan besar dan energi yang banyak.

Sandal jepit is lyfe


Untuk masuk ke tiap-tiap candi, baik yang besar maupun yang kecil kami harus lepas alas kaki, termasuk kaos kaki. Jadi kostum paling bener saat travelling ke Bagan ya dengan pakai sandal jepit. Nah, kalo pas sampai candi-candi itu masih siang dan panas, aku pilih untuk berjalan di keramik warna putih daripada yang berwarna gelap. Keramik warna gelap cenderung lebih panas karena warna gelap menyerap panas.

Kalo ke kuil harus lepas alas kaki

Ada satu candi unik yang punya cerita menarik di Bagan. Jadi pas naik e-bike lewat jalan tanah --FYI, naik e-bike nggak ada suara mesin, beneran mirip sepeda gitu, tenang dan syahdu-- sayup-sayup aku dengar suara lonceng. Bener aja, pas sampe di depan satu candi berbentuk kotak ada pohon besar dengan ratusan lonceng yang bunyi gemerincing. Di situ juga angin bertiup kenceng. Udara panas Bagan jadi enak banget di bagian candi ini.

The sound of Bagan


Satu-satunya candi Hindu di Bagan

Pas lagi seru-serunya bikin Ig story, tiba-tiba ada ibu orang lokal yang datang mendekat dan ngajak ngobrol pake bahasa Inggris. Dia cerita kalo candi ini adalah satu-satunya candi Hindu yang ada di Bagan. Aku diajak masuk ke dalam, diceritain tentang dewa-dewa Hindu yang dipahat di dalam candi. Aku juga dikasih tahu sudut terbaik untuk motret di dalam candi, yang emang hasilnya oke.

Ditunjukin angle bagus untuk motret sama si ibu

Ibu kreatif yang jualan sambil mendongen di depan kuil

Ternyata si ibu ini penjual souvenir yang lapaknya ada di depan candi persis. Lonceng-lonceng gemerincing yang menarik perhatian orang juga jualannya si ibu. Menurutku cara si ibu jualan ini kreatif. Dia bisa bahasa Inggris, dia bisa cerita tentang candi tempat dia jualan dengan baik, dan dia menarik perhatian. Dia nggak mau disebut guide, dia maunya disebut penjual, ya karena emang dia jualan. Good job ibu.

Sunset over Bagan


Kami menutup hari di Old Bagan dengan nyari spot sunset. Kata owner guest house, sekarang udah nggak boleh lagi manjat-manjat candi di Old Bagan karena faktor keamanan. Candi-candi ini udah tua dan rapuh, takutnya dia nggak mampu menopang turis yang begitu banyak, takut roboh. Kalo candi-candi peninggalan sejarah ini roboh kan yang celaka turis dan bangunannya juga kan.

Bagan dan turis

Untuk menikmati sunset kami pergi ke bukit yang lokasinya -kalo nggak salah- di dekat Shwesandaw Pagoda. Petunjuk jalan untuk ke sana jelas banget. Pokoknya ikutin plang dengan tulisan 'sunset view Bagan'.

Pemandangan Bagan disebut mirip di Afrika

Pemandangan dari bukit, yang konon disebut sebagai tempat tertinggi di Bagan ini, sungguh amazing. Bagus banget. Sejauh mata memandang ada hamparan savana hijau dengan beberapa pepohonan, ditambah dengan penampakan kuil-kuil berwarna merah bata. Langitnya berwarna jingga dan campuran biru gelap, karena saat itu sedang mendung. Duh, indah banget deh pokoknya.

Cerita soal candi ini ada di post selanjutnya

Keputusanku dan travelmate untuk datang ke Bagan lebih dari sehari semalam emang udah pas banget. Aku masih keliling Bagan lagi seharian besok. Aku bakal cerita kenapa kok di Bagan bisa ada segitu banyaknya candi dan kuil. Aku lanjutin di artikel selanjutnya yaaa.

Sunset view point di Old Bagan

Makasih udah baca ceritaku tentang Bagan, negeri dongeng dengan seribu candi. ;)

12 komentar:

  1. Inilah kenapa aku nggak cocok jadi Travel Writer. Nggak mampu nginget2 aku ngapain aja dan bingung mau nulis apa. Pasti lupanya dan nggak bisa tahan buat nulis sepanjang ini. Aku menikmati tulisan orang aja. By the way, Bagan ini mengingatkan aku sama pas aku ke Angkor Wat di Kamboja tahun lalu. Areanya dan suasananya ya kurleb macam gini juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,,, justru aku nulis begini biar besok-besok inget aku udah ngapain aja pas liburan. Untuk bantu inget udah ngapain aja, aku mengandalkan foto-foto dan video yang aku ambil saat liburan.
      Nah,, Angkor Wat,, semoga tahun depan aku bisa ke sana juga. Amin.

      Hapus
  2. Keliling2 candi naik e-bike aja enak ya mbak :) Wah di sana ternyata ada mbok2 pijit juga kayak di Indonesia hehehe :) Senangnya jalan2 penuh petualang. Keren banget jalan2 dan ulasannya mbak Dini. Besok2 mau ke mana lagi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak Nurul.
      Besok jalan2 sekitaran Pulau Jawa aja ;)

      Hapus
  3. Ah keren banget petualangannya Mbak Din, pengen kesana jadinya. Eh ini tuh yg banyak balon2 udara kayak Di Cappadocia Turkey bukan ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mas Didy.
      Iya,, Bagan kalo bulan November - Maret ada balon udara,, sayang aku nggak datang di bulan2 itu.
      Tp buat aku,, Bagan tetep magic.

      Hapus
  4. Menarik bgt, asyik ya ketemu pedagang kreatif jd pemandu jg :)
    Penasaran sm kelanjutan ceritanya...

    BalasHapus
  5. Candinya banyak banget! Itu kalau dieksplor satu per satu bisa habis berapa hari? Qiqiqiqi. Btw semoga tidak kena scamming lagi ya esok-esok kalau ke Bagan lagi. Dan masih penasaran sama 1 backpack itu soalnya saya juga pernah begitu :p demi mengeringkan daleman mislnya, hairdryer hotel kadang jadi korban *uhuk!*

    BalasHapus
  6. Waaah.. Bangunan candinya artistik banget. Tapi ngomong-ngomong, jangankan ke Bagan, lawung Borobudur aja saya belum tahu. Huhuhu...

    BalasHapus
  7. Sering denger soal bagan dan pengen banget jadi wishlist tahun depan. Keren bangett yaa kak din. Itu emang ya, klo kena scam kezelnya minta ampunnn

    BalasHapus
  8. One of my bucket list nih Bagan.
    Inget dulu jaman SD ngapalin tentang negara negara luar beserta wisatanya.
    Semoga tahun depan bisa kesini.

    BalasHapus
  9. Ini seru banget deh baca cerita di Bagan. Berasa lagi ikutan ke sana juga. Detail banget. Tapi ngeri ya, kena scamming. Aku juga pernah kena pas di Thailand. Kalau ke negara tetangga pasti aja suka ada cerita kena scam gitu-gitu..

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)