Senin, 05 November 2018

Hal-Hal Penting Yang Wajib Dilakukan Kalo Travelling ke Yangon, Myanmar

Kalo kamu travelling ke Myanmar naik Air Asia dari Kuala Lumpur, kamu pasti akan mendarat di Yangon, sama seperti aku kemaren. Siapa tahu kamu butuh info tentang travelling ke Yangon, -apa aja yang bisa dilakukan selama di Yangon, transportasi umum dari Bandara Yangon ke downtown Yangon, makanan di Yangon, dan printilan-printilan lain semacam tukar uang rupiah ke kyat Myanmar, ambil ATM di Myanmar, SIM card lokal Myanmar, dan semacamnya- aku tulis di blog post ini.



Begitu sampe bandara Yangon, aku disambut dengan bandara internasional yang bersih dengan desain sederhana yang didominasi nuansa warna coklat. Nah, begitu keluar dari imigrasi baru deh terasa kalo aku udah bener-bener di Myanmar karena
hampir semua orang pake sarung di sini.

Yangon International Airport, ATM, SIM card lokal, dan Grab


Hal pertama yang aku lakukan begitu sampe di Bandara Yangon adalah cari koneksi internet. Di bandara Yangon ada wifi gratis yang bisa aku manfaatkan. Aku cukup daftarin email dan taadaa aku pun tersambung pada dunia.

Hello Burma!

Hal selanjutnya adalah cari ATM. Aku pilih ambil uang Kyat untuk kehidupanku di Myanmar selama 8 hari ke depan dengan memanfaatkan kemampuan kartu ATM BNI-ku. Aku ambil jumlah paling banyak yang bisa aku ambil di ATM, 300,000 kyat. Biaya administrasinya sendiri 6,500 kyat untuk bank Myanmar ditambah Rp. 25,000 untuk BNI. Menurutku hal ini jauh lebih efektif daripada tuker rupiah ke USD di Indonesia, trus tuker USD ke kyat Myanmar. FYI, uang asing yang diterima di money changer Myanmar cuma USD dan Euro.

Aku juga mengganti SIM card Indonesiaku dengan SIM card lokal Myanmar demi kepentingan selalu terkoneksi dengan internet. Aku pilih provider Ooredoo, karena selain namanya familiar, harganya cendrung lebih murah, dan para traveller yang pernah jalan-jalan ke Myanmar juga merekomendasikan Ooredoo sebagai SIM card andalan di Myanmar. Cek harganya di sini ya.

Cuma ada Grab taxi di Yangon

Pas keluar bandara, aku lihat ada bus bagus yang berhenti persis di depan bandara, tapi aku nggak tahu trayek-nya kemana. Hasil googling kemaren-kemaren nggak ada info soal bus bandara di Bandara Yangon. Kemungkinan ketersediaan bus bandara di Yangon ini hal yang baru banget.

Aku juga lihat ada plang Grab. Otomatis aku cek app Grab di hape. Yeay, aku bisa order Grab dari Bandara Yangon menuju downtown Yangon, tempat aku nginep. Iseng, aku bandingin harga Grab dengan harga taksi di bandara. Tulisannya sih fixed price taxi, tapi tetep aja harus tawar-menawar. Aku sih pilih yang pasti-pasti aja, pake Grab.

Nginep di hostel di downtown Yangon


Perjalanan bandara ke downtonwn memakan waktu sekitar satu jam. Lumayan lama dan jauh. Jalanan di Yangon cenderung mulus dan lebar. Ada beberapa titik yang macet, tapi nggak separah Jakarta atau Bangkok sih macetnya. Masih lebih mirip Semarang.

Nggak ada sepeda motor di Yangon

Aku nginep di Once in Yangon Hostel. Kalo di peta namanya The Tribe Yangon. Sempet bikin bingung karena namanya beda, tapi pas cek fotonya mirip. Ternyata mereka barusan ganti nama. Aku pesan lewat booking(dot)com. Aku nginep di kamar mix dormitory. Harganya sekitar 9,000 kyat per malam.

Once in Yangon Hostel

Once in Yangon Hostel sendiri adalah hostel yang bersih dengan interior lucu dan modern. Lokasinya ada di area Chinatown dan letaknya di gedung tua. Jadi kalo dari luar penampakannya gedung tua, tapi dalemnya modern. Meskipun dalam satu kamar bisa menampung 24 orang, tapi nggak berasa sesak. Bagusnya lagi kami bisa early check in. Aku sampe sana sekitar jam 10 pagi dan kemaren nggak mandi seharian. Jadi bisa mandi pagi hari itu adalah sebuah kemewahan.

satu porsi makan di warteg Yangon

Selesai mandi dan ganti baju bersih, kami keluar cari makan. Cuma jalan beberapa langkah dari hostel aku udah nemu semacam warteg yang jualan makanan lokal Myanmar. Wartegnya bersih banget dengan nuansa cat warna putih - ijo. Pilihan lauknya banyak banget. Satu porsi diberi 2 piring nasi, jadi aku bisa berbagi sama temen. Ada lalapan juga yang bebas ambil sendiri. Kalo mau minum air panas juga gratis. Sayangnya, rasa lauknya berasa asem cuka semua. Aku sih nggak cocok, jadi rindu warteg.

Keliling Kota Yangon dengan Circular Train


Hari pertama di Yangon aku habiskan dengan nyobain Circular Train. Circular Train ini alat transportasi orang lokal Yangon. Kalo di Jakarta mungkin mirip sama commuter line.

rute circular train yang mengeliling Kota Yangon
salah satu train station yang dilewati Circular Train

Rute Circular Train adalah melingkar mengelilingi Kota Yangon. Jadi kalo naik Circular Train kita bisa lihat pinggirannya Kota Yangon. Satu putaran menghabiskan waktu 3 jam.

Kondisi di dalam Circular Train
Diminta nunggu di peron 5, tapi tulisannya dalam Bahasa Burma. Cek dari uang 50 kyat aja, ada terjemahannya.

Selain seru-seruan lihat pemanangan pinggiran Kota Yangon yang didominasi dengan rumput, di dalam kereta aku uga bisa lihat kehidupan orang lokal Yangon. Ada keluarga yang lagi piknik, ada orang yang pulang kerja, ada bapak-bapak yang asik ngobrol. Di dalam kereta juga banyak orang jualan, mulai dari jagung rebus, ubi, nanas, pir raksasa yang katanya dari Korea, sampe kabel USB.

Keretanya bekas kereta JR-nya Jepang

Kami berhenti di Yangon Central Railway Station. Stasiunnya besar banget dan bangunannya bergaya Eropa. Dari stasiun ini juga bisa naik kereta antar kota di Myanmar. Sayangnya, kesannya kotor karena kurang terawat.

lobi Yangon Central Railway Station

Dari Yangon Central Railway Station niatnya mau langsung ke Shwedagon Pagoda. Pas banget hari udah sore dan sebentar lagi udah jam-nya sunset. Kata orang sih waktu paling baik untuk ke Shwedagon Pagoda itu saat sunset. Sayangnya pas kami keluar dari stasiun, pas hujan turun. Daripada basah di Shwedagon Pagoda, kami belok haluan ke mal. Hahaha.

Nonton bioskop di Yangon


Di mal ada bioskop CGV yang kebetulan lagi memutar Crazy Rich Asians. Saat itu bahkan film ini belum tayang di Indonesia. Daripada nganggur, mending nonton aja.

Kalo nonton dapet free parking, sayang nggak bawa mobil. :p

Kalo di Myanmar harga bioskopnya tergantung tempat duduk. Kalo pilih duduk di tempat terbaik -di tengah agak belakang- bayarnya 11,000 kyat. Kalo nggak punya uang ya pilih yang harga 2,500 kyat aja, tapi posisinya yang di pojokan dan paling depan. Kalo aku sih pilih yang harga 4,000 kyat, posisi masih di tengah, tapi bukan yang paling strategis.

CGV juga jualan fishcake ala korea lengkap dengan kuah kaldu. Boleh banget dibawa ke ruang teater. Kalo udah selesai filmnya, sampahnya dibawa keluar sendiri dibuang ke tempat sampah.

Lucunya, sebelum nonton kami wajib berdiri dan nyanyi lagu kebangsaan Myanmar sementara di layar bioskop yang besar itu ada gambar digital bendera Myanmar yang berkibar-kibar. Saat nonton, nggak ada tuh subtitle di bagian bawah. Bahasanya juga tetep bahasa asli, bahasa Inggris, nggak di-dubbing pake bahasa lokal. Nah pas pulang orang-orang satu bioskop rame-rame ke depan buat foto bareng. Lucu ya.

Produk lokal Mymnar nemu di mal

Kelar nonton, aku sempat jalan-jalan di mal. Nggak sengaja nemu merk lokal Myanmar yang jualan barang-barang yang berhubungan dengan smartphone dan laptop yang namanya HOCO. Desain barangnya lucu-lucu dan harganya cenderung afdorable. Aku aja sempet bawa pulang converter untuk SD card, colokan handphone, dan colokal tipe C.

Bobo di kasur bersih


Hari itu bobo-ku nyaman banget karena ketemu kasur bersih. Dua hari kemaren aku cuma bobo di airport soalnya. Meskipun karpet KLIA empuk, tapi ya tetep namanya bobo di airport kan ya gitu ya. Eh,, perlu nggak sih aku cerita pengalaman bobo di airport?

Nemu pecel, soto, es cendol


Besoknya. di deket hostel aku nemu resto yang jualan makanan lokal Myanmar. FYI, kami makan di restonya udah di jam makan siang ya, karena sarapan di Once In Yangon Hostel udah cukup bikin kenyang.

Sesuai arah jarum jam: es cendol, mohinga, es cendol, tea leaf salad.

Kami keluar agak siangan karena bangunnya juga siang. Jalan kaki dikit, kami ketemu resto yang jual makanan lokal itu. Restonya bagus banget, desainnya cenderung mewah, dan bersih banget, tapi harganya bersahabat. Kami pesen tea leaf salad dan mohinga. Tea leaf salad itu mirip pecel, mohinga mirip soto. Untuk minumnya aku pesen es cendol-nya Myanmar. Meskipun mirip tapi rasanya bedaaa.

Jalan kaki ke Bogyoke Market dan Sule Pagoda


Puas makan, kami lanjut jalan-jalan. Literally jalan kaki ya. Kami jalan ke arah Sule Pagoda. Ternyata kami melewati Bogyoke Market, salah satu tempat wajib kunjung di Yangon. Kami mampir untuk lihat barang seni yang dijajakan di sana. Kebanyakan penjualnnya adalah penjual kain, terutama kain longyi. Harganya pun bervariasi, ada harga ada rupa.

Bogyoke Market tampak luar

Bogyoke Market dari dalam

Puas di Pasar Bogyoke, kami lanjut jalan kaki sampe ke Sule Pagoda. Jalan kaki di Yangon ini lumayan seru. Kalo lewat area Chinatown dan sekitarnya kami harus berbagi jalan dengan sesama pejalan kaki dan mobil di satu jalan sempit yang ramai. Sebenernya jalannya nggak sempit sih, tapi di kanan kiri jalan ada banyak banget orang jualan, entah makanan, entah buku, entah payung, pokoknya semua ada.

Burung dimana-mana

Kebetulan pas aku di sana, pas mulai musim hujan. Jeleknya nih, kalo habis hujan jalan cenderung becek. Jadi paling kalo jalan-jalan di Yangon paling enak pake sandal jepit. Ntar kalo kakinya kotor, tinggal dicuci.



Spot paling seru untuk foto Sule Pagoda

Sule Pagoda ini juga unik. Letaknya di tengah-tengah gitu. Kalo difoto dari jalan raya bagus banget. Spot paling seru untuk dapat foto Sule Pagoda yang di tengah jalan adalah dari jembatan penyebrangan di dekat Sule Plaza.

Momen sepi di Sule Pagoda yang langka

Sule Pagoda juga jadi titik pemberhentian sejumlah bus dalam kota Yangon. Hal ini akan aku bahas di bagian kedua tentang Yangon aja ya, karena di hari pertama dan keduaku di Yangon aku nggak pernah naik bus. Transportasi umum andalanku di Yangon adalah Grab.

Shwedagon Pagoda 


Aku pun naik Grab dari Sule Pagoda ke Shwedagon Pagoda. Thank God for Grab. Berhubung ada fitur chat yang bisa auto translate jadi komunikasi lancar. Dari sekian banyak Grab yang aku naiki, sopirnya nggak ada yang bisa ngobrol pake Bahasa Inggris lho.

Tiket masuk Shwedagon Pagoda

Pinjem longyi,, lumyan buat foto OOTD

Kami langsung ketahuan kalo orang asing karena nggak bisa Bahasa Burma. Kami pun diturunin di pintu kedatangan untuk turis internasional. Akibatnya kami harus bayar harga turis internasional dong, padahal kalo orang lokal masuk Shwedagon Pagoda gratis.

Details

Untung sore,, nggak silau lihat emas gedhe banget

Berhubung celanaku ada belahannya, meskipun panjang, aku diharuskan sewa longyi. Longyi-nya desainnya modern dengan motif polkadot warna biru. Aku mesti deposit dulu 3,000 kyat trus dibalikin pas aku ngembaliin longyi. Shwedagon Pagoda sendiri merupakan pagoda terbesar di Yangon. Kubahnya bener-bener dilapis emas. Untung aku ke sana pas udah sore, jadi pas lihat ke atas nggak silau dan kaki nggak kepanasan.

Terminal dan bus malam VIP yang penampakannya nggak banget


Malam itu kami lanjut ke terminal bus di ujung kota Yangon untuk lanjut jalan-jalan ke Mandalay. Pas nyampe terminal bus, sempat kaget karena terminalnya jelek banget dengan alas tanah yang berdebu. Apalagi pas diturunin sama sopir Grab di depan kantor bus-ya. Duh, ini kantornya jelek banget.

Selain ngangkut penumpang, ngangkut kulkas juga
Penampakan bus yang kumuh

Ternyata bus-nya juga nggak sesuai ekspektasi. Aku pikir karena udah pesen yang VIP, jadi dapetnya bus bagus banget. Eh, ternyata yang istimewa cuma di pengaturan seat yang 2-1, tampilannya tetep tampak kumuh. Ya gini deh pilih VIP tapi di harga paling murah. Nasib.

Tapi hari-hari awalku ini masih lebih mendingan lho. Kalo kamu tahu cerita perjalananku di Mandalay dan Inle Lake, lebih ngenes lagi. Hiks.

- Dinilint -

10 komentar:

  1. Unik ya mba sampe tulisan mereka nggak aku ngerti hihi tapi menarik banget klo berpetualang ke negeri yg tulisannya ga ngerti, tfs lho

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha.
      Iya mbak,, apalagi tulisannya nggak ada tulisan latinnya, jadi bener-bener nggak mudeng artinya apa.

      Hapus
  2. Tulisannya lengkaaappp dan pasti jadi panduan traveler yang baru pertama kali ke Yangon. Mulai dari transportasi, hotel, makan, hinggan landmark. Greaaaaat!

    BalasHapus
  3. Suka sama tulisannya. Btw kulinernya sepertinya enak sekali. Hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak.
      Untuk kuliner yang di warteg di aku rasanya kurang cocok, kalo yang di resto lumayan seger mbak.

      Hapus
  4. Seru pengalamannya... Nasionalisme di sana tinggi ya, mau nonton aja nyanyi lagu kebangsaan dulu hohoho...

    BalasHapus
  5. Hahaha...baca tulisanmu jadi ngebayangin serunya jalan2 Myanmar ya Lint. By the way, overall abis berapa jalan2 ke sini. Bujet aman berapaan yak biar tetep asoy jalan2 di sini? By the way, kamu bilang stasiun railway di Myanmar itu ga terawat, tapi dari foto kayaknya bersih2 aja ya? Cuma emang udah tua sih bangunannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha,, thank you masbro.

      Aku nulis pengeluaran hari per hari di https://www.dinilint.com/2018/10/itinerary-jalan-jalan-ngirit-ke-myanmar.html,, tiket pesawat aku dapat harga 600ribu Kl - Yangon - KL. Kalo yang Smg - KL - Smg sekitar 2juta kurang dikit karena belinya mepet.

      Iya,, gedung railway stationnya bagus banget, tapi sayangnya kurang terawat, cat-catnya udah ngelupas di sana-sini, kesannya gelap, beda kalo dibandingin dengan Stasiun Tawang yang sekarang.

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)