Kamis, 04 Juli 2019

Ada Apa di Jember? Ringkasan Cerita 3H2M Sueger Famtrip 2019

Udah lama aku penasaran dengan Jember. Kota kecil di Jawa Timur ini berhasil memikat dunia lewat gelaran karnaval fashion jalanannya.

Aku pertama kali dengar tentang Jember dari liputan tentang karnaval fashion yang mendunia, Jember Fashion Carnival (JFC). JFC disejajarkan dengan parade fashion jalanan di Rio De Janeiro. Pasti ada yang istimewa nih dengan Jember.

Bertahun-tahun kemudian aku dapat kesempatan untuk mengunjungi Jember. Meski kunjungan ke Jember belum dalam rangka nonton JFC yang spektakular, tapi rasa penasaran akan Jember tetap bikin aku excited dengan agenda travelling ke Jember ini.



Ada apa sih di Jember?


Naik kereta api ke Jember


Cara paling praktis dan nyaman untuk mencapai Jember adalah dengan naik kereta api. Stasiun kereta api di Jember sendiri ada beberapa; Rambipuji, Jember, dan Kalisat. 

Berhubung agenda pertamaku di Jember adalah Pantai Papuma, jadi aku turun di Stasiun Rambipuji. Keretaku sendiri berasal dari Surabaya. Butuh waktu kira-kira 4 jam dari Surabaya ke Jember.

Dari Rambipuji aku langsung bertolak ke Pantai Papuma dengan naik mobil selama kurang lebih 1 jam. Perjalanan mulus dan nggak banyak drama. Kecuali sedikit penyesalan yang datang belakangan tentang soto lamongan. Colek mbak Uniek, mbak Nia, dan mbak Noorma deh kalo mau kisah soto lamongan di Jember.

Sepanjang perjalanan dari Rambipuji ke Papuma, aku perhatikan ada banyak penjual makanan. Modelnya kaki lima di pinggir jalan. Yang datang biasanya rombongan keluarga yang makan barengan. Sempet lihat ada semacam pasar malam di alun-alun, dan nggak ada macet. 

FYI, perjalananku ke Jember ini dalam rangka ikutan Sueger Fam Trip 2019 yang diadakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember yang bekerjasama dengan teman-teman Blogger Sueger Jember. 

Pantai Papuma (Tanjung Papuma)


Aku sampai di Pantai Papuma ketika hari sudah gelap. Untung gelaran makan malam di pinggir pantai belum selesai. Penyesalan akan soto lamongan hilang sudah.

Mengawali perjalanan dengan makan aneka hidangan laut di pinggir laut emang paling bener. Sambil ngisi perut, sambil kenalan dengan teman-teman blogger yang juga ikutan Sueger Fam Trip Jember ini. Yap, blogger pocokan berhasil kopdar dengan para senior. 

Malam itu kami semua menginap di Pantai Papuma. Nggak nginep di tenda kok, tapi di kasur empuk di dalam kamar super luas. Kamu juga bisa lho menginap di Pantai Papuma. Perhutani punya hotel di pinggir Pantai Papuma.

Menginap di Pantai Papuma ini emang paling bener deh. Pasalnya, Pantai Papuma ini paling asik dinikmati pagi-pagi. Aku pun niat banget bangun sebelum matahari datang pagi itu. Padahal biasanya lebih suka peluk-pelukan sama selimut.

Nggak rugi sih bangun lebih pagi kalau menginap di Papuma. Di pinggir pantai sudah banyak nelayan yang membawa ikan hasil tangkapannya ke darat. Saat itu hasil laut terbanyak adalah ikan dan cumi-cumi.

Beberapa teman yang beruntung bisa ikut nyicip ikan hasil laut pagi itu. Cerianya ada beberapa nelayan yang memanfaatkan kayu di pinggir pantai untuk bakar ikan. Ikannya cuma dipanggang aja pakai api, tanpa bumbu. Tapi rasanya enak, manis, dan segar. Yang fresh emang beda ya.

La aku ke mana kok nggak ikut makan? 
Berhubung aku datang di Papuma udah malam, jadi aku ketinggalan acara explore Pantai Papuma kemarin sore. Padahal aku penasaran banget dengan keindahan Pantai Papuma. Jadinya aku jalan menyusuri Pantai Papuma sampai ke Sii Hinggil. Bahkan aku sempa blusukan ke area hutannya juga.

Nggak disangka-sangka, aku malah dapat temen jalan lain lagi. Cerita tentang Papuma ini akan aku bahas di post terpisah aja ya. Biar puassss.

Waton (Watu Ulo Pegon) Parade


Agenda selanjutnya adalah main ke Pantai Watu Ulo. Lokasi Pantai Watu Ulo ini sebelahan dengan Pantai Papuma, cuma dipisahin satu bukit.

Pantai ini dinamakan Watu Ulo, karena kalau dilihat dari atas, ada karang panjang yang bentuknya seperti sisik ular (ulo).

Di Pantai Watu Ulo sendiri ada acara rakyat bernama Waton Parade. Waton adalah kepanjangan dari Watu Ulo Pegon Parade. Watu Ulo jelas nama pantai, kalo pegon ini sejenis pedati/delman yang ditarik sapi. Kusirnya disebut bajingan.

Parade pegon di watu ulo sendiri udah jadi tradisi rakyat. Istimewanya, kali ini parade pegon ini disenggarakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember. Konon acaranya lebih meriah dan hadiahnya lebih mewah dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ada kurang lebih 50-an pegon yang iku serta memeriahkan waton. Bahkan bupati Jember juga datang naik pegon. Pegon-pegon ini dihias cantik. Sekalian ikutan lomba pegon mana yang paling cantik.

Selain parade pegon, ada juga lomba bakar ikan, pertunjukan kesenian seperti tari, reog, live painting, dan makan tumpeng berkat bersama-sama.

Cerita detail tentang Waton juga bakal aku tulis versi lengkapnya di post terpisah. Lagi-lgi biar puasssss.

Villa Rayap, kebun kopi, dan pabrik pengolahan kopi Rayap


Selanjutnya kami diajak naik ke daerah bernama Rayap. Surprise, aku nggak nyangka lho kalau Jember punya dataran tinggi. Udara di daerah Rayap ini sejuk banget. Begitu turun dari mobil langsung disambut dengan suara gemericik air. Auto pengen nyebur ke kali buat main air deh.

Lorong cantik di Villa Rayap. Pic by Alan

Ternyata di Rayap ini ada Villa Rayap. Villa ini adalah bangunan Belanda.  Dulunya bangunan villa ini merupakan rumah tinggal pejabat perkebunan dan pabrik kopi Rayap.

Perkebunan dan pabrik kopi Rayap masih ada sampai sekarang. Kopi hasil olahan di pabrik kopi Rayap ini juara. Sayang, kopi-kopi enak ini hanya unuk pasar ekspor, dari Amerika, Jepang, Singapura. 

Rembangan


Malam itu kami menginap di daerah Rembangan. Nggak jauh dari Villa Rayap tadi ada hotel dengan bangunan jadul. Tamannya luas banget. Berasa masuk ke dalam film tahun 90-an dengan adegan pesta taman.

Hotel ini bahkan punya kolam renang. Di kejauhan ada pemandangan Gunung Raung. Lokasi Hotel Rembangan sendiri berada di kaki Gunung Argopuro.
Kamar hotelnya juga super luas, lengkap dengan kamar mandi dalam. Arsitekturnya lebih mirip pavilliun, bukan kamar hotel. Tiap kamar punya ruang tamu sendiri. Terasnya luas banget, bisa buat goler-goler sampe kayang.

Museum Tembakau dan pabrik Cerutu


Agenda di hari terakhir Sueger Camp 2019 adalah balik ke Kota Jember. Kami diajak main ke Museum Tembakau. Lokasi Museum Tembakau ini jadi satu dengan kompleks perkantoran UPT Pengujian Sertifikasi Mutu Barang Disperindag Provinsi Jatim.

lukisan tembakau di Museum Tembakau

Jember sendiri merupakan salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia. Itulah mengapa Museum Tembakau ada di Jember. Di museum ini aku mendapat informasi baru; ternyata tembakau nggak cuma bisa diolah menjadi rokok dan cerutu, tapi bisa juga diolah menjadi sabun, parfum, minyak atsiri, dan pestisida. Informasi ini berdasarkan hasil penelitian lho.

Nggak cuma denger cerita dan lihat gambar aja, kami juga diajak main ke pabrik pengolahan cerutu BIN Cigar. Cerutu-cerutu produk BIN Cigar ini kebanyakan dijual unuk pasar internasional.

Ternyata nggak gampang lho mengolah cerutu, butuh ketelitan dan kesabaran. Cerita tentang cerutu dan tembakau akan aku bahas di pos terpisah aja ya.

Gudeg Pecel Lumintu


Sueger Camp 2019 ini ditutup dengan makan siang di Gudeg Pecel Lumintu, salah satu makanan legendaris di Jember. Porsi gudeg pecel ini emang luar biasa. Bayangin aja, menu gudeg dan pecel dicampur jadi satu. Semacam dua porsi makanan disajikan dalam satu piring.


Meskipun terdiri dari dua jenis makanan yang berbeda, rasa gudeg pecel ini istimewa. Gurihnya pecel bercampur dengan kuah gudeg yang cenderung manis. Duh, nulis ini mendadak laper. Pengen balik ke Jember buat makan gudeg pecel nih.

Cerita perjalanan ke Jember dan acara Sueger Camp 2019 sampai di sini dulu. Terima kasih untuk Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jember, teman-teman blogger Sueger Jember, dan teman-teman blogger semuanya.


Dan yang paling istimewa, terima kasih buat kamu yang sudah baca sampai bawah sini.

Dinilint

3 komentar:

  1. Jember punya banyak tempat asyik buat dikunjungi yaa

    BalasHapus
  2. Ga nyesel deh datang ke Jember ya, malah 3 hari 2 malam rasanya belum cukup buat eksplorasi semua destinasi yang ada. Belum lagi wisata kulinernya. Kreatif pemdanya bisa bikin parade pegon jadi hajatan berskala besar dan bisa dijual kayak gitu. Jadi kangen ngopi di Jember nih, manteb!

    BalasHapus
  3. Rasanya pngn ngulang ke jember lagi. Tp ditempat yg berbeda

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)