Rabu, 07 Agustus 2019

Menjawab Rasa Penasaran pada Jember Fashion Carnaval 2019

Udah lama aku mendengar tentang nama besar Jember Fashion Carnaval, perhelatan fashion carnaval berkelas dunia yang diadakan di jalanan kota Jember. Jember Fashion Carnaval sendiri disamakan dengan street carnival di Rio de Janeiro.


Bener nggak sih Jember Fashion Carnaval ini seheboh yang diberitakan media? Apa iya aku cukup datang ke Jember Fashion Carnaval dan nggak perlu datang ke Rio kalau cuma mau merasakan ambience street carnival? Apakah emang Jember Fashion Carnaval layak masuk ke dalam wishlist travelling?
Rio Carnival sendiri adalah perhelatan setahun sekali di jalanan kota Rio de Janeiro sejak tahun 1723. Tiap tahun Rio Carnival selalu penuh pengunjung. Sebanyak 2,000 orang memenuhi jalanan Rio untuk menyaksikan karnaval terbesar di dunia ini.

Jember Fashion Carnaval 2019


Buat aku, nama Jember Fashion Carnaval lebih terkenal dari nama Jember itu sendiri. Padahal, selain event tahunan Jember Fashion Carnaval, Jember punya banyak potensi wisata dan kuliner yang menarik untuk dieksplorasi, seperti Pantai Papuma, Dataran Tinggi Rembangan, Pusat Penelitian Cokelat dan Kopi, dan aneka kuliner pilihan unik seperti Pecel Gudeg Lumintu.

Aku sudah buktiin sendiri dengan jalan-jalan ke Jember bulan kemarin. Ceritanya sudah aku tulis di link ini ya. Kalau penasaran tinggal klik aja.

Balik lagi ke Jember Fashion Carnaval. Demi menjawab rasa penasaran pada Jember Fashion Carnaval, bulan Agustus 2019 ini aku sengaja meluangkan waktu untuk travelling ke Jember demi menonton langsung Jember Fashion Carnival 2019. Acara JFC 2019 sendiri berlangsung selama 4 hari, dari tanggal 1-4 Agustus 2019. 

Line up yang menarik


Dari line up-nya, aku tertarik dengan semua hal yang ditawarkan di JFC 2019 ini. Ada JFC Pet Carnival, JFC Kids Artwear Carnival, WACI (Wonderful Archipelago Carnival Indonesia), dan puncaknya di tanggal 4 Agustus adalah JFC Grand Carnival dengan bintang tamu Anne Avantie dan Cinta Laura Kiehl. 

Bunda Anne Avantie adalah salah satu desainer kebaya kebanggaan Indonesia. Spesialisasi Anne Avantie adalah di kebaya pesta yang megah dan anggun. Cinta Laura Kiehl adalah selebritis Indonesia yang punya banyak prestasi hingga ke ranah internasional.

JFC 2019 ini bertemakan Tribal Grandeur yang mempresentasikan 8 defile yakni Azteq, Hudoq, Minahasa, Karen, Polynesian, Mongolian, Zulu, dan Viking. Kalau melihat triller-nya, kostumnya unik, megah, dan menarik. 


Special privillage: ID card untuk fotografer dan media


Hal seru lain yang bikin aku nggak sabar untuk datang ke JFC 2019, aku dapat ID card khusus untuk fotografer dan media. Terus terang, aku nggak pinter foto. Gear foto yang aku gunakan juga pas-pasan, tapi dapat kesempatan untuk punya special privillage begini, sayang untuk disia-siakan.

Sumber: Instagram @jemberfashioncarnaval

Aku datang di tanggal 3 Agustus, saat jadwal WACI, Wonderful Archipelago Carnival Indonesia. Sesuai namanya, line up yang ditampilkan adalah:
  1. Opening: Tari Labako SMAN 2 Jember
  2. DKI Jakarta
  3. DIY Yogyakarta
  4. Kab. Jepara
  5. Kab. Malang
  6. Kab. Nganjuk
  7. Nusa Tenggara Barat
  8. Solo Batik Carnival
  9. Closing: Gus Ning Jember
Acara defile JFC 2019 sendiri hanya berlangsung sekitar 1 jam, mulai jam 2 siang hingga jam 3 sore. Peserta akan melakukan defile mulai di alun-alun Jember dan berakhir di Lippo Plaza Jember. Kalau dihitung jaraknya sekitar 2 km.
Hal ini sangat berbeda dengan street carnaval yang pernah aku tonton di Semarang dan Solo. Street Carnaval seperti ini biasanya berlangsung di malam hari, dengan durasi waktu yang lebih lama. Hal baiknya, lebih mudah mendapatkan foto bagus karena cahaya masih bagus.

Jadi begini...


Ini adalah kali pertama aku nonton carnaval dari barisan fotografer dan media. Selama ini aku cuma nonton di jalanan, dari barisan rakyat biasa yang menikmati euforia karnaval di jalanan langsung. 

Ternyata, nonton dari barisan fotografer itu nggak seru. Dari tempat aku duduk, para model yang berlenggak-lenggok di jalanan tampak sangat kecil. Fotografer-fotografer di sebelah bikin aku merasa terintimidasi dengan gear mereka yang super canggih, super wow, dan super panjang (*baca: lensa tele).



Defile dari Lombok yang menginspirasi aku untuk bikin baju atasannya yang kece.

Ya sebenernya nggak bisa dibandingin sih. Aku sendiri datang lebih sebagai penikmat karnaval, sedangkan para fotografer dan videografer di tenda itu datang untuk bekerja, demi konten juara dan emang tuntutan dari pekerjaan mereka.

Aku sendiri lebih menikmati nongkrong di jalanan, berbaur dengan orang-orang banyak. Aku kehilangan momen teriak-teriak, sikut-sikutan demi dapat spot terbaik, dan lompat-lompat saat melihat kostum istimewa atau pun ekspresi wajah para model.

Aku juga merasa penampilan para model dan kostumnya kurang spektakular. Well, kostum mereka pasti punya cerita tersendiri, - cerita di balik ide, cerita di balik pembuatannya,- tapi buat aku hal ini nggak jauh beda dengan apa yang aku lihat di kota lain.

Wonderful Archipelago Carnival Indonesia


Mungkin karena aku cuma datang di hari ketiga, di event WACI, bukan di acara puncak. Mungkin karena bapak street fashion carnaval di Indonesia, alm Dynand Fariz, juga membantu penyelenggaraan street fashion carnaval lain di Indonesia.

Anyway, bagian Solo Batik Carnival itu seru banget. Semua model bisa mempresentasikan kostum mereka dengan baik. Space super lebar mereka manfaatkan dengan bagus dan mereka super PD dan happy banget dengan kostum mereka. 

Di bagian penutupan aku juga terkesan banget dengan batik yang dipakai oleh Gus dan Ning Jember. Batik bergambar daun tembakau itu punya warna hijau yang seger banget. Aku pengen bawa pulang satu deh.

Batik tulis asal Jember dengan motif tanaman kopi


Tapi, JFC 2019 cukup menjawab rasa penasaranku akan perhelatan kelas dunia dari jalanan salah satu kota kecil di Jawa Timur, Jember. JFC yang selalu ada tiap tahun selama 18 tahun belakangan ini. JFC yang memperkenalkan Indonesia pada dunia. Mungkinkah aku mengulang nonton JFC tahun depan? 

Yang jelas, aku malah makin penasaran merasakan ambience-nya Rio Carnival, fashion street carnival terbesar di dunia.

Belajar membatik di salah satu di booth @yuniarbatik di Alun-Alun Jember

Satu lagi. Karena datang ke event JFC 2019 ini aku malah kenalan dengan batik hasil kreasi warga Jember. Aku suka banget dengan konsep batik lukisnya. Prosesnya menggunakan proses batik tulis, tapi warna yang dihasilkan mirip seperti warna lukisan yang bergradasi itu. Aku juga diajak untuk ikut proses membatik, mulai dari kain polos, digambar, sampe nyanting. Makasih ya mbak Yuniar dari Yuniar Batik yang rela aku 'rusuhin' stand-nya.

Travelmate selama di JFC 2019

Terima kasih juga untuk teman-teman Blogger Jember (Mas Nana, Mbak Prita), dan GenPi Jember (Bian) yang udah nemenin aku selama di JFC. Terima kasih untuk teman nongkrong after JFC, mbokdhe Eny, mbak Elvi, dan mas Daniel. Terima kasih tak terhingga untuk kamu yang rela baca ulasanku tentang Jember Fashion Carnival 2019. Muah,, muah,,.

Dinilint

5 komentar:

  1. Thanks for sharing, sukses terus,.

    BalasHapus
  2. Ih benerrrr! di spot media/fotografer kalo ga punya lensa tele sm aja boong. Mending nyari spot rakyat biasa. hahaha Etapi JFC keliatannya lebi rapi drpd carnival serupa lain di Smg/Solo ya. Lebi tertib.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya masbro, ada pagarnya gitu di pinggir jalannya. Kalo di Semarang kan nggak ada pagar dan penontonnya hardcore. Tapi ya kadang penontonnya suka disabet sama kostum modelnya yang aduhai itu. Menurutku Solo lebih rapi deh daripada Semarang.

      Hapus
  3. Wah menarik juga ya festival Jember ini, salam kenal ya mbak, saya yang dari gariswarnafoto hehe

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)