Sabtu, 05 Oktober 2019

Solo Travelling ke Way Kambas | How To Ge There

Sudah sejak lama aku ingin travelling ke Way Kambas, melihat dari dekat kehidupan para gajah di habitat aslinya, hutan. Ketika ada kesempatan untuk datang ke Lampung, -sebelumnya aku diundang Dispar Tanggamus untuk ikut Tour d'Semaka- aku tentu saja memasukkan Way Kambas ke dalam itinerary trip ke Lampung.


Sayangnya, nggak ada satu pun teman yang bersedia menemani perjalananku ke Way Kambas. Ya udah, solo trip deh ke Way Kambas. Gampang nggak? Nggak. Informasi perjalanan ke Way Kambas ternyata minim, apalagi untuk solo traveller macam aku. Kalau pun ada, informasinya sudah beberapa tahun yang lalu dan aku nggak yakin moda transportasinya masih berlaku atau nggak.

But, the show must go on.
Pasti ada jalan lah untuk travelling ke Way Kambas. Aku pun berusaha cari kenalan warga lokal Lampung untuk dapat informasi lebih tentang Way Kambas, bagaimana cara menuju Way Kambas dengan menggunakan transportasi umum, dan hal-hal semacam menginap atau one day trip di Way Kambas.

Singkat cerita, aku mendapat beberapa kontak dari orang-orang yang bersinggungan dengan Way Kambas; dua orang penduduk lokal yang merangkap jadi guide dan seorang pawang gajah yang selanjutnya kita sebut sebagai mahot.

Aku kontak ketiga orang tersebut. Aku mengatakan kepada mereka bahwa aku ingin ke Way Kambas untuk melihat gajah dari dekat, di habitat aslinya. Kalau bisa sih punya kesempatan main bareng gajah juga.

Naik bus Damri ke TN Way Kambas


Dua dari tiga orang menyatakan bahwa aku lebih baik menginap di Way Kambas. Sebenarnya bisa juga one day trip ke Way Kambas. Aku bisa naik bus damri paling pagi dari Bandar Lampung dan pulang menggunakan bus Damri sore dengan rute kebalikannya.

Berhubung aku ingin lihat gajah di habitat aslinya, main-main sama gajah, dan pengen menikmati sunset di Way Kambas, opsi terbaik adalah dengan menginap di Way Kambas, atau sekitarnya.

Menginap di Way Kambas


Di dalam Taman Nasional Way Kambas tersedia tempat menginap. Lokasinya tepat di depan kandang gajah. Satu kamar bisa diisi sampai empat orang. Sayangnya, aku travelling sendirian dan aku merasa kurang nyaman tidur di kamar sendirian di tengah hutan begitu.

Aku pilih menginap di rumah penduduk. Opsi ini lebih menarik untukku yang travelling sendirian ke Way Kambas. Paling nggak aku ada teman di rumah. Selain itu, aku juga punya kesempatan untuk berinteraksi dengan penduduk lokal dan mendengar cerita pengalaman mereka hidup berdampingan dengan gajah.

Aku menginap di rumah Mas Nandar, warga Dusun Labuan Ratu. Rumahnya berbatasan dengan wilayah Taman Nasional Way Kambas. Aku bahkan bisa jalan kaki untuk masuk ke area hutan Way Kambas. Detailnya akan aku ceritakan kemudian.

Menurut informasi dari Mas Nandar, cara untuk menuju ke Way Kambas dari Bandar Lampung adalah dengan naik Damri. Dulu ada Bus Damri yang melayani rute Rajabasa, Bandar Lampung langsung ke Way Kambas. Namun rute ini sekarang hilang. Meski begitu aku tetap bisa ke Way Kambas menggunakan Damri.

Untuk menuju Way Kambas dari Bandar Lampung, aku harus naik bus dari pool Damri Rajabasa. Bus-nya yang rute menuju Lampung Timur, arah Way Jepara. Nanti aku turun di Pasar Tridatu dan perjalanan ke Way Kambas dilanjutkan dengan naik ojek.

Minim informasi berakibat salah 


Aku datang ke pool Damri Rajabasa jam 5.30 pagi karena mendapat informasi bahwa Damri ke arah Way Kambas akan berangkat jam 6.00. Nyatanya, Damri ke arah Way Kambas baru berangkat jam 7.00. Bukan Damri-nya molor, tapi akunya yang salah informasi.

Ini nih salah satu kendalaku kalau travelling di Indonesia. Di saat bus, shuttle, kereta api, berlomba-lomba membeberkan informasi secara online, aku masih kesulitan mendapatkan informasi pasti tentang jadwal-jadwal keberangkatan bus Damri, khususnya di area Lampung ini.

Jadwal bus, tanya kondektur lapangan


Sambil menunggu jam keberangkatan bus, aku sempat bertanya pada petugas tentang jadwal Damri ini. Si bapak mengatakan, bahwa aku bisa melihat jadwal keberangkatan dan rute Damri dari Pool Damri Rajabasa di papan pengumuman. Sayangnya, papan pengumuman berada di dalam kantor pembelian tiket, sedang kantor baru buka pada pukul 7 pagi.

Ketika aku bertanya tentang jadwal keberangkatan bus dari arah sebaliknya, dari Pasar Tridatu ke Rajabasa, si bapak mengatakan bahwa sebaiknya aku bertanya pada kondektur Damri yang ada di lapangan. Intinya, si bapak sendiri nggak tahu jadwal pastinya tentang keberangkatan Damri dari arah lain ke arah Rajabasa.

Selama masa menunggu aku menunggu di pool Damri Rajabasa. Ruang tunggunya besar, kursinya nyaman, dan bersih. Sekitar jam 6.30 petugas kebersihan membersihkan ruang tunggu lagi.

Bus Damri ke arah Way Kambas ini sehari ada dua kali; jam 7 pagi dan sekitar jam 2.30 siang. Damri berangkat tepat waktu. Bus-nya besar. Selain memuat orang, bus ini juga memuat banyak barang. Sepanjang jalan, penumpang makin bertambah banyak. Sepertinya bus ini emang alat transportasi andalan banyak orang, dan barang juga tentunya.

Bus lanjut ojek


Alih-alih turun di Pasar Tridatu, aku turun di Plongkowati, beberapa km setelah Pasar Tridatu. Di sana aku akan dijemput oleh Mas Nandar. Rumah Mas Nandar, tempat aku menginap, jaraknya lebih dekat dengan Plongkowati dibanding Pasar Tridatu.

Sekitar jam 10 pagi aku sudah sampai di Plongkowati, bertemu Mas Nandar, dan diantar menggunakan motor ke rumahnya. Meski tergolong masih agak pagi, tapi cuaca di Labuan Ratu, desa tempat Mas Nandar tinggal, udah panas banget.

Sepanjang jalan menuju rumah Mas Nandar, aku melihat sawah hijau di kanan kiri. Ada sebagian jalan yang sudah mulus, dan ada sebagian jalan yang masih berbatu. Lalu lintas lenggang, malah cenderung sepi.

Siang itu aku istirahat dulu di rumah mas Nandar. Berdasarkan pengalaman Mas Nandar, kalau siang gajah-gajah sedang diajak trekking masuk ke hutan, padahal kami akan datang ke Pusat Latihan Gajah (PLG) di Way Kambas. Gajah-gajah ini akan kembali ke PLG sekitar sore hari, ketika cuaca juga sudah adem dan kondusif. Jadi aku dan Mas Nandar baru akan datang ke PLG nanti sore.



Cerita tentang pertemuanku dengan gajah aku ceritakan di post Solo Travelling ke Way Kambas | Part 2 ya. Terima kasih sudah membaca ceritaku tentang How To Get To Way Kambas meskipun aku solo travelling.

Kamu juga bisa datang ke Way Kambas, entah solo travelling atau beramai-ramai. Kontak aja mas Nandar melalui DM instagram-nya di sini.

See you on the other journey and blog post,
Dinilint

24 komentar:

  1. Wahh ternyata susah juga ya solo traveling ke Way Kambas. Transportasi menuju ke TNWK itu yang menjadi permasalahan utama kayaknya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masalahnya di minim informasinya mas. Kalo tahu infonya, ada angkotnya yang jelas kok, jalannya juga bagus.

      Hapus
  2. Udah pernah keliling Indonesia, cuma satu2nya provinsi yang belum saya kunjungi adalah Lampung, padahal terhitung dekat dengan Jakarta bahkan bisa via trasnportasi laut. Belum ada aja kesempatan ke sana. Semoga kelak bisa ke way kambas bisa berinteraksi dengan penduduk lokal dan mendengar cerita pengalaman mereka hidup berdampingan dengan gajah sepertinya seru. Pengalaman yang menyenangkan adalah ketika kita bisa berbaur dengan masyarakat lokal

    BalasHapus
  3. Pengalaman berbaur dengan warga lokal memang jadi salah satu cara terbaik untuk mengenal budaya setempat lebih baik ya. Mesti jadwalin liburan ke way kambas juga nih ;)

    Regards,
    Dee Rahma

    BalasHapus
  4. Kenapa ga Ada yg mau ikut ke Way Kambas yah? Padahal seru. Drama perbusan memang suka gitu. Info online ga sejalan sama kenyataan di lapangan

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kenapa nggak ada yang mau ikut, ya karena ......
      Terus sebelnya pas aku udah share cerita tentang Way Kambas banyak yang nyalahin kenapa aku nggak ajak-ajak. *lho malah curcol.

      Emang drama bus begitu. Semoga makin hari makin baik ya. Ada beberapa moda transportasi darat langgananku yang makin oke juga.

      Hapus
  5. Aiih cewek petualang ini jalan-jalan terus hehe. Tapi jaddi tau yaa akahirnya menuju Way Kambas berkat berrtanya-tanya hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaaa,, emang kudu tanya sana-sini, ngumpulin info sebanyak mungkin, terus ngerasain sendiri serunya di lapangan. Haha

      Hapus
  6. Itu bisa nginep di rumah penduduk seru juga. Emang rumah penduduknya disewain jadi penginapan atau ketemu pas di jalan dan ditawarin nginep?

    BalasHapus
  7. Din, salut sama semangat kamu! Traveling ke Lampung sendirian, naik bus, naik ojek, sampai nginep di rumah warga lokal. Bahkan cowok aja masih banyak yang mikir-mikir buat ngetrip kayak kamu.
    Selamat ya tujuan kamu tercapai. Aku selama ini hampir nggak pernah punya tujuan yang spesifik kalau traveling. Sebatas pengen ke kota ini, ke provinsi itu, susun itinerary pasti, tapi nggak pernah menjadikan destinasi spesifik itu sebagai alasan untuk berkunjung.

    BalasHapus
  8. untung mbak bus nya berangkat jam tuju, lebih baik menunggu daripada ketinggal, bisa bis menyusun jadwal lagi,
    akhirnya sampai juga way kambas keren ya, pingin ih main sama gajah ditunggu ceritanya

    BalasHapus
  9. Mbak, salut ya bisa solo traveling. Entahlah kalau saya pengennya ditemenin biar kalau ada apa-apa enggak bingung. Hehe ...

    BalasHapus
  10. Aku tuh ga berani solo traveling hahaha :) Ga kebayang deh ke Way Kambas naik DAMRI trus belum tentu tepat waktu juga keberangkatannya ya hahaha..Aku salut sama mbak Dini loh. Pasti puas banget begitu sampai di sana apalagi ketemu si gajah manis :D

    BalasHapus
  11. Wah, aku blm pernah solo travelling. Itu gimana coba, jadwal bus di dalam kantor, kantor baru buka jam 7 pagi. Gitu kayaknya kalo jadi satu²nya transportasi andalan, trus pelayanannya ala kadarnya.
    Aku suka bagian yg nginep di rumah penduduk. Aura keramahtamahannya kerasa ya...Btw...Dini naik gajah juga?

    BalasHapus
  12. Fotonya cantik banget kak, bikin mupeng mau ke Way Kambas jadinya. Anw, langsung follow mas Nandar, ahaha. Kapan2 kalau mau ke sana tinggal hubungi dia aja deh jadinya. Tfs ya mbak ��

    BalasHapus
  13. Wah..asyik nih..ditunggu cerita selanjutnya ya.. BTW, amankah naik ke punggung gajah (bagi gajah & penumpang) ?

    BalasHapus
  14. Aku tuh juga pengen banget deh sesekali nyobain solo traveling gitu tapi belum kesampaian. Banyak banget kepikiran nanti masa kemana-mana sendirian. Hahahahaa... Tapi kayaknya bisa sekalian me time ya mbak.

    BalasHapus
  15. Wah, baca tulisan ini aku jadi pengen nulis juga.
    Desember 2018 pun aku nginep di tempat Mas Nandar. Bedanya, waktu itu aku nge-tripnya berdua.
    Seneng nginep di rumah Mas nandar, bisa dapat banyak cerita dan biaya menginap serta jasanya dia pun nggak terlalu mahal. Dan yang bikin aku betah tinggal di rumah mas Nandar, masakan istrinya enak banget dan bisa request mau dimasakin apa :)

    BalasHapus
  16. Pasti jadi pengalaman tak terlupakan ya solo travelling ke way kambas��. Dan drama selama perjalanan menuju kesana berhasil terbayar karena sdh bisa ketemu sama gajah erin dan gajah2 lainnya��

    BalasHapus
  17. anak2 nggak mau diajak ke Way Kambas nih Din..pdahal emaknya pengen..,
    mesti bareng aja kita ya he.. he...
    ini lho mudik Lebarannyanya ke Lampung tapi belum pernah ke Way Kambas gimana sih kalah sama dirimu

    BalasHapus
  18. Wah hebaaaat solo traveling ke Way Kambas
    Aku pernah ke Way Kambas, sekitar 7 tahun lalu
    Sayangnya file foto entah dimana, jadi gak punya kenangan yang bisa dibagi hiks

    BalasHapus
  19. Wah keren Din,berani sendirian ke sana, bayangin rutenya aja lelah aku apalagi sendirian..terbayar ya naik gajaah..jadi ingat Rahmi, gajah kecil yang belalainya terluka..

    BalasHapus
  20. Saya juga ada rencana ke TNWK,lagi cari informasi, rute dsb yg lengkap biar bisa ngatur waktunya dan gak nyasar haha

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)