Rabu, 20 November 2019

Bangunan Cagar Budaya untuk Warung Bakso

Hari ini aku akan cerita tentang pengalaman makan bakso dan mi ayam. Ya, menu favorit bagi hampir sebagian besar masyarakat Indonesia. Aku berpendapat semua orang pasti pernah makan bakso dan mi ayam dalam hidupnya. Tapi kalau makan menu favorit semua orang ini di bangunan cagar budaya, ada yang pernah coba?


Warung Bakso So'un Semarang


Mari kita bahas tentang bakso dan mi ayamnya dulu. Warung yang jualan bakso dan mi ayam ini bernama Warung Bakso So'un Sompok. Lokasinya memang ada di Jalan Sompok Semarang. Sesuai namanya Bakso So'un ini jualan bakso.


Selain melayani pesanan bakso dalam porsi satuan seperti tukang-tukang bakso pada umumnya, Bakso So'un juga melayani untuk pesan bakso satuan. Pesan bakso satuan maksudnya, aku bisa pesan cuma baksonya saja, atau cuma kuah baksonya aja, atau kombinasi antara kuah bakso dan sayur aja. Pesan bakso satuan ini cocok buat aku yang lebih suka pesan bakso dengan sayur yang banyak.



Kalo pesen satuan, sayurnya ditaruh di wadah sendiri

Seperti sudah aku ceritakan di atas, selain menu bakso, Warung Bakso So'un juga menyediakan mi ayam, menu favorit lain yang selalu disukai. Menu mi ayam bakso juga ada. Untuk menu minuman ada es campur yang diberi nama es selalu dengan aneka pilihan sirup, dan minuman wajib; es teh dan es jeruk.

Bahasa Jawa alus


Yang membuat Warung Bakso So'un beda adalah saat pesan di Bakso So'un, aku selalu dilayani menggunakan Bahasa Jawa halus. FYI, aku pun nggak pinter ngomong Bahasa Jawa, apalagi Bahasa Jawa halus begitu. Aku juga sudah jarang sekali menemukan orang yang berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa alus. Jadi pengalaman pesan di Warung Bakso So'un aja sudah memberikan pengalaman berbeda.


Untuk menghadapi situasi begini niasanya aku akan pesan menggunakan Bahasa Indonesia, dan si mbak/mas yang melayani membalas dengan Bahasa Jawa halus. Berkomunikasi menggunakan Bahasa Jawa halus juga kejadian pada konsumen lain, baik yang orang Jawa maupun orang bukan Jawa. Kemungkinan besar, syarat bekerja di Bakso So'un adalah menguasai Bahasa Jawa halus.

Warung yang menempati bangunan cagar budaya


Selain penggunaan bahasa Jawa alus dalam melayani konsumen, Warung Bakso So'un ini menempati bangunan cagar budaya. Serius! Bangunan cagar budaya untuk warung bakso.


Iya, bangunan cagar budaya adalah bangunan tua. Salah satu kondisi satu bangunan disebut bangunan cagar budaya adalah usianya lebih dari 50 tahun. Nah, kalo bangunan yang dipake untuk Warung Bakso So'un ini umurnya kira-kira udah 100 tahunan.


Eits, jangan bayangin bangunan cagar budaya yang dipake Warung Bakso So'un ini merupakan bangunan tua yang terabaikan, kotor, dan bobrok ya. Bangunan yang dipakai untuk Warung Bakso So'un ini terawat dengan baik. Bangunannya bersih, cat-nya masih bagus, lantainya kinclong.

Rumah peninggalan masa kolonial Belanda


Bangunan warung bakso ini merupakan bangunan dari masa kolonial Belanda. Kalau menurut orang-orang yang tinggal di sekitar warung bakso ini, bangunannya kira-kira berumur 100 tahunan.

Kawasan Jalan Sompok Semarang sendiri dulunya adalah pemukiman penduduk Belanda saat Belanda menguasai Indonesia. Di sepanjang Jalan Sompok Semarang sendiri masih banyak rumah-rumah peninggalan masa kolonial Belanda. 

Balik lagi ke warung bakso ya. Bangunan warung bakso ini luas banget. Yap, salah satu ciri khas bangunan peninggalan Belanda adalah luas, baik tanahnya maupun bangunannya. Awalnya Warung Bakso So'un ini hanya menggunakan halaman saja untuk dimanfaatkan sebagai warung bakso.


Proses meracik bakso, mi ayam, dan aneka es dilakukan di halaman bagian depan (dekat jalan). Konsepnya jadi semacam dapur terbuka. Sebagian halaman lain digunakan untuk makan bakso. Mereka menambah atap dan membuat ruangan semi outdoor di halaman dan menata kursi dan meja sedemikian rupa sebagai tempat makan bakso.



Berhubung pengunjung Warung Bakso So'un makin lama makin bertambah, bangunan rumah utama pun ikut dimanfaatkan untuk menampung tamu. Kursi dan meja ditata sedemikian rupa dari mulai ruang tamu hingga ruang tengah. Kalau makan bakso di ruang tengah, aku bisa melihat ada taman di sebelah ruang tengah rumah.



Taman di dalam atau belakang rumah ini rasa-rasanya jadi salah satu ciri bangunan peninggalan masa kolonial. Makan di Warung Bakso So'un malah bikin aku berkhayal kalo di jaman dulu noni-noni Belanda mungkin menghabiskan sore sambil minum teh di bawah pohon di taman belakang rumah. So romantic.



Meski berada di dalam bangunan utama, Warung Bakso So'un tidak menggnakan AC. Langit-langit tinggi dan jendela-jendela yang besar, ciri khas bangunan Belanda, membuat sirkulasi udara mengalir dengan lancar. Hal ini sangat cocok dengan iklim Semarang yang panas. Sirkulasi di rumah-rumah peninggalan Belanda biasanya asik, jadi menimbulkan hawa adem di dalam rumah.

Intinya, bangunan cagar budaya yang jadi warung bakso ini malah terawat dengan baik. Apakah bangunan ini tetap cantik karena dia dimanfaatkan menjadi warung bakso, atau karena bangunan ini akan dimanfaatkan menjadi warung bakso, maka bangunan ini dipercantik?

Cagar budaya dan warung bakso ?


Oke, sekarang balik lagi ke cagar budaya ya. Sebenernya cagar budaya itu apa sih? Kalau menurut definisi dari Kemdikbud, cagar budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan yang perlu dilestarikan keberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama, dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.

Salah satu detail yang masih ada di Warung Bakso So'un

Cagar budaya sendiri bisa berupa

  • Benda cagar budaya
  • Bangunan cagar budaya
  • Struktur cagar budaya
  • Situs cagar  budaya
  • Kawasan cagar budaya


Bangunan rumah yang dimanfaatkan jadi warung bakso ini masuk ke dalam kategori bangunan tentunya. Bangunan rumah peninggalan masa kolonial ini pastinya memiliki nilai penting, menurutku bisa dari sisi:

  • sejarah, karena mengingatkan kita tentang masa pendudukan Belanda di Indonesia
  • ilmu pengetahuan, belajar dari struktur bangunan dan arsitektur rumah lama yang masih kokoh dan punya sirkulasi udara bagus, bisa dicontoh untuk bikin bangunan lain
  • kebudayaan, karena belajar tentang sejarah kultur masyarakat Semarang yang multikultur dan salah satu pengaruhnya dari Belanda.

Aku pribadi merasa menggunakan bangunan cagar budaya sebagai warung bakso adalah sesuatu yang menarik. Alasannya:
  • Bakso adalah common food bagi hampir semua rakyat Indonesia, siapa saja bisa makan bakso,
  • Hal ini berarti siapa saja bisa datang ke warung bakso di mana warungnya menempati bangunan cagar budaya,
  • Semua kalangan, tua-muda, ekonomi menengah-atas bisa makan bakso, artinya semua kalangan bisa menikmati bangunan cagar budaya,
  • Semua pelanggan warung bakso bisa punya pengalaman berbeda menikmati bangunan cagar budaya karena mereka akan menghabiskan minimal setengah jam di bangunan cagar budaya saat menikmati makan bakso di bangunan bersejarah itu.
  • Bangunan pasti terawat dan lebih hidup, karena ada aktivitas manusia di bangunan itu.

Meskipun bangunan cagar budaya memiliki tingkat perawatan yang berbeda dengan bangunan biasa, tapi merawat bangunan cagar budaya adalah hal yang penting. Ingat dong, ada banyak nilai-nilai penting yang bisa kita dapatkan dari cagar budaya. Kalo dalam hal bangunan cagar budaya yang dimanfaatkan jadi warung bakso ini ada nilai sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.


Salah satu cara merawat bangunan cagar budaya dengan memanfaatkannya menjadi hal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti memanfaatkannya menjadi warung bakso tentu saja bisa jadi solusi. 
  • Untuk pengelola, mereka pasti menjaga bangunan cagar budaya ini agar tetap bersih dan terawat, sehingga pelanggan merasa nyaman makan di sana. 
  • Untuk pelanggan, mereka bisa mendapat pengalaman berbeda dengan bangunan cagar budaya, belajar tentang bangunan cagar budaya, dan ikut merawat bangunan tersebut karena motivasi ingin balik lagi makan bakso enak di sana.
Intinya makan bakso di bangunan cagar budaya nggak cuma dapat rasa enak dari kecapan lidah dan perut kenyang, tapi dapat satu artikel tentang cagar budaya, cagar budaya yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, sehingga bangunan cagar budaya ini terawat.

Kamu punya pendapat sendiri tentang cagar budaya? Yuk ikutan lomba blog tentang cagar budaya: rawat atau musnah.


Terima kasih ya, buat kamu yang ikut belajar bersamaku dengan membaca artikel ini. Lots of love dan...

...yuk makan!

Dinilint

10 komentar:

  1. Unik banget yaa...bangunan cagar budaya dijadikan tempat makan,mungkin baru di Sompok ini aja kali yaa. ..Dan aku baru tau klo itu bangunan cagar budaya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo jadi tempat makan, mungkin ada beberapa ya mbak. Tapi jadi tempat makan yg marketnya kalangan menengah atas.

      Nah kalo yg di Sompok ini jado warung bakso, di mana semua kalangan, semua selera bisa makan. Jadi jangkauan marketnya lebih luas, orang yg menikmati bangunan spesial ini jg lebih banyak. Ya nggak?

      Hapus
  2. Aku baru tau banget mbak. Ternyata ngga cuma lawang sewu, kota lama aja ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Di Semarang banyak sih. Yang potensial jg banyak

      Hapus
  3. Aaakk kl ke semarang mau nyoba bakso ini ah.. Sekalian melestarika cagar budaya, eheheh

    BalasHapus
  4. Jadi pengin ke sini, mau makan bakso sekaligus lihat-lihat bangunannya. Ini yang dagang bakso yang punya rumah atau bagaimana, ya?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kurang paham juga aku mbak. Tapu emang idenya yg punya seru & unik yaa.

      Hapus
  5. Unik juga, bisa kulineran sekalian wisata sejarah juga dalam satu tempat.

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)