Jumat, 15 November 2019

Solo Travellilng ke Way Kambas | Part 2

Akhirnya, aku punya kesempatan untuk berkunjung ke Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Perjalananku kali ini adalah solo travelling menggunakan transportasi umum. Bagaimana caraku menuju TN Way Kambas dari Bandar Lampung sudah aku tulis di post sebelumnya.


Di post ini aku akan menceritakan keseruan bertemu gajah di habitat aslinya, main dengan gajah, mengenal kehidupan masyarakat yang tinggal tetanggaan dengan gajah, bahkan masuk hutan dan ikut patroli gajah.


Day 1 - pagi


Aku tiba di Labuan Ratu, lokasi tempat tinggal Mas Nandar, tempat aku menginap di Way Kambas, sekitar jam 10-11 pagi. Berhubung hari masih panas, maka aku memutuskan untuk istirahat dulu di rumah Mas Nandar.  Lagipula kalau siang para gajah yang tinggal di Pusat Latihan Gajah (PLG) sedang trekking di dalam hutan.

Selama di Way Kambas, aku menginap di rumah Mas Nandar. Mas Nandar adalah warga Labuan Ratu, salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Taman Nasional Way Kambas. Untuk mencapai TN Way Kambas bisa jalan kaki dari rumah Mas Nandar.


Kamar di Rumah Mas Nandar, tempat aku tinggal selama di Way Kambas

Begitu sampai di rumah, istri Mas Nandar menggoreng singkong sebagai tanda ucapan selamat datang. Singkongnya enak banget dan bikin kenyang.

Welcome snack di Way Kambas

Day 1 - siang


Sekitar jam 1 siang, Mas Nandar mengajak aku untuk makan siang di warung. Harga makanan warung di sekitaran Labuan Ratu sekitar Rp. 10,000. Dari rumah Mas Nandar mesti naik motor karena agak jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Menunya sendiri adalah masakan Jawa seperti pecel dan nasi rames. Ya, Desa Labuan Ratu sendiri memang dihuni oleh mayoritas imigran asal Jawa.

Pecel warung di Labuan Ratu, Way Kambas

Setelah makan, aku lanjut berkunjung ke tempat pembuatan batik tulis di Labuan Ratu. Selain berjualan batik tulis khas Way Kambas yang bermotif gajah dan badak, aku juga bisa belajar batik tulis di rumah Pak Basuki. Aku memilih untuk membatik gajah di selembar kain selebar sapu tangan.


Mengapa di Way Kambas ada usaha batik tulis? 
Hal ini disebabkan dari kegelisahan Pak Basuki yang bekerja sebagai penjahit. Pelanggan Pak Basuki adalah para karyawan yang diharuskan menggunakan baju kerja yang terbuat dari kain tradisional di hari-hari tertentu. Para karyawan membeli kain batik kemudian menjahitkan kain tersebut di tempat si bapak. Berhubung kain batik para karyawan ini motif polanya berantakan, Pak Basuki kerap mengalami kesulitan saat memotong kain.
Akibatnya si bapak belajar bagaimana cara membuat kain batik yang baik. Si bapak belajar membatik sampai ke Jember, tempat temannya. Si bapak keterusan dan menggeluti usaha batik tulis di Labuan Ratu. Selain jualan kain, si bapak juga mengajari membatik untuk para traveller yang datang ke TN Way Kambas.

Day 1 - sore


Sorenya aku diantar Mas Nandar ke PLG TN Way Kambas. Kami masuk melalui pintu 3 Way Kambas. Di TN Way Kambas memang ada beberapa pintu masuk. Di pintu masuk ke-3 ini aku melihat ada portal yang penyok. Ternyata portal ini diinjak gajah supaya para gajah bebas keluar masuk perbatasan hutan dan pemukiman warga. Jadi sekarang portal tersebut nggak difungsikan.

Jalan di area TN Way Kambas sendiri sudah mulus. Kalau jalan di pemukiman warga, khususnya desanya Mas Nandar masih nunggu giliran untuk diaspal, saat ini masih berupa bebatuan kasar.

Begitu di kandang gajah aku bertemu dengan Erin, gajah kecil yang belalainya putus. Erin gajah liar yang diselamatkan tim ERU (*cerita soal ERU nanti di bawah ya). Saat masih bayi Erin terkena jebakan jaring di hutan. Akibatnya, belalai gajah Erin harus diamputasi. Erin dirawat di PLG Way Kambas. Sekarang Erin sudah bisa menyesuaikan diri dengan belalai pendeknya.

Gajah liar hidup berkelompok. Mereka biasa jalan-jalan di hutan secara berkelompok. Saat Erin terjebak jaring, ibu Erin tidak mampu menyelamatkan Erin. Ibu Erin dan kelompoknya meninggalkan Erin di hutan. Oleh sebab itu, tim ERU bisa menyelamatkan Erin.

Saat Erin tinggal di PLG, beberapa kali ibu Erin dan kelompoknya menjenguk Erin. Mengetahui Erin sudah dirawat dengan baik, ibu Erin kembali ikut kelompoknya dan keliling hutan. Ini yang cerita Mas Nandar ya, bukan karangan aku.




Hai, this is Erin. • Erin adalah gajah kecil yg menarik perhatianku di Way Kambas. Umurnya mungkin sekitar 4 th, & belalainya nggak sempurna. • Dulu Erin adalah gajah liar yg tinggal di hutan #waykambas. Suatu ketika Erin terjerat jebakan manusia. Jebakan itu dibuat bukan utk gajah, tp utk hewan buruan lain. • Karena jeratan itu, Erin kehilangan sebagian belalainya. Tim ERU membantu menyelamatkan Erin, & kemudian Erin ditempatkan di Pusat Pelatihan Gajah. • Erin sendiri sudah gendut lagi, sudah mampu makan meskipun belalainya cacat. Ibunya pernah berkunjung nengokin Erin & skrg balik lago tinggal di hutan. • Dulu, pas baca cerita Erin, rasanya aku pengen maki2 manusia yg pasang jerat, & merasa sangat kasihan sama Erin. Kemarin, stlh bertemu langsung dg Erin, aku malah tambah pengalaman baru & makin bersyukur dg Semesta & Alam Raya yg luar biasa ini. • Intinya, bayi gajah Erin yg terjebak di hutan aja dipelihara, tentunya kamu juga dong. • 📷: @sunandarlamtim #gajah #gajahsumatera #elephant #traveltoindonesia #iamtb #travelblogger #indonesiantraveler #girlsthatwander #shetravels #sheisnotlost
Sebuah kiriman dibagikan oleh Sprinkle Stardust (@dinilint) pada

Selain Erin, aku juga bertemu banyak gajah lain. Semua gajah di PLG TN Way Kambas punya nama.Kemarin aku sempat kenalan sih, tapi berhubung ini nulisnya udah lewat sebulan kemudian, aku lupa nama-namanya siapa. 

Masing-masing gajah punya mahot sendiri. Mahot ini artinya pawang gajah ya. Semua mahot hafal semua nama dan kelakuan masing-masing gajah. Well, seperti manusia, gajah punya karakternya masing-masing.

Ada cerita menarik tentang gajah dan mahot nih. Gajah yang ada di PLG meski sudah dilatih sedemikian rupa, tapi pada dasarnya tetap hewan liar. Mohot-mahot ini juga pernah jadi korban liarnya gajah, seperti dilempar menggunakan belalai atau pun nyaris tertusuk gading gajah. Pekerjaan mahot ini emang menantang.

Tiap sore gajah-gajah di PLG Way Kambas mandi dengan cara nyemplung ke dalam kolam raksasa di samping kandang gajah. Saat nyemplung, ada mahot yang menemani. Ya, mahotnya ikutan mandi juga.

Day 1 - sunset


Tentang kandang gajah, kandang ini berupa padang rumput luas. Ketika matahari terbenam, warna langitnya cakep banget. Lihat gajah-gajah makan rumput dengan latar belakang langit senja jadi pengalaman berharga aku ketika travelling ke Way Kambas.
Di dekat kandang gajah juga ada penginapan untuk pelanncong. Yang mengelola penginapan ini adalah para mahot. Kalau kamu tertarik tidur dan bangun lihat gajah, menginap di sini bisa jadi pilihan.

Day 1 - malam


Kami pulang sebelum gelap ke rumah Mas Nandar, tempat aku menginap. Berhubung kami akan melewati hutan, jadi lebih baik pulang saat hari masih terang.

Malam itu aku makan malam di rumah Mas Nandar. Istrinya Mas Nandar masak enak buat aku. Aku juga dapat satu kamar di rumah Mas Nandar. Kamarnya nyaman dengan kasur yang empuk.

Day 2 - pagi


Paginya, aku request untuk sarapan singkong goreng alih-alih nasi. Istri Mas Nandar nambahin omelette untuk menu sarapan, ditambah dengan teh anget. Udara pagi di Desa Labuan Ratu seger banget, beda banget dengan udara saat siang. 

Sarapan di halaman rumah Mas Nandar

Aku sengaja minta menu singkong goreng alih-alih nasi


Sekitar jam 6.30 pagi aku start jalan kaki menuju lokasi ERU (Elephant Respon Unit). Lokasinya ada di dalam hutan. Dari rumah Mas Nandar kami berjalan kaki sekitar 2 km. Meski tampaknya jauh, tapi nggak berasa. Sepanjang jalan aku disuguhi langit biru cerah, udara segar pagi hari di hutan, dan di beberapa titik ada bonus bunga liar.

Sambil jalan, Mas Nandar juga menceritakan pengalamannya tinggal tetanggaan dengan gajah sejak kecil. Gajah liar kadang suka main sampai pemukiman penduduk dan merusak kebun warga.

Menurut Mas Nandar, kalau manusia kesal dengan tingkah gajah, besoknya gajah akan datang lagi dan merusak bagian lain. Tapi ketika manusia ikhlas dan mempersilakan beberapa tanamannya untuk makanan gajah, keesokan harinya gajah akan menggunakan rute yang sama dan nggak merusak tanaman yang masih bagus lainnya.

ERU sendiri ada untuk mengatasi konflik gajah dan manusia. Beberapa contoh korban konflik gajah dan manusia adalah Erin yang kehilangan belalainya, dan warga yang kebunnya rusak. 

Di ERU, ada beberapa gajah yang dilatih sedemikian rupa. Gajah-gajah terlatih ini akan berkomunikasi dengan gajah liar di hutan TN Way Kambas. Komunikasinya semacam begini, "Gajah liar, kamu lewat jalur sana aja ya, jangan jalur sini. Kalau di sini pemukiman warga. Jangan gangguin warga."

Salah satu hasil komunikasi gajah liar dan gajah terlatih ERU adalah ditemukannya bayi gajah, Erin, yang terjebak jebakan warga.

Ketika aku datang pagi itu di ERU, gajah-gajahnya masih makan. Sebenernya gajah ini kegiatannya makan sepanjang hari, termasuk pas lagi patroli masuk hutan. Gajah ini berhenti makan kalau lagi tidur.

Setelah makan, gajah-gajah ini pergi mandi. Ada hal menarik yang aku lihat di sini. Jadi, si gajah ini saat malam kakinya dirantai supaya nggak pergi. Saat mau mandi, rantai ini dilepas. Mahot nggak perlu angkatin rantai dan tarik rantai seperti anjing yang diikat dan diajak jalan-jalan, melainkan rantainya dibawa sendiri oleh si gajah. Pinter!

Mahot memberi makan gajah

Lepas rantai karena mau mandi, lanjut patroli

Mandi

Minum sekalian main air

Aku pun berpikir, kalau gajah ini nggak nyaman, dia tinggal tarik rantainya aja. Dia pasti udah bebas tak berantai. Ini berarti si gajah nyaman di ERU dan TN Way Kambas.

Kembali ke gajah mandi. Kalau di ERU gajah mandi dengan disemprot selang air, kemudian digosok. Kulit gajah ini meskipun tampak berkerut tapi tebalnya minta ampun. Kalau dilihat dari dekat ada rambut-rambut yang jarang, yang tebal di kulit gajah.

Rambut di kulit gajah

Kulit gajah yang tebal

Setelah si gajah bersih, saatnya patroli. Aku sendiri ikutan patroli bareng Daeng, gajah jantan asal Makassar dan Mas Ciput, mahotnya. Ya, aku naik gajah Daeng. 

Day 2 - siang


Gajah Daeng dipasang bantalan berupa kain di punggungnya untuk aku dan Mas Ciput Duduk. Mas Ciput duduk persis di belakang telinga Daeng, fungsinya untuk mengendalikan jalan Daeng. Cara mengendalikan gajah adalah di belakang telinganya. Aku sendiri duduk agak belakang, menyesuaikan dengan tonjolan tulang belakang Daeng. Aku duduk di punggung yang tidak menonjol, nyaman untukku dan juga nyaman untuk Daeng.

Ikut patroli gajah bareng Daeng dan Mas Ciput

Emang sih ada kontroversi soal naik gajah ini. Ada yang berpendapat bahwa struktur tulang belakang gajah yang berupa tonjolan-tonjolan bukan untuk hewan tunggangan. Ini masuk akal. Selama ini kalau lihat gajah tunggang, mereka menaruh papan kayu yang berat di punggungnya. Papan kayunya sendiri sudah berat, bentuknya pun lurus, dan pasti nggak compatible dengan tonjolan-tonjolan di punggung gajah.

Nah, kalau aku naik gajah di bagian punggung yang nggak ada tonjolan. Aku pun ditemani oleh mahot. Proses patroli gajah sendiri memang mengharuskan mahot naik ke atas gajah. 

Masuk hutan bareng Daeng

Aku ikut patroli gajah dan masuk ke dalam hutan sekitar 1,5 jam. Ternyata waktu 1,5 jam ini berlalu sangat cepat. Masuk hutan bareng gajah emang jadi pengalaman beda yang asyik. Aku bisa melihat hutan dari ketinggian, dengan kecepatan yang santai.

She is smiling

Terima kasih ya buat TN Way Kambas untuk pengalamannya yang seru. Terima kasih juga buat kamu yang sudah baca cerita petualanganku solo travelling ke Way Kambas. Semoga kamu juga bisa ke sana dan merasakan keseruanku ya. Untuk yang udah pernah, selamat bernostalgia.

Dinilint

Harga menginap satu malam di rumah penduduk dan sarapan Rp. 150,000
Makan malam dan makan siang di rumah penduduk Rp. 25,000 per makan
Kalau mau kontak Mas Nandar, bisa main ke instagramnya, ini link-nya.

Video keseruanku travelling di Way Kambas juga ada. Siapa tahu mau lihat.


44 komentar:

  1. seru banget sih huhu mupeng bgt dikala kerjaan di kantor masih banyak. Antara seneng dan ga tega gini kalau jalan-jalan bareng gajah

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tungguin pas kerjaan agak selo, pas bisa ditinggal mbak.
      Eh tapi kalo mbak Insal tinggalnya di Jakarta, bisa lho melipir pas weekend doang

      Hapus
  2. Lucu banget ya gajah kalau lagi guling-guling gegoleran gitu. Senangnya Mbak sudah sampai Way Kambas. BTW kasihan Erin belalainya putus :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, seneng salah satu bucketlist berhasil dicoret.
      Erin udah better, udah bisa adapatasi dengan belalai pendeknya.

      Hapus
  3. Aku pernah ke Way Kambas
    Dan terkagum-kagum lihat para mahot yang mahir banget mengendalikan gajahnya
    Takjub aja gitu lihat si gajah mau nurut disuruh ngapa-ngapain sama mahotnya
    keren ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku pun mbak.
      Apalagi semua mahat hafal semua nama gajah. Padahal di mataku, gajahnya mirip-mirip bentuknya. Haha

      Hapus
  4. Din, terpercaya, ya, itu Mas Nandar? Aku juga mau ke sini

    BalasHapus
  5. Wuiwwww seruuu! Murah juga ya, yg mahal kayaknya transport dr bandung nih :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa diakali dengan naik bus ke Jakarta, trus ke Merak, Banten, trus naik kapan fery ke Bakauheni, trus langsung naik Damri ke Way Kambas

      Hapus
  6. Dini, menarik banget bisa naik-naik gajah dan ikutan mandiin gajah. Ternyata jadi mahot itu lumayan nantang juga ya. Salah satu temanku mengalami cacat hidung setelah jatuh dari naik gajah, aku sempat ngeri juga kalau-kalau itu terjadi pula pada turis. Adakah yang dikerjakan para mahot supaya turis tetap aman ketika main sama gajah, gitu? Minimal ya biar nggak keinjek gajah gitu..?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pada dasarnya gajah ini kan makhluk liar yang bebas berkeliaran di hutan. Si gajah juga punya kemauan dan mood. Kalo gajah mood-nya lagi jelek ya jangan dipaksain main. Kalo gajah ber-mood jelek biasanya dia sedang sakit, atau birahi, yang jelas ada masalah.
      Nah, si mahot ini udah paham banget lah.

      Hapus
  7. Wah, seru banget naik gajah pas patroli. Tapi agak bahaya nggak sih, karena kan itu tetap area satwa liar kan? Catet dulu kontaknya Mas Bandar, ah. Siapa tahu suatu saat ada kesempatan ke Way Kambas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makanya aku naiknya bareng ahlinya, si mahot ini.
      Kalo mereka tidak mengijinkan, atau si gajah nggak mau aku naikin, ya nggak maksa.

      Hapus
  8. Tuhkan seru banget ceritanyaa bikin envy kan :(
    Asliknya pengen banget ngerasaian naik gajah sih tapi kasian juga kalo ditaikin :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada aturan naik gajahnya sih. Kalo kemaren aku cuma pake karung aja buat tatakan, jadi tetep ngerasain punggung gajah yang bulat. Bukan model naik gajah yang pake dudukan kayu. Dudukan kayunya aja berat banget dan kaku kan

      Hapus
  9. Sungguh suatu pengalaman yg berharga ya Din, bisa berkunjung dan berinteraksi dg gajah2 cantik ini. Trims sudah berbagi kisah indah ini ya...

    BalasHapus
  10. seru banget jalan-jalannya mbak. Aku pernah ke way kambas tapi belum pernah ketemu gajahnya krn waktu itu lagi ada urusan kerjaan jadi ngak sempet deh mampir. keknya musti dateng lagi nih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main ke sananya sebagai turis aja mbak, biar bisa nyariin gajahnya.

      Hapus
  11. Duh, kok sedih liat Erin, belalainya smp diamputasi. Kejam banget...
    Pengalamanmu unik banget Mbak. Maen sama gajah...
    Semoga tetap dijaga pelestariannya jangan sampai punah yah...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya. Amin.
      Makasih udah baca ceritaku ya bu :)

      Hapus
  12. Padahal kalau di tempat wisata suka lihat gajah dikasih kursi di atasnya, ya. Tapi, kalau hanya bantalan gitu aman juga? Mahotnya harus yang bener-bener terlatih, ya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, jadi mahot nggak sembarangan emang.
      Aman banget,, aku kemarin naik gajahnya ada sekitar 2-3 km lho

      Hapus
  13. huaaaaaa paling ga tahan kalau liat kegiatan yang berkaitan sama gajah, rasanya pengen ikutan!! banyak banget liat di media sosial gajah-gajah yang cacat bahkan mati akibat ulah manusia :( suka nyesek lihat nya, semoga manusia bisa semakin terbuka hati nya dan gak menyakiti hewan-hewan lagi apalagi gajah.

    BalasHapus
  14. asik sekali bisa lebih dekat sama Gajah. cuman kok aku kepikiran aama masa depan Erin. apakah bisa normal seperti yang lain ??

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo jadi normal, punya belalai panjang & makan menggunakan belalai yg panjang itu jelas nggak bisa, tp Erin bisa makan sendiri. Dia pakai kakinya untuk lempar makanan dari tanah ke mulutnya. Nanti kalo Erin udah dewasa, dia kan akan tumbuh tinggi. Tingginya akan setinggi tumbuhan, jadi nggak masalah meski belalainya pendek.

      Hapus
  15. Waah seru banget ya Mbak bisa main main lihat Gajah ke Way Kambas. Aku sebenarnya juga pengin sih main main ke Way Kambas dan semacamnya. Tapi nggak pernah bisa. Kalau liburan harus serumah soalnya. Repot bangeet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Seru banget.
      Kayaknya seru juga lho main gajah sama anak2. Ya jelas beda sih liburan bawa anak sama nggak.

      Hapus
  16. Wah, aku belum mampir ke tempat Pak Basuki nih. Deaember aku berencana mampir ke ERU lagi nih.

    Soal naik ke punggung gajah, buatku nggak masalah sih, tergantung tujuannya. Dengan bobot hingga ratusan kilo, rasanya nggak masalah kalau cuma menganggkut kamu dan mahot yang mungkin beratnya kurang dari 100 kg. Yang masalah memang kalau menganggkut bebannya secara masif :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nagih ya bang. Haha.

      Aku sebelum ke tempat Mas Nandar sempet baca blog-mu juga bang.

      Ntar cobain main ke tempat Pak Basuki. Cobain membatik gambar gajah atau badak.

      Hapus
  17. kayaknya seru nih naik punggung gajah. sering lihat orang2 naik gajah tapi yaa ada takutnya misal harus naik beneran. wkwkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Seru mas. Tapi kalo takut ketinggian tidak disarankan.

      Hapus
  18. Kamar tidurnya mas Nandar sederhana tapi terkesan nikmat ya, kasurnya tebel pula. Terus sarapan omelet, aaaaaakkk lovely! Gak disuguhi kopi sama mas Nandar?

    Epik sekali ya menikmati sunset bersama gajah-gajah di Way Kambas. Turut berduka untuk Erin, terus sehat ya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nggak kalah kan ya sama hotel-hotel di kota.
      Pas pertama dpt teh aku langsung suka sama teh nya. Mungkin karena itu Mas Nandar nggak nawarin kopi.

      Yes,, cobain sendiri deh sunset di Way Kambas. Seru!

      Hapus
  19. Alhamdulillah bisa baca cerita solo traveling ke Waykambas secara detail. Paling suka baca kisah personal begini. Aku mau ah kontak Mas Nandar, mana tahu rejwki bisa main ke Waykambas.

    Salam buat Erin Mbak. Duh kasihan banget ya sampai belalainya diamputasi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak udah baca ceritaku.
      Semoga rejeki main ke Way Kambas ya.

      Erin sehat mbak. Udah adaptasi dia.

      Hapus
  20. Aktivitasnya Gajah ya makan seharian ya mba.. berhenti klo tidur.. hihi, lucu.. wah sedih juga ya Erin, sampai belalainya putus. Amaze banget, ternyata Gajah yg dilatih bisa jadi mediator dg para gajah liar ya mba.. kerenn bgt pengalamannya.. thx udah berbagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Gajah ini kalo matanya melek pokoknya makan kerjaannya.
      Thank God aku bisa ngerasain serunyu main & belajar sama gajah. Siapa tahu ntar mbak nyusul jg.

      Hapus
  21. Serunyaa main ke Way Kambas.. aku belum pernah eiy.. tempatnya eksotik bangett.. kulinernya juga unik..

    BalasHapus
  22. Huwaaaaaa aku jadi kangen ke Way Kambas. Kangen ketemu sama Rakiman, gajah dewasa yang dulu kuajak "main".

    Pengalaman Mba seru banget, sampai menginap di Desa Labuan Ratu.

    BalasHapus

Thank you for reading and leaving comment :)