Rabu, 04 Desember 2019

Staycation di Semarang: Omah Djajanti

Sama seperti siang-siang yang lain, siang itu Semarang super panas. Aku janjian untuk bertemu dengan geng ambyarrr, Ika Turis Sendal Jepit, Dita Males Mandi, dan Olipe Oile. Weekend ini kami janjian mau mager (staycation) bareng di Semarang. Kebetulan pas ada Patjar Merah buka lapak di Semarang.

Biasanya kalo travelling bareng geng ambyarrr, itinerary-nya cuma mager, stay di satu tempat untuk leyeh-leyeh dan menikmati kenyamanan tempat menginap. Di Semarang ini kami pilih untuk menginap di Omah Djajanti Semarang.


Omah Djajanti berlokasi di belakang Sekolah Don Bosko Semarang, dekat Akademi Polisi Semarang. Kalo menurut aturan Semarang atas - Semarang Bawah, Omah Djajanti ada di perbatasan antara atas dan bawah. Lokasinya agak masuk ke pemukiman penduduk, tapi juga nggak jauh-jauh banget dari kota. Selama ada mobil dan transportasi online, aman. Eh, BRT (Bus Rapid Transit) Semarang juga lewat deket-deket gang situ.

Kami memilih Omah Djajanti sebagai tempat untuk staycation di Semarang dengan harapan:
  • tempatnya adem (karena di fotonya banyak taman dan tanaman), 
  • kamarnya gedhe jadi kami bisa puas ngobrol di kamar sambil menikmati ademnya AC (*hal penting mengingat Semarang panas banget akhir-akhir ini), atau 
  • masak-memasak di dapurnya Omah Djajanti.

Saat kami datang siang itu, kami dilayani oleh seorang mas yang membantu proses check in. Sayangnya, proses check in kami ngga semulus harapan. Cerita ini aku ceritakan di akhir cerita aja ya. Di bagian awal, aku ceritakan bagian kami bersenang-senang aja.

Oase di tengah Semarang yang panas


 

Masuk ke Omah Djajanti semacam masuk ke oase. Saat memasuki area Omah Djajanti kami disambut banyak tanaman. Bagian depannya adalah joglo yang berfungsi sebagai common room. Di sana-sini ada banyak benda-benda jadul, mulai dari meja, kursi, lemari, printilan, sampe buku-buku.

Jalan lagi ke belakang, aku menemukan kebun luas yang ditata dengan rapi. Aku melihat aneka jenis tumbuh-tumbuhan yang tumbuh dengan baik. Bahkan ada pohon kedondong dan delima yang sudah berbuah.

Kamar bertema vintage



Saat aku menginap, jumlah kamar di Omah Djajanti hanya 8 kamar bertema vintage; 4 kamar di bawah dan 4 kamar di atas. Rencananya Omah Djajanti akan membuka kamar baru bertema industrial minimalis. Omah Djajanti juga akan membuka cafe di area guest house.

Kami yang berempat dapat kamar di atas. Kamar di atas ini tipe studio. Kamarnya luas. Ada tambahan lantai di atas yang bisa dipakai untuk tidur. Sayangnya kasur yang dipakai adalah kasur kapuk. Kamarnya ber-AC. *penting banget untuk geng ambyarrr yang mabok karena kepanasan di Semarang. Wkwkwkwk.


Kamar mandinya ada di dalam kamar. Ada WC duduk dan shower. Aku nggak cek apakah ada air hangat atau nggak, karena kemarin cuma butuh air dingin aja. You know what I mean, right?

Kamar yang memenuhi tiap hasrat



Ada dua kaca besar di kamar yang memuaskan hasrat untuk berkaca. Ada banyak colokan yang memenuhi kebutuhan para pengabdi gadget macam kami. Ada teh dan kopi lengkap dengan water heater dan gelas enamel untuk memenuhi kebutuhan Olipe Oile yang suka banget sama kopi. Besok paginya fasilitas kopi dan teh ini juga bisa memfasilitasi kami untuk bikin lemon tea, khusus buat Dita Males Mandi yang kebetulan lagi flu berat.

Di depan kamar ada balkon lengkap dengan sofa. Andai di dalem kamar terlalu penuh dan pengen tidur di alam terbuka, bisa banget bobo di sofa balkon ini. Di bagian belakang kamar juga ada balkonnya.

Kegiatan wajib: nongkrong di taman



Sorenya aku dan Ika Turis Sendal Jepit duduk-duduk santai di taman. Definisi mager kami ya beneran nongkrong di rumput, ngobrol ini itu, dan ngakak-ngakak sampe matahari terbenam. Kebetulan Deta Kulkas Gendong dan Mauren juga pas datang main ke Omah Djajanti.

Malamnya, kami jalan kaki dan makan di warung deket Omah Djajanti. Kami berenam pesan mi jowo, nasi ruwet, dan ayam mbledos. Biaya makan kami malam itu cuma sebesar seratus ribuan rupiah. Meski warung, bayarnya bisa pake Ovo.

Malam yang tenang



Malem di Omah Djajanti tenang banget. Ya nggak sampe denger tonggeret atau jangkrik juga sih, tapi termasuk tenang, nggak ada suara apa-apa untuk ukuran nginep di tengah kota. Rasa-rasanya kami bobo lebih lama dari biasanya deh.

Paginya, kami dapat jatah sarapan. Untuk sarapan sendiri, kami dipersilakan milih menu: nasi goreng, mi goreng, roti bakar, atau omelette. Kami juga ditanyain mau sarapan jam berapa dan mau sarapan di mana.

Sarapan di joglo



Kami pilih sarapan di joglo depan. Pas juga di situ ada piano jadul. Meskipun suaranya fals, tapi ya lumayan lah untuk mencet dikit-dikit demi memenuhi request Olipe Oile dan Ika Turis Sendal Jepit. Padahal ya, aku mainnya ambyar banget. Maafin yaaa.

Untuk menu sarapannya, porsinya cukup. Aku sendiri pesen nasi goreng. Rasanya ya oke lah. Tapi kalo temen-temen merasa terlalu manis karena terlalu banyak kecap. Well, emang salah satu ciri khas makanan semarangan itu mengandung banyak kecap. Kalo nggak suka bisa lho request untuk nggak pake kecap sama yang masak.

Mager seharian



Kami menghabiskan sisa hari dengan tetep mager. Antara balik ke kasur untuk lanjut tidur, atau goler-goler di rumput taman. Berhubung ada beberapa pohon yang tinggi, kami nggak terlalu terganggu dengan sinar matahari yang menyengat di Semarang.

Kami juga sempet melipir ke Superindo untuk beli mangga, semangka, dan lemon. Kami pinjem pisau buat potong-potong buah dan menyeduh lemon tea. Ngemil buah sambil minum lemon tea emang menyenangkan.

Menginap di Omah Djajanti bisa jadi pilihan menginap kalau main ke Semarang. Hal-hal menyenangkan sudah aku jabarkan di atas ya. Tapi sayang, kesan kami akan Omah Djajanti kurang asik, kurang nyaman, kurang hommy.

Sayang seribu sayang


Kami pesan kamar di Omah Djajanti melalui Agoda. Dari awal kami sudah cari penginapan untuk 4 orang, dan Omah Djajanti jadi salah satu pilihan. Empat orang untuk satu kamar tipe studio. Asik banget kan.

Sayangnya, saat check in, kami diinfo bahwa kamar kami hanya berkapasitas untuk 3 orang saja. Supaya kami bisa tetap stay berempat, kami harus membayar extra bed. Pihak Omah Djajanti cenderung menyalahkan Agoda atas kesalahan yang terjadi.

Bahkan pihak Omah Djajanti mengatakan bahwa mereka sudah tidak bekerja sama lagi dengan Agoda. Kami penasaran. Kami coba cek ketersediaan kamar di Omah Djajanti melalui Agoda. Kami masih menemukan kamar tipe studio Omah Djajanti dengan kapasitas 4 orang di Agoda. Hmmmmm.

Biaya yang sudah kami bayar untuk pesan kamar berkapasitas 4 orang di Omah Djajanti melalui Agoda sebesar Rp. 290,000. Kami mau tak mau harus membayar extra bed untuk 1 orang sebesar Rp. 160,000.
Ada hal janggal di biaya extra bed ini. Kalau kami membayar untuk bed-nya saja, kami dikenakan charge sebesar Rp. 70,000. Tapi kalau kami ingin menambah sarapan untuk satu orang, extra charge menjadi Rp. 160,000. Hmmmmm.

Yang melayani kami tentang kesalahpahaman antara Omah Djajanti dan Agoda adalah karyawan. Kami pun mencoba kirim email dengan harapan yang punya wewenang lebih (owner atau manager) bisa menengahi, tapi sayangnya, tak ada respon.

Malamnya, kami bertemu Mas Alex, orang yang bertanggung jawab terhadap sosial media Omah Djajanti. Mas Alex langsung minta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi. Tapi kami tahu, Mas Alex cuma pegawai biasa yang nggak punya wewenang apa-apa. FYI, pegawai yang melayani proses check in tadi siang nggak pernah bilang maaf, cuma nyalahin Agoda aja.

Besoknya kami sempat bertatap mata dengan ibu owner Omah Djajanti. Sayangnya si ibu cuma senyum aja, nggak ngobrol apa-apa. Jadi yaaa,, kalau disuruh balik lagi untuk menginap di Omah Djajanti, kami jelas akan mikir berkali-kali.

Geng Ambyarrr punya ketertarikan staycation di tempat-tempat yang unik. Selain itu, kenyamanan jelas jadi faktor utama untuk Geng Ambyarrr ketika menginap di suatu guest house atau hotel. Sayangnya, Geng Ambyarrr kehilangan rasa nyaman di Omah Djajanti sejak proses check in. Bagaimana pun juga, manajemen guest house dengan hotel kan jauh berbeda. Sayang sekali kami tidak menemukan rasa nyaman dan rasa hommy ketika menginap di Omah Djajanti.

Dinilint, Ika, Dita, Olip

Biarpun tempat menginapnya ambyar, thank God teman menginapnya asik. Terima kasih ya Geng Ambyarrr; Olipe Oile, Ika Turis Sendal Jepit, Dita Males Mandi untuk satu malam serunya. Sampai jumpa di malam-malam seru laiinya.

Dinilint

4 komentar:

  1. Hmmm, aku udah baca. Emang kl pasnada something dr proses check in, jadinya agak gimana gitu ya. Tp alhamdulillah tetep seru kan ya. Aku tetep penasaran sama guest housenya nih. Btw mau dong kapan2 seru2an bareng geng ambyarrr, wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak Prit,, berasa kena tipu gitu, trus jeleknya, nggak ada permohonan maaf dan menyalahkan pihak lain. Padahal mereka tu di bisnis hospitality.

      Yuk, ajakin geng ambyar ke Jember dong. Ada tempat leyehable nggak di sana. Xixixixi

      Hapus
  2. Kalo dari awal check in nya nggak nyaman, pasti seterusnya jadi ngerasa nggak nyaman sih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku nggak nyaman dengan respon guest house mengatasi masalahnya dan menghadapi konsumennya si mas

      Hapus

Thank you for reading and leaving comment :)