Navigation Menu

Travelling ke Palembang dan Perburuan Pempek Enak di Palembang

"Kak, apa rekomendasi pempek enak yang wajib aku makan di Palembang ini?"

Ini adalah pertanyaan pertama yang aku lontarkan pada Mbak Atik begitu aku sampai di Palembang sore itu. Sambil menunggu Mbak Uniek datang, aku mengorek informasi tentang pempek dari Mbak Atik
Salah satu hal menarik dari melakukan perjalanan adalah mendapat informasi dari orang lokal. 
Nah, mbak Atik ini sudah tinggal di Palembang sejak lahir. Mari kita cari tahu tentang pempek enak di Palembang dari orang Palembang.

Di Palembang, semua pempek enak!


Menurut Mbak Atik, semua pempek di Palembang itu enak. Lah, aku jadi bingung dong, aku mesti makan pempek di mana.

Semua pempek di Palembang punya rasa yang khas, yang nggak ditemukan di luar Palembang. Enak yang mana, itu tergantung selera. Pempek di Palembang sendiri bervariasi, ada yang murah dengan harga Rp. 1,000 per biji, hingga di harga Rp. 17,000 per biji, dan di antaranya.

Yang membedakan harga pempek tentu saja ukuran, dan kandungan adonan pempek. Kalau di jaman dulu, pempek selalu dibuat dari ikan belida yang konon cuma hidup di sungai-sungai di Palembang, sekarang pempek bisa dibuat dari jenis ikan yang lain. Konon katanya ikan belida ini sudah mulai langka, jadi kalau pempeknya dibuat dari ikan belida, harganya lebih mahal, dan semestinya rasanya lebih enak.

Semua perempuan Palembang semestinya bisa membuat pempek. 

Pempek sendiri jadi menu wajib yang selalu hadir di meja makan orang Palembang. Saat hari raya, pempek selalu jadi jamuan, dan selalu habis duluan.

Ini cerita lanjutan lho


Eh, kamu udah baca cerita aku sebelum ini kan? Kalau belum, baca dulu deh https://www.dinilint.com/2020/02/travelling-ke-palembang-makan-pempek-palembang.html.

Setelah nyicipin model alias pempek kuah yang dijual abang-abang jalanan, dan pempek di kapal pejabat seharga Rp. 5,000 per biji, hari ini aku akan melanjutkan petualangan mencari pempek di Palembang.

Naik perahu tengah malam


Hari ketiga travelling di Palembang-ku diawali dengan perjalanan naik kapal menyusuri Sungai Musi untuk kembali ke Palembang dari Pulau Kemaro menggunakan kapal nelayan. 

Yap, kemarin kan aku dan teman-teman bareng Dispar Palembang ikutan puncak perayaan Cap Go Meh di Pulau Kemaro. Acaranya sendiri berlangsung malam hari.

Meskipun tengah malam, suasana di Pulau Kemaro meriah. Kemeriahan Pulau Kemaro terjadi karena di bulan Februari sedang ada puncak perayaan Cap Go Meh. Banyak orang tumplek blek di pulau. Langit Pulau Kemaro dihiasi warna-warni letupan kembang api. Pagoda yang jadi ciri khas Pulau Kemaro pun bersinar karena pijar cahaya lampu. Di beberapa titik kulihat banyak orang yang khusyuk melakukan ritual sembahyang tanda ucapan syukur. Ada juga perayaan wayang orang khas Cina, entah apa sebutannya.

Sekitar jam 1 pagi kami berlayar naik kapal nelayan untuk kembali ke Palembang. Kami tiba di hotel jam 2 pagi, dan langsung tidur, mengumpulkan energi untuk perburan pempek enak di Palembang esok hari, eh nanti pagi.

Tetep nggak kebagian


Hari ketiga kami di Palembang dimulai jam 9 pagi. Sayangnya, lagi-lagi aku nggak kebagian tekwan saat sarapan di hotel. Iya, aku baru turun sarapan jam 8 pagi. Kan semalam tidur pagi.

Menu pempek tetap nihil di display sarapan resto hotel. Hotel Emilia cuma jualan pempek yang udah dikemas dalam kardus untuk dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Agenda kami hari ini adalah mengunjungi Alquran terbesar di dunia yang terbuat dari kayu dan menggunakan ukiran khas Palembang, Alquran Al Akbar. Jangan berharap ketemu pempek di sini ya. Lucunya, teman-teman malah nemu es krim yang jargonnya bikin terngiang-ngiang hingga akhir acara FamTrip Palembang Oriental Season ini.
"Es krim, es krim. Lima Ribu. Ada rasa coklat, vanilla, strooooooo o o o o beeee riiiiiii"
Ya mirip-mirip sama jargon "susu murni nasi-yo-nallllll". Catatan nih, kalo suatu saat mau bikin jargon audio mesti yang nyleneh sekalian. 

Semua yang berbau Palembang di Rumah Limas


Kami lanjut mengunjungi Rumah Limas. Rumah Limas ini merupakan rumah tradisional Palembang, yang dikelola oleh pengusaha lokal Palembang. Di Rumah Limas, ada segala hal yang berkaitan dengan Palembang seperti:
  • Kain jumputan, kamu bisa mendapatkan kain jumputan dengan motif-motif yang cantik. Ada yang masih berupa bahan, ada yang berupa baju jadi.
  • Baju tradisional Palembang, kamu bisa merasakan serunya pakai pakaian tradisional Palembang,
  • Pelaminan dan kamar pengantin khas Palembang, cobain deh duduk di pelaminan dan melihat kamar pengantin khas Palembang yang terawat dan cantik,
  • Interior khas Palembang, yang seru banget untuk di-foto, di-video, hingga jadi background foto
  • Makanan khas Palembang, dari awal datang kami sudah disuguhi kerupuk khas Palembang, lanjut ngidang (makan besar dengan aneka lauk khas Palembang) untuk makan siang.

Aneka hidangan khas Palembang untuk ngidang. Yang di tengah adalah nasi putih dan nasi minyak.
Suguhan makan siang di Rumah Limas siang itu sungguh istimewa. Rasanya semua hidangan enak disajikan di atas taplak. Kami memang makan sambil lesehan, duduk di karpet dan hanya menggunakan taplak, tanpa meja. Lauk pauk berbumbu rempah berbahan dasar udang, daging, ayam terasa enak semua. Belum lagi kalau dipadu dengan sambal mangga muda atau sambal nanas. Saat sudah selesai, kami mencuci mulut dengan buah nanas dan duku Palembang.
Sayangnya, di sini nggak ada pempek. Huhu. 

Yang terawat dan yang tidak


Kalau tadi aku nulis kamar pengantin yang terawat, ada juga kamar pengantin yang kurang terawat. Kamu inget uang Rp.10,000 versi lama? Di sana ada gambar rumah limas. Nah, rumah limas itu terletak di Museum Sumatera Utara.

Rumah limas yang abadi dalam uang Rp.10,000

Di bagian belakang Museum Sumatera Selatan ada rumah limas berukuran super besar. Rumah limas ini cantik, dengan taman-taman yang rapi dan indah. Kami diajak masuk ke dalam rumah limas. Sayangnya, bagian dalam rumah limas kurang terawat. Begitu masuk, berasa bau apek. Ada debu di mana-mana.

Kami lanjut ke Lawang Borotan. Lawang Borotan ini cuma pintu besar di bekas benteng. Menurutku yang menarik adalah cerita tentang bentengnya, Benteng Kuto Besak. Tidak seperti benteng-benteng lain di Indonesia, Benteng Kuto Besak dibangun oleh pribumi. Keren yak!

Pempek seharaga Rp. 17,000 sebiji


Sore itu kami punya free time. Berhubung mata lengket dan badan lelah, aku memutuskan untuk stay di hotel. Meski cuma di kamar hotel, Amanda punya ide untuk nyobain rekomendasi pempek enak dari saudaranya.

Pempek kapal selam dari Pempek Sentosa

Thank God, ada layanan Go-Food. Tinggal klik, pempek datang ke kami. Namanya Pempek Sentosa. Kalau di Go-Food harganya Rp. 17,000 untuk satu pempek kapal selam. Ukurannya besar dong. Cukonya mantab dan pedas. Enak!

Lebih seru dari makan


Malamnya kami lanjut ikutan Farewell Dinner di Lenggok Cafe. Yang seru di Farewell Dinner bukan makanannya, tapi sesi diskusi dengan Bapak Kepala Dispar Palembang. Beliau nggak suka kalau kami cuma kasih komentar positif, tapi butuh kritik untuk memperbaiki pariwisata di Kota Palembang.

Kalo kritik begini jadi panas dan rame dong. Semoga pemikiran-pemikiran kaum pejalan macam kami ini bisa jadi hal baik untuk pariwisata Palembang ya pak.

Durian!


Belum lengkap rasanya kalau ke Palembang tanpa makan durian. Kami dibawa ke Pasar Durian Kuto. Ini adalah pusatnya durian di Palembang. Meski malam, tapi suasanannya meriah, penuh dengan lampu super terang, dan tentu saja durian!

Pusat durian di Palembang

Durian di sini beneran enak. Kabarnya sih duriannya dari Bengkulu. So, next trip gonna be Bengkulu lah ya,, biar  makan durian lagi. Anyone?

Sebenernya jadwal FamTrip dari Dispar Palembang di hari ke-4 hanya mengantar tamu-tamu ke bandara sesuai dengan jam kepulangan. Aku sendiri pilih penerbangan jam 6 sore supaya punya satu hari lagi untuk travelling di Palembang, dan cari pempek.

Bang Sandi, fotografer asal Palembang bersedia mengantar aku, Ili, Inda, Bowo, Mbak Hani, dan Ahmad menjelajah Palembang lagi. Tentu saja kami pergi ke bagian-bagian Palembang yang belum didatangi saat FamTrip di hari-hari sebelumnya.

Tuan Kentang, Sate Wak Dim, Kue basah khas Palembang


Kami memulai dengan main ke Tuan Kentang. Tuan Kentang adalah kampung tempat pengrajin kain Palembang. Di bagian lain ada Rumah Kembar yang letaknya berada di pinggir Sungai Ogan.

Kami makan di Sate Manis Wak Dim. Konon katanya, 
"belum ke Palembang kalau belum makan Sate Wak Dim." 
Campuran sate ayam dan sate daging dengan bumbu manis ini enak dan cuma ada di Palembang.

Entah ini yang  bikin sate Wak Dim-nya atau bukan

Kami juga nyobain kue-kue basah khas Palembang. Ada toko kue khusus yang jualan kue Palembang, namanya Harum. Nah, di depan Harum adalah pasar pusat jualan pempek.

Pasar 26, pusat pempek di Palembang


Di Pasar 26 ada aneka jenis pempek. Bisa dimakan di tempat, dan bisa dikemas pakai kardus untuk dibawa pulang ke kampung halaman. Kalau di Pasar 26 ini pempek versi murah, cuma Rp. 1,000 rupiah per biji. Meski murah, pempek di sini enak juga. Buktinya teman-temanku yang kubawain pempek dari sini bilang enak.

Cara makan pempek di Palembang: pempeknya dimasukkan ke dalam cuko, buka cukonya disiram ke pempek

Aku sendiri beli pempek di Pempek Lala. Kalau makan di tempat, aku tinggal duduk, trus ambil aneka jenis pempek dan otak-otak di meja, kemudian mengaku dosa di meja kasir. Untuk pempek yang dibawa pulang, aku pilih pake pempek seharga Rp. 50,000 dan Rp. 100,000. Pempek-nya sudah dikemas rapi di dalam kardus kokoh.

Berhubung aku bawa banyak pempek, aku balik lagi ke hotel untuk titip pempek. Sebagian besar teman-teman FamTrip sudah meninggalkan Palembang, sedang aku masih punya beberapa jam. Kebetulan, mbak Atik dan Pak Sugeng lagi makan di Pempek Vico. Aku pun nyusul ke sana dong.

Es kacang merah, Pempek, dan LRT


Pempek Vico ini merupakan salah satu nama pempek yang dikenal orang di luar Palembang. Selain pempek, es kacang merahnya terkenal enak. Es serut dengan isian kacang merah yang melimpah dan gula merah yang pekat ini emang enak dan bikin kenyang. Pempeknya? Enak juga!


Aku lanjut nyobain LRT di Palembang. Kali ini sendirian. Aku nyoba rute Cinde ke Jakabaring. Aku sengaja turun di Jakabaring, satu stasiun sebelum stasiun terakhir. Terus aku puter balik ke Bumi Sriwijaya. Stasiun Bumi Sriwijaya adalah satu-satunya stasiun LRT Palembang yang jadi satu dengan mal.

Sekitar jam setengah 4 sore aku kembali ke hotel. Aku diantar menggunakan mobil oleh Dispar Palembang ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II. Perjalanan dari pusat kota Palembang ke bandara sekitar 45 menit.

Di bandara, aku masih sempat tergoda untuk jajan pempek lagi. Padahal, bagasiku udah penuh dengan berkardus-kardus pempek. Tapi, aku inget, aku masih punya kue basah Palembang yang aku dapat dari Toko Harum tadi siang.

Tadi saat di Toko Kue Harum, cuma nyicip segigit pada tiap kue.
Aku masukan sisanya dalam kotak, dan lanjut makan sambil nunggu jadwal terbang.

Pempeknya nanti aja lah kalo udah sampai Semarang.
Travelling di Palembang selama 4 hari 3 malam menurutku pas. Aku bisa dapat experience, belajar sejarah, mengenal kultur dan budaya, dan tentu saja nyobain aneka macam pempek.
Terima kasih udah nemenin aku travelling ke Palembang melalui tulisan aku di www.dinilint.com
Sampai bertemu di perjalanan lainnya.

Dinilint

12 comments:

  1. Seru juga kulinerannya dan semuanya keliatan enak. Jadi laper.

    Btw mau sedikit koreksi mbak, ada yang typo tuh, Rumah Limas nggak ada di Museum Sumatera Utara mbak, Palembang kan di Sumatera Selatan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Oh iyaaa,, ada yang saalah ini.
      Makasih ya udah diingetin. Aku benerin.

      Delete
  2. Aku kepikiran dolan ke Sumatera Selatan itu malah ke daerah yang belum banyak dikunjungi, atau kabupaten-kabupaten yang jarang disebut ahhahahaha. Semoga ada waktu.

    ReplyDelete
  3. es kacang merah mengingatkanku akan Penang, Malaysia hehehe
    kayaknya kalo menikmati pempek langsung dari daerah asalnya, rasanya memang beda ya.
    temen pernah pulang kampung ke palembang, ehh temen sekantor dia ketagihan oleh oleh pempeknya, rasanya beda sama yang dijual di Jember sini

    ReplyDelete
  4. Wah senangnya bisa kunjung blog-nya mbak Dinilint.
    Saya senang lihat foto-foto makanan.
    Ayo mbak..visit ke tempat lain, baca cerita makan mbak Dini, saya senang pol

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimma kasih. Semoga rejeki untuk menjelajah tempat-tempat baru berdatangan. Amin.

      Delete
  5. Hahahaha Dini.. Gue kangen sama lo, temen sekamar yg susah dibangunin 🤣🤣 giliran gue yg ketiduran dia yg rapi duluan wkwk, sehat2 ya Din ,😍😍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha,, kasurnya posesif Mannn.
      Yuk ah kapan kita copy darat lagi yaaa

      Delete
  6. Yuk ke Bengkulu, hehe.

    Kemarin pas nginep di Favehotel Palembang, di menu sarapan selalu ada "Ada'an", kayak pempek tapi bentuknya kayak bakso goreng, sama-sama dinikmati dengan cuko. Eh, kamu nggak ada foto malem-malem Cap Go Meh di Pulau Kemaro, Din?

    Itu es kacang merah ngenyangin bangeeeettt. Gara-gara itu, perut mungilku ini jadi nggak bisa dijejelin martabak HAR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku selalu kehabisan tekwan. Huhuhu.
      Ada'an ini pempek jenis lain yang enak juga. Ih, iri sama hotel tempat kamu nginep.

      Aku ada foto malam di Pulau Kemaro. Baru beredar di video di Youtube doang. Xixixixi.

      Es kacang merah emang bikin kenyang, rasanya juga super manis, berasa penuh deh perut. Eh, emang perutmu mungil???

      Yuk Bengkulu!

      Delete
  7. Wah banyak juga ya kulineran di Palembang. Pempek itu makanan kesukaan aku haha, murah juga ya harganya. Di Jakarta kayaknya ukuran segitu bisa 2x lipat kali ya harganya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku pun kaget lho tahu harganya. Murah dan menyenangkan.

      Delete

Thank you for reading and leaving comment :)