Navigation Menu

Berbagi Ruang, Cerita Pandemi, dan Jakarta dalam Memori

pandemi dan jakarta dalam memori

Pandemi Covid-19 dan anjuran untuk #dirumahaja membuat aku membatalkan rencana travelling, membatasi jarak dengan orang lain, dan lebih sering melakukan kegiatan domestik di rumah. Aku jadi lebih sering melakukan hal semacam nyapu, ngepel, dan bebersih. Bebersih ini juga berlaku untuk membersihkan foto dan video perjalanan di masa lalu.

Kegiatan bebersih ini membuat aku menemukan ada banyak footage video yang belum pernah aku sentuh, belum pernah aku edit, bahkan beberapa video cuma ditonton sekilas. Mumpung lebih banyak di rumah, ada baiknya aku mulai edit video perjalananku satu per satu. 

Nonton video perjalanan lumayan mengobati rasa kangen dari proses travelling itu sendiri.

Saat aku menulis post ini, aku baru saja menyelesaikan editing video saat aku jalan-jalan di Jakarta satu hari. Di salah satu footage, ada bagian yang aku rekam saat kami naik bajaj berlima. Aku tertawa melihat kekonyolan kami mengisi satu ruang bajaj untuk lima orang.

Siapa yang menyangka, di tahun 2019 naik bajaj berlima terasa istimewa, tapi di tahun 2020 berdesak-desakan di satu ruang sempit jadi hal yang berbahaya.

Oke, cerita tentang pandemi di 2020 dan hal-hal mengkhawatirkan aku tunda sebentar. Sekarang aku ingin mengenang masa-masa bahagia ketika naik bajaj berlima masih boleh-boleh aja.

Ceritanya aku dan Sheila punya waktu satu hari di Jakarta. Kebetulan Bang Ju dan Irene punya waktu untuk menemani kami jalan-jalan. Kami janjian untuk bertemu di tempat ngopi di dekat Stasiun MRT Benhil.

Kopi Sampoerna


kopi sampoerna kayu
First stop: tempat ngopi

Tempat ngopi bernama Kopi Sampoerna ini unik. Tempatnya kecil, tapi desainnya unik. Dari luar seperti tumpukan kayu berbentuk kotak. Konon ceritanya karena perusahaan Sampoerna ini juga mengelola urusan kayu.

Ruang kotak kecil tempat ngopi ini berisi peralatan per-kopi-an dan baristanya. Ya, siapa lagi yang mau bikin kopi kalo nggak ada barista di tempat ngopi. Tempat duduk untuk konsumen cuma tersedia beberapa aja. Tempat duduknya menghadap jalan. 

Kalau mau duduk berhadapan, ada set meja-kursi-payung di area luar. Lokasinya di trotoar, tapi nggak menghalangi arus pejalan kaki. Trotoar di Benhil kan luas banget. Bahkan kamu bisa sewa scooter di situ.

Harga kopinya sendiri terbilang murah, mulai dari Rp. 17,000 sampai Rp. 20,000-an per gelas. Sayangnya, semua kopi disajikan dalam kemasan gelas plastik meskipun pesan untuk diminum di tempat. Hal begini kan nambahin sampah plastik :(.

Suasana ngopinya juga enak. Saat aku datang, AC pada suhu yang nyaman, nggak terlalu panas dan nggak terlalu dingin. Musik yang diputar juga nyaman di telinga. Alunan jazzy samar-samar yang bikin suasana adem meski di luar panas.

Jalan kaki ke JPO viral



Dari tempat ngopi, kami jalan kaki menyusuri trotoar Jakarta yang luas. Area Jakarta yang ini emang menyenangkan. Mungkin karena lokasinya di pusat kota dan dekat dengan berbagai macam gedung perkantoran besar.

Kami main ke JPO, jembatan penyeberangan orang. Pada saat itu JPO ini jadi bahan perbincangan hangat di medsos. Pasalnya, JPO yang tadinya beratap tiba-tiba dilepas atapnya. Ada yang bilang, ini sih mainan pemkot untuk utak-atik anggaran, tapi di sisi lain dengan dibukanya atap JPO aku dan teman-teman penggiat medsos jadi punya bahan konten :P.

Yang jelas berjalan di JPO beratap terbuka dengan pemandangan gedung pencakar langit Jakarta punya sensasi berbeda. Hasil fotonya juga beda. Hahahaha.

Hari semakin siang dan kami mulai kelaparan. Bang Ju dan Irene mengajak aku dan Sheila untuk naik bus tingkat gratis. 

Kalau mau jalan-jalan ngirit di Jakarta, naiklah bus gratis yang disediakan pemkot buat keliling kota.

Mesin waktu


bus tingkat gratis jakarta
Naik bus tingkat

Naik bus tingkat ini punya kenangan istimewa buat aku. Saat aku kecil, pernah ada bus tingkat. Kalau nggak salah waktu itu cuma ada di Solo. Aku suka naik bus tingkat dengan duduk di lantai atas. Memandangi jalanan kota dari jendela depan bus di lantai atas rasanya lebih seru, lebih lapang, lebih luas. Bahkan sampai segede gini, duduk di bagian depan bus tingkat di lantai atas tetap menyenangkan :D.

Kami turun di Pasar Baroe. Masuk ke area Pasar Baroe berasa masuk ke ruang waktu. Rasanya seperti kembali ke masa dulu. Ada banyak toko-toko jadul yang masih eksis. Bahkan Irene juga mengajak masuk ke salah satu toko peralatan apa aja yang juga jualan peralatan rumah vintage. Bahkan saat itu toko ini juga jualan hiasan natal yang bertema jadul.

Aku diajak melewati gang sempit di area Pasar Baroe. Gang ini beneran sempit, sampai rasanya orang yang jalan berpapasan pasti akan bersenggolan. Ternyata ini adalah Gang Kelinci, gang yang terkenal lewat lagunya Titik Puspa, penyanyi legendaris yang awet muda meski sudah berusia lanjut. Dinamakan Gang Kelinci karena dulu ada banyak anak-anak kecil yang tampak seperti anak kelinci berlarian di sepanjang gang.

Bakmi & Ayam



Di ujung Gang Kelinci ada rumah makan Bakmi Aboen. Buat orang Jakarta, bakmi ini terkenal enak. Aku sendiri baru pertama kali nyobain makan di Bakmmi Aboen. Psst,, di sini ada menu nggak halal ya. Btw, Bakmi Aboen ini beneran enak, mi-nya fresh, kuahnya enak banget. Intinya Bakmi Aboen enak.

Kami lanjut lagi berjalan kaki ke Gereja Ayam. Gereja ini sebenarnya bernama Haantjerskerk yang merupakan GPIB Pniel Jakarta. Disebut gereja ayam, karena di puncaknya ada ayam. Ayam ini ternyata punya fungsi untuk menunjukan arah mata angin. Bangunannya unik karena dibangun pada tahun 1856.

Dari Gereja Ayam, kami lanjut naik bajaj. Meski kami berempat, kami tetep pake satu bajaj. Ini nih istimewanya bajaj, bisa muat banyak dan harganya bisa ditawar. Wkwkwkwk.

Berbagi ruang: 1 bajaj untuk berlima


bajaj jakarta
Kurang satu berangkat. Tarik Mang!

Awalnya sih aku nggak kebayang gimana caranya memasukan kami semua ke dalam satu bajaj, termasuk sopirnya. Kursi penumpang di belakang udah muat untuk Irene, aku, dan Sheila. Bang Ju ternyata bisa duduk di sebelah pak sopir. Sepanjang jalan sih kami ngakak bersama. Belum lagi ada sensasi bajaj yang hobi ngerem mendadak.

Kami lanjut ke Gereja Kathedral. Ini adalah kali pertama aku mengunjungi Gereja Kathedral. Selama ini aku cuma mengagumi gereja bergaya gothic ini dari jalan. Ternyata saat melihat lebih dekat, gereja ini tampak lebih lebih menawan. Bangunannya menjulang tinggi dengan arsitektur yang menarik. Aku baru tahu ternyata Gereja Kathedral ini terbuat dari baja.

Pada hari biasa, semua orang bisa masuk ke dalam gereja. Kalau kamu masuk gereja sebagai turis, kamu diminta untuk menunjukan KTP yang kemudian di-scan oleh petugas, mengisi buku tamu, dan memakai tanda pengenal untuk tamu. Meski kami datang berempat, tapi petugas hanya meminta satu KTP aja.

Sebenernya aku juga ingin main ke Masjid Istiqlal yang letaknya nggak jauh dari Gereja Kathedral. Sayangnya, waktu kami sempit dan kalau lanjut main ke sana, kemungkinan besar aku dan Sheila bisa ketinggalan pesawat pulang ke Semarang.

Jalan kaki


taman lapangan banteng
jalan kaki ke taman

Kami memilih untuk mengakhiri perjalanan di Taman Lapangan Banteng, tentunya dengan berjalanan kaki dari Gereja Kathehdral. Meski namanya Taman Lapangan Banteng, tapi nggak ada jejak banteng, entah dalam bentuk gambar, patung, atau bantengnya sekalian di Taman Lapangan Banteng.

Di Taman Lapangan Banteng ada Monumen Pembebasan Irian Barat. Lokasi Monumen Pembebasan Irian Barat ini ada di tengah taman dan nampak sangat menonjol. Dulu monumen ini tertutup pohon, dan pada tahun 2017 pemkot DKI merivitalisasi Taman Lapangan Banteng.

Monumen Pembebasan Lapangan Barat berupa patung manusia yang menunjukan kebebasan. Monumen ini dibangun untuk mengenang para pejuan Trikora dan pilihan rakyat Papua untuk bergabung dengan NKRI.

Di samping Taman Lapangan Banteng ada banyak tiang bendera. Pada tahun 2018 tiang-tiang bendera itu digunakan untuk mengibarkan bendera-bendera negara yang ikut dalam ajang Asian Games yang diadakan di Jakarta dan Palembang.

Perjalanan kami di Jakarta berakhir di sana. Catatan perjalanan di bulan November 2019 ini semestinya sudah ditulis beberapa bulan yang lalu. Ada hikmahnya juga aku merasakan pandemi Covid-19 di tahun 2020 ini. Aku jadi punya kesempatan untuk menulis catatan-catatan yang nyaris terlupakan.

Berbagi Ruang


Pandemi Covid-19 juga punya efek positif lain, seperti 
  • Aku jadi lebih perhatian sama kebun di rumah. Aku berhasil merawat dan memanen kangkung dan daun bawang. Sebuah kemajuan yang berarti.
  • Aku belajar cara mengolah makanan. Setidaknya aku bisa masak makananku sendiri. Tapi ternyata adik-adikku doyan juga makan masakanku.
  • Aku lebih menghargai hal kecil. Saat mengepel dengan cairan pembersih lantai beraroma hutan pinus, aku merasa terhibur karena merasakan sensasi hutan pinus di rumah.
  • Aku bersyukur masih bisa melihat langit biru di atas atap rumah. Cuaca apa pun terasa menyenangkan. Toh, aku masih bisa menghirup oksigen tanpa kesulitan.
Meski banyak hal baik, ada juga hal-hal yang membuat aku harus beradaptasi, terutama soal berbagi. Berbagi ruang dengan orang rumah yang di hari-hari ini formasinya selalu lengkap. Aku juga mesti berbagi ruang suara dengan tetangga yang suka menyalakan musik sangat sangat keras. Dulu, kalau butuh suasana beda tinggal lari ke cafe, sekarang nongkrong di cafe tidak disarankan.

Ah, Covid-19, kapan ya kamu hilang? Atau kami yang harus menyesuaikan dengan keberadaanmu? Mungkin aku harus belajar berbagi ruang dengan virus baru. Kamu juga kan?

Dinilint

14 comments:

  1. Sepertinya Dini lebih explore Jakarta dari saya yang berkantor di Jakarta lol. Beberapa tempat yang dikunjungi malah belum pernah aku kunjungi.

    Masa Pandemi ini, saya jadi punya waktu untuk lari/jogging. Berhasil sedikit menurunkan berat badan dan bisa main full day sama anak.

    Semoga pandemi segera berlalu, dan kita semua bisa traveling lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena aku di Jakarta jadi turis,, jadi bawaannya pengen jalan ke sana- kemari, mumpung di Jakarta. Kalau tinggal di Jakarta, pasti udah males pergi jauh-jauh karena males ketemu macet.

      Wih, positive side of pandemi ya. Malah bisa hidup lebih sehat, lebih bugar, bonus berat badan berkurang.

      Amin,, semoga keadaan lekas kondusif.

      Delete
  2. itu abang tukang bajaj dalam hati kesel kali ya.. "bujug, kendaraan sekecil ini diisi 5 orang" ahaha..

    paling suka sama spot foto kopi sampoerna itu, cakeeeep...

    kalau bus tingkat, seumur2 belum pernah ku naik itu..

    -traveler paruh waktu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah naiknya rame-rame, pake nawar pula.
      Sebenernya yang nawar-nawar Bang Ju sendiri. Begitu deal, kita berempat muncul. Ahahaha.

      Iya, bangunannya cakep dan nyaman.

      Coba naik bus tingkat dong. Nggak cuma di Jakarta, di Semarang dan Solo juga ada bus tingkat.

      Delete
  3. Aku di masa pandemi malah lebih banyak semedi, sampai kadang berinteraksi dengan penjual makanan saja. hahahhaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha,, emang anjurannya begitu kan ya.
      Aku malah jarang interaksi sama penjual makanan. Paling beli makanan online yang dibikin temen.

      Delete
  4. Beda banget suasana Jakarta ya, rasanya lebih bsa enjoy suasana hutan beton, tiada yang mengganggu...
    First stop tempat ngopinya keren

    ReplyDelete
  5. bener katamu din, positifnya kita jadi banyak mencoba hal-hal baru. biasanya cuma kejebak hal-hal yg rutinitas belaka.

    ReplyDelete
  6. Ini kayaknya tulisan soal jalan-jalan di Jakarta yang paling menyengangkan yang saya baca. Seru juga ya ternyata jalan-jalan di Jakarta--mungkin kalau diantar sama kawan yang bener-bener ngerti Jakarta. :D

    Masa-masa Covid-19 ini kayaknya momen yang pas buat kembali melihat ke dalam, dan ke yang dekat-dekat. Buat pejalan, semacam puasa. Mudah-mudahan nanti kalau ini mereda nggak pada kalap aja... hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena pas jalannya happy dan ketemu banyak surprise, jadi bacanya juga berasa surprise dengan cerita jalan-jalan Jakarta ya.

      Haha,, udah kangen menjelajah yaa

      Delete
  7. Wahhh ternyata disana juga ada gereja ayam ya ka, saya pikir cuma ada di magelang saja.. Tapi setelah saya coba searching di google penampakan gerejanya mirip banget sama, mungkin karena pada bagian atasnya terlihat seperti ada mata dan mulut ayam.. Kalo di magelang sendiri kan bentukannya dari atas sampe bawah seperti ayam hhe.

    Wahh saya pikir perjalanan ini baru-baru dilakukan, ternyata perjalanan dulu yang belum sempat dipublikasikan. Wah kira-kira di jakarta untuk jalan-jalan ke berbagai destinasi wisata atau tempat umum gitu masih diperbolehkan tidak ya saat ini?

    Kalau di tempat saya ini (jogja dan sekitarnya) sudah agak mulai susah, apalagi mau cari tempat wisata atau tempat umum yang biasa buat nongkrong dan ngobrol bersama teman sudah mulai tutupan semua..

    Ah Kesel banget kesel banget, kapan pandemi ini bisa segera berakhir ya.. Karena terlalu lama dirumah, aku jadi lupa cara ngegas motor heheh. #kid :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo gereja ayam yang di Jakarta beneran gereja yang dipakai untuk ibadah, kalo gereja ayam yang di Magelang sekarang jadi tempat wisata.

      Aku kurang tahu juga ya di Jakarta bebas nggak jalan-jalan gitu, aku domisilinya di Semarang.

      Aku juga lebih banyak berkegiatan di rumah kok ini. Kalo kangen ngegas motor ya tinggal keliling kota aja, tapi nggak mampir-mampir. Kalo kangen ngobrol sama temen paling chat atau video call rame2.

      Semoga suasana segera kondusif dan better ya.

      Delete

Thank you for reading and leaving comment :)