Navigation Menu

Es Krim Favorit, Cafe Baru, dan Kudapan Legendaris Semarang

Mencicip es krim Toko Oen yang legendaris saat siang hari yang panas di Semarang adalah kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Dengan riang gembira aku datang ke cafe baru Toko Oen di Kawasan Kota Lama Semarang. Tak cuma es krim, aku pun bisa mencicip poffertjes, kue gandjel rel, spekulas, dan aneka cookies enak khas Toko Oen.

makanan  legendaris  semarang

Toko Oen yang lekat dengan kesan old, vintage, namun legendaris, tahun ini membuka gerai barunya yang diberi nama Oud En Nieuw

Oud En Niew di Kota Lama Semarang


Oud En Niew sendiri diambil dari Bahasa Belanda, yang artinya old and new, lama dan baru. Tante Jenny, generasi ke-3 pemilik Toko Oen, berharap warisan leluhurnya yang berupa kudapan enak bisa tetap dinikmati generasi sekarang bahkan hingga generasi mendatang.

Sesuai namanya, Oud En Niew bertempat di salah satu bangunan lama berusia sekitar 100 tahunan di Kota Lama Semarang yang sudah dipoles supaya terlihat baru (direnovasi) sehingga bisa dimanfaatkan sebagai cafe. 

Suasana interior Oud En Niew
Nuansa hitam putih di Oud En Niew

Kecintaan Tante Jenny akan arsitektur peninggalan masa lalu dan Kawasan Kota Lama Semarang membuatnya membuka gerai baru Toko Oen di Gedung Koperasi Batik Indonesia (GKBI). Meski di Kawasan Kota Lama, tapi Tante Jenny memilih lokasi yang ada di pinggiran Kota Lama. Harapannya, orang yang malas jalan kaki nggak perlu capek meraih lokasi Oid En Niew yang nggak jauh dari Stasiun Tawang ini. FYI, di Kawasan Kota Lama Semarang tiap weekend diberlakukan car free night, yang artinya nggak boleh ada kendaraan yang melintas di Kawasan Kota Lama.

Oud En Niew yang bertempat di Gedung Koperasi Batik Indonesia
Oud En Niew yang bertempat di Gedung Koperasi Batik Indonesia

Jadi siapakah Tante Jenny? Tante Jenny adalah generasi ke-3 dari pendiri Toko Oen. Siang itu Tante Jenny menyambut kami dengan wajah sumringah. Tangannya mengatup di depan dada, sebagai ganti jabat tangan yang saat ini tidak disarankan demi mencegah penyebaran Covid-19. Meski menggunakan masker berwarna hitam, tapi Tante Jenny tetep tampil cantik; rambutnya yang ikal pendek dan berwarna hitam digerai rapi, blouse batik bermotif klasiknya membuat dia tampak elegan tapi santai.

Nggak cuma penampilannya, ternyata Tante Jenny juga orang yang menyenangkan. Sembari menikmati es krim rhum raisin favorit, Tante Jenny datang ke meja dan bercerita tentang kudapan-kudapan lezat yang terhidap di atas meja.

"Poffertjes bulat ini tercipta karena kecelakaan lho." 

Tante Jenny menunjuk kudapan bulat seukuran ibu jari yang baru diangkat dari pan. Tampak hangat dan menggoda, apalagi dengan taburan gula halus dan parutan keju di atasnya. Makanan enak macam poffertjes begini kok dibilang hasil kecelakaan sih.

Poffertjes dan bentuk bulatnya yang nggak disengaja


Tante Jenny bercerita bahwa poffertjes dari Belanda sebenarnya berbentuk gepeng seperti kue pancake berukuran kecil. Di masa lalu, poffertjes dibawa dari Belanda ke Indonesia. Dalam perjalanannya si poffertjes ini mengalami proses yang sedemikian rupa sehingga mengalami perubahan bentuk. Meski begitu, tante tetap mencoba si poffertjes, toh dia sudah menempuh perjalanan jauh. Ternyata rasanya tetap enak dan banyak yang suka. Jadilah si poffertjes Toko Oen hingga saat ini berbentuk bulat seperti bakso. Variannya ada yang original, isian keju, isian coklat, atau isian coklat keju.

poffertjes toko oen semarang
Dulu poffertjes tidak berbentuk bulat begini

Buatku poffertjes ini kudapan enak yang selalu aku nikmati tiap ada Festival Kota Lama. Toko Oen dan Tante Jenny adalah salah satu pioner adanya Festival Kota Lama dan Toko Oen selalu buka gerai di sana. Ngemil poffertjes panas sambil jalan-jalan di Kota Lama jadi agenda tahunan. Tapi sepertinya tahun ini belum tentu terlaksana karena pandemi belum berakhir.

Gandjel rel, roti pengganjal lapar dengan rempah-rempah yang melimpah


Setelah puas dengan pofferjes, datang kue gandjel rel. Gandjel rel ini makanan khas dari Semarang. Bentuknya nggak menarik, cuma kotak panjang, berwarna kota tua, dan teksturnya keras. Mungkin ini sebabnya mengapa roti tidak menarik ini disebut gandjel rel karena bentuknya seperti penggajal rel kereta api.

gandjel rel, makanan khas Semarang
gandjel rel dan bentuknya yang kurang menarik, tapi rasanya asik

Ada cerita menarik soal kue gandjel rel ini. Konon dulu saat puasa, ada yang membuat kue berstekstur keras yang sangat manis. Kue ini dipotong kecil-kecil dan dibagi-bagi ke orang banyak untuk takjil buka puasa. Kalau makan kue ini pasti seret, jadi pasti otomatis akan banyak minum air. Sepotong kecil kue ini bisa membuat kenyang dan perut senang.

Kue gandjel rel konon berasal dari kue ontbijkoek. Ontbijkoek ini kue berbentuk seperti bread bulat yang biasa digunakan orang Belanda untuk sarapan di masa lalu. Ontbijkoek menggunakan rempah-rempah Indonesia sehingga punya rasa yang khas. Menurut asumsi, kue gandjel rel terinspirasi dari ontbijkoek, menggunakan rempah-rempah dalam adonan roti. Bedanya, gandjel rel yang dulu dibuat dari tepung gaplek / singkong dan gula jawa karena di masa lalu kedua bahan ini lebih murah dibanding tepung terigu dan gula pasir.

Gandjel rel masa sekarang cenderung lebih empuk, tapi rasanya tetap kaya karena kandungan rempah-rempah dan tetap menggunakan gula jawa (meski si gula jawa saat ini harganya lebih mahal dibanding gula pasir). Sayangnya, nggak banyak yang menjual kue gandjel rel. Toko Oen dan Oud En Niew jadi salah satu resto / cafe yang menyediakan gandjel rel, bahkan ada paket dengan es krim juga.

Es krim Toko Oen yang legendaris


Aku adalah penggemar es krim Toko Oen. Rasa es krimnya enak, nggak terlalu manis, nggak eneq, cenderung seger, dan cepat mencair yang berarti es krimnya fresh dan nggak ada kandungan pengawet berbahaya. Dari sekian banyak varian rasa es krim Toko Oen, favoritku adalah rhum raisin. Aku suka aroma rhum dan paduan rasa rhum dan raisin pada makanan beku yang dingin itu klop.

es krim toko oen semarang
es krim jadul yang enak

Kalau di Toko Oen tersedia aneka jenis varian es krim dengan rasa klasik seperti coklat, vanila, tutti fruty, dan rhum raisin, di Oud En Niew resep es krim jadul ini dikembangkan lagi dengan varian rasa kekinian; salted caramel machiato, strawberry souce, mango sorbet, cookie dough, thai tea, cheese cake, ginger, spekulas, dan masih banyak lagi.

Spekulas, rempah-rempah, dan aneka cookies


Siang itu aku memilih es krim rhum raisin dan spekulas. Tahu spekulas kan? Spekulas ini sejenis cookies dengan rasa rempah-rempah yang melimpah. Ketika diolah menjadi rasa es krim, aku suka sensasi rempah-rempah yang segar dan dingin di mulut. Bayangin dong rempah-rempah yang meleleh di mulut.

spekulas
spekulas

Hari itu untuk pertama kalinya aku juga mencoba spekulas dalam bentuk cookies di Oud En Niew. Spekulas khas Toko Oen ini ternyata jauh lebih enak dari spekulas lain yang pernah kucoba. Rasa rempah-rempahnya pas, manisnya pas, cinnamon favoritku juga menonjol, dan renyah. 

Tante Jenny cerita, ketika beliau menyajikan spekulas pada tamu-tamu dari Belanda, mereka berkata bahwa

"Spekulas di Toko Oen ini benar-benar spekulas. Rasanya lebih enak daripada yang di Belanda."

Lho, padahal spekulas ini berasal dari Belanda. Namanya aja Belanda banget.
"Mungkin ini disebabkan dari rempah-rempah yang jadi ciri khas rasa spekulas," kata Tante Jenny. Rempah-rempah di Indonesia bisa jadi lebih fresh dibandingkan dengan yang di Belanda.

Selain spekulas, aku juga mencoba aneka kue kering lain. Semuanya enak. Ya ampun. Aku baru nyoba sekali ini dan ketagihan.

Kue kering Toko Oen
Semua cookies ini enak

Saat H-5 lebaran tahun ini Tante Jenny mendapat permintaan lebih banyak dari biasanya. Sayang, Toko Oen tidak bisa memenuhi permintaan karena cookies-cookies Toko Oen nggak bisa dibuat terburu-buru. Kalau mau pesan yang sebaiknya jauh-jauh hari. 

Cookies homemade memang beda dengan cookies pabrikan. Bahannya bener-bener dijaga yang terbaik, dan membuatnya juga nggak bisa langsung banyak.

Itulah mengapa rasa cookies Toko Oen ini beda dengan cookies kebanyakan. Intinya enak!!

Foto bareng Tante Jenny, owner Toko Oen Semarang
Terima kasih Tante Jenny untuk makanan, es krim, dan kudapan enaknya.

Kalau kamu ada waktu untuk berkunjung ke Semarang, coba deh buktiin ceritaku ini. Siapa tahu pendapat kita berbeda, boleh kasih tahu ya. Sampai jumpa di Semarang.

Dinilint.

4 comments:

  1. Huaaaa bikin pengen ke Semarang. Semoga lekas menurun pandemi, biar bisa main ke sini sambil menikmati kudapannya.

    ReplyDelete
  2. Ini wajib dikunjungi nih kalau ke Semarang. Saya baru tahu Mbak Dini kalau ada cafe legendaris di Semarang mengusung tema klasik. Ini macam Tip Top kali ya kalau kita ke Medan hehehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya mirip-mirip gitu. Toko Oen-nya sendiri udah ada sejak jaman Belanda. Kalo nggak salah restonya juga jadi bangunan cagar budaya.

      Delete

Thank you for reading and leaving comment :)