Navigation Menu

Main ke Desa

 "Sudah berani ke luar kota?"

Pandemi mengubah banyak hal. Sudah setengah tahun berlalu sejak terakhir kali aku bepergian, naik kendaraan umum bersama ratusan orang dan bercumbu dengan alam. Sejak virus menyebar perlahan namun pasti di negeri kesayangan, hasrat bepergian hilang ditelan angan.

Meski masih betah di rumah, ajakan bepergian ke luar kota tetap saja menggoda. Ke luar kota. Pergi dari kota. Ke desa. Ajakan yang menyenangkan bukan?

Berbekal pengetahuan tentang si virus (penyebaran, pencegahan, dan percaya pada tubuh sendiri bahwa kuat menghadapi tantangan pervirusan di luar sana) dan ijin dari orang rumah, aku jawab,

"Yok!"


Naik bus umum


Wonosobo - Semarang aku tempuh selama 3 jam perjalanan. Karena pergi sendirian, aku memilih naik Kendaraan umum. Aku memililh naik bus dibanding travel dengan pertimbangan space yang lebih luas pada bus. Aku membeli tiket secara online melalui OTA. 

Kalau menurut pesanan daring tiap penumpang dibatasi satu kursi kosong. Kenyataannya, saat naik ke dalam bus, ruang depan sudah penuh terisi manusia. Kaget, tapi bisa apa.

Semua penumpang memakai masker dan minim bicara. Kondektur dan sopir pakai masker. Penjual makanan yang memanfaatkan kesempatan naik ke bus sebelum bus berangkat, memakai masker di leher. Sebenarnya aku merasa tidak nyaman melihat keadaan begini, tapi aku memilih diam dan berdoa.

Pukul 7.30 pagi bus berangkat, mengantar aku, dan penumpang lainnya pergi ke luar kota. Menuju desa.

Jujur aja, sepanjang perjalanan aku nggak tenang. Tangan terlipat di depan dada, antara meminimalkan kontak tangan dengan benda asing supaya tidak tertempel virus, dan kedinginan. AC di dalam bus dingin banget, padahal matahari di luar sana sedang terik-teriknya. Pikiran positif datang; sinar matahari terik di luar akan membantu membunuh bibit-bibit virus yang mungkin saja beterbangan di udara.


Pemandangan menyegarkan sepanjang perjalanan


Kecemasan akan duduk diam 3 jam dalam ruang tertutup berupa bus umum di masa pandemi terbayarkan saat melewati pemandangan gunung sepanjang perjalanan menuju Wonosobo. Begitu sampai di SPBU Gontor Wonosobo, titik aku berhenti, udara sejuk menyambut.

Kak Olip sudah menunggu di sana. Aku diangkut Kak Olip di boncengan belakang motornya, menuju pusat Kota Wonosobo, kemudian lanjut ke Desa Sendangsari. 

Kami stay di Pondok Bamboo Sendangsari. Jaraknya 7 km dari Kota Wonosobo dan 30 menit menuju Dieng. Mbak Tere menyambut dengan ramah.


Jalan-jalan di desa


Setelah kedinginan semalam di Sendangsari, kami diajak jalan kaki ke sekitaran Desa Sendangsari. Rute jalan kaki agak menanjak karena lokasinya ada di kaki gunung. Kami melewati kebun sayur yang subur, melewati hutan bambu dan mendengar gemericik air sungai. Di kejauhan, Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing menampakan wajahnya yang gagah perkasa.


Ini trek kami saat menyusuri kebun warga di desa

Ada gunung di kejauhan, dan warga yang sedang bertani

kebun

kebun tembakau

Hai gunung

Kamu kok sendirian?

Kebun sayuran segar

Melewati pohon bambu

Mungkin ini kebun timun

Rumah warga dan tanamannya

Kebun di samping rumah

Melewati jalanan yang lebih lebar. Jalanan ini untuk memudahkan warga mengangkut hasil tani.

Tempe kemul khas Wonosobo

...dan menu sarapan di desa


Ngopi di atas bukit 


Kami diajak melihat tanaman kopi di beberapa titik. Lanjut naik bukit, melihat penampakan entah Gunung Sumbing atau Gunung Sindoro dengan lebih jelas. Lalu menyeduh kopi tubruk sambil ngobrol ini itu.

Duduk di bawah pohon, beralas rumput yang ditataki dengan tikar, ditemani ngopi dan disambi rumpi ternyata menghabiskan waktu berjam-jam. Tak terasa waktu makan siang terlewat begitu saja.


Kopi Wonosobo yang barusan di-grinder manual

Menunggu air mendidih sambil lihat gunung

Siap sruput

Hutan bambu dan sendang


Kami turun, kembali melewati kebun-kebun sayur subur, dan main ke desa. Di sekitaran desa ini ada Hutan Bambu yang menjadi spot pariwisata. 



Sesuai namanya Sendangsari, di desa ini ada sendang yang airnya bening banget. Sendang adalah sebentuk kolam yang digunakan warga untuk mandi.

Karena sendang ini terletak di ruang terbuka, bila ada yang sedang mandi, lawan jenis dilarang lewat. Kebetulan saat kami sampai di sendang masih ada laki-laki yang mandi dan kami mesti menunggu di ujung jalan.

Air sendang yang bening, bersih, dan nampak segar menggoyahkan iman. Aku ikut nyebur untuk berenang di sendang. Setelah setengah tahun nggak nyebur ke kolam besar dan berenang, pengalaman mandi di sendang hari itu sungguh berkesan.


Tergoda dengan airnya yang bening, aku ikut nyebur dan mandi

Di depan ada kebun rawa dan bertemu dua bocah yang panen selada air atau semacamnya


Kalau tadi kami berangkat melewati kebun sayur, kami pulang menuju Pondok Bamboo lewat jalan desa. Saat melewati salah satu rumah penduduk, kami melihat ada tanaman bunga cantik di depan halaman rumah. 

Awalnya kami bertanya bunga apakah itu pada si ibu empunya. Akhirnya kami membawa 3 jenis tanaman bunga yang berwarna merah, putih, ungu. Senangnya.

Main ke desa setelah sekian lama di rumah aja membuat fresh jiwa raga. Senang bisa berjalan kaki keliling desa, lihat kebun, ngopi di bukit. Kalau kamu ingin juga merasakan pengalamanku, coba menginap di Pondok Bamboo Sendangsari di Wonosobo dan main-main di sekitaran Desa Sendangsari, Wonosobo.


Dinilint

8 comments:

  1. Emang paling oke maen di Desa. Udah tempatya sejuk, pemandangannya pun indah sekali. Apalagi ditambah dengan ngopi sambil menghadap Gunung. Duh jadi pengen pulang kampung

    ReplyDelete
  2. Jadi teringat kampung halaman nun jauh di ujung barat jawa tengah.. ya mirip-mirip kaya gitu,, ada kebun, sawah, background gunung, pohon bambu, tapi gak ada sendang, cuma ada mata air di dekat batu besar yang digunakan untuk mandi juga..

    harusnya lebaran kemarin mudik, tapi ditunda,, semoga bisa pulang akhir tahun ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga bisa pulang ya mas. Kebayang asiknya main di kampung halaman Mas Bara

      Delete
  3. Aku mupeng mencicipi pengalaman serupa dengan mu. Kemarin udah sempet camping sih tapi kurang lama karena jam 9 pagi udah diajak pulang, hahahqq

    ReplyDelete
    Replies
    1. Camping kilat ya bu. Lumayan lah itu mengobati kangen.

      Delete
  4. saat ini aku tertahan di kota. Mau main jauh ke desa masih takut dengan virus. Jadi sementara menepi di kota saja, mengurangi aktivitas keluar :D
    Menyenangkan bisa keliling di sebuah desa, kemudian berinteraksi dengan warga sekitar. DUduk sebentar, istirahat sebentar, menyeduh kopi, sambil menikmati pemandangan desa. Duuh, enaknya :D

    ReplyDelete

Thank you for reading and leaving comment :)