Navigation Menu

Staycation di Dieng: Omah Dieng

Kalau butuh penginapan aesthetic di Dieng, coba deh menginap di Omah Dieng. Teras, ruang tamu, dan dapurnya juara. Omah Dieng kasih experience tentang megahnya Dieng dari dalam rumah. 

staycation dieng

Lho kok bisa?

Rata-rata penginapan di Dieng merupakan rumah tinggal penduduk lokal yang berubah fungsi jadi homestay saat musim wisatawan ramai berdatangan ke Dieng. Berbeda dengan akomodasi Dieng pada umumnya, Omah Dieng memang sengaja dibangun untuk jadi tempat menginap yang nyaman untuk pejalan.


Joglo


Desain bangunan Omah Dieng meniru konsep joglo -rumah tradisional Jawa- dengan tiang-tiang pancang dan bentuk atap limas segi empat. Warna bangunan Omah Dieng dominan coklat natural yang didapat dari warna batu bata expose, genteng, dan tiang kayu.


homestay dieng


Meski kami jadi tamu pertama di Omah Dieng, sudah banyak tanaman-tanaman hias yang menyambut kehadiran kami. Udara Dieng yang sejuk tapi tetap berlimpah cahaya matahari  membuat tanaman hias jenis sukulen dan philodnedron banyak ditemukan di tiap teras rumah penduduk lokal, termasuk di Omah Dieng. Duh, pengen bawa pulang, tapi inget dengan ... 


... perbedaan suhu di Semarang dan Dieng yang bagaikan surga dan neraka.


Di teras ada set meja dan kursi bergaya vintage yang nyaman untuk diduduki lama-lama. Teras merupakan salah satu spot favoritku di Omah Dieng. Aku bisa duduk minum teh sambil melihat kelap-kelip cahaya lampu dari tumpukan rumah-rumah warga di kejauhan.


omah ndieng

Menikmati Dieng dari dalam rumah


Sebelum masuk ke area dalam rumah, disediakan rak sepatu. Untuk menjaga rumah tetap bersih tapi kaki tetap hangat, Omah Dieng menyediakan sandal rumah. Orang Dieng lebih memilih menggunakan keramik untuk lantai rumahnya meski udara di Dieng bisa mencapai di bawah 0 derajat di waktu terdinginnya. Coba mereka pakai karpet atau parket kayu kan lebih hangat ya.


Tips staycation di Dieng: bawa kaos kaki ekstra untuk dipakai di dalam rumah.


Spot favorit lain di Omah Dieng adalah ruang tamu. Tembok ruang tamunya berupa kaca transparan sehingga aku bisa bebas melihat keindahan Dieng dari dalam rumah. Aku udah berniat bangun lebih pagi, menggeret selimut ke ruang tamu, dan menikmati momen langit berubah warna menjadi lebih cerah dari ruang tamu. 


Cara paling asyik untuk menikmati sunrise: badan tetap terbungkus selimut sedangkan mata bebas memandang langit lepas yang perlahan berubah warna menjadi lebih terang.



Satu pavilliun muat banyak


Aku dan teman-teman menginap di satu rumah pavilliun berkamar empat. Ada satu kamar super luas yang bisa ditempati hingga 4 orang, 2 kamar ukuran biasa yang muat 2 orang, dan 1 kamar agak sempit yang juga bisa ditempati 2 orang. 


omah dieng
Ini kamar yang aku tempati, ukurannya paling kecil dibanding kamar teman-teman yang lain.

Masing-masing kamar punya kamar mandi dalam lengkap dengan shower air panas, wastafel, dan toilet duduk. Tiap kamar juga dilengkapi dengan lemari penyimpanan termasuk yang ada di bawah tempat tidur dan kasur springbed lengkap dengan selimut dan bed cover yang super hangat.

Omah Dieng
Omah Dieng menyediakan handuk bersih dan toilettries.

Omah Dieng

Omah Dieng

Omah Dieng punya dapur lengkap dengan kompor gas dan panci. Uniknya, dapur ini terletak di teras belakang rumah. Aku bisa melihat gunung, langit, dan bebas mendengar suara burung.

omah dieng
Pemandangan dari dapur Omah Dieng

Omah Dieng juga menyediakan teh, kopi, dan jahe instan yang bisa diseduh kapan saja. Untuk urusan air panas nggak perlu ke dapur untuk menyeduh air karena sudah ada dispenser yang terletak di ruang tengah.

omah dieng


Candi Gatotkaca


Saking nyamannya menginap di Omah Dieng, aku gagal bangun saat hari masih gelap. Untuk mengobati kekecewaan, aku pilih jalan kaki di sekitaran Omah Dieng. 

Pagi itu Dieng sepi. Sepanjang jalan aku hanya melihat satu dua orang wisaatawan yang sengaja datang pagi untuk ambil momen jalanan sepi Dieng. 

Aku juga bertemu beberapa orang yang berangkat bekerja, mungkin petani, mungkin teknisi. Entah. Yang jelas warga lokal yang pergi bekerja ini ramah banget. Setidaknya mereka melempar senyum ke aku.

staycation dieng
Jalanan di sekitaran Omah Dieng


Buat aku jalanan sepi seperti ini malah menyenangkan, apalagi Dieng. Pengalamanku dengan Dieng selalu dipenuhi orang, bahkan aku seringkali merasakan jalanan macet. Terima kasih pandemi, aku menikmati damainya jalan pagi tanpa harus berkerumun dengan orang lain.

Aku dapat bonus bisa melihat Candi Gatotkaca dari dekat. Candi Gatotkaca ini jadi salah satu dari 400 candi yang tersebar di seantero Dieng. Candi di Dieng sendiri merupakan candi Hindu, dan menurut sejarah merupakan peninggalan dari kasta Brahmana tertua di tanah Jawa.

staycation dieng
Berhubung foto bersama Candi Arjuna sudah di-publish di post terdahulu, foto di sekitar Candi Arjuna yang aku pasang di post ini. :D

Tentang Omah Dieng


Selama tinggal di Omah Dieng, makan siang, makan malam, dan makan pagi disediakan oleh pihak Omah Dieng. Makanan yang disediakan di Omah Dieng merupakan makanan berbahan pangan lokal Dieng seperti sup kacang merah, tumis sayuran, tempe kemul, lalapan, dan aneka jenis makanan enak lainnya. Masakannya sedap dan menyenangkan baik perut maupun badan.

Kalau kamu pengen menginap di Omah Dieng dan berencana membawa kendaraan pribadi, ada area parkir yang sangat luas di sini. Lokasi Omah Dieng jadi satu dengan Rumah Budaya Dieng, sekitar 7 menit berkendara dari pertigaan Dieng, pusat segala keramaian di Dieng. 

staycation dieng
Rumah Budaya Dieng dan parkirannya yang luas

Yang mau merasakan asyiknya staycation di Omah Dieng silakan kontak Mas Alif di 0852-2720-6009. Oh ya, untuk rumah yang tempati hanya bisa disewa satu rumah utuh dengan harga Rp. 1,750,000. Omah Dieng juga punya kamar-kamar yang bisa disewa dengan harga sekitar Rp. 350,000, Rp 450,000, dan Rp 550,00. 

Omah Dieng berlokasi di Rumah Budaya Dieng, sekitar 10 menit dari pertigaan Dieng. Dari pusat segala keramaian di Dieng ini, jalan ke arah Candi Gatotkaca untuk mencapai lokasi Omah Dieng yang jadi satu dengan Rumah Budaya Dieng.

Suatu hari nanti aku pengen balik lagi menikmati indahnya alam Dieng, dinginnya udara Dieng, dan styacation lagi di Omah Dieng. Terima kasih untuk kamu yang sudah menemani aku bernostalgia staycation di Dieng lewat tulisan ini. Sampai berjumpa lagi.

Dinilint

8 comments:

  1. Di Dieng ada sih yang ingin aku inapi, tapi sampai sekarang belum terealisasikan. Dulu pas terakhir ke sana malah menginap di rumah warga, ngobrol santai dengan warga setempat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di mana itu bang? Aku jadi penasaran.
      Emang nongkrong sambil ngobrol ngalor-ngidul sama warga lokal paling enak mas

      Delete
  2. Kak Dini, aku jatuh cinta sekali sama view dari Omah Dieng! Bagus bangeeeeeeeeeeeettttttttt <3
    Desain kamarnya juga kesukaanku banget! Harga kamarnya juga worth it sekaliiii. Itu harga kamarnya beneran udah include sama 3x makanan? :O

    ReplyDelete
    Replies
    1. Harga kamarnya belum termasuk makan 3x tapi,, kayaknya include sarapan, tapi better kontak mas Alif-nya langsung aja biar nggak salah info. Mungkin di waktu-waktu tertentu rate-nya juga bisa berubah.

      Delete
  3. woh, cakep sekali itu Omah Dieng-nya! itu serius, lantainya pakai keramik?? �� untung ada sandal dalam rumah, ya.. aku aja meski sudah pake lantai parket, tetep ngerasa dingin dan masih pake sandal rumah lagi, ini pake keramik.. sunggu sakti!! untung ada air panas, ngga kebayang mandi pake air dingin �� untuk harga kamarnya cukup oke sekali ini!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ahahaha,, orang Indonesia emang sakti kan mas. Di area living ada karpet di bawah set kursi dan meja. Aku pun pernah nginep di area Bromo yang tidak ada fasilitas air panas,, entah gimana penduduk lokal kalo mandi. Mungkin mandinya pas siang hari.

      Delete
  4. Sumpah jadi ngiler, pengen nginap di sana dan menikmati pagi di sekitaran Dieng. Pemandangannya juara.

    Wajib masuk list impianku nih.

    ReplyDelete

Thank you for reading and leaving comment :)