Navigation Menu

What to do in 2021?


Biasanya pertanyaan seperti ini akan aku jawab dengan "Travelling ke sini...." 

For you to know, aku suka beli tiket promo di tahun sebelumnya dan berangkat di tahun berikutnya. Jadi udah ketahuan di awal tahun kalau tahun itu aku akan berangkat ke mana. Biasanya sih ke negara baru, karena aku loyal customer of tiket promo Air Asia.

Tahun ini jelas beda dong. 

Nggak ada tuh plan travelling ke mana. Meski ngaku jadi loyal customer of tiket promo AA, tapi aku nggak ikutan beli unlimited pass-nya Air Asia meski harganya super murah. Aku juga nggak ikutan periode sale tiket promonya Air Asia beberapa waktu lalu.


Menurutku 2021 itu unpredictable


Hidupku di 2021 pun undpredictable. Di awal tahun ini aku harus mengakhiri hubungan dengan seseorang yang aku sayang. It was hurt, but ya sudahlah. 

Meski ada hal buruk, and I admit that I have to deal with it until now, tapi masih banyak hal baik yang terjadi di sekelilingku.

Tanaman-tanaman di kebon jadi salah satu pengingat tentang banyak hal baik yang terjadi di sekitarku, dan dunia masih berjalan sayang!



Menerima semua hal, baik negatif maupun positif, menyadari, menghadapi, dan tetap bergerak maju untuk kehidupan yang lebih baik.


Halah,, kayak kalimat kampanye ya. Tapi emang ini yang sedang aku hadapi. Berat. Tapi sepertinya Semesta sedang memberi pelajaran hidup untukku lewat hal seperti ini. So, just face it!

Dalam menghadapi hal-hal buruk di kehidupan, kadang imajinasiku liar. Kalau liarnya ke arah positif tentu menyenangkan. Tapi kalau liarnya jadi negatif dan merusak diri, juga bikin bete lingkungan sekitar, tentu I have to realize it and stop it!

Untuk mengatasi negative vibes dari diri sendiri, aku menyibukkan diri dengan berbagai pertanyaan, untuk kemudian mencari jawabannya. 


Some question lead me to another things that give me surprise


Beberapa waktu lalu sedang ramai bahasan mengenai bule Amerika yang tinggal di Bali dan bikin e-book panduan tinggal di Bali secara murah. Waktu itu seru banget respon netizen, perang netizen Indonesia dan Amrik, hingga respon pemerintah, khususnya ditjen pajak dan imigrasi RI.

Dari sekian banyak respon netizen, aku tergelitik pada pendapat fenomena suatu desa yang berubah menjadi 'kota'. Orang kota yang jenuh dengan kehidupannya, melarikan diri ke desa, kemudian bercerita tentang indahnya kehidupan di desa. Desa tersebut menjadi populer di kalangan orang kota, yang mengakibatkan orang kota ramai-ramai pindah ke desa. Efek untuk desa tersebut, makin banyak fasilitas orang kota yang dibangun di desa, lalu biaya hidup di desa meningkat, tapi belum tentu UMR desa tersebut ikut meningkat. 


Hmmmmm


Ah aku jadi inget Ubud. Ubud yang kukenal lewat tulisan dan cerita adalah sebuah desa kecil yang damai tentram dan punya vibes laid back yang menyenangkan. Aku membayangkan desa di Indonesia yang orang-orangnya ramah, makanannya enak dan murah, dan tentu saja bikin betah.

Tapi ketika main ke Ubud, khususnya di daerah turis yang ramai, aku mendapati Ubud ini nggak seperti desa. Ubud is a tourist area, lengkap dengan resto yang menjual menu western dengan harga bule. Hmmm.

Aku iseng dong cari tahu kalo tinggal di Ubud menghabiskan biaya berapa rupiah sebulan. Dari situ aku menemukan satu blog yang mengulas tentang Bali Lyfe. Nggak cuma tentang Bali, aku malah ngikutin kisah dia tentang perjalanannya kerja online, sampe ke her work.

Dari situ aku merasa diingetin sama Semesta, "Hey, is this what you looking for? Udah ada panduannya nih. Udah ada yang mau nulisin detailnya dan berbagi pengalamannya. Dari pada tahun ini kamu bengong, sedih melulu gara-gara si ono, kenapa nggak belajar kemampuan baru, make it good dan try to earn money from that?"

So, di 2021 ini aku pengen belajar hal baru, 


improve it, and make something from it


Siapa tahu beneran bisa kerja online dari mana aja.

Aku memilih belajar dengan cara mencari materi dari internet. Sejauh ini ada banyak orang yang baik banget dan mau berbagi ilmunya di internet. Aku menemukan blog, video youtube, bahkan software yang mendukung pelajaran baruku.

Nah sekarang dari akunya nih yang harus komitmen untuk: 

Disiplin. 

Belajar sendiri emang enak. Bebas menentukan mau belajar apa, butuh apa, budget berapa. Tapi aku juga harus disiplin dan pasang target untuk bisa. Kalau belajar sendiri nggak ada yang kasih pr dan tugas, tapi aku harus tega kasih pr ke diri sendiri supaya kemampuanku berkembang.

Komitmen. 

Belajar itu emang soal komitmen. Yang bayar les aja bisa bolos dan drop out, apalagi yang belajar modal gratisan di internet. Tapi aku harus komit dengan tujuanku. Aku harus ingat kenapa aku pilih belajar ilmu ini.

Ah dari awalnya cuma nanya tahun ini mau ngapain, jadi panjang begini ceritanya. Gila ya kalian masih mau baca aja. Terima kasiiiiiiih.

Btw, terima kasih juga untuk mbak Creameno yang udah kasih tema bulan Januari tentang improve. Kok pas banget sih, pas aku pengen belajar berjanji sama blog ini untuk nulis minimal 4 kali sebulan, pas ide buntu karena biasaya blog ini isinya tentang cerita aku jalan-jalan tapi aku lagi nggak jalan-jalan karena nggak mau situasi pandemi ini tambah parah, pas lihat CR Challenge di blog mbak Eno. Thank you.

Dinilint

11 comments:

  1. Kunci dari segala kesuksesan sebenernya memang hanya disiplin dan komitmen untuk melakukan :D. Dan itu susah loh, apalagi kalo pikiran ga fokus ya mba. Sesekali aku juga suka out of track, walopun kemudian jadi inget lagi, dan balik ke track yg benar. Itulah kenapa aku butuh plan tertulis setiap awal tahun, jadi apa yg aku targetin, terarah dan terukur :).

    Eh kita samaaaaa, kalo beli tiket liburan pasti setahun sebelumnya. Itu karena pas msh ngantor, cuti staff memang harus dr jauh2 hari, supaya kantor bisa strange siapa penggantinya selama si staff cuti. Ada team back up di kantor ku, tapi sangat terbatas. Dan mereka harus cover seluruh kantor cabang Jakarta, yg ga sebanding Ama jumlah team mereka. Itu lah kenapa cuti 2021 misalnya, itu hrs dr nov 2020 di plan. Lalu submit ke team mereka. Makanya aku slalu beli tiket jauh2 hari :D.

    Tapi skr, tidak lagiiiii wkwkwkwkk. Selagi belum ada kejelasan negara2 lain buka Border, belum divaksin juga, aku ga akan beli tiket dulu. Nanti aja, setelah vaksin dapet, dan negara2 confirm buka Border mereka.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kdg aku benci Ama auto type, selalu aja jd bikin kata2 eror wkwkwkkw. Mau nulis arrange kok jd strange :p. Maklumin kalo banyak typo ya mba 🤣

      Delete
    2. Mbak Fanny,, terima kasih semangatnya. Aku dari dulu struglling dengan disiplin dan komitmen. Makanya emang harus harus harus inget tentang dua hal ini. Apalagi mau belajar hal baru, sendiri pula. Kudu fokus.

      Situasi sekarang emang serba nggak jelas yo mbak. Jangankan pergi lintas border,, mau pergi ke kota sebelah naik pesawat atau naik kereta aja mikirnya berkali-kali.

      Soal typo,, manusiawi mbak. Tapi kadang kalo kena autocorrect jadi suka bingung, kok nggak nyambung. Ahahaha.

      Sekali lagi, terima kasih semangatnyaaa.

      Delete
  2. Kak Dini, aku suka lho vibes di Ubud. Kalau disuruh milih antara Ubud atau Kuta, aku akan lebih milih Ubud :D
    Karena mungkin efek perpaduan desa + tourism tapi tetap ada ketenangan khas desa itu yang membuat aku suka Ubud 😆.

    Ayo Kak Dini semangat mewujudkan resolusinya di tahun ini 💪🏻💪🏻💪🏻

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Lia, terima kasih semangatnya.

      Eh pas perjalanan ke Ubud terakhir, aku menemukan vibes Ubud seperti yang ada di tulisan-tulisan orang, tentang desa yang kalem, tentang penduduknya yang santai tapi ramah tapi nggak kepo, tentang alamnya yang cantik. Jadi pas terakhir ke sana aku nginep di rumah penduduk, di desanya, bukan di area turisnya. Dan rasanya menyenangkan banget.

      Tapi kalo bosen tinggal naik motor ke area turis. Aku juga mulai menemukan warung dengan harga lokal, yang lokasinya ada di area turis juga.

      Terakhir dengar cerita, sekarang Ubud sepi. Ya, turis-turis belum bisa datang dan memang lebih baik begitu kan.

      Ah, jadi kangen Ubud.

      Delete
  3. menjaga komitmen biasanya yang agak susah ya mbak.
    aku juga begitu, sifat menunda nunda juga termasuk di dalamnya

    samaan kita mbak, aku kalau beli AA juga setaun sebelumnya, kadang hampir lupa kalau pernah beli tiket hahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah iniii,, pikiran 'masih ada hari esok' emang ngeselin banget ya. Apalagi aku orangnya moody dan bener-bener nungguin mood baik datang. Tapi ya,,, terus nggak kelar-kelar kerjaannya. Jadi aku malah nambahin do the list on schedule jadi satu hal yang harus aku improve tahun ini.

      Thank you Ainun untuk insight-nya.

      Soal tiket promo AA, banyak ya yang kelakuannya kaya aku, belinya setahun belakangan. Ahahaha.

      Delete
  4. I'm sorry for your relationship, but hey. the end is a new starts, right? keputusanmu untuk move on ini oke banget! dan ya, tidak semua orang bisa menjadikan peristiwa itu jadi semangat baru. tetap semangat dan terus sehat selalu, ya!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you so much Zam!

      (((The end is a new start)))

      I keep it in my mind. Life is always moving, so moving on. 'u'

      Delete
  5. sama bgt nih, tahun ini gak ada resolusi pgn kemana gituuu haha.. aku merasa traveling bener2 bukan prioritas di kondisi kaya begini, cocoknya untuk improvisasi diri supaya jadi versi yang lebih baik dari sebelumnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mood buat travelling drop ke below zero. Aku mau bertahann hidup aja.
      Sambil ngisi waktu dan biar imajinasi nggak ngaco, aku usahain isi dengan improve diri sendiri. Ahaha.

      Semoga kita improve jadi better version ya Bar.

      Delete

Thank you for reading and leaving comment :)