Navigation Menu

Sukses Akibat Pandemi. Sebagian Cerita Survive dari Bisnis Lokal Indonesia

 Hidup di masa pandemi ternyata nggak semengerikan imajinasi aku. Meski ada banyak hal tidak menyenangkan efek pandemi yang terjadi, tapi bisalah dihadapi dan dilewati.




Di awal masa pandemi, pertanyaan tentang bagaimana nanti, apakah aku akan survive dan tetap sehat, apakah aku masih bisa tetap berkarya, apakah negaraku akan tetap baik-baik saja selalu muncul dan tak ada jawaban pasti.

Setahun berlalu. Aku dan kamu masih survive melewati pandemi. Negara tercinta ini baik-baik saja. Malah ada banyak cerita penuh inspirasi dari pandemi; 

  • toko kopi yang ubah haluan jual kopi literan,
  • perusahaan teknologi yang mengatasi sampah yang makin menumpuk saat pandemi, 
  • startup bioteknologi yang membantu produk lokal diterima di pasar luar negeri, 
  • perusahaan sosial B2B yang ubah haluan ke app dan kriya home decor,
  • industri pendanaan yang penyaluran dananya naik 80% di masa pandemi
Ini adalah cerita sukses dari bisnis lokal Indonesia. Mereka nggak hanya survive, tapi malah makin sukses.


Toko Kopi Tuku

Diceritakan oleh Andanu Prasetyo, founder Kopi Tuku.



Pada masa awal pandemi Kopi Tuku merasa tegang dan bingung, hal yang sepertinya dirasakan semua orang. Meski keadaan serba tidak pasti, Kopi tuku memilih untuk berpikir positif. Kopi Tuku merasa pandemi ini bisa dihadapi dengan do together.

Hal pertama yang dilakukan Kopi Tuku adalah berbenah soal keuangan. Kopi Tuku perlu tahu berapa sisa nafas yang mereka punya, dan effort apa yang mereka perlukan untuk tetap bertahan.

Kopi Tuku pun memikirkan marketing saat physical distancing di mana pertemuan antar manusia berjarak. Kopi Tuku memikirkan bagaimana supaya barista-barista Kopi Tuku aman dengan membatasi pertemuan barista dan #TetanggaTuku. Kopi Tuku memikirkan bagaimana tetap berjarak tapi tetap ada pemasukan.

Di bulan Maret 2020 Kopi Tuku mengeluarkan produk kopi 1 lt. Dengan kopi kemasan 1 lt, Tetangga Tuku bisa ngopi tiap hari dengan satu kali transaksi. Kopi kemasan 1 lt yang dinamakan Tukucur ini juga dijual melalui e-commerce.

Kopi Tuku juga menjual hampers saat hari raya. Kopi Tuku menggunakan kopi kemasan 1 lt sebagai media silaturahmi yang personal.

Kopi Tuku juga punya produk botol Tuku-in yang merupakan susu gula aren. Jadi, Tetangga Tuku bisa menggunakan kopi apa saja yang kemudian dicampur dengan susu gula aren Kopi Tuku. Tujuannya untuk mengeksplorasi kopi-kopi lain di luar Kopi Tuku dengan cita rasa gula aren Kopi Tuku.

Ide-ide ini membuat Kopi Tuku bertahan saat pandemi. Kopi Tuku punya harapan yang lebih besar untuk menghadapi pandemi.


Ketakutan dilawan dengan harapan


Sampangan.id

Diceritakan oleh Muhammad Fauzal Rizki, CEO Sampangan.id



Sampangan.id adalah perusahaan teknologi yang bergerak di bidang pemrosesan sampah dan ekonomi sekuler. Sampangan.id punya mimpi supaya tidak ada lagi sampah di muka bumi, karena sampah pun punya nilai asal bisa diolah.

Sampangan.id mengolah sampah menjadi produk yang sustainable menggunakan teknologi karbonisasi sehingga sampah dapat berubah menjadi karbon aktif, asap cair, dan bio disinfektan.

Pandemi ini membawa masalah baru, khususnya soal sampah. Ada peningkatan limbah medis yaitu masker, baik dari lingkungan RS dan juga di rumah tangga.

Masalah limbah ini sudah buruk di masa sebelum pandemi, dan bertambah buruk saat pandemi.

Saat ini Sampangan.id sedang punya pilot project di TPA Cilowong di Serang, Banten. Sampangan.id melakukan eskavasi yang menghasilkan produk baru untuk bahan konstruksi. Mereka menggunakan karbon aktif untuk tanah dan sampah yang ada di TPA.

Sampangan.id juga sedang bekerja sama dengan para petani untuk menggunakan karbon aktif biopestisida. Biopestisida ini lebih aman dibanding pestisida yang berasal dari bahan kimia, dan mampu meningkatkan produksi tanah.

Sampangan.id juga bisa mengolah limbah cair yang sangat bau yang disebut air lindi. Sampangan.id mengubahnya menjadi biodesinfektan. Disinfektan kimia yang digunakan untuk mengatasi penyebaran virus punya efek buruk pada manusia, sedang biodisinfektan lebih ramah lingkungan.


Mycotech

Diceritakan oleh Andi Reza Nugroho, CEO & co-founder Mycotech



Mycotech adalah startup di bidang bioteknologi yang menghasilkan materi terbarukan. Mycotech membuat kulit dari jamur untuk industri fashion. Jamur ini mereka sebut mycelium.

Industri fashion adalah industri yang terdampak di masa pandemi. Pada kuartal kedua permintaan menurun. Supaya tetap survive, Mycotech melakukan inovasi. Akibatnya di kuartal ke-3 dan ke-4 permintaan naik, khusunya dari customer B2B. Nggak tanggung-tanggung, permintaan naik hingga 3-4 kali lipat.

Material ramah linkungan mycelium ternyata membawa dampak baik. Saat ini banyak permintaan dari mancanegara; 60% dari Asia Pasifik, 30% dari Eropa dan Amerika, sisanya untuk pasar lokal.

Mycelium sendiri bisa digunakan untuk bahan strap jam tangan dan sepatu.

Bagi brand lokal sendiri, penggunaan materi kulit yang ramah lingkungan membuka peluang brand untuk ekspansi ke luar negeri. Saat menggunakan materi kulit asli, brand lokal terganjal peraturan internasional tentang pengolahan  kulit dalam negeri yang dinilai tidak ramah lingkungan.

Dengan membuat produk-produk ramah lingkungan, Mycotech melakukan green recovery. Bukan hanya survive, Mycotech malah membuka jalan lebih lebar dan menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.


Du Anyam

Diceritakan oleh Rosiana Rusly, Vice president strategy Du Anyam & Krealogi



Du Anyam bergerak di bidang kriya dan merupakan B2B dengan partner hotel dan korporasi. Pandemi ini sangat berdampak pada Du Anyam.

Mengingat Du Anyam sudah 6 tahun bekerja sama dengan lebih dari 1200 penganyam di Indonesia, Du Anyam tidak boleh berhenti.

Du Anyam pun melihat di masa pandemi trend home decor naik. Jadi Du Anyam melihat potensi tersebut. 

Du Anyam juga melakukan kolaborasi dengan produsen lokal untuk membuat produk kriya.

Du Anyam juga melakukan resolusi digital dan membuat produk baru bernama Krealogi. Krealogi ini merupakan platform digital bagi rantai pasok untuk produk kriya. Krealogi merupakan komunitas, pelatihan digital, dan aplikas pada smartphone.


Modal Rakyat

Diceritakan oleh Wafa Taftazani, Co Founder & President Commisioner Modal Rakyat



Modal Rakyat adalah industri pendanaan berbasis digital. Meski di masa pandemi banyak industri yang terdampak, tapi banyak juga industri yang maju pesat dan butuh modal, seperti stratup dan e-commerce.

Modal Rakyat ingin semua rakyat Indonesia yang butuh modal tidak perlu keluar rumah atau meninggalkan pekerjaannya untuk mendapat modal.

Modal rakyat berinovasi melalui cara kerja, koordinasi tim, dan tools. Semuanya berbasis digital.

Di Bulan Maret 2021 Modal Rakyat mampu menyalurkan dana hingga lebih dari 1 trilyun rupiah. Modal Rakyat berhasil menyalurkan dana lebih dari 80% dalam setahun terakhir.

Uniknya, Modal Rakyat juga mendapat modal dari luar negeri. Pertumbuhan ekonomi di Indonesia yang tinggi, membuat pemodal dari luar negeri, di mana di negaranya pertumbuhan ekonominya stagnan beralih ke Indonesia.


Inovasi datang dari hal-hal kecil sehari-hari


Lima cerita ini aku dengar hasil nonton DBS Asian Insights 2021. Siarannya disimpan di Youtube DBS, siapa tahu kamu mau nonton.

Meski aku nonton DBS AIC 2021 karena lagi bertugas jadi buzzer di Twitter, tapi tulisan di blog ini murni karena aku terinsiprasi dengan cerita mereka. Aku merasa tercerahkan, semangat, dan hal inspiratif begini layak aku catat di dinilint.com.

Melihat cerita survive dari jenis bisnis lokal yang berbeda-beda, proses vaksin yang lancar, rasanya aku optimis melewati masa pandemi dengan bahagia. Kamu punya cerita survive saat pandemi ini juga?

Dinilint 

8 comments:

  1. salah satu hal yang terlupa oleh orang adalah keberadaan teknologi. apa jadinya kita mengalami pandemi ini tanpa adanya internet?

    dan usaha-usaha kecil ini bisa dengan sukses memanfaatkan teknologi dengan baik

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya jadinya kaya dunia global pas mengalamai pandemi sekitar 100 tahun silam bang.
      Tapi emang internet membantu banget, terutama dalam mengatasi pandemi begini. Yang bisa memanfaatkan internet dengan baik, ya bisa bertahan.

      Delete
  2. LOH AKU BARU TAU SOAL TUKU-IN IKIIIIIII (menulis dengan tone gak sante)
    Beli ah Tuku-in, pengen tau rasanya kopiku kalo dicampur Tuku-in hahahahahaha

    Suwun yo Din buat infonya (^^)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selamat menikmati Mas Didut!!
      Sayang nih Tuku belum sampe Semarang.

      Delete
  3. hampir disemua kota, waktu awal awal pandemi dulu, bisnis macam cafe kayak gini pasti bikin si owner mikir berat lagi soal cara marketingnya
    karena sempet juga ada beberapa cafe yang tutup, jadi jumlah pengunjung otomatis nggak banyak

    di era new normal makin banyak bermunculan ide bisnis dengan terima order hanya melalui online aja untuk mengurangi kontak dengan orang lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju Ainun.
      Cafe-cafe yang bisa adaptasi dan mengikuti era new normal yang bertahan. Malah di Semarang tetep banyak muncul cafe-cafe baru lho. Cafe-cafe ini mengatasi kebutuhan masyarakat yang menghindari mal.
      Eh tapi, kayanya mal juga mulai menggeliat lagi.

      Delete
  4. Eh aku salfok Ama foto permainan yg kopi tuku, lengkap Ama biji kopi yg jadi bijiannya.. itu dijual ga yaaaaa hahahaha. Lupa aku nama permainannya, cm dulu sering bangettt main itu, pas kecil.

    Kopi tuku termasuk yg aku paling suka. Rasa kopinya pas. Makanya walo banyak kopi2 lain, yg masih paling sering aku beli, ya tuku

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dakon mbak. Lucu ya, dakon pakenya biji kopi. Wangi pula.

      Aku malah baru denger aja soal kopi tuku. Duh, penasaran dong gimana enaknya si kopi tuku ini.

      Delete

Thank you for reading and leaving comment :)