Navigation Menu

Sembuh dari Covid-19

Hari ini adalah hari ke-17 ku setelah aku melakukan tes antigen mandiri dan mendapati hasil positif Covid-19. Di post kali ini aku akan menceritakan pengalamanku sebagai pasien covid yang melakukan isolasi mandiri di rumah, dan sembuh dari Covid-19.




Kok bisa kena covid?


Awalnya aku demam hingga di suhu 39 derajat celcius. Badanku rasanya nggak nyaman dan aku cenderung ingin tidur sepanjang hari. Aku pun minum paracetamol untuk menurunkan suhu tubuh. Setelah minum satu tablet paracetamol, suhu tubuhku turun ke angka 37 derajat celcius.

Sadar kalo kena demam di musim pandemi, aku pun inisiatif untuk melakukan tes covid. Aku memilih untuk  melakukan tes mandiri, selain karena harganya jauh lebih murah, juga karena aku tidak mau antri di lab untuk tes.

Aku beli alat tes antigen di toko online seharga Rp. 50,000



Di hari kedua ini aku mengalami pilek. Umbelku mengalir pelan tapi pasti. Hal ini jadi hal positif karena saat melakukan colok hidung sendiri untuk tes antigen mandiri, aku tidak merasa kesakitan karena adanya cairan umbel di hidung. Wkwkwkwk. 

Sebelumnya aku pernah melakukan tes antigen sendiri saat kondisi tubuh sehat dan tidak pilek. Meski sudah berusaha rileks dan mengikuti ritme tubuh, tapi tetap saja ada rasa tidak nyaman saat alat swab dimasukkan ke dalam lubang hidung.

Berbeda halnya dengan saat tes ketika pilek. Alat swab masuk dengan lancar. Dan sudah dapat dipastikan kalau ada dua garis merah yang tertera di alat tes, alias aku positif covid-19.


Apa yang aku lakukan saat sakit covid-19?


Sejak hari pertama, begitu sadar aku demam, aku sudah selalu pakai masker dan menjaga jarak dengan orang rumah. Aku juga selalu mencuci tangan sebelum memegang apa pun. Bahkan kadang aku melakukan semprot alkohol pada benda-benda yang aku pegang.

Aku juga menggosok kamar mandi menggunakan cairan pembersih antiseptik setelah menggunakan kamar mandi. Segera setelah aku buang air di wc, aku selalu langsung memencet tombol flash.

Setelah pasti positif covid-19, aku memilih untuk mengisolasi diri di kamar dan menggunakan kamar mandi yang berbeda. Thank God, aku tinggal di rumah yang punya beberapa kamar mandi, sehingga saat ada anggota keluarga yang positif covid-19, kamar mandinya bisa dibedakan.

Alat makan yang kugunakan juga dipisah dari alat makan anggota keluarga lain yang sehat. Setelah makan, alat makanku dicuci dengan air panas.


Apa yang aku konsumsi saat jadi pasien covid-19?


Selama jadi pasien covid, aku menambah asupan vitamin. Kalau biasanya sumber vitaminku dari buah-buahan dan sayur, aku pun mengkonsumsi suplemen tambahan dalam bentuk tablet dan tetes. Aku juga konsumsi virgin coconut oil (VCO) yang kualitas bagus 3x2 sendok makan. Aku juga konsumsi daun sambiloto dalam bentuk kapsul. Aku juga mendapat vitamin gratis dari puskesmas. 


Aku tetap konsumsi buah-buahan dan sayur. Aku selalu sarapan buah potong dan jus. Ini sudah jadi kebiasaanku sehari-hari. 

Selama aku sakit, nafsu makanku lebih bergelora untuk makan jenis makanan berkuah dan kukus. Rasa-rasanya tubuhku menolak untuk makan nasi terlalu banyak, menolak konsumsi gorengan, dan menolak makanan pedas. 


Apa yang aku rasakan saat sakit covid-19?


Selama sakit lidahku cenderung merasa lebih pahit. Meskipun begitu, rasa dari tiap makanan masih bisa aku rasakan sepanjang waktu. Aku paling menikmati saat konsumsi buah dan air hangat.

Di hari ke-3 aku tidak ada gejala apa-apa. Pada sore hari suhu tubuhku sempat naik ke angka 38 derajat celcius dan badan cenderung pengen tiduran. Aku pun konsumsi paracetamol. Setelah tidur satu jam, badan terasa sangat fit dan bawaannya pengen olah raga.

Di hari ke-4 aku tidak merasakan gejala apa pun. Malah aku cenderung kecapekan karena kegiatanku saat itu hanya tidur dan makan. Capek tidur gitu. Aku pun sempat melakukan yoga ringan.



Saat mandi di sore hari, aku mulai menyadari kalau indra penciumanku tidak berfungsi alias anosmia. Aku nggak bisa mencium wangi sabun mandi favorit aku.

Kalau kata temenku yang dokter, anosmia ini adalah respon tubuh yang baik. Anosmia adalah tanda bahwa tubuhmu sedang menuju perbaikan.

Keadaan anosmia ini terjadi selama dua hari. Selama anosmia, nafsu makan tidak terganggu, karena saat itu justru rasa pahit di lidah berkurang. Aku juga tetap bisa merasakan aneka rasa makanan. Aku bahkan mulai menikmati rasa makanan pedas yang sebelumnya membuat aku tidak nafsu makan.


Sembuh dari covid-19 di hari ke-10


Di hari ke-10 aku kembali melakukan tes antigen secara mandiri. Meski aku sudah tidak pilek parah seperti di hari ke-2, namun sesekali masih ada cairan umbel di lubang hidung. Hal ini jelas mempermudah proses colok hidung sendiri. Hehe.

Thank God saat tes antigen di hari ke-10 aku hanya mendapati satu garis merah yang berarti aku sudah negatif dari Covid-19.



Di hari ke-10 aku mulai melebarkan sayap ke beberapa area rumah yang sebelumnya tidak aku datangi. Aku juga sudah mulai kerja mengajar secara online di hari ke-10.

Meski hasil tes sudah negatif, tapi aku masih menggunakan masker saat berkegiatan di luar kamar.


Selama isoman ngapain aja?


Selama sakit covid, aku isolasi mandiri di kamar sendiri. Aku masih tinggal di rumah bareng saudara-saudara aku. Aku juga bisa keluar kamar untuk nongkrong dan berjemur di kebon. Rumahku punya kebon yang cukup luas dan posisi kamarku berada di depan kebon.

Di hari pertama sampai ketiga badanku cenderung pengen tiduran aja. Nah mulai hari keempat dan seterusnya mulai ada rasa jenuh. Untuk mengatasi rasa jenuh itu aku pake untuk nonton series di Netflix, olahraga ringan, telponan sama temen, dan main art theraphy. Bagian art therapy ini malah keterusan sampai sekarang, aku akan bahas soal ini yaa.



Aku juga rutin melakukan meditasi. Duduk diem dan nyaman sambil dengerin podcast yang membantu aku untuk meditasi. Sebelum kena covid aku udah mulai kenalan dengan meditasi. Nah pas sakit meditasi ini sangat membantu. Bagian hidung bumpet akibat pilek dan berimbas ke nafas yang terganggu aku atasi dengan inhale dan exhale.

Untuk fisikku sendiri, covid ini nggak terlalu mengganggu. Gejalanya cenderung ringan. Malah aku merasa lebih sakit saat flu berat dan batuk kering. Saat flu berat aku butuh waktu seminggu untuk kembali sehat. Aku juga pernah batuk kering selama sebulan. Nyiksa banget.


Kok gejala covid aku ringan, malah cenderung nggak sakit?


Aku sendiri sudah vaksin 2x di bulan Maret dan April lalu. Selama ini pola makanku juga cenderung lebih banyak konsumsi sayur, buah dan protein nabati dibanding konsumsi protein hewani. Ada yang bilang untuk menjaga tubuh kuat dari serangan virus sebaiknya hindari protein hewani, gluten, dan gula. Aku juga sebulan terakhir rajin olah raga cardio dan stretching saat nggak cardio.



Kalau dipikir-pikir aku kena covid dari mana. Nggak ngerti juga ya. Sebenernya ada anggota keluarga yang kena covid duluan. Begitu ketahuan mereka positif, mereka pun isoman di kamar masing-masing. Aku minim interaksi dengan mereka. Aku baru kena setelah anggota keluarga lain sehat.

Tapi sejujurnya bagian emosi dan mental sangat terkuras si saat covid begini. Jangankan saat sakit dan terbukti positif, saat sehat dan kalo di tes negatif juga emosi dan mental terkuras. Ahahahaha.

Soal emosi dan mental ini aku belum bisa cerita. Nanti aja ya.


Jadi ya...


Intinya, covid-19 ini spektrumnya luas. Ada yang gejalanya cuma sehari, dua hari, bahkan di anak-anak banyak yang nggak bergejala. Di sisi lain, ada juga yang hingga kehilangan nyawa. Di rumahku, nggak semua orang rumah terpapar covid yang dibuktikan dengan hasil tes negatif. Tapi ada di rumah lain ketika yang satu kena, satu keluarga kena semua.

Kesimpulannya, tetep jaga pola hidup sehat. Makan makanan bernutrisi, juga jaga kesehatan mental dan emosi. Semoga kita semua tetap sehat dan aman yaa.

Terima kasih sudah membaca.

Dinilint.

0 komentar:

Thank you for reading and leaving comment :)